
Di kediaman keluarga Nugraha suasana rumah sangt sepi, karena di waktu siang begini orang orang rumah sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
Terlihat Maya baru pulang dari pekerjaan nya, langsung masuk kerumah, memastikan anak anaknya sudah pulang sekolah atau belum.
"Bi anak anak udah pulang belum??"
tanya Maya pada pelayan rumahnya.
"Belum Nyonya,"
jawab sang pelayan sambil mengambil barang yang ada di tangan Maya.
"Tadi Naura izin mau kerja kelompok, apa mungkin belum selsai,
dan Ze kenapa masih belum pulang, apa rencana Widi tidak berhasi ya?" batin Maya sambil melangkah menuju kamar untuk mengganti pakaian.
Maya duduk di sopa kamarnya, beristirahat sambil menunggu kedua anaknya pulang,
namun di kagetkan dengan suara panggilan di hp nya.
"Widi!"
ujar Maya sudah melihat nama panggilan di hp nya dan langsung mengangkatnya.
"Halo Wid, bagaimana anak anak? apa kau yakin Kenan akan menjemput
Ze ke sekolahnya?"
tanya Maya tanpa menunggu sapaan dari Widi, karena cemas sampi sekarang anaknya masih belum pulang juga.
"Mereka baik baik saja Maya, Ze mungkin sedang di jalan sekarang dengan Kenan, tadi saat aku meminta Kenan untuk menjemput Ze dia tidak menolak,"
ujar Widi menjelaskan karena sudah mengerti bahwa Maya sedang mencemaskan anak nya.
"apa kau yakin? bukankah Kenan tidak pernah mau mengenal Ze, apa lagi kalau harus menjemput nya?"
ujar Maya merasa tidak yakin.
"Tidak, itu dulu saat dia belum bertemu dengan Ze, tapi sekarang sepertinya dia sangat menyukai Ze, sangat terlihat jelas dari tingkahnya tadi pagi saat mereka bertemu di rumah, aku saja yang melihatnya sangat gemas melihat kedekata mereka,"
ujar Widi meyakinkan Maya bahwa hubungan anak mereka sangat baik,
hingga membuat Maya yang mendengarnya tersenyum bahagia.
"Sepertinya kita harus segera merencanakan pertemuan keluarga untuk membahas pertunangan anak anak kita,"
ujar Widi sudah tidak sabar ingin menikahkan Ze dengan Kenan.
"Ya nanti aku akan membicarakan nya dengan mas Angga," seru Maya menimpal pebicaraan Widi.
"Baiklah ku akhiri teleponnya ya,
sepertinya aku harus memastikan Kenan dulu, apa dia benar-benar menjemput Ze atau tidak." ujar Widi.
"Ya, ku tunggu kabar mu lagi ya,"
akhirnya merekapun mengakhiri panggilannya.
***
Di sisi lain Kenan dan Ze berada di dalam mobil, dari tadi mereka di bisikan
dengan suara hp Pak Anton yang terus berbunyi.
"Hei... hp mu bunyi terus, kenapa tidak di angkat? mungkin itu penting?"
ujar Ze yang sudah kesal mendengar suara keras bunyi hp yang dari tadi bersuara.
"Bukan hp ku,"
seru Kenan dengan suara datar, karena mengenali itu bukan suara dari hpnya.
"Lalu punya siapa? kenapa bisa ada di sini kalau itu bukan milikmu?"
ujar Ze yang merasa bingung karena melihat sebuah hp yang ada di mobil Kenan tapi bukan miliknya.
"Kenapa kau bawel sekali, kalau ku bilang bukan milikku, ya bukan, Kenapa malah banyak tanya?" seru Kenan yang enggan menjawab pertanyaan Ze.
Karena pasti kalau sudah di jawab sekali nantinya bakal ada pertanyaan lagi, dan jawaban terakhir bakal membuka aib Kenan yang telah mencari tau identitas lengkap Ze, tapi tak pernah tau bahwa Ze adalah wanita yang di jodohkan dengannya, yang selalu ia jelek jelekan.
"Siapa juga yang bawel? aku 'kan hanya bertanya! kenapa malah marah marah, dasar Tuan menyebalkan," gumam gumam Ze sambil memasang wajah cemberut, namun bisa terdengar oleh Kenan.
"Kau panggil aku apa?" tanya Kenan dengan suara sedikit keras.
"Tidak, aku tida bilang apa apa."
kilah Ze mencari aman takutnya Kenan akan semakin marah.
__ADS_1
Perdebatan kecil mereka di kagetkan oleh suara hp, kini bukan dari suara hp pak Anton melainkan suara hp kenan yang dia simpan di saku jasnya.
"Bisa ambilkan hp ku!? aku lagi menyetir,"
perintah Kenan mengagetkan Ze hingga tak sadar bahwa ia bicara dengan nada agak keras.
"Kenapa harus aku? ambil saja sendiri, itu kan milikmu kenapa harus aku yang mengambil nya?" ujar Ze menolak perintah Kenan.
"Kenapa kau banyak bicara sekali,
aku tidak mau di salahkan ayahmu jika terjadi apa apa dengan mu, gara gara aku tidk fokus menyetir mobil, kau mengerti?"
ujar Kenan menjelaskan.
"Iya, iya aku ambil, di mana?"
Ze mengalah karena memang sangat berbahaya kalau sampai Kenan lengah menyetir, di saat ia mengambil hp nya.
"Hahaa, nurut juga dia."
batin Kenan tertawa melihat kepatuhan Ze, padahal sebenarnya bukan karena takut tidak fokus menyetir di menyuruh Ze mengambilkan hp nya, Kenan hanya ingin saja mengerjai Ze supaya dia cemberut marah marah, karena di mata Kenan saat Ze sedang cemberut, itu sangatlah menggaskan.
"Di saku jas," jawab Kenan mengarahkan di mana letak hpnya.
Ze pun langsung membalikan badannya mengarah ke tubuh Kenan dan meraih hp di saku jas Kenan. naTmun saat mengambil hp Kenan, Ze malah tidak bisa fokus karena melihat Kenan dari jarak yang dekat.
"Kenapa aku baru sadar bahwa dia tampan sekali, apa lagi kalau lagi diam begini, rasanya ingin terus memandangnya."
batin Ze yang sempet sempernya melamun di saat begini.
Kenan sendiri tidak sadar kalau Ze sedang memperhatikannya, dia hanya fokus melihat ke depan jalan.
"Hei sesusah itu 'kah kau mengambil hp ku, kenapa lama sekali,"
Kata kata Kenan mengagetkan Ze hingga tersadar dari lamunan nya.
"Iya, iya, aku kan lagi mengambilnya,
nih!" ujar Ze sambil menyerahkan hp Kenan.
"siTapa?" tanya Kenan.
"Bunda," Ze menjawab saat sudah melihat nama panggilan yang masuk di hp Kenan.
"angTkat saja!" seru Kenan menyuruh Ze untuk mengangkat teleponnya.
Ze menolak mengangkat telepon Kenan, hingga membuat Kenan kesal karena lagi lagi Ze melawan perintahnya.
"Bisakah saat aku menyuruhmu, kau tidak melawanku! lakukan saja apa yang aku perintahkan, kenapa malah banyak bicara."
dengan suara yang cukup keras Kenan bicara karena sudah mulai kesal.
"Iya baik lah,"
"Lakukan saja Ze apa yang dia perintahkan, diakan memang Tuan Muda yang harus kau patuhi segala kemauan dan perintahnya." ~ batin Ze menggerutu kesal.
Atas perintah Kenan kini Ze pun mengangkat panggilan dari Widi.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya?
bagaimana, kau sudah menjemput Ze belum?"
pertanyaan Widi yang di tujukan pada Kenan namun malah di dengar oleh Ze.
"Maaf Tante, Kak Kenan nya lagi menyetir, jadi Ze yang mengangkat teleponnya." ujar Ze.
"Ekh Ze sayang, kirain Tante ini Kenan,
kalian lagi di mana? ibumu
mencemaskan mu karena kau masih belum pulang takutnya kamu tidak di jemput Kenan, makanya tante meneleponnya untuk memestikan."
ujar Widi menjelaskan maksud dia menelepon Kenan.
"Kak Kenan tadi menjeputku dari sekolah Tan, ini lagi di jalan menuju rumah, sebentar lagi juga sampai," jawab Ze.
"Syukurlah kalau kalian pulang bersama,
Tante tutup dulu ya teleponya, hati hati di jalan."
Widi pun mengakhiri panggilannya dengan masang senyum di wajahnya,
" Sepertinya Kenan sangat suka sekali sama Ze sampai sampai membiarkan Ze mengangkat teleponnya."
batin widi merasa senang karena anaknya kini mulai menyukai wanita pilihan orang tua nya.
"Bunda bilang apa?" tanya Kenan penasaran karena tidak mendengar pembicaraan Widi di telepon.
__ADS_1
"Tante hanya menanyakan kalau kau sudah menjemputku atau belum, katanya ibu sudah mencemaskan ku karena masih belum pulang."
ujar Ze mengatakan apa yang tadi Widi bicarakan.
"Memang benar benar anak manja, pulang telat saja di cemaskan sampai segitunya."
ledek Kenan, membuat Ze replek menghadap ke arah Kenan dan meneriakinya.
"Hei, aku bukan anak manja." sewot Ze sambil mengepalkan tangannya dan di arahkan pada Kenan, tanpa ia sadari bahwa tangan satunya lagi masih memegang hp Kenan, hingga membuat hpnya terjatuh ke bawah jok yang di duduki Kenan.
"Hei kenapa kau ceroboh sekali?"
Perkataan Kenan membut Ze merasa bersalah karena telah menjatuhkan hpnya.
"Maaf aku tidak sengaja,"
sambil masang wajah melemas, Ze dengan tulus minta maaf, hingga membuat Kenan kasihan melihatnya.
" Kenapa dia memasang wajah seperti itu, semua orang pun juga pasti akan mengasihinya kalau melihatnya begitu."
Karena perdebatan kecil mereka, membuat mereka tidak sadar bahwa mereka sudah di aera kediaman keluarga Nugraha.
"Jangan melamun terus, tuh kita sudah sampai." ujar Kenan menyadarkan Ze, sambil menghentikan mobilnya di depan rumah Ze.
Ze pun melepas sabuk pengaman nya hendak turun namun terhenti karena melihat Kenan yang membungkuk kan badannya mencari keberadaan hp yang tadi di jatuhkan oleh Ze.
"Biar aku yang mencarinya! kau keluar saja."
Perkataan Ze membuat Kenan menghentikan kegiatannya, dan langsung beranjak keluar.
"Dengan senang hati." ujar Kenan sambil memasang senyum di wajahnya, dan beranjak keluar.
Tidak membutuhkan waktu lama Ze sudah keluar dari mobil dengan tangan memegang hp Kenan.
"Nih..." Ze menyodorkan hp Kenan di hadapannya.
"Terimakasih calon istriku,"
Kenan tersenyum kecil mengambil hpnya sambil menyentuh kepala Ze dan mengacak ngacaknya rambutnya, karena gemas melihat tingkah patuh Ze.
"Hei rambutku berantakan tau,"
ocehan Ze, membuat Kenan melebarkan senyumannya.
Ze pun masuk ke dalam rumah di ikuti Kenan di belakangnya.
"Siang Bu," sapa Ze pada ibu nya yang sedang duduk di ruang tamu dan menghampirinya.
"Kalian sudah pulang," ujar Maya sambi mengarahkan Ze untuk duduk di kursi dekat dengannya.
"Siang Tante!" Kenan menyapa Maya karena baru bertemu lagi setelah beberapa lama mereka tidak bertemu.
"Wah sekarang kau sudah besar ya, dulu saat terakhir ketemu belum sebesar dan setampan ini."
Maya merasa terkejut melihat Kenan yang sekarang, sudah besar dan sangat tampan. Bahkan m kini dia akan menjadi suami bagi anaknya.
Perkataan Maya hanya di tanggapi dengan senyuman dan bungkukan hormat oleh Kenan.
"Bu, Ze ke kamar dulu ya," pamit Ze perlahan melangkah meninggalkan Kenan dan Ibu nya menuju kamar.
"Jangan lama lama kasihan Nak Kenan di tunggal sendiri!" seru Maya namun tidak di tangapi oleh Ze,
"Tidak apa apa Tan, lagi pula saya juga harus langsung pulang,"
Timpal Kenan sambil melihat jam tangannya, mengingat kembali bahwa dia sedang menghukum sekertarisnya, dan menyurhnya untuk mengambil barang barangnya ke rumah kediaman Wijaya, mengingat banyak sekali panggilan masuk yang menghubungi Pak Anton.
Kenan pun berpamitan pada Maya dan langsung pulang.
Tidak lama setelah Kenan pergi, muncul Ze baru keluar dari kamarnya nampak nya dia sudah berganti pakaian.
"Kak Kenan sudah pulang Bu? " tanya Ze karena tidak melihat keberadaan Kenan di depannya.
Maya hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
"Memang seperti hantu, datang nya tiba-tiba pulang nya pun tanpa pamit, dasar menyebalkan."
Ze pun kembali lagi ke kamarnya untuk istirahat.
.
.
.
.
.
__ADS_1