Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Pertunangan ( part 1 )


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, cuaca pagi yang cerah membuat kenan bersemangat menjalani harinya. Meskipun akan menjalani perjalanan yang cukup jauh dia tetap bersemangat, karena ada sesuatu yang sudah ia nanti nati.


Martin dan teman-temanya sudah kembali ke Jakarta tiga hari yang lalu, Meskipun Martin selalu ngeyel menanyakan kapan Kenan akan kembali ke Jakarta Kenan tetap tidak memberitahu nya. Karena kalau sampai Martin mengetahui kepulangannya dia pasti akan selalu menemui dan mengganggunya.


Kenan menelepon Bunda nya, memastikan bahwa semuanya sudah di siapa kan dengan baik.


Raut wajahnya mulai berseri seri, entah apa yang ia rencanakan sekarang.


Pak Anton sedari tadi membereskan apa saja barang yang akan Kenan bawa pulang ke Jakarta, mata nya sadari tadi melirik tingkah Tuan nya yang terus mondar-mandir seperti ada kecemasan dalam hati nya.


"Sepertinya Tuan sudah tidak sabar ingin segera sampai ke Jakarta "


batin pak Anton sambil tersenyum keci.


"Kenapa lama sekali?? sudah selesai belum??" tanya Kenan.


"Iya Tuan...! semua nya sudah siap."


jawab sigap pak Anton sambil mulai melangkah membawa barang barang menuju mobil.


Hingga mereka pun bergegas pergi menuju ke bandara.


***


Ze dan Rani sedang duduk di taman sekolah, meskipun tidak ada kegiatan belajar mereka selalu siap berangkat sekolah menunggu hasil akhir kelulusan mereka.


"Ze...? kalau kau lulus nanti kau akan kuliah ke mana?? " tanya Rani.


"Entahlah...! aku belum memikirkan nya."


jawab Ze dengan memandang kosong ke arah depan,


meskipun bibir nya menjawab perkataan Rani tapi pikirkan nya melayang kemana-mana.


"Walau menyebalkan, tapi kenapa aku selalu mengingat nya,


kapan ya dia kembali ??"


batin Ze yang


merindukan Kenan karena sudah seminggu terakhir ini kenan tak pernah lagi menghubungi nya.


Suara bel pulang sekolah membuat mereka mengakhiri perbincangan nya.


Ze dan Rani langsung bergegas melangkah pergi menuju kelas untuk mengambil tas mereka.


Pak Edi kini sudah menunggu di depan gerbang sekolah Ze, melaksanakan perintah Maya untuk menjemput Ze, dan menyuruh nya langsung pulang ke rumah.


Ze yang sudah terlihat keluar bersama Rani membuat Pak Edi langsung menghampiri mereka.


"Maaf Non...! Nyonya menyuruh Non langsung pulang, tidak boleh ke mana mana dulu,"


ujar Pak Edi sambil membungkuk hormat.


"Iya Pak...! tapi anterin Rani dulu ya."


seru Ze.


"Gak usaha Ze gue naik taxi saja, cepat gih pulang, mungkin loe sudah di tunggu Ibu mu."


tolak Rani tak ingin merepotkan Ze.


"Gue tidak suka di tolak! ayo masuk...!"


timpal Ze sambil menyeret badan Rani untuk masuk ke mobil.


Rani pun tidak bisa menolak, karena sudah tahu sifat Ze yang tak akan pernah tega meninggalkan nya sendiri, sedangkan dia bisa pulang dengan nyaman.


Membutuhkan waktu 30 menit, setelah mengantarkan Rani ke rumahnya, kini Ze sudah sampai di rumah.


Ze mulai turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Suasana rumah terlihat seperti biasanya


tidak membuat nya merasakan hal aneh.


Seperti biasa Ze langsung masuk menuju kamar nya karena tidak melihat siapa pun, di ruang tengah rumah.


Namun saat Ze masuk kamar dia di kagetkan oleh beberapa pelayan yang sudah siap untuk melaksanakan tugas mereka.


Mata nya mulai menelusuri isi kamarnya yang terlihat ada yang aneh.


Begitu banyak macam macam alat make up di meja riasnya,


gaun gaun yang berjajar dengan berbagai motif dan warna, dan selibiran wangi parfum yang berasal dari kamar mandinya membuat Ze terkejut berdiri tak bergeming.

__ADS_1


"Ada apa ini...? kenapa kalian ada


di kamar ku?" tanya Ze yang kaget melihat apa yang terjadi di kamar nya.


"Maaf Non kami hanya menjalankan tugas dari Nyonya...!"


jawab salah satu pelayanan dan langsung mendekati Ze.


"Apa yang akan kalian lakukan...? dimana Ibu...? aku ingin bertanya pada ibu...!"


teriak Ze mencoba ingin pergi, tapi 3 pelayanan itu terlalu kuat hingga Ze hanya bisa pasrah mengikuti mereka, yang kini membawa Ze masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan nya.


"Maaf Nona sebaiknya anda menurut saja, karena kami juga di perintahkan Nyonya untuk memandikan nona supaya terlihat segar dan wangi, dan mendandani anda agar terlihat cantik."


ucap salah satu pelayanan menjelaskan apa yang akan mereka lakukan.


Mendengar kata-kata itu akhirnya Ze bisa diam dan menuruti kemauan pelayanan yang kini mulai membersihkan badan nya.


"Sebenarnya apa yang akan Ibu lakukan kenapa harus sampai begini....?"


batin Ze menggerutu kesal.


Setelah Ze beres dengan mandinya, Maya masuk ke kamar Ze sambil memasang senyum melihat anak nya yang sangat nurut dengan apa yang di arahkan para pelayan.


"Bu...! sebenarnya ada apa si ini...? aneh aneh aja deh...."


tanya Ze yang sudah sadar akan kehadiran ibunya.


"Nanti kamu juga tau! sekarang kamu bersiap siap dan berdandan saja, Ibu sudah manggil orang yang paling baik untuk membantu membuat kamu supaya semakin cantik. "


jawab Maya sambil tersenyum dan pergi meninggalkan kamar Ze.


***


keaYdaan di rumah keluarga Wijaya kini terlihat ramai dengan beberapa pelayanan yang sedang sibuk menyiapkan apa saja yang akan di bawa nanti untuk mengunjungi keluarga Nugraha.


Hari ini 2 keluarga itu akan melaksana pertunangan antara kedua anak mereka.


Hari yang di tunggu tunggu itu akhirnya terjadi.


Surya yang tak pernah membayangkan bahwa pertunangan ini akan terjadi terlihat senyum bahagia.


Mengingat sedari dulu dia harus bertengkar dan beradu mulut dengan anak semata wayang nya, yang selalu menolak dengan perjodohan ini, dan memilih pergi dari rumah. Akhirnya dia sendiri yang ingin pulang dan langsung melaksanakan pertunangan.


Kenan yang baru sampai langsung di sambut hangat oleh Surya dan Widi yang bergantian memeluk nya.


"Wah ayah dan Bunda sudah terlihat rapih nih! apa semuanya sudah siap...?"


tanya Kenan sambil mendudukan badan nya melepas lelah.


"Kita sudah siap, tinggal nungguin kamu,


cepat buruan mandi dulu gih!! "


seru Widi yang melihat anaknya penuh dengan keringat.


Kenan pun bergegas pergi ke kamar nya dan langsung membersihkan badan nya.


Pikiran Kenan sebenarnya sangat gelisah,


antara senang dia akan bertunangan dengan Ze, namun juga sedih, apakah Ze akan benar-benar menerima nya sebagai calon suaminya, atau Ze mungkin terpaksa menerima nya karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya.


Namun Kenan bertekad akan berusaha supaya Ze biasa benar benar menerima nya, dan benar benar menyukai nya.


Pak Anton kini membantu Kenan merapihkan pakaiannya dengan setelah jas yang terlihat pas di tubuh nya, hingga Pak Anton bisa melihat kegugupan di wajah Tuan nya.


"Ternyata anda bisa nerpes juga Tuan... "


batin Pak Anton tersenyum, dan kini sedang merapihkan pakaian Kenan.


Setelah semua nya beres mereka semua pergi menuju kediaman keluarga Nugraha.


~


Di sisi lain Ze yang sudah siap dengan penampilan nya, mulai mengarah ke kaca besar yang terpangpang di kamar nya.


"Apa benar ini aku...! kok jadi cantik begini..?


tapi ini bukan gaya ku, memang ada acara apa si sampai harus berdandan begini...?"


ujar Ze yang melihat kagum pantulan dirinya sendiri di kaca yang menurut nya cantik sekali. Dengan mini dress selutut bertangan pendek, dengan aksesori kalung di lehernya, dan rambut yang di tata sedemikian rapihnya,


membuat Ze sangat cantik dan terlihat anggun.


Ze memang tidak di beritahu bahwa malam ini, Ze dan kenTan akan bertunangan.

__ADS_1


karena para ibu ibu rempong itu, ingin memberi kejutan untuk Ze.


Malah Kenan pun tidak memberitahu bahwa dia akan pulang sekarang.


Saat Ze sedang ngoceh protes dengan hasil karya para pelayanan yang membuat nya terlihat cantik dan pakaian yang peminim.


Di bawah sedang rame menyambut keluarga Wijaya yang baru sampai.


Angga dan Maya langsung menyambut kedatangan sahabat sekaligus calon besannya itu,


dan langsung mempersilahkan mereka masuk,


dan mereka pun langsung duduk di ruang tengah keluarga Nugraha.


"Mana nih calon mantu ku, kok belum kelihatan...!"


tanya Surya yang sudah tak sabar ingin segera melaksanakan pertunangan anaknya.


"Masih di atas! biar aku panggil kan."


Maya pun pergi ke atas untuk menyuruh anak nya turun sekarang.


~


"Ze apakah kau sudah siap...?"


tanya Maya yang sudah masuk ke dalam kamar Ze.


"Sudah Bu...!"


jawab Ze sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Ibu nya.


"Kau cantik sekali sayang...!"


puji Maya sambil tersenyum lebar.


"Bu...!! kita mau ke mana si sebenarnya? Ze tidak nyaman berpakaian seperti ini...!"


protes Ze pada Maya, namun Maya tidak mempedulikan nya, malah terus menuntun Ze untuk turun kebawah.


Sepanjang melangkah Ze hanya menggerutu kesal dengan tingkah Ibu nya yang tidak memberi tau mereka akan kemana, dan yang lebih menyebalkan nya, Ze harus berdandan dan berpakaian yang menurut nya tidak nyaman.


Saking keselnya Ze, dia tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di lantai bawah, bahkan tidak sadar bahwa semua mata tertuju pada nya.


Apalagi Kenan yang sudah terkesima melihat penampilan Ze yang terlihat sangat cantik tidak seperti biasa nya.


"Bu....!! sebenarnya mau ke....-"


Kata kata Ze terpotong karena kini mata nya mulai melihat ke seluruh ruangan, membuat nya begitu kaget.


"Ada acara apa ini....?" batin Ze.


Dan lebih terkejut lagi saat matanya melihat sosok Kenan yang sedang tersenyum manis melihat kearah nya.


"Aaaaa kapan dia kembali...? kok bisa ada di sini...?"


batin Ze dengan reflek nya dia langsung bersembunyi di balik punggung Maya.


"Bu...! sebenarnya ada acara apa ini...? kok rame sekali...!" Ze berbisik bertanya penasaran.


"Bukan kah Nak Kenan sudah memberitahu mu...?"


ujar Maya sambil berjalan menuntun Ze untuk duduk di kursi, bergabung dengan semuanya.


Mendengar perkataan ibu nya, Ze langsung mengingat perkataan terakhir Kenan saat akan pergi ke Surabaya.


"Jika aku kembali nanti, kau akan resmi jadi tunangan ku...!"


" Waaaaaaaaaaaaa...."


mengingat kata itu batin Ze teriak histeris.


"Kenapa kalian tidak memberitahu ku sajak awal, setidaknya aku kan bisa menyiapkan mental ku dulu. Mengapa mendadak begini??


ini pasti ide si Tuan menyebalkan itu, ingin rasanya aku memukulnya ....!"


batin Ze menggertu kesal.


Sedang kan Kenan yang melihat Ze yang seperti terkejut setengah mati, membuat nya ingin sekali tertawa, namun ia tahan karena malu di depan para orang tua.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2