Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 4


__ADS_3

Hari ini hari yang spesial bagi Ibra dan Amini dimana mereka akan mengucap janji suci sehidup semati di hadapan penghulu.Pada pukul 10:00 pagi di hari jumat ini.


Acara digelar dirumah Amini dengan dekorasi serba putih.Terlihat sudah banyak tamu yang berdatangan dan sang mempelai pria pun sudah duduk di meja segi empat yang diisi oleh penghulu, wali, dan para saksi.


Ibra terlihat gagah menggunakan stelan pakaian pengantin berwarna putih tak lupa peci berwarna senada dengan aksen aksesoris bros bertengger di samping kanan pecinya.Meskipun terus menampilkan senyum terbaiknya tetap saja kegugupan terlihat diwajah Ibra.


Sementara itu pak penghulu sedang membacakan wejangan-wejangan sebelum acara akad dimulai.


Didalam kamar Amini mendengarkan apa yang disampaikan penghulu melalui pengeras suara yang terpasang di sudut kamar. Dengan rasa deg-degan Amini menunggu Ibra mengucap ijab qobul.


Sesaat kemudian terdengar suara Ibra mengucap ijab qobul dengan hanya satu kali tarikan nafas yang langsung diikuti kata "SAH" dari para saksi dan tamu undangan yang hadir membuat kelegaan diwajah Ibra karna telah berhasil mengucap ijab qobul dan dinyatakan Sah.


Sedang Amini yang masih menunggu di kamarnya menangis haru setelah selesai Ibra mengucap ijab qobul dengan sempurna dan hanya satu kali.


Amini pun dibawa keluar diapait oleh Diana (sahabatnya) disisi kanan dan Nabila disisi kiri. Balutan gaun putih dengan beberapa aksen swarovski di bagian depan serta lengan ditambah bros yang diletakan di atas hijabnya pas ditengah-tengah dan make up yang natural disertai senyuman manis membuat aura kecantikan Amini terpancar. Ibra yang menanti istrinya berdiri disamping meja tak bergeming seakan terhipnotis oleh kecantikan Amini terlebih lagi hari ini Amini memakai aksesoris pilihan Ibra yang kemaren dia beli di toko aksesoris.


Begitu tiba dihadapan Ibra Amini meneteskan kembali air matanya seraya menunduk. Ibra meraih dagu Amini kemudian mengangkatnya supaya menghadap kedepan.Dihapusnya air mata istrinya itu disertai gelengan, tanda agar Amini tidak lagi menangis. Amini pun mengangguk dan tersenyum namun sisa air mata masih nampak di sudut matanya.


Hari ini untuk pertama kalinya Amini besentuhan dengan Ibra. Sejak Ibra menyapu air matanya hingga untuk pertama kalinya Amini mencium punggung tangan suaminnya.


Ada kecanggungan yang dirasakan Amini saat mereka bersentuhan pasalnya selama kurang lebih 4 bulan saling mengenal mereka belum sekalipun pegangan tangan.


Lalu Ibra mencium kening dan memegang kepala seraya mengucapkan doa pada gadis yang baru beberapa saat lalu sah menjadi kekasih halalnya. Ibra pun merasa canggung namun sangat bahagia karena akhirnya mampu memperistri gadis yang sudah lama dia impikan.


Mereka kembali duduk di kursi depan penghulu untuk menandatangani beberapa berkas pernikahan.


Berbeda dengan rencana awal yang hari ini harusnya hanya akad tapi berhubung waktunya mepet ya jadinya diputuskan untuk resepsi juga hari ini yang akan dimulai jam 14:00.Karena habis ini laki-laki jumatan dulu.


***


Setelah jam menunjukkan pukul 13:00 siang kedua pengantin digiring ke pelaminan untuk menyambut para tamu.


"Selamat ya buat kalian berdua semoga jadi keluarga yang SAMAWA."


"Selamat, semoga secepatnya dapat momongan"


"Pasangan serasi, selamat ya"


Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari para tamu undangan yang naik ke panggung pelaminan.


Cukup lama mereka berdiri menyalami tamu-tamu yang kebanyakan rekan bisnis kedua orangtua mereka sedang untuk rekan bisnis Ibra sendiri akan hadir besok bersama sahabat dirinya juga Amini.


Tak terasa hari sudah sore jam sudah menunjukkan pukul 16:00 tamu pun sudah tidak lagi terlihat hanya tersisa kerabat dekat orang tuanya. Amini nampak kelelahan karena sedari tadi menyambut tamu. Ibra yang menyadari itu mengajak sang istri untuk beristirahat dikamar.


"Kamu capek yang?"Tanya Ibra tapi Amini tidak menjawab karena merasa kaget atas kata terakhir yang diucapkan Ibra.Namun segera Amini menetralkan dirinya lalu dia menganggukan kepalanya tanda dia mengiyakan pertanyaan suaminya.


"Ya sudah yuk istirahat ke kamar." Ajak Ibra. Amini hanya mengikuti ajakan Ibra karena memang dirinya kelelahan hari ini apalagi mengingat Amini mengidap penyakit kanker darah yang seharusnya dia tidak boleh capek karna kondisinya akan drop.


Saat sampai di tangga dan ingin menapaki anak tangga tersebut mereka berpapasan dengan Santi yang baru turun dari atas.


"Mah kita istirahat dulu ya kasian Amini sudah capek, belum lagi acara besok. Aku gak mau dia drop." Kata Ibra.


"Iya nak, kalian istirahatlah. Biar mama yang urus bila masih ada tamu yang datang." Ucap Santi sembari tersenyum.


"Oh iya apa kalian sudah makan..?" Lajutnya lagi.


"Belum mah"Kata Ibra sedangkan Amini hanya menggeleng.

__ADS_1


"Ya sudah nanti bibi yang antar ke atas." Keduanyapun mengangguk.


Rasa lelah itu membuat Amini ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya dikasur setelah dia dan Ibra berada dalam kamar. Namun niatnya itu Amini urungkan mengingat gaun pengantin yang masih menempel dibadannya. Amini terlebih dahulu melepas gaunnya di bantu oleh Nabila karena tadi Amini sudah meminta Nabila kekamarnya melalui pesan singkat.


"Kaka kenapa kau memanggilku untuk membantumu melepas gaunmu ini? Kan sudah ada kak Ibra suamimu."Amini hanya tersenyum menanggapi celoteh adiknya itu.


"Mas Ibranya sedang mandi. Lagi pula kan tadi kau yang membantuku memakaikannya jadi kau harus tanggung jawab membantuku melepaskannya."Tukas Amini. Nabila hanya diam tidak membalas lagi ucapan Amini namun tangannya sudah bergerak melepas semua aksesoris yang melekat di kepala Amini.


Nabila meletakkan kembali aksesoris yang di pakai kakanya tadi kedalam box milik MUA hanya ada satu aksesoris yang ditinggalkan Nabila diatas meja rias sebelum dia meninggalkan kamar Amini.


"Dasar anak kecil masih aja ceroboh punya mbaknya ditaroh sembarangan." Ketika Amini ingin mengembalikan aksesoris kepala itu Ibra menghentikannya.


"Mas Ibra sudah selesai mandinya?"Tanya Amini menghentikan langkahnya menuju pojok dimana box MUA itu disimpan.


"Mas sudah selesai sudah sholat juga. Sekarang kamu mandi juga gih biar segar terus sholat. Maaf ya mas tadi duluan sholatnya soalnya kamu tengah sibuk melepas atribut pengantinmu dengan Nabila."


"Gak apa-apa kok mas lagian aku juga gak sholat dulu mas." Balas Amini.


"Gak sholat kenapa?" Ibra pura-pura tidak mengerti perkataan istrinya itu.


"Itu anu mmmmm itu... "Kata Amini menggantung karena gugup. Sedangkan Ibra terkekeh melihat raut wajah gugup istriya.


"Mas ngerjain Amini ya? sebenarnya mas ngertikan?" Amini menatap kesal suaminya.


"Hahaha iya deh maaf ya mas cuman godain kamu aja. Asyik tau godain kamu apalagi semakin pipimu merah gitu semakin niat aku menggoda." Seraya menjawil hidung Amini. Namun Amini yang kesal segera berlalu melajutkan jalannya menuju pojok.


"Mau kemana sih yang, jangan marah dong."Namun Amini tidak menghiraukan suamnya itu. Ibra pun mengikuti langkah sang istri.


"Kamu gak suka yang sama aksesoris itu? " Tanya Ibra setelah Amini meletakan aksesoris itu di box MUA. Ada sedikit kekecewaan yang meliputi hati Ibra.


"Aku suka kok, malah suka banget cantik."


"Kan punya mbak nya mas."Kata Amini singkat dan hendak kembali kekasur.


(Ternyata dia tidak tau jika itu dariku._ gumam ibra dalam hati.)


Terlintas lagi dibenak Ibra ingin mengusili istrinya.


"Tapi yang itu aku yang beli khusus untukmu." Kata Ibra tertunduk lesu. Amini yang sudah membaringkan tubuhnya dikasur kaget mendengar ucapan Ibra. Amini bangkit dan mendudukan diri bersandar pada kepala ranjang.


"Benarkah?" Tanya Amini memastikan. Ibr hanya mengngguk dengan raut wajah bersedihnya.


Amini pun meminta maaf kepada suaminya karena dia benar-benar tidak mengetahui hal itu. Namun yang namanya Ibra suka sekali menggoda Amini hingga perlu waktu cukup lama untuk Amini membujuk suaminya itu sampai akhirnya mau memaafkannya.


Hari berganti petang dan Amini masih tertidur pulas mungkin karena kecapean.Ibra yang baru masuk kekamar melihat istrinya masih terlelap. Ibra ragu ingin membangunkan istrinya, tapi jika tidak dibangunkan Amini akan melewatkan makan malamnya dan tidur dengan perut kosong.


"Yang bangun sudah hampir magrib." Ibra mendekati istrinya untuk membangunkannya namun Amini masih tak bergeming.


"Yang bangun." Ibra lebih mendekat dan kini duduk di sisi kanan ranjang dan Amini masih tak menggubris suaminya.


"Yang bangun." Ibra menggoncang tubuh istrinya itu dan hasilnya nihil Amini masih diam ditempatnya. Kini kepanikan mendera Ibra dia takut Amini drop, dengan cepat Ibra menggendong tubuh istrinya ingin membawanya kerumah sakit.


"Hahahahaha" Tawa pecah dari mulut manis Amini ketika mereka baru sampai pintu kamar.Ibra yang tadinya panik langsung bernafas lega karena sang istri cuma mengerjainya saja.


Tapi bukan Ibra namanya jika tidak membalas perbuatan istrinya itu. Tapi kali ini Ibra gak ngambek malah tersenyum namun senumnya senumnya itu terkesan menakutkan.


"Mas gak marah... kok senyum?"Amini mengerutkan dahinya bingung. Sayangnya Ibra tak mau menjawab pertanyaan Amini.

__ADS_1


"Kamu kenapa mas, turunin aku." Ucap Amini yang sudah merasa hawa mematikan dari senyuman suaminya itu. Tapi Ibra tak mau menurunkan istrinya dia malah mempererat pegangannya pada tubuh istrinya agar Amini tidak bisa berontak.


Amini mulai meninggikan suaranya meminta suaminya melepaskannya.Bukan menurunkan Amini Ibra malah membawanya turun ke lantai dasar dengan posisi sama. Amini yang tidak bisa erontak hanya bisa menutupi wajahnya karena malu dengan dua tangannya.


"Ekhmmm, pengantin baru sosweet banget sih turun aja pakai acara digendong segala." Celetuk Sonia yang ternyata masih berada dirumah Amini. Semua orang yang tadinya asyik mengobrol kini menatap kearah mereka berdua. Disana ada kedua orang tua ibra dan Amini serta merta keluarga Amini yang dari jauh.Untung Ibra sudah nengenakan kerudung Amini saat Ibra mengira Amini pingsan.


"Turunin" Seru Amini karena sudah merasa sangat malu. Ibra pun akhurnya menurunkan istrinya.


"Bukan begitu mba ceritanya, tadi Mas Ibra ngira aku pungsan jadi dia mau bawa aku ke rumah sakit tapi dengan cepat aku mengakhiri dramaku eh nyatanya dia balas dendam." Amini melirik tajam pada Ibra. Ibra pun bergidik ngeri melihatnya.


"Gak apa-apa kok kami faham jadi gak masalah bagi kami, malah kami senang melihat keromantisan kalian. Ya paling-paling bikin iri."Kata Abraham mengundang gelak tawa semua yang ada di ruang tengah.


Sedangkan Amini merasa kesal karena ayahnya itu malah membuatnya malu tapi tak bisa dipungkiri Amini merasa sangat bahagia mempunyai suami seperti Ibra. Andai kemarin dia menolak dan lebih memilih menunggu yang tak pasti sudah dapat dipastikan Amini tidak akan merasakan kebahagiaan seperti saat ini.


Tak lama adzan pun berkumandang semua laki-laki pergi ke musholla yang tak jauh dari rumah Amini untuk menunaikan sholat. Sedangkan yang perempuan sholat dirumah. Sementara yang lain sholat Amini memutuskan untuk kedapur guna mempersiapkan segala sesuatunya untuk makan malam.


Tepat pukul 19:00 laki-laki sudah kembali dari musholla. Mereka pun langsung kedapur untuk makan. Berhubung meja makan tidak cukup jadi yang lain makannya diruang tegah.Dimeja makan diisi kedua orang tua Amini dan Ibra, adik dan kaka Ibra, juga Nabila adiknya Amini.


Amini dengan cekatan menyendokan nasi beserta lauk pauknya kedalam piring suaminya. Ibra tersenyum bahagia melihat perlakuan istrinya kemudian meraih pirong yang diberikan Amini, yang juga tengah tersenyum. Setelah itu barulah Amini mengambil piring untuk dirinya sendiri. Belum sempat Amini meraih cantong nasi Ibra segera memegang tangan Amini laku memintanya untuk makan di piring yang sama. Jadilah akhirnya mereka makan sepiring berdua. Bukan sok romantis tetapi bukankah itu yang dianjurkam Rosulullah SAW.


Sontak saja kelakuan mereka membuat semua yang ada dimeja makan tersenyum bahagia namun ada juga yang menggoda.


"Terus aja bang terus, sakit hati ade bang liat yang beginian, nasib- nasib gini amat ya jomblo."Celetuk Raka adik satu-satunya Ibra. Membuat yang lain tertawa juga geleng-geleng kepala melihat tingkah Raka.


"Makanya cari pacar." saut Malik.


"Hahaha pacaran? mana ada dalam kamus Aybun bang yang ada ntar gue di gantung." Sungut Raka.


"Aybun apaan rak?" Malik mengerutkan kening.


"Ayah Bunda maksudnya yang"Jawab Karina.


"Nah tu kak Karina aja tau, masa lo kagak bang."Malik mendengus kesal mendengar perkataan adiknya itu. Lalu semuanya kembali tertawa.Hingga mengundang yang lainnya menghampiri dapur.


"Rame amat kayak nya ketawanya kenceng banget sampe keruang tengah." Ucap Arif (Sepupu Amini) yang baru saja tiba membawa piring kotor bekas dia makan dan ternyata yang lain pada ngekor dibelakang Arif membuat keluarga inti yang berada dimeja mkan itu serentak mengerutkan kening, merasa bingung akan sikap saudara mereka.


Hingga Ruri keponakan Amini anak dari sepupunya Rani nyengir menamplkan deretan gigi putihnya itu membuat yang lain ikut nyengir.


"Kalian kenapa?" Tanya Nabila


"Mereka semua pada kepo kak mendengar keseruan kalian makanya mereka ngintilin aku kemari."Jelas Arif.


"Terus kamu sendiri ngapain kemari?" Sekarang Abraham yang bertanya.


"Hehehe," Jawab Arif cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kembali mengundang tawa semua orang.


Semua laki-laki sibuk bercerita banyak hal diruang tengah dan sesekali di bumbui gelak tawa. Sedangkan yang perempuan sibuk membantu bibi membereskan dan mencuci piring bekas makan tadi.Termasuk juga sang pengantin baru yang sudah biasa dengan hal seperti itu.Mereka yang di dapur pun tak kalah seru. Hingga terciptalah kehangatan dan keakraban dirumah itu yang jarang sekali ditemui kalau bukan acara penting seperti ini atau hari raya.


.


.


.


.


Terimakasih ya sudah mau menanti kelanjutannya. Maaf ya readers author baru bisa up sekarang soalnya kemaren terkendala sinyal dan banyaknya pekerjaan yang menyita waktuku. Dan hari ini baru selesai nulis. Sudah di revisi tetapi jika masih ada typo maafin ya ✌✌✌✌✌.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2