Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Gara gara Foto


__ADS_3

Ze dan Rani kini sedang duduk di kantin sekolah nya, mulai menyantap makanan yang sudah mereka pesan,


seperti biasa mereka selalu saja bersama sama.


Ze terus melahap makanan nya, seperti tidak ada yang aneh, memang begitulah Ze, si gadis cantik yang doyan makan,


namun pikiran Ze terus di penuhi bayang bayang Kenan, calon suami nya itu yang selalu bertingkah menyebalkan, namun dia juga yang mampu membuat jantung nya berdebar tidak karuan.


" Sepertinya dia belum melihat Hpnya?


bagaimana ya reaksi nya saat melihat layar hpnya yang sudah ku ganti dengan foto menggemaskan nya saat memakai bando, pasti dia akan marah sekali hahaha "


batin Ze cengengesan sambil terus melahap makanan nya, hingga tidak terasa makanan nya sudah ludes habis.


"Bi, nambah lagi ya!"


seru Ze pada si bibi penjaga kantin.


Rani yang melihat tingkah Ze hanya menggelengkan kepalanya.


"Hei... napsu banget makan nya, kayanya lagi bahagia nih?"


tanya Rani karena memang sudah paham dengan kebiasaan Ze, kalau dia lagi senang pasti napsu makannya naik.


"Tidak apa-apa hanya lapar saja,"


sahut Ze dengan senyum manis nya.


"Baru kali ini gue lihat tuan Putri makannya kayak rakyat jelata yang baru makan setelah kelaparan 3hari."


ejek Rani yang malu sendiri melihat kelakuan temen nya itu.


"Apa sih, bawel banget loe!"


sahut Ze sambil menyenggol bahu Rani,


tidak ingin menceritakan bahwa di sedang memikirkan seseorang.


Mereka pun langsung menghabiskan makanan mereka masing-masing, dan segera pergi ke kelas.


***


Di sisi lain Kenan sedang duduk tenang di pojok ruangan kampusnya,


semua mahasiswa terdiam mendengarkan dosen yang sedang mengajarkan mata kuliah nya,


Martin yang duduk persis di sebelah Kenan terus saja mengganggu dengan terus melontarkan pertanyaan konyol nya.


Kenan tidak bisa berkata apa apa karena takut akan mengganggu mahasiswa lain dia hanya terdiam tanpa mempedulikan Martin.


"Apa kau ada waktu?


pulang kuliah kita makan di cafe langganan kita dulu yu!"


ajak Martin karena ia ingin sekali bicara banyak dengan Kenan.


"Gue sibuk."


jawab Kenan singkat.


"Alasan aja loe, mana nomor loe? biar gampang nanti gue hubungin loe lagi,"


ujar Martin.


Tanpa penolakan Kenan langsung memberikan hp nya karena tidak ingin berdebat, sudah merasa jengkal dengan obrolan Martin.


Seketika Martin langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat foto yang ada di layar hp Kenan, hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Martin, bisa kah kau diam!"


teriak sang dosen memarahi Martin.


"Maaf Pak,"


ucap Martin sambil menggaruk-garuk kepala malu karena semua mata tertuju pada nya.


"Kenapa loe?"


tanya Kenan penasaran.


"Jadi ini wanita yang mampu mengubah singa ganas, menjadi kelinci penurut yang imut, lucu sekali"


ejek Martin yang masih di akhir tawanya.


"Apa maksud loe?"


tanya Kenan lagi, tidak mengerti pembicaraan Martin karena dia belum memeriksa hp nya dari tadi malam.


"Sepertinya wanita ini benar-benar beda, gila si Kenan kejam saja bisa jadi jinak di buatnya."


batin Martin sambil terus mengotak ngatik hp untuk memasukan nomor Kenan di hpnya.


"Nih, sejak kapan loe ngoleksi foto lucu kayak gitu?"


ucap Martin sambil mengembalikan hp nya pada Kenan.


Kenan pun langsung memeriksa hp nya, dan dengan jelas melihat foto mereka kemarin saat di taman bermain.


"Pantas saja si Martin sampai tertawa terbahak-bahak,


niat banget dia ngerjain gue, awas saja ya nanti kalau ketemu."


batin Kenan yang terus melihat layar hp nya, namun tiba-tiba senyum kecil terlihat di bibir nya.


"Tapi di lihat lihat lucu juga. "


batin Kenan sambil memasukan hp ke saku nya.


"Ini kerjaan dia, mana mungkin gue ngoleksi foto menggelikan kaya gitu."


kilah Kenan merasa malu terciduk oleh teman nya yang bawel itu.


"Ternyata loe bisa kalah sampai kecolongan oleh seorang wanita hahaha"


ledek Martin yang tidak bisa menahan tawanya


"Diam loe."


seru Kenan sambil merangkul kepala Martin dan mencekik lehernya pelan.

__ADS_1


"Woi Kenan sialan lepasin, gue bisa mati."


protes Martin sambil meronta ronta.


Mereka pun terus berdebat hingga mata kuliah berakhir, dan para mahasiswa mulai berhamburan keluar.


*


"Hei Ken, tidak nyangka kita bakal ketemu lagi, malah di kampus yang sama pula."


ujar Roni yang kini berjalan mendekati ke tempat Kenan dan Martin yang duduk di belakang.


Kenan hanya menganggapinya dengan senyuman.


"Ikut jalan bareng kita yu?"


ajak Roni pada Kenan, karena memang kebiasaan Roni Martin dan Sania, selalu pergi jalan bareng setelah mata kuliah mereka berahir.


"Maaf kayaknya lain kali saja, gue ada urusan sekarang."


sahut Kenan sambil mulai membereskan tasnya bersiap pergi.


"Mana Sania?"


tanya Martin pada Roni, saat sadar tidak melihat sania, padahal biasanya mereka selalu bersama.


"Dia udah pulang duluan , kata nya ada urusan."


jawab Roni.


"Gue duluan ya."


ujar Kenan langsung melangkah meninggalkan mereka.


Kenan terus berjalan menuju parkiran,


tanpa mempedulikan pandangan orang yang tertuju melihat pada nya.


Berjalan dengan tergesa-gesa karena ingin cepat menemui Ze, yang lagi lagi dia berhasil mengerjainya.


Kini dia sudah berada di dekat motor nya,


dia segera meraih helem dan bermaksud memakai nya, namun pergerakan terhenti karena melihat Sania yang berjalan menghampiri nya.


"Kenan, apa kau kembali karena -"


belum selesai Sania bicara keburu kepotong kata kata Kenan yang sudah mengerti arah pembicaraan Sania.


"Jangan salah paham! aku tidak tahu kalau kalian juga kuliah di sini."


kilah Kenan menjelaskan.


"Maaf aku yang terlalu berharap, tapi setidaknya kita bisa bertemankan?"


tanya Sania sambil memasang senyuman manisnya.


Kenan hanya mengangguk kan kepala menanggapi nya dan langsung menaiki motor nya.


"Kenapa terburu-buru kita kan bisa bicara sebentar Ken?"


ujar Sania yang masih ingin berbicara dengan Kenan.


sahut Kenan sambil menyalakan motornya.


"Kenapa dia sangat dingin sekali pada ku."


batin Sania yang merasa terabaikan oleh Kenan yang malah pergi meninggalkan nya.


Kenan pun pergi berlalu melajukan motornya meninggalkan parkiran dan pergi melaju meninggalkan area kampus nya,


mempercepat laju motor nya karena ingin cepat menemui Ze.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi, Ze dan Rani bergegas meraih tas nya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan kelas nya.


Mereka mulai berjalan menuju pintu gerbang sekolah, tiba tiba mata Ze di kaget kan karena melihat Kenan yang sedang duduk bersandar di motor nya,


dan kini dia melihat tajam ke arahnya.


"Waaaa kenapa dia bisa ada di sini? seperti nya dia sudah menyadari foto yang ada di hp nya,! wajah nya saja terlihat kesal sekali,!


****** kau Ze, kenapa berani sekali kau mengerjainya."


batin Ze yang nyalinya sudah menciut karena tatapan Kenan dan memikirkan cara agar bisa kabur dari Kenan.


"Ran, sepertinya aku ada yang ketinggalan di kelas, kita kembali lagi ya."


ujar Ze mengajak Rani mencari aman dan supaya Rani tidak melihat Kenan, karena Ze belum siap menceritakan kebenaran nya pada Rani.


Rani yang di tarik paksa Ze tidak bisa berkata kata dia ikut melangkah mengikuti Ze.


Sedangkan Kenan yang melihat Ze kabur ketakutan, dia hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan calon istrinya itu.


"Hei kelinci kecil, kau mau kabur ke mana hah?"


batin Kenan sambil tersenyum jahil, dan mulai mengambil hp dari sakunya.


Ze yang sudah berjalan jauh dari gerbang sekolah, kini jalanya terhenti karena suara panggillan di hp nya.


"Sebentar Ran, ada telepon."


pinta Ze, menyuruh Rani untuk berhenti.


Ze pun langsung melihat hp nya, dan langsung kaget saat melihat bahwa Kenan lah yang memanggil nya.


"Waaah seperti dia benar benar marah! angkat gak ya?"


batin Ze bingung sekaligus takut.


"Kenapa tidak di angkat?"


tanya Rani karena Ze tidak juga menjawab panggilan nya.


"Tidak penting Ran."


sahut Ze singkat.


"Kalau tidak penting mana mungkin terus berdering, angkatlah itu berisik sekali!"

__ADS_1


seru Rani menyuruh Ze untuk mengangkat teleponnya.


"Biarkan lah tidak penting juga kok."


ucap Ze masih mengabaikan panggilan Kenan.


"Sini biar aku angka."


seru Rani sambil mengambil hp Ze dan melihat nama yang sadari tadi memanggilnya.


" Tuan menyebalkan! siapa dia? aku baru mengetahui nya, aku angkat ya!"


ucap Rani penasaran sambil mulai mengangkat telepon nya.


"Rani...."


teriak Ze kesal.


"Hei siapa ini? Ze tidak mau mengang-"


ucap Rani mencoba berbicara dengan orang yang ada di balik telepon, namun terpotong karena Ze sudah mengambil hp nya lagi.


"Hei Rani sialan, siapa yang nyuruh kau mengangkat nya, mati lah aku."


ucap Ze yang sudah merasa frustasi.


Ze pun kini mulai mendekatkan hpnya, dan mulai berbicara dengan Kenan.


"Ya! ada apa?"


Ze mulai bersuara menyapa Kenan.


"Aku tunggu di depan! cepat ke mari, waktu mu cuman satu menit kalau sampai telat habis kau!"


seru Kenan dengan suara datar dan langsung mematikan teleponnya.


"Ini gara gara kau Ran! kau harus ikut gue! ayo cepat waktunya hanya satu menit."


ujar Ze sambil menarik tangan Rani dan berlari menemui Kenan.


"Ada apa sih?"


tanya Rani yang sudah kebingungan.


Ze dan Rani pun sampai di depan gerbang sekolah dan langsung berjalan mendekat ke arah Kenan.


"Ze bukankah itu temen Kak Kepin yang waktu di Surabaya itu?"


bisik Rani merasa terkejut melihat Kenan di hadapannya.


"Jangan banyak bicara! dia sedang marah, ayo jalan saja!"


sahut Ze yang bersembunyi di belakang Rani dan mendorong nya perlahan mulai mendekati Kenan.


"Apa maksud loe gue gak ngerti, apa hubungannya dengan kita kalau di sedang marah? "


tanya Rani merasa bingung dengan tingkah Ze.


Namun bisikan mereka terhenti karena Kenan mengejutkan mereka.


"Kenapa bersembunyi!? kau merasa punya salah padaku?!"


ujar Kenan dengan suara kesalnya sambil melihat ke arah Ze yang berada di balik punggung Rani.


Ze hanya terdiam, tidak bisa berkata kata,


sedangkan Rani di buat bingung dengan apa yang terjadi di hadapan nya, dengan memasang wajah yang melongo bingung.


"Ze kau menyembunyikan sesuatu dari ku?"


tanya Rani penasaran, sambil menarik tangan Ze untuk mensejajarkan badan Ze dengan badannya.


Ze hanya bisa diam bingung harus bicara apa.


Kenan yang melihat ekspresi Ze yang sedang kepergok oleh sahabat nya, hanya tersenyum jahil dalam batinnya.


"Apa kau tidak memberitahu sahabatmu itu kalau aku -"


dengan santai Kenan berkata, namun keburu berhenti karena dengan refleks Ze langsung membungkam mulutnya.


"Hei jangan banyak bicara!"


seru Ze kesal, lagi lagi Kenan tidak bisa menjaga kata kata nya.


Rani yang melihat tingkah Ze, dia kini lebih terkejut lagi, dan kadar ke penasaranan nya makin tinggi.


"Zepania!"


panggil Rani yang mulai kesal karena Ze tidak berterus terang.


"Ayo naik!"


ajak Kenan sadar bahwa Ze belum siap menceritakan semuanya pada sahabat nya itu langsung mengajak Ze untuk pergi.


"Tapi...." kilah Ze.


"Jangan banyak bicara ayo naik!"


seru Kenan yang kini dia sudah menaiki motor nya.


"Ran.... maaf ya, besok gue ceritain semuanya, aku pergi dulu."


dengan berat hati Ze pun naik dan meninggal kan Rani sendiri.


"Awas ya Ze, loe harus jelasanin semuanya ke gue! "


ujar Rani merasa kesal.


Kenan pun mulai melajukan motornya dan pergi meninggalkan area sekolah bersama Ze yang di boncengnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2