
"Kenan, apa sudah seserius itu kau dengan nya? mengapa kau tidak memberikan kesempatan pada ku sekali saja,
kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku,
apa istimewanya dia sampai kau dengan mudah nya melupakan ku,
maaf Ken, tapi aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hati mu kembali."
Batin Sania merasa teriris melihat perlakuan manis Kenan pada Ze.
"Maaf sepertinya kita harus pulang lebih awal."
Kenan mulai meraih tangan Ze langsung ia genggam dengan erat dan beranjak pergi.
"Ayo Ran...!"
ajak Ze pada Rani, namun Rani malah terus diam.
"Maaf Ze aku tidak akan mengganggu mu, pulanglah! lupakan semua tentang masa lalu mu,
tenangkan lah dirimu di samping Kak Kenan, karena dia lah masadepan mu."
"Maaf Ze sepertinya aku harus menghabiskan makanan ku dulu, pulanglah, aku bisa pulang naik taxi,"
ujar Rani beralasan ingin menghabiskan makanan, melihat Ze sambil memasang senyuman nya supaya Ze tidak merasa khawatir dengan nya.
Ze yang sudah tidak ingin berlama lama di sana, tanpa banyak bicara lagi, Ze langsung bangun dari duduknya, dan meninggal kan Rani dan pulang bersama Kenan.
Melihat wajah Ze yang memucat dengan sigap Kenan langsung merangkul pinggang Ze dan langsung mengajak pergi dari sana, berjalan perlahan serasa merasakan rasa lemas yang di rasakan Ze.
Roni yang melihat jelas perlakuan Kenan ingin sekali ia menarik Ze dan menjauhkan nya dari Kenan.
"Zepania, kalau saja dulu aku tidak berjanji pada mu untuk tidak mengganggu kehidupan mu, rasanya ingin sekali aku menarik mu dan menjauhkan mu dari sisi si Kenan menyebalkan."
batin Roni yang makin geram.
Ze dan Kenan pun sudah melangkah pergi berjalan meninggalkan cafe sampai sudah tidak terlihat sedikit pun.
Suasana di meja makan kini menjadi sunyi kembali, hanya suara benturan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di sana.
"Kenapa jadi sepi sekali? "
batin Martin merasa aneh dengan semua yang terjadi.
"Aku ingin bicara denganmu."
seru Roni dengan sorot mata tajam menatap Rani, dan langsung berdiri melangkah pergi.
Rani yang mengerti maksud dari perkataan Roni, dengan pelan dia berdiri dan berjalan melangkah mengikuti Roni.
"****** lah aku!! pasti Kak Roni akan mengintrogasi ku."
Sania dan Martin langsung tertegun di buat kaget oleh kata kata Roni.
"Mau ke mana Ron?"
tanya Sania saat melihat Roni mulai melangkah pergi dari meja mereka.
"Sebenar nya apa hubungan dia dengan Roni, kok dia serius sekali."
batin Sania merasa terabaikan oleh Roni yang sudah melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan nya.
Roni yang sudah berjalan keluar, menuju kebelakang cafe, langsung menyandarkan punggungnya di dingding cafe, sambil menatap kosong ke arah depan.
Rani yang sedari tadi mengikuti Roni kini berdiri di dekat nya.
"Apa dia baik baik saja?"
tanya Roni to the point dengan suara datarnya, yang masih menatap kosong ke arah depan, yang masih penasaran dengan kehidupan Ze sekarang.
"Kenapa aku merasa di introgasi gara gara aku melakukan kesalahan,
menakut kan sekali."
__ADS_1
" Ze baik Kak,"
jawab Rani singkat.
"Apa sudah lama mereka berhubungan?"
lanjut Roni sudah tahu bahwa Ze pasti akan menceritakan semuanya pada Rani, karena memang mereka sejak dulu selalu saling terbuka.
"Akkh apa aku harus menjawab pertanyaan kak Roni?"
batin Rani yang merasa bingung antara harus menjawab atau tidak.
"Kenan bukan laki laki yang baik Ran!
aku tidak akan akan rela jika laki laki yang Ze pilih itu Kenan,"
ujar Roni dengan cepat ia berkata karena tidak mendengar jawaban dari Rani, berkata sambil menghembuskan napas panjangnya masih belum menerima kenyataan yang ia lihat.
"Saat pertama tadi aku lihat Kak Roni yang sedang duduk dan bercanda dengan wanita yang di samping Kakak, awalnya aku merasa lega, karena dalam pikiran ku, Kak Roni kini bahagia dengan hidup Kakak sekarang karena bisa mencintai wanita lain sehingga bisa melupakan Ze. Tapi ternyata aku salah,"
ujar Rani dengan suara datarnya, bicara tanpa melihat Roni di hadapan nya.
"Ran! aku tahu siapa Kenan, karena itu aku kawatir Ze akan terluka karena dia."
ujar Roni dengan nada suara yang tinggi
sambil bicara menatap Rani, mencoba meyakinkan Rani.
"Kak, aku memang tidak tahu Kak Kenan seperti apa, tapi yang aku tahu Ze sudah bahagia dengan pilihan nya,
kalau Kakak memang menghawatirkan Ze, biarkan Ze menjalani kehidupan nya sekarang. Karena Ze akan baik baik saja jika Kakak tidak mengganggu dan mencampuri hubungan mereka,
ku harap Kak Roni mengerti karena itu juga yang di inginkan Ze, agar Kakak bisa melupakan nya, dan menemukan wanita yang lebih baik dari nya."
ucap Rani dengan tegas merasa kecewa pada Roni, karena dia malah menjelekkan Kenan.
Huh memang masalah Cinta selalu merepotkan.
batin Rani yang mulai pergi meninggalkan Roni dan masuk kembali lagi ke meja cafe tempat tadi dia duduk.
Rani yang sudah terlebih dulu sampai di meja langsung mendudukkan badannya di tempat yang tadi ia duduki, dan langsung meminun kasar air minum di gelas yang ada di depan nya.
"Kenapa masalah cinta loe harus seribet ini sih Ze."
batin Rani sudah meneguk air minum nya sampai habis lalu ia simpan dengan kasar di meja, hingga menimbulkan benturan yang cukup keras, namun Rani tidak mempedulikan nya karena terlalu kesal dengan kejadian yang terjadi.
Roni pun terlihat kembali ke dalam dengan raut wajah datar, sehingga tidak bisa di tebak apa sebenarnya yang terjadi, membuat Sania bertanya tanya dalam hati nya penasaran.
"San, aku pulang sekarang! kau mau ikut denganku atau nanti bersama Martin?"
tanya Roni sambil mengambil barang barang nya dan bergegas pergi.
Sania penasaran dengan apa yang terjadi, membuat nya ingin langsung bertanya pada Roni, dan memilih untuk pulang bersama nya.
Roni dan Sania pun langsung pergi keluar meninggalkan Martin dan Rani di meja cafe berdua.
"Apa aku terlalu kasar ya bicara pada Kak Roni, sepertinya dia marah sekali?
ahhh biarkan saja toh dia sendiri yang salah.
Lagi pula kenapa harus meributkan Ze kalau dia sendiri sepertinya menyukai wanita yang ikut pulang bersama nya,
tidak cukup satu ya hahaha! "
batin Rani yang sudah ngoceh kemana mana sambil menidurkan kepalanya di atas meja, mengeluarkan napas panjang nya melepaskan rasa frustasi dengan semua kejadian yang terjadi.
Tanpa menyadari bahwa sepasang mata Martin yang di depan nya dari tadi memperhatikan semua gerak geriknya
"Kenapa dia sepertinya frustasi sekali, sampai bersikap seperti itu, tanpa menyadari aku yang ada di sini ."
batin Martin yang sudah menggelengkan kepalanya heran.
"Hei, kau baik baik saja?"
__ADS_1
tanya Martin penasaran mencoba bertanya.
"Heemmm,"
jawab Rani dengan malasnya sambil menganggukkan kepalanya, masih belum sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah orang asing yang baru ia temui.
"Kau teman nya Ze kan? apa hubungan nya kau dengan Roni, sampai dia ngajak berbicara dengan mu barusan? dan sepertinya dia marah sekali?"
tanya Martin dengan mata masih fokus memperhatikan kepala Rani yang di tidur kan di atas meja, merasa penasaran dengan mereka berdua sampai Rani sefrustasi itu.
"Tidak apa-apa itu masalah pribadi."
jawab Rani.
"Apa kau berbuat salah pada Roni sampai dia menjadi semarah itu?"
tanya Martin yang terus ngeyel karena masih penasaran.
"Bukan aku yang salah, dia yang salah karena tidak membiarkan Ze untuk hidup tenang bersama Kak Kenan."
jawab Rani refleks mengeluarkan semua luapan amarahnya pada Roni. Sampai tidak menyadari kata kata nya dan lagi di tambah kesal dengan pertanyaan martin yang tidak ada hentinya.
Rani yang sedang menghirup ketenangan setelah melewati keterkejutan karena bisa bertemu lagi dengan Roni. Setelah sekian lama tidak melihat dan tidak mengetahui kabar nya, malah sekarang bertemu di waktu yang tidak tepat di saat Ze mulai membuka hati nya untuk Kenan, tapi di sisi lain Roni hadir tanpa merestui hubungan Ze dengan Kenan, malah alih alih Roni menjelekkan Kenan, karena rasa tidak suka Roni bila Ze harus memilih Kenan dari pada nya.
Hingga membuat pikiran Rani menjadi kalut, membuat dia kesal sendiri menghadapinya.
"Emang apa hubungan Roni dengan Ze, sampai dia ikut campur urusan Ze?"
tanya Martin yang sudah makin bersemangat karena dia bisa memanfaatkan kesempatan untuk menguak kebenaran nya. Selagi Rani masih tidak sadar dengan apa yang ia bicarakan.
"Hei kenapa kau banyak bicara sekali, kak Roni itu adalah mantan nya Ze, kau puas!"
jawab Rani dengan sedikit berteriak kesal, sambil membangunkan kepala nya merasa terganggu dengan pertanyaan bertubi-tubi yang ia dengar dari orang yang ada di hadapan nya, dan saat Rani melihat siapa orang yang ada di depannya seketika Rani baru tersadar dengan apa yang ia ucapkan.
"Roni mantan Ze...!" mengulang perkataan Rani merasa terkejut.
"Waaaaa, apa yang aku bicarakan, ****** kau Rani, kenapa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan, sial lagi lagi kau tidak bisa menjaga kata kata mu hah."
batin Rani kaget setang mati, refleks langsung membungkam mulutnya, menyesali semua perkataan nya. Langsung menatap Martin dengan malu, apalagi Martin sudah tersenyum jahil menatap nya, saras menemukan harta karun karena mengetahui kebenaran nya.
Waaa maafkan aku Ze!
"Hei.... ka...kau mendengar kata kata ku?"
tanya Rani dengan gelagapan memastikan nya, sambil mata nya terus menatap Martin.
"Bagaimana aku tidak mendengar nya, kau dengan jelas sekali menyebutkan kalau Roni itu mantannya Ze."
seketika tawa Martin pecah melihat ekpresi Rani yang panik akibat perkataan nya sendiri.
Wah ****** kau Rani, kau pasti bakal kena marah besar oleh Ze, lagi lagi kau tidak bisa menjaga kata kata mu.
"maaf Kak, bisakah kau pura pura tidak mendengar nya saja, kau bisa menjaga rahasia 'kan?"
ucap Rani dengan suara melemas memohon pada Martin untuk merahasiakan apa yang ia dengar.
Martin hanya tersenyum sinis, entah apa yang ia pikirkan sekarang.
"Siap siap loe Ken, ternyata tatapan tajam Roni tadi saat melihat mu, bukan hanya karena kesal gara-gara masalah Sania. Ternyata karena kesal wanita yang pernah ia Cintai kini berada di samping mu,
sepertinya kau harus lebih keras mempertahankan Ze di samping mu Kenan,
karena masalah percintaan mu sangat lah rumit sekali "
batin Martin membayangkan apa yang akan terjadi kedepan Kenan, setelah mengetahui kebenaran nya.
.
.
.
.
__ADS_1
...