Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Makan Bersama


__ADS_3

Aula Kampus Utama


Sania masih duduk tertunduk, hati nya menahan rasa sakit, menarik napas dengan begitu sesak, kini mata nya melihat sendiri betapa Kenan mencintai wanita pilihan nya sekarang.


Kemesraan Kenan yang dulu pernah dia rasakan, kini telah menghilang. Telah di ambil oleh wanita yang bahkan wanita itu pun telah menarik perhatian lelaki yang kini dekat dengan nya.


Hatinya makin sakit saat matanya dengan jelas melihat Kenan mencium wanita yang kini malah bersetatus sebagai istrinya itu.


Pikiran nya langsung mengingat masa masa dulu saat Kenan menjadi tempat berlabuh nya, rasa sesak makin terasa meresa iri melihat perlakuan Kenan, karena dulu saat mereka berpacaran, kasih sayang Kenan di luapkan hanya sebatas berpelukan dan berpegangan tangan saja, tidak pernah sekalipun dia mendapatkan ciuman dari Kenan, walaupun sebatas di pipi saja.


Matanya kini melihat Roni yang duduk di sampingnya, dia bisa melihat jelas bahwa Roni juga merasakan apa yang ia rasakan sekarang, hingga membuat nya makin kesal.


Kini tangan nya mulai mengepel kesal, dalam pikirnya kenapa laki laki yang sekarang dekat dengan nya dia juga malah berpaling pada wanita yang telah merebut laki laki masa lalunya.


Hati nya memang masih mencintai Kenan, tapi merasa tidak rela jika Roni juga harus berpaling dari nya, dan malah melihat Ze, yang dulu merupakan mantannya.


"Kenapa harus dia? kenapa harus wanita yang sama yang membuat laki laki yang aku sayangi menjauh dari ku."


batin Sania lirih.


Lamunannya kini terbuyarkan karena ada suara panggilan di teleponnya, Sania pun mulai melihat teleponnya dan mengangkat setelah mengetahui itu panggilan dari Martin.


"Hallo, ada apa?" tanya Sania.


"Kau masih di kampus?"


tanya Martin di seberang sana.


"Iya,"


"Aku sekarang ada di restoran mu, kau cepat ke sini! Ajak si Roni juga, aku disini dengan Rani temannya Ze. Cepat datang ke sini kita makan-makan bersama."


ujar Martin sambil mematikan teleponnya.


Sania pun mulai menyimpan hp-nya dan tangannya perlahan menyentuh tangan Roni menyadarkannya dari lamunannya.


"Ron, Martin mengajak kita makan-makan di restoran ku, kita kesana sekarang!"


Mata Roni yang tadinya terus melihat tajam ke arah Kenan kini mulai tersadar dan melihat Sania disampingnya.


" Baiklah, ayo!"


Mereka pun langsung bergegas pergi keluar menuju parkiran.


*


epilog ~


Saat Martin keluar meninggalkan aula Kampus, dia berpapasan dengan Rani yang sama-sama juga keluar dari sana.


Martin langsung memiliki ide cemerlang Mengingat bahwa Rani adalah teman dekat Ze, dia langsung mengajak Rani, lebih tepat nya memaksa nya untuk ikut dengan nya makan di restoran yang merupakan milik keluarga Sania. Sampai Rani tidak bisa berbuat apa apa dan mengikuti kemauan Martin.


Dalam pikiran Martin, mungkin Jika dia mengajak Rani akan mudah untuk mengajak Kenan dan Ze untuk makan bersama bergabung dengan mereka.


***


Di palkiran Kampus,


Kenan dan Ze kini sudah masuk ke dalam mobil, Kenan sudah siap untuk melajukan mobilnya tiba-tiba pergerakannya terhenti, karena ada suara panggilan di hp-nya. Kenan pun langsung meraih hp-nya dan mulai mengangkat teleponnya.


"Ada apa?" tanya Kenan yang sudah tahu bahwa yang memanggilnya adalah Martin.


"kYita makan bersama di restoran dekat kampus, gue tunggu! bilang sama istri loe, Rani temannya juga sudah di sini, cepat ya!"


jelas Martin sambil mematikan panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari Kenan.


Kenan pun langsung mengendus kesal.


"Memang menyebalkan."


gerutu Kenan sudah tahu bahwa Martin sengaja mengajak Rani agar dia tidak bisa menolak karena memang istrinya juga pasti mau untuk makan bersama dengan mereka.


Kenan pun mulai melajukan mobilnya.


"Martin mengajak kita makan di restoran dekat kampus, Rani juga sudah di sana apa kau mau ke sana?"


tanya Kenan sambil melirik ke arah Ze.


"kenapa Rani bisa bersama dengan Kak Martin?" tanya Ze.


"Entahlah, mungkin dia sengaja mengajak nya agar kita bisa ke sana." jawab Kenan.


"Baiklah sepertinya akan seru jika bisa makan rame rame."


antusias Ze dengan senyuman nya.


"Bukankah tadi dia sedang marah, kenapa sekarang jadi tersenyum begitu? sesenang itukah dia kalau sudah mendengar makanan? memang gadis rakus."


batin Kenan yang sudah menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah istrinya.


Mereka pun langsung pergi menuju restoran di dekat kampus mereka.


Setelah mereka pergi dari area kampus,


terlihat Roni dan juga Sania juga memasuki mobilnya untuk segera menuju ke restoran Sania, Roni langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sampai mobil yang di tumpangi Roni mereka beriringan dengan mobil Kenan yang sama sama melaju menuju restoran Sania.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini mobil yang ditumpangi Kenan sudah masuk ke parkiran restoran, disusul mobil Roni yang sama mulai memasuki parkiran restoran.


Kenan dan Ze yang terlihat turun lebih dulu,


membuat mereka bisa melihat dengan jelas saat Roni juga Sania yang juga sama-sama turun dari mobil Roni.


"Sial... Pasti si Martin yang sengaja ngajak kita makan bersama, dasar menjengkelkan."


batin Kenan menggerutu kesal sambil melangkah menghampi Ze dan langsung meraih tangannya.


Bukan hanya Kenan yang terkejut, ternyata Roni juga Sania yang menyadari keberadaan Kenan dan Ze disana,


juga sama-sama terkejut, namun berusaha untuk terlihat biasa saja dan mulai melangkah mendekati Ze dan Kenan.


"Si Martin juga mengajak mereka?"


batin Roni kesal.


"hai, kalian juga di sini?"


sapa Sania yang sudah menghampiri Kenan dan Ze, berusaha terlihat ramah, padahal perasaan nya, sangat kesal Melihat Ze yang ada di samping Kenan.


"Iya, Kak Martin mengajak kita makan di sini."


jawab Ze dengan cepat, sambil melingkarkan tangannya di tangan Kenan, karena melihat tingkah Sania yang terus tersenyum melihat ke arah Kenan.


" Oh ya Kenan, Selamat ya atas pernikahan kalian!"


ucap Sania sambil terus tersenyum dan mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Kenan untuk mengucapkan selamat kepada Kenan,


membuat Ze kesal melihatnya dan dengan cepat membalas uluran tangan Sania.


" Iya, terima kasih Kak,"


jawaban Ze dengan cepat sambil membalas uluran tangan Sania, dengan tersenyum yang di buat buat kesal melihat tingkah Sania yang dari tadi terus saja mendekati suaminya.


Kenan yang sadar akan tingkah Ze tiba tiba menempel pada nya. Dia langsung merangkul bahu Ze dan langsung mengajaknya masuk ke dalam tanpa mempedulikan Sania dan Roni yang ada di belakangnya.


" Hei kau cemburu kan?! saat Sania mendekati ku."


bisik Kenan berusaha menggoda Ze.


"Tidak kok,"


tolak Ze sambil memalingkan wajahnya.


"Jangan bohong? bilang aja Kalau cemburu!"


bisik Kenan di telinga Ze, sambil tersenyum jahil dengan tangan yang terus merangkul pundak Ze.


" Sudah jangan bicara terus, ayo kita masuk aku sudah lapar Kak."


kilah Ze sambil terus memalingkan wajahnya


merasa malu karena Ze memang cemburu saat melihat Sania yang terus mendekati suaminya.


Kenan malah terkekeh melihat tingkah Ze sambil mencubit pipi cabi Ze, merasa gemas.


hahaha Bilang aja kalau Cemburu kenapa susah sekali sih.


Mereka pun langsung masuk ke dalam dan disusul oleh Roni dan Sania di belakangnya.


~


"Wah kalian sudah sampai?!"


ucap Martin yang melihat kedatangan dua pasangan yang berbarengan masuk ke restoran dan langsung duduk di meja yang diduduki Martin dan Rani.


"Kok malah seperti triple date ya!?"


ucap Kenan dengan santai sambil menarik kursi dan menyuruh Ze untuk duduk di kursi yang sudah ditarik olehnya dan Kenan pun langsung duduk di sampingnya.

__ADS_1


Ze yang mendengar kata-kata suaminya itu langsung tersenyum jahil sambil melihat ke arah Rani yang duduk di samping Martin.


" Wah sialan si Ze Beneran ngedoain aku sama Kak Martin yang menjengkelkan ini."


gerutu Rani yang sudah mengerti apa arti tatapan sahabat nya itu. Mereka pun langsung duduk nyaman di posisi nya masing masing.


Salah satu pelayan di sana langsung menghampiri meja yang di duduki mereka.


melihat Sania yang ada di sana, yang merupakan anak dari pemilik restoran pelayan itu langsung membungkuk hormat menghampiri Sania


" Maaf Non Ada yang bisa saya bantu?"


tanya sang pelayan dengan sopan


" Tolong siapkan makanan favorit disini siapkan semua secepatnya


untuk teman-temanku."


ucap Sania menjelaskan


Pelayan itu langsung mengiyakannya dan langsung ke belakang untuk menyiapkan makanan


*


Tidak membutuhkan waktu yang lama makanan sudah tersaji di meja makan mereka pun langsung mengambil makanan mereka.


Kenan yang malas memilih makanan, ia langsung mengambil makanan yang ada di depannya, tanpa melihat jelas apa yang akan dia ambil.


semuanya terlihat lahap menyantap makanan, berbeda dengan Kenan yang terus memainkan garpunya, memilih makanan


di piring nya yang terlihat itu adalah makanan Seafood yang berisikan cumi dan udang.


Kenan terus saja menggerakan garpunya menjauhkan udang udang nya, dan


memilih cumi nya dan langsung ia makan.


"Kenapa harus ada udang si."


batin Kenan menggerutu karena memang Kenan dari dulu alergi dengan udang, dan tidak akan bisa untuk memakan nya.


Mata nya kini melirik Ze di sampingnya, langsung tersenyum kecil karena bukan pemandangan yang aneh jika memang Ze selalu saja lahap saat menyantap makanan.


Kenan kini menggerakkan tangannya mengangkat garpu berisikan tusukan udang dan langsung ia arahkan ke mulut Ze.


"Kau suka ini?"


tanya Kenan , membuat Ze langsung terkejut dan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"A a a"


seru Kenan menyuapi Ze, membuat Ze langsung membuka mulut nya dan langsung menyantap makanan yang di suapi oleh Kenan.


Membuat mereka terlihat romantis, sampai dua pasang mata di depannya melihat nya dengan tatapan kesal.


Sekali, dua kali, Kenan terus menyuapi Ze.


Terlihat sangat mesra membuat semua mata tertuju pada pasangan suami istri itu.


Hingga Roni merasa risi melihat pemandangan di depannya. dan langsung fokus lagi pada makanannya.


Berbeda dengan Sania dia terus melihat pandangan di depannya. sudah tau Kenan tidak suka udang , sampai dia menyuapi semua udang yang ada di piring nya dan ia berikan pada Ze.


"Udah Kak, aku bisa makan sendiri, makan aja oleh Kak Ken, makanan ku masih banyak"


ujar Ze, karena malu melihat tatapan teman teman di depan nya,yang terus mempertahankan mereka.


"Ze, apa kau tidak tau kalau Kenan alergi udang? kenapa kau malah menyuruhnya untuk memakan nya?"


tanya Sania dengan serius merasa kaget karena Ze malah menyuruh Kenan memakan udang nya, padahal udang itu merupakan makanan yang paling ia benci.


Serasa seperti sambaran petir di siang bolong , membuat hati Ze teriris sakit mendengar perkataan Sania.


Membuat semua mata menatap ke arah Ze. karena perkataan Sania yang tegas malah terdengar seperti terguran keras Sania kepada Ze, karena Ze yang bersetatus sebagai istri Kenan tapi tidak tahu sesuatu yang paling di benci oleh Kenan.


Hingga Ze pun terkejut mendengar perkataan Sania, sampai terselip rasa sakit di hati nya, mendengar pertanyaan Sania, yang lebih mengetahui tentang Kenan dari pada nya.


Kenan yang melihat ekspresi Ze yang tiba tiba berubah dia langsung melahap udang yang ada di garpunya, yang tadi ia maksud untuk ia siuapkan pada Ze.


"Siapa bilang aku alergi udang?"


ucap Kenan santai sambil mengunyah udang yang ada di mulutnya berusaha menghilangkan kekecewaan Ze.


Membuat Ze langsung melihat ke arah Kenan, merasa terkejut sekaligus sedikit tenang mendengar perkataan Kenan.


"Bukan kah dulu kau tidak pernah suka udang?"


Hingga Sania yang terus saja bicara membuat suasana di sana terasa sangat tegang.


"Kenapa Kak Sania terlihat mengenal dekat Kak Kenan, sampai se perhatian itu"


batin Rani heran


"Dulu dan sekarang beda."


jawab Kenan singkat sambil terus memakan udang suapan ke dua nya.


Tidak ingin membuat Ze semakin kecewa dengan perkataan Sania, yang menunjukkan seolah olah dia lebih mengenal Kenan, lebih tau banyak tentang Kenan dari pada Ze, padahal Ze kini bersetatus sebagai istrinya Kenan.


"Kak,"


panggil Ze dengan lirih sampai terlihat jelas kekecewaan di wajahnya. kenapa harus mendengar perkataan yang kurang enak, apalagi kata kata itu keluar dari mulut wanita yang merupakan masa lalu suaminya.


"Kenapa malah terus menatap ku? cepat makan,"


ucap Kenan dengan tangan menyentuh kepala Ze, dan berakhir mengacak-acak rambutnya. sambil memasang senyum kecilnya.


Berusaha mengalihkan kekecewaan Ze, saat mendengar perkataan Sania.


Dengan terus memakan udang nya berusaha membuktikan pada Ze, bahwa sesuatu yang di ketahui Sania itu tidak benar.


"Iya, iya aku makan,"


ucap Ze sambil merapihkan rambut nya, dan langsung menyantap kembali makanannya.


Hingga kini suasana tenang kembali.


"Gila si Kenan, Dia berani memakan udang nya demi menjaga perasaan istrinya, padahal dari dulu jelas jelas dia akan selalu langsung tumbang jika sudah memakan udang "


batin Martin.


"Sial, seperti reaksi udang nya udah mulai terasa."


batin Kenan yang kepalanya mulai merasa pusing karena alergi udang nya mulai kambuh.


"Ze, aku ke toilet dulu."


ucap Kenan sambil memegang tangan Ze.


Kini Kenan pun mulai melangkah dengan perlahan, Karen sakit kepala nya mulai terasa berat.


Setelah Kenan telah berjalan memasuki toilet, kini Roni terlihat beranjak dari duduk nya dan sama sama menuju ke toilet.


Entah apa yang akan di lakukan Roni sekarang?


*


"Akh, padahal cuma makan sedikit, kenapa reaksinya secepat ini."


gerutu Kenan sambil membasuh muka nya, mencoba menghilangkan sakit di kepalanya.


Setelah kenan selsai dari toilet, kini dia mulai berjalan kembali untuk masuk ke dalam,


namun langkah nya terhenti karena Roni yang tiba tiba datang menghadang jalannya.


"Cih, mau apa lagi dia?" batin Kenan


"Kau benar sudah menikah dengan Ze?"


tanya Roni to the point belum percaya jika Kenan benar benar sudah menikahi Ze.


"Akh, apa aku harus membawa surat nikahnya dan ku perlihatkan pada mu, kenapa kau selalu saja mengganggu ku?"


jawab Kenan tegas, sambil menatap tajam Roni, perlahan melangkah pergi meninggal kan Roni, enggan meladeni Roni karena kepalanya makin pusing, dan terasa makin berat.


"Kalau Kau benar-benar mencintai nya dan menyayanginya aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi awas saja jika suatu saat kau menyakitinya apalagi membuatnya menangis aku tidak akan segan-segan untuk melukaimu, camkan itu Kenan,"


tegas Roni dengan suara Kerasnya.


Membuat Kenan menghentikan langkahnya dan langsung berbalik lagi kearah Roni.


" Sepertinya kau harus lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri, jangan mengkhawatirkan orang yang sudah menjadi tanggung jawab orang lain, karena semua yang kau khawatirkan tidak akan pernah terjadi," sahut Kenan dengan sinis sambil menepuk pundak Roni dan kini dia langsung


melangkah pergi meninggalkan Roni.


Tanpa mempedulikan Roni yang sudah mengeram kesal di belakang nya.


" Apa karena aku sedang sakit kepala? kenapa rasanya kata-kata si Roni menyakitkan sekali."

__ADS_1


batin Kenan dan kini dia pun mulai melangkah ke dalam dan langsung menghampiri Ze.


"Apa sudah beres makan nya?"


tanya Kenan berusaha terlihat biasa saja tidak ingin sampai Ze mengetahui kalau dia sedang menaha sakit kepala akibat alergi udang yang tadi iya makan.


" Kita pulang sekarang! Bunda sudah menunggu kita di rumah." imbun Kenan beralasan dengan memaki Nama Bunda nya, untuk mengajak Ze cepat pulang sudah tidak kuat ingin rasanya dia langsung mengistirahatkan badannya, karena mulai tersa makin parah reaksi dari alergi nya.


Tanpa penolakan Ze pun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Kenan dan langsung keluar bersama.


"Kita duluan ya!"


seru Kenan langsung meraih tangan Ze di samping nya.


*


Saat sudah di parkiran Kenan langsung menyuruh Ze untuk mengendarai mobilnya takut sakit kepalanya akan makin parah membuat dia tidak bisa fokus mengendarai mobilnya.


"Kau bawa mobilnya." seru Kenan sambil memberikan kunci mobilnya


kepada Ze.


"Kenapa harus aku Kak?"


tanya Ze heran.


"Sudah jangan bicara! cepat masuk saja kemudikan mobilnya."


ujar Kenan yang kini dia sudah membuka pintu mobil penumpang di depan.


Ze pun mau tidak mau langsung masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya dan langsung pergi melaju meninggalkan area restoran.


Sepanjang perjalanan Kenan terus saja menahan sakit di kepalanya terasa makin berat sampai-sampai dia hampir Kehilangan kesadarannya, namun berusaha tetap terlihat biasa saja, tidak ingin membuat Ze mengkhawatirkannya atau pun merasa sakit dan kecewa jika sampai Ze tau, kalau dia benar benar alergi dengan udang. Kenan berusaha menyembunyikan nya


sudah tau bahwa Ze pasti akan kecewa jika dia mengetahui tentang dirinya, di tambah lagi mendengar sesuatu tentangnya malah dari wanita masa lalu nya.


Ze yang terus saja fokus mengendarai mobil Ia hanya sesekali melirik ke arah Kenan.


"Kak Kenan kenapa ya kenapa terlihat aneh sekali?!"


Ingin sekali bertanya, namun ia urungkan karena melihat keseriusan wajah Kenan.


*


Kini mereka sudah sampai di rumah,


Kenan langsung turun dan di ikuti Ze di belakangnya.


Saat masuk, Widi terlihat sedang duduk di ruang tengah langsung menyadari kedatangan dua anaknya itu.


"Kalian sudah pulang?!" sapa Widi menyambut kedua anaknya.


"Bun aku naik ke atas dulu, sudah gerah ingin segera membersihkan badan."


"Ze temani Bunda ya, aku mandi dulu."


seru Kenan sambil melangkah cepat menaiki tangga, ingin rasanya ia segera merebahkan tubuhnya, dan sengaja menyuruh Ze tetap di bahwa, tidak ingin sampai ia melihat rasa kesakitan nya.


Ze yang mendengar kata kata Kenan langsung duduk di samping Widi, dan langsung berbincang bincang dengan bunda nya.


*


"Akh, walaupun memakan sedikit, kenapa kambuh nya sampai separah ini."


Kenan yang sudah di kamar langsung membuka bajunya, sempai terlihat jelas bintikan merah di badan nya, yang kini terasa makin gatal.


Karena memang saat alerginya nya kambuh, Kenan akan selalu merasa pusing di kepalanya, dan akan ada bintikkan merah di badan nya, dan itu akan terasa sangat gatal.


Namun setelah beberapa saat akan menghilang dengan sendiri nya.


Kenan pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan bertelanjang dada, menahan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.


*


"Bun apa Kak Kenan alergi dengan Udang?"


tanya Ze yang merasa penasaran karena mendengar perkataan Sania yang terdengar meyakinkan, namun di tolak keras oleh Kenan.


"Iya, dari dulu dia alerginya kambuh saat memakan udang, walaupun cuma sedikit ataupun tidak di sengaja, dia akan merasa pusing yang berat di tambah gatal gatal di badan nya."


jawab Widi dengan santai menjelaskan.


Membuat Ze terkejut dan langsung bangkit dari duduk nya, berlari menaiki tangga tidak menghiraukan Widi yang terus memanggil nya, merasa bingung melihat tingkah Ze yang tiba tiba pergi sampai berlari menuju ke atas.


*


"Kak ken!"


panggil Ze sambil membuka pintu kamar nya, dan betapa terkejut nya dia saat melihat Kenan yang terbaring lemas di atas kasur. Membuat nya merasa sakit, melihat suami nya yang terbaring lemas, yang malah menyakiti diri nya sendiri demi menjaga perasaan nya.


Dengan melangkah lemas kini Ze menghampiri Kenan yang terbaring di atas kasur dengan mata yang terus menatap nya.


"Apa kau bodoh? kenapa melakukan ini? kenapa kau menyakiti diri mu sendiri demi menjaga perasaan ku,"


ucap Ze lirih kini dia bisa dengan jelas melihat Kenan yang menahan rasa sakit nya,


sambil mendudukkan badannya di samping Kenan.


Hingga tidak terasa air mata menetes membasahi pipi mulusnya.


"Hei, kenapa cengeng sekali! di sini aku yang kesakitan, kenapa kau yang malah menangis,"


ledek Kenan berusaha menenangkan hati Ze, dan mulai bangun menyeka air mata Ze, dengan kedua ibu jarinya.


"Kenapa kau melakukan ini? kenapa kau menyakiti diri mu sendiri hah?"


gerutu Ze kesal sambil memukul pelan kaki Kenan, merasa kesal dengan suaminya yang mendadak bodoh demi menjaga perasaan nya.


Kenan malah tersenyum melihat tingkah istrinya itu, yang terlihat jelas bahwa Ze sangat mengkhawatirkannya.


"Kenapa malah tersenyum? kau pikir ini lucu?"


ucap Ze ketus, dengan air mata yang tidak sadar terus saja mengalir berjatuhan membasahi wajah nya.


"Jangan menangis, kenapa cengeng sekali, aku kan tidak apa apa,"


ucap Kenan yang berusaha terlihat bisa saja di depan istrinya, padahal terlihat jelas bahwa dia kesakitan.


Ze samakin sedih melihat suami nya, yang terus saja terlihat bisa saja, demi memenangkan hati nya, dengan refleks Ze langsung memeluk tubuh polos Kenan tanpa memakai pakaian.


"Jangan pernah menyakiti diri mu sendiri demi menjaga perasaan ku, aku baik baik saja, aku tidak apa apa, kau tidak seharusnya melakukan ini demi aku!"


ucap Ze lirih, kini dia mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Hei, jangan mendekati ku, nanti kau akan ketularan gatal gatal karena menempl di badan ku!"


ucap Kenan dengan suara terendah nya,


takut jika gatal gatal di badan nya aku menular ke badan istrinya, padahal dia sangat nyaman dan senang mendapatkan pelukan dari istrinya yang sedang menghawatirkan nya.


"Aku mencintaimu, jangan pernah menyakiti diri mu sendiri hanya demi menjaga perasaan ku, jangan melakukan hal konyol lagi, aku mencintaimu Kak Ken, aku tidak akan apa apa hanya karena hal begitu saja."


ucap Ze berusaha meyakinkan Kenan.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau mengetahui tentang aku dari orang lain apalagi sampai membuat mu merasa sakit,"


ucap Kenan lirih sambil membalas pelukan Ze, dan membeli lembut kepalanya dan berkali kali mengecup puncak kepalanya.


"Jangan pernah menyakiti diri mu, karena itu yang akan membuat ku merasa sakit, kau mengerti 'kan?" gerutu Ze sambil memukul pelan dada Kenan, kini dia mulai menceramahi suaminya. Sang empunya pun langsung tersenyum senang mendapatkan perhatian dari istrinya.


"Sudah jangan cemberut terus, kita istirahat saja!" seru Kenan kini dia menarik Ze mengajaknya tidur di sampingnya dan langsung memeluk nya dengan erat.


"Terimakasih telah mencintaiku." ucap Kenan sambil mengecup kening Ze, sambil mempererat pelukannya.


.


.


.


.


.


.


buat reader yang selalu minta up banyak, ni author kasih up yang panjang ya say๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


sekarang giliran author yang minta imbalan dari reader๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


tidak muluk muluk cuma minta like x, comen sebanyak banyak x, dan juga di tunggu vote x,


yang banyak ya author tunggu๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


terimakasih๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


salam manis untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2