Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 6


__ADS_3

Maaf ya readers semuanya aku baru up sekarang. Soalnya aku juga sibuk dengan pekerjaan yang lain. Terimakasih sudah mau membaca dan maaf atas keterlambatannya.


Mari membaca.


----------------


"Kali ini aku maafkan tapi ingat lain kali jangan lagi lakukan itu, jika itu terjadi maka aku pastikan aku akan sangat marah kepadamu." Kata Amini mengancam suaminya.


"Iya," Jawab Ibra.


Selain memang hal seperti itu tidak boleh dilakukan Amini juga tidak ingin suaminya mengetahui tentang pria yang sudah sejak lama mengisi hatinya. Bukan karena apa-apa hanya saja ia tidak ingin lagi mengingat dan mengungkit masalalu karena kini ia telah membuka hati dan belajar mencintai Ibra.


***


Hari demi hari mereka lewati bersama sambil memantapkan hati masing-masing terutama Amini yang sebenarnya belum bisa melupakan cintanya pada laki-laki yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya dan keadaannya hingga kini.


Amini sekarang mulai membaik sudah tidak tidak pernah lagi koleps selama dua bulan pernikahannya terakhir ya diacara resepsi itu. Mungkin karena Amini rutin meminum obat dan kemo terapi juga semangatnya untuk sembuh tinggi sekali juga didukug oleh keluarga terutama suaminya yang sangat mencintainya. Mungkin itulah semua faktor yang membuat Amini semakin hari semakin membaik.


Ibra juga sering mengajaknya jalan-jalan, diusahakan seminggu sekali Ibra membawa Amini ketempat-tempat indah yang membuat Amini berdecak kagum memandangnya.Seperti saat ini mereka tengah berada di tepi danau, duduk diatas rerumputan hijau.


"Terimakasih,Mas kamu selalu berusaha membuatku tersenyum setiap saat."Ucap Amini seraya tersenyum.


"Tidak usah berterimakasih, itu adalah kewajibanku untuk selalu membatmu tersenyum bahagia. Karena bagiku kebahagiaan istriku maka itu juga kebahagiaanku, malah aku lebih bhagia dari yang kamu rasakan sat ini."Senyuman Ibra membuat Amini semakin merasa bersalah hingga meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Jangan menangis sayang, apa kau terharu mendengar penuturanku?"


"Tidak Mas, aku merasa bersalah padamu kau begitu baik padaku, merawatku yang kapan saja akan meninggalkanmu karena sakitku, dan mencintaiku yang sampai saat ini belum bisa menyerahkan hati beserta diriku padamu." Amini semakin terisak dan menundukan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah terhadap orang yang tulus mencintainya namun ia malah masih memikirkan orang lain.


Ternyata tekadnya kemaren untuk melupakan pria masa lalunya itu belum sepenuhnya bisa ia lupakan. Memang semua butuh proses.


Ibra hanya bisa mendekap wanita tercintanya untuk menyalurkan kehangatan dan ketenangan.


"Aku tau kau belum bisa memberikan hatimu untuk suamimu dan suamimu akan tetap menunggumu."Ucap Ibra yang kini sudah duduk menghadap istrinya.


"Tapi ku rasa penantianku ini tidak sia-sia, karena kau telah mencintaiku sekarang bahkan selama ini kita hanya buang-buang waktu untuk saling menunggu seseorang yang sudah didepan mata." Amini bingung dengan perkataan Ibra, Amini menyeka air matanya menatap Ibra dengan seksama mencari tau maksud dari perkataan Ibra.


Seakan mengerti dengan tatapan bingung sang istri Ibra mengeluarkan sesuatu yang ada di saku bajunya dan memperlihatkannya pada Amini. Amini kaget melihat benda yang di genggam Ibra. Seketika Amini merasa lemas dan takut suaminya akan marah karena benda itu.


"Aku menemukannya tergeletak di lantai di depan lemari pakaianmu."Amini langsung menunduk karena merasa bersalah kepada suaminya atas ketidak jujurannya bahwa ia masih menyimpan barang pemberian seseorang dimasa lalu yang telah membuatnya jatuh cinta namun tanpa tau siapa orangnya.


"Maaf"Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Amini sambil terus menunduk, ia tidak nerani menatap mata suaminya.


"Maaf untuk apa? " Tanya Ibra heran.


"Maaf atas ketidak jujuranku ini, maaf karena aku masih menyimpan barang pemberian dari seseorang dimasa laluku yang sebenarnya aku pun tidak tau siapa dia bahkan tidak pernah melihat wajahnya tetapi mampu membuatku jatuh cinta dengan suratnya itu dan setiapku bersedih aku hanya memandang gantungan kunci ikon senyum itu. Namun sayang sekian lama aku menunggu ia tak pernah datang hingga kau masuk dalam hidupku dan aku membuatmu tersakiti karena tidak melihat akan cintamu.Sekarang kau sudah tau semuanya jadi aku pasrah jika kamu marah dan meninggalkanku."Jelas Amini panjang lebar dengan posisi masih menunduk.


Ibra meraih dagu Amini agar menatapnya, lalu Ibra tersenyum membuat Amini menjadi bingung.

__ADS_1


"Kau tersenyum, apa kau tidak marah padaku?" Ibra menggeleng.


"Terimakasih sudah mengerti aku." Ucap Amini.


"Harusnya aku yang berterimakasih padamu Istriku.Karena kau telah jujur padaku dan telah setia menanti hingga mencintai sedalam itu. Maafkan atas keterlambatanku meminangmu hingga kau terlalu lama menunggu karena sebenarnya akupun sibuk mencarimu hingga aku lelah akhirnya pasrah dengan perjodohan ini. Namun takdir Allah itu memang indah membuatku bersatu dengan gadis yang kucintai karena Allah dalam mahligai pernikahan."Ibra tersenyum bahagia namun juga air matanya menetes bersamaan karena bahagia pula. Amini mendengarkan dengan seksama perkataan suaminya tetapi ia masih belum mengerti maksud perkataan Ibra.


"Maafkan aku membuatmu bersedih sedalam itu."lanjut Ibra.


"Tetapi aku masih belum mengerti maksud perkataanmu." Amini akhirnya bersuara dibalas senyum oleh Ibra lalu ia mengambil dompet di saku belakang celananya.Ibra membuka dompetdan mengambil sebuah foto dari dalam dompet lalu ia serahkan kepada Amini.


"Foto ini...?"


"Iya itu kamu, dan foto itu ku ambil diam-diam saat kamu asyik bermain dengan anak-anak penderita kanker itu. Saat itu aku sedang membesuk temanku disana, namun kamu menarik perhatianku jadi esoknya aku datang lagi dan aku memperhatikanmu dari jauh namun ada anak yang melihatku tengah memperhatikanmu dan dia mendekat kearahku. Anak itu tersenyum dan berkata (Dia itu kaka terbaik kami, yang selalu menemani dan memberi semangat saat kami kemo. Kami sangat menyayanginya.)itu yang dia katakan padaku aku semakin kagum padamu dan aku memberikan surat yang sebelumnya tengah kutulis beserta ikon itu." Jelas Ibra panjang lebar membuat Amini kembali menteskan air matanya antara haru karena ia mendapatkan cintanya dan sedih karena mengingat anak kecil itu yang kini telah pergi meninggalkannya. Ibra merengkuh Amini dan membiarkan Amini menangis didalam pelukannya.


"Jadi selama ini orang yang ku tunggu ialah suamiku sendiri.Terimakasih ya Allah ini sungguh kejutan yang sangat indah.Kau pertemukan aku dengan orang yang selama ini ku kenal hanya lewat selembar surat dan sebuah gantungan kunci namun mampu membuatku jatuh cinta. Dia penyemangatku saat aku drop. Apa kau tau suamiku aku selalu membawa gantungan kunci itu kemanapun aku pergi namun ku simpan ketika kita telah menikah."Amini masih betah bersadar didada bidang suaminya.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya sedikit upnya dan mungkin gak tiap hari nantinya.


__ADS_2