Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 5


__ADS_3

Selamat membaca.


Jika sudah membaca tingalkan like dan komennya ya, biar aku tambah semangat ngetiknya. Jadikan favorit juga biar gak ketinggalan ceritanya.


----------


❤Resepsi


Hari ini resepsi pernikahan Ibra-Amini di ballroom hotel bintang 5 milik keluarga Ibra yang juga akan jatuh ketangan Ibra.


Terlihat mereka tengah menyalami tamu undangan yang tak lain adalah teman-teman, sahabat, serta rekan bisnis kedua mempelai.


Jika kalian mengira Amini itu pengangguran tentu saja tidak dia juga berbisnis di bidang kecantikan tentunya.


Amini memiliki klinik kecantikan dan memproduksi skincare. Bisnis ini dia jalani bersama Nabila adiknya. Padahal dia sekolah masak tapi malah terjun kedunia kecantikan dan keahlian masaknya itu masih terpendam hanya untuk keluarga dirumah.


Senyum tak lepas dari wajah kedua mempelai saat mereka bersanding dipelaminan menyambut para tamu sesekali bercengkrama dengan mereka.


"Mba Amini cantik banget, selamat ya sudah jadi istri sekarang."


"Iya Nin sama-sama semoga kamu cepet nyusul ya." Amini bicara pada Nina salah satu pegawainya di klinik.


"Iya mba aku pasti nyusul kok kalo udah ada calon." Jawabnya cengengesan


"Tuh Raka adikku jomblo, dari lahir malah." Ibra menimpali pembicaraan kedua gadis itu. Nina dan Amini jadi tertawa. Sedang yang empunya nama melotot ke arah Ibra.


"Ya sudah saya bertemu teman-teman yang lain dulu." Ucap Nina yang segera diangguki Amini dan Ibra.


Amini merasa lelah dan Ibra menyuruh Amini untuk duduk di kursi pelaminan biar menyalami tamunya dengan duduk. Baru sebentar acara berlangsung namun Amini merasa tubuhnya sangat lelah melebihi lelahnya hari kemaren.


"Mas." panggil Amini


"Iya," Ibra pun menoleh istrinya yang duduk disebelah kanannya.


"Astagfirullah"Ibra kaget melihat wajah pucat Amini.


"Uek uek uek" Amini merasa mual dan ingin muntah tapi tidak ada yang dimuntahkannya. Ibra sangat khawatir dengan keadaan Amini. Dengan sigap Ibra membopong tubuh istrinya yang sudah terkulai lemas itu lalu segera membawanya masuk kekamar.


Sedangkan semua tamu yang tadinya asyik mengobrol kini telah mengalihkan perhatian mereka pada kedua mempelai.Mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Terlihat beberapa dari mereka brbisik-bisik.


"Gue gak nyangka jika istri pak Ibra ternyata hamil duluan."Ucap Murni.


"Hus, sembarangan aja lo kalo ngomong.Ga mungkin pak Ibra seperti itu."Saut Mirna yang berdiri disamping Murni. Murni membenarkan perkataan Mirna karena semua karyawan tau Ibra tidak pernah main perempuan. Namun Murni masih menerka-nerka apa yang telah terjadi hingga istri bosnya itu hamil padahal baru kemaren ijab qobul


" Apa jangan-jangan wanita itu menjebak pak Ibra biar menidurinya lalu hamil dan minta pertanggug jawaban. Atau juga itu bukan anak pak Ibra. Kasian pak Ibra."Murni terus aja bicara hal yang sebenarnya ia tdak tau kebenarannya.


"Stop.. Di pecat baru tau rasa lo." Seru Mirna dengan wajah malas menatap sahabatnya itu. Tak ingin masalah akan runyam Mirna cepat menarik tangan Murni dan membawanya keluar menerobos tamu-tamu yang lain yang kini juga bertanya-tanya difikiran mereka tentang kedua mempelai.


***


Didalam kamar Ibra setia mendampingi istrinya yang terus muntah-muntah dengan hanya cairan yang dimuntahkanny itupun tidak banyak.


Nampak kekhawatiran di wajah Ibra menanti kedatangan dokter yang sudah biasa menangani Amini. Tak lama kemudian masuklah seorang dokter perempuan diantar oleh bi Siti.


Dokter Kimberly mengeluarkan peralatan dan mulai memeriksa keadaan Amini. Setelah selesai memeriksa Amini dokter cantik itu memberikan obat yang sudah ia siapkan terlebih dahulu.


"Amini hanya perlu istirahat yang cukup. Sepertinya ia sangat kelelahan. Dan ini vitaminnya diminum 2 kali sehari.


" Ucap Kimberli sebelum berlalu pergi diantar dengan bi Siti kedepan.


"Kamu pasti kelelahan atas pesta pernikahan ini. Maafkan aku tidak menjaga kondisimu. Maafkan aku belum bisa menjadi suami yang baik." Ucap Ibra tertunduk lesu.


"Mas tidak perlu minta maaf seperti ini.Memang aku saja yang lemah dan selalu menyusahkan orang-orang disekitarku."

__ADS_1


"Sekarang kamu menikahiku dan kamu akan selalu ku repotkan seperti ini. Apa kamu sudah siap?Jika mas tidak siap lebih baik kita...."


"Mas gak akan pernah mengeluh, mas akan selalu ada untukmu mas bahagia bisa bersamamu. Jangan berfikir yang tidak-tidak sebaiknya minum obat dulu lalu tidur."Ibra mengeluarkan beberapa tablet dari kepingnya lalu menyodorkannya pada Amini disertai air putih.


"Terimakasih mas" Amini tersenyum "Jika kamu sudah lelah menghadapiku bilang padaku biar aku carikan kau istri yang sempurna." Ucap Amini sambil tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Berhentilah bicara seperti itu, aku tau kita menikah atas perjodohan tapi aku telah membuka hatiku untukmu. Bukan karena kasian atau iba melihatmu tetapi aku memang tulus membuka hati ini untukmu."


"Tapi aku perempuan tidak berguna mas yang akan menyusahkanmu. Mengapa kau membuka hatimu untukku?"


"Bukankah cinta bisa hadir meski tanpa alasan.Dan aku rasa tidak ada alasan bagiku untuk mencintai dirimu dan tidak pula ada alasan untukku bisa meninggalkanmu"Sesaat mereka terdiam, lalu ibra memberikan senyumnya seraya meminta Amini beristirahat karna Ibra akan turun dulu kebawah menemui tamu yang mungkin masih ramai. Tak lupa Ibra mencium kening wanitanya itu sebelum berlalu pergi.


Sepeninggal suaminya Amini tersenyum karena merasa bahagia karena Allah telah mengirimkan lelaki sebaik Ibra disisa umurnya yang mungkin sudah tidak lama lagi. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencarikan terlebih dulu penggantinya sebelum ia pergi agar Ibra merasakan bahagia meski ia sudah tak ada.Setelah itu barulah Amini tertidur.


***


Hari telah berganti kini matahari sudah menerobos masuk ke kamar pengantin baru tanpa permisi melalui kaca jendela namun samar karena horden belum terbuka.


Ibra mengerjapkan matanya karena merasa ada yang menyilaukan matanya.Diliriknya istrinya disamping masih tertidur pulas karena mungkin terlalu lelah akibat perayaan pernikahan mereka kemaren. Ibra tersenyum melihat Amini. Ibra ingin membangunkan Amini tapi ia tak tega akhirnya ia memutuskan untuk langsung turun kebawah mengambil sarapannya dan Amini agar di bawa kekamar.


Tak lama setelah itu Ibra kembali kekamarnya membawa nampan berisi menu sarapan mereka. Ibra lalu meletakan nampan di atas nakas lalu membangunkan Amini.


"Yang, bangun sudah pagi yuk sarapan." Ajak Ibra namum Amini belum juga membuka matanya.


"Yang, bangun aku bawain nasi goreng nih enak loh ayo kita makan." Seru Ibra lagi.


"Perlahan Amini mengerjapkan matanya dan meregangkan otot-ototnya." Ibra tersnyum melihat Amini dan Amini membalas senyuman suaminya tersebut.


Mereka akhirnya makan sepiring berdua dan saling menyuapi seperti biasa.Selesai sarapan Amini beranjak dari tempat tidur berjalan ke arah mandi lalu masuk kedalam. Amini membersihkan tubuhnya, sekitar tiga puluh menit di dalam kamar mandi Amini keluar sudah dengan rapi dengan pakaian rumahan yang ia siapkan sebelumnya.


"Kamu gak kekantor mas?" Tanya Amini karena melihat Ibra yang masih memakai pakaian santainya.


"Engga, aku mau jalan-jalan aja sama kamu." Jawab Ibra.


"Udah, nanti kamu juga tau. Siap-siap sana aku juga mau siap-siap." Kata Ibra dan Amini mengangguk faham.


Amini memih gamis cantik berwarna peach dengan aksen bunga-bunga dibagian perutnya membentuk setengah lingkaran seperti memakai ikat pinggang jika dilihat dari depan, juga hijab panjang yang menjulur menutupi dadanya bewarna senada dengan gamisnya dipadukan dengan sepatu kets putih membuat Amini tampil anggun tidak lupa ia memoles wajahnya dengan bedak dan teman-temannya tipis saja terkesan natural membuatnya semakin cantik apalagi dimata Ibra.


Ibra pun telah siap dengan stelan kaos putih polos panjang juga celana hitam begitu disertai sepatu kets putih yang persis sama seperti punya Arini.


Setelah selesai mereka memutuskan untuk segera pergi namun tak lupa berpamitan pada kedua orang tua Amini. Sedang orang tua Ibra mereka sudah pulang kerumah sejak kemaren.


Sepanjang perjalanan senyum manis diwajah Amini tak pernah luntur. Membuat Ibra merasa heran.


"Aku perhatikan kamu tersenyum terus, segitu bahagianya ya jalan sama aku."Ucap Ibra sambil terus menatap kedepan fokus menjalankan mobilnya.


"Iya aku bahagia banget, tapi bukan karena jalan sama kamu tetapi karena udah lama aja gak jalan-jalan."Jawab Amini


" Yang benar?" Goda Ibra


" Iya" Ibra tak ingin lagi menggoda istrinya itu. Dengan melihat Amini bahagia seperti ini sudah membuat hatinya lega dan lebih bahagia daripada Amini.


Amini kagum melihat pemandangan yang tersaji didepan matanya. Amini begitu bahagia hingga matanya berkaca-kaca karna ia tidak pernah menyangka Ibra akan membawanya ketempat impiannya.


Sementara Ibra memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan ia tidak memperhatikan istrinya yang sejak merasa terharu bisa sampai disini.


"Yang ayo turun." Seru Ibra membuat Amini tersadar dari lamunannya yang sedang mengagumi ciptaan yang Maha Kuasa.Ibra turun dari mobil begitu juga dengan Amini.


"Gimana, kamu suka tempat in? " Tanya Ibra setelah mereka sudah. duduk di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau yang indah.


"Iya mas aku suka banget, makasih ya kamu sudah bawa aku kemari. Aku tidak menyangka kamu ternyata tau tempat ini." Ibr hanya tersenyum menanggapi ocehan Amini.


"Emmm kamu pernah kesini mas, kok tau daerah sini? " Amini merasa penasaran.

__ADS_1


"Iya, aku tau tempat ini karena aku sering kesini untuk melakukan hoby foto ku."Jawab Ibra dengan apa adanya. Amini hanya manggut-manggut.


Mereka pun terus menikmati pemandangan indah yang tersuguh didepan mata. Mereka juga melakukan foto sambil bercanda ria. Tak terasa matahari sudah tepat diatas kepala hawa panas terasa begitu menyengat di kulit mereka. Cacing diperut keduanya pun sudah berdemo. Ibra mengajak Amini untuk makan siang di sebuah rumah makan di dekat sini dan Amini menuruti prmintaan suaminya karena ia sendiripun sudah merasa lapar.


Mereka beranjak meninggalkan bukit, Ibra langsung tancap gas setelah keduanya masuk kemobil. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah makan yang terbilang cukup unik karena rumah makannya terbuat dari bambu dengan atap rumbia yang membuat sejuk. Sebenarnya ini bukan seperti rumah makan biasa yang berbentu seperti rumah lalu ada kursi dan meja,diarea ini yang ada saung-saung berjejer rapi dan didalam saung hanya ada meja pendek dan makannya pun lesehan.


"Waw, berasa dipedesaan hanya saja tidak ada sawahnya."Ucap Amini membuat Ibra tersenyum.


"Kamu suka tempatnya?Atau kamu maunya di resto aja?"Amini menggeleng, membuat Ibra bingung.


"Enggak mas, aku suka kok disini. Ini pengalaman pertamaku makan di tempat ini." Ibra kembali tersenyum lalu mengajak Amini untuk duduk disalah satu saung.


Tak lama pelayan datang menawarkan menu. Ibra dan Amini pun memesan gurame bakar dan kepiting lada hitam dan udang asam manis tidak lupa nasinya serta minumnya Es teh manis.


"Mas sebelumnya pernah makan disini?"


"Belum,cuman lewat aja"


"Kenapa?"


"Gak mau aja soalnya sendirian gak ada temannya sedang yang datang kemari kebanyakan sama pasangan dan keluarga."


"Kenapa gak ajak pacar mas aja atau Ayah sama bunda gitu."


"Kamu ini bawel banget sih," Ibra terkekeh lalu menjawil hidung mancung Amini.


"Aku cuma mau tau aja, gak apa-apa juga kalau gak mau ngasih tau."


"Cie ngambek"Goda Ibra.


"Siapa bilang, gak tu weekk"Amini menjulurkan lidahnya. Sedang Ibra makin terkekeh dibuatnya.


"Udah tua juga masih kaya anak kecil." Kata Ibra dengan terus terkekeh.


"Gak tuh,biasa aja." Jawab Amini


Saat mereka tengah asyik bercengkrama pelayan datang membawakan pesanan mereka. Senyum Amini mengembang karena ini pertama kalinya ia makan ditempat makan yang suasananya pedesaan di tambah cara penyajiannya yang nasinya masih menggunakan bakul nasi dari anyaman bambu berlapis daun pisang dengan sendok nasinya dari kayu. Tempat minumnya pun dari bambu. Piringnya dari anyaman bambu yangdilapisi kertas minyak dan daun pisang.Sesuai lah sama nama tempatnya RM BAMBOE.


Mereka pun makan dengan lahapnya karena ternyata selain unik makanannya juga enak jadi tidak salah jika diserbu pengungjung apalagi di hari weekend seperti ini.


***


Setelah merasa cukup jalan-jalannya dan hari juga sudah sore mereka memutuskan untuk pulang. Dirumah nampak sepi, Amini dan Ibra langsung masuk kekamar mereka.


"Dari mana kamu tau tempat yang kita kunjungi tadi? " Tanya Amini dengan pandangan lurus kedepan.


"Dari sebuah buku yang tidak sengaja kau jatuhkan saat kita baru akan memulai hubungan."Wajah Amini kini menghadap Ibra ia kaget mendengar pengakuan suaminya itu.


"Kamu baca buku itu mas? "Wajah Amini sudah berubah, ada rasa kecewa dihatinya karena ia tidak suka privasinya dibuka dan dibaca orang lain sekalipun orang tuanya apalagi dulu Ibra belum menjadi suaminya jika pun sudah ia tetap tidak mengizinkan Ibra membuka apalagi membacanya.


"Kamu tenang aja aku cuma membaca bagian yang terbuka saja." Bohong Ibra seraya menyerahkan buku yang belum ia kembalikan sejak ia menemukannya di lantai rumah sakit ketika Amini pulang dari rumah sakit tempo hari.


"Meskipun hanya sekata kamu tidak berhak membacanya mas, kecuali dengan izin yang punya. Apalagi dulu kamu belum jadi suami Amini."Amini menumpahkan kekesalannya pada Ibra karena membaca diarynya tanpa izin.


"Maaf,tapi dari situ aku tau apa maunya kamu.Aku akan berusaha buat wujudkan semua cita-cita kamu yang tertulis di halaman depan buku itu."Ibra berharap Amini tidak marah lagi dan memaafkannya.


.


.


.


.❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


Maafin ya jika masih banyak kekurangannya.


__ADS_2