
Ze sedang tiduran di atas kasur, dengan pandangan kosong menatap langit langit kamar.
"Apa aku gak salah dengar ya...?
rasanya tadi aku mendengar ada yang memanggil Om Surya dengan sebutan Ayah.
Akh tapi gak mungkin, Om Surya kan bilang bahwa anaknya ada di luar kota,
mungkin aku salah dengar."
Kini Ze memutar posisinya dengan tengkurap, tiba tiba di kagetkan oleh suara panggilan di hp nya, betapa kesalnya Ze saat tau siapa yang menelopon nya malam malam begini.
Mau ngapain lagi si cowok nyebelin ini,
aku biarkan saja, toh dia tidak penting.
Ze langsung menyimpan hp di bawah bantal yang sedang dia tiduri.
Namun panggilan itu tidak kunjung berhenti, hingga membuat Ze kesal dan mengambil lagi hp nya, di lihatnya ada satu pesan masuk.
"Kalau kau tidak mengangkat teleponku, awas saja kalau kita ketemu lagi, akan ku makan kau hidup hidup...!"
Sebuah pesan yang di kirimkan Kenan membuat Ze merinding ketakutan.
Wah kenapa dia menakutkan sekali.
Karena memang mood kenan sekarang sedang tidak baik, karena merasa penasaran siapa wanita yang di telepon Ayah nya.
Karena merasa takut dengan isi pesan dari Kenan, kini Ze menyentuh ikon hijau di layar hpnya
"Kau sengaja membuat ku kesal, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya...!"
Kenapa dia marah marah begini, seharusnya jangan meneleponku kalau hanya untuk marah marah, membuat orang kesal saja.
"Maaf...! aku tidak mendengar panggilan telepon mu."
Cari aman saja Ze, dari pada kau harus kena cakar singga yang lagi ngamuk ini.
" Tadi kau menerima telepon dari siapa, sebelum aku menelepon mu...?"
Perkataan Kenan yang tiba tiba membuat Ze melohok kebingungan.
Apa haknya? menanyakan masalah pibadiku?.
"Apa maksud mu..?!"
Kata kata Ze yang malah menjawabnya dengan pertanyaan, membuat Kenan makin marah.
"Apa pertanyaan ku terdengar seperti lelucon??
jawab saja pertanyaan ku, kenapa malah bertanya lagi...?! "
Suara Kenan yang makin keras membuat Ze tambah marah, dan tak bisa menahan diri untuk tidak melawannya.
"Kenapa kau selalu menyebalkan,
aku tadi di telepon oleh calon mertuaku,
dan asal kau tau, aku punya calon suami, jadi jangan macam macam, dan jangan ganggu aku lagi...!"
Suara Ze yang lantang dengan nada yang tinggi mengakhiri pembicaraan nya dengan Kenan tanpa pamit langsung memematikan hp, hingga membuat Kenan terkejut di buatnya.
Wah ternyata dia berani sekali sampai mematikan panggilan dari ku.
Namun mendengar perkataan Ze membuat Kenan membentuk senyuman kecil di bibirnya, karena kata kata Ze memperjelas ke penasaran nya tentang wanita yang tadi di telepan Ayah nya, yang Ayah nya bilang bahwa wanita itu calon istrinya.
Kalau memang benar dia...!!
Aku akan senang sekali...!
~
Di sisi lain Maya masuk ke ruangan Surya, bermaksud untuk mengajak suaminya untuk segera istirahat. Namun merasa kaget melihat surya yang lagi tertawa sendiri, hingga langsung melangkah mendekatinya.
"Sayang...! kenapa tertawa sendiri, apa yang Ayah tertawakan...?"
"Lihat ni Bun...!"
Surya memperlihatkan sebuah foto di hp nya, yang barusan ia dapat dari bawahan nya yang ia suruh untuk mengikuti Kenan.
"Bukan kah ini Kenan dan Ze...?"
Betapa terkejutnya Widi saat melihat foto di layar hp suaminya itu. Ternyata Kenan dan Ze yang sedang berebut hp Ze, tadi siang di depan gerbang sekolah Ze.
"Sayang...! bisa kau jelaskan semua ini...?!"
"Mereka bertemu di Surabaya, saat Ze berlibur di sana. Kebetulan Ze meniniap di hotel Kenan, tapi mereka tidak mengetahui satu sama lain bahwa mereka sepasang yang di jodohkan."
Widi yang mendengarnya langsung tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Dan ini foto tadi siang saat Kenan baru sampai Jakarta,
dia malah bertemu dengan Ze terlebih dulu daripada menemui kita yang orang tua nya...!"
Widi hanya bisa tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.
"Itu baik dongk sayang,
kita tidak perlu mendekatkan mereka lagi, karena mereka sudah saling mengenal.
Bunda ingin sekali melihat reaksi mereka jika mengetahui kebenarannya."
Aku akan merencanakan sesuatu dengan Maya agar mereka bisa bertemu di sini.
***
Pagi hari Ze sudah siap dengan seragam rapih sekolahnya, tangan kanannya menenteng taperwer besar, entah apa itu isinya, yang pasti, Ze di suruh Ibu nya untuk mengantarkannya ke rumah keluarga Wijaya, Ze pun tidak bisa menolaknya kerena memang Ze juga sudah lama tidak mengunjungi Surya dan Widi yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Ze sudah sampai di kediaman Wijaya,
Ze langsung di persilahkan masuk ke dalam oleh seorang pelayan, dan menuntunnya ke ruang makan dimana Surya dan Widi sedang sarapan.
"Hallo Om...! Tante...!"
Sapaan Ze mengagetkan Widi, membuat Widi langsung menghampiri Ze dan memeluknya karena sudah lama tidak melihat anak cantiknya itu.
"Hai sayang...! sudah lama kamu tidak ke sini, Tante kangen banget sama kamu."
"Maaf Tante akhir akhir ini Ze sibuk jadi tidak sempat main ke sini, oh ya Tan! ini ada titipan dari Ibu untuk Om dan Tante. "
Widi langsung melihat taperwer yang ada di tangan Ze dan langsung mengambilnya.
"Wah ini pasti makanan enak, Ibu mu memang paling tau, kalau Tante suka sekali makan pasakannya....!"
Mereka pun duduk bersama menghabiskan sarapannya.
Dan setelah sarapan mereka habis Surya mengajak Ze ke ruangang tamu untuk duduk berbincang.
Namun saat mereka berjalan hendak menuju ruang tamu, terdengar suara langkah kaki yang sepertinya lagi terburu buru melangkah dari lantai atas dan mulai menuruni tangga.
"Bun... kenapa gak bangunin aku...?!
sekarang aku ada pertemuan dengan Tuan Arya, aku malah kesiangan."
Suara keras Kenan terdengar jelas di telinga Ze hingga membuatnya terkejut.
Karena merasa kenal dengan suara itu, Ze langsung menyembunyikan diri di balik tubuh Surya, berjaga jaga jika memang benar itu adalah si Tuan menyebalkan.
Surya dan Widi tersenyum jahil saat melihat tingkah Ze yang replek bersembunyi saat mendengar suara anaknya .
Ternyata sudah sedekat itu mereka, sampai Ze mengenali suara Kenan,
lihat ekspresi Ze yang terkejut!
lucu sekali. ~ batin Surya
Kenan menuruni tangga tidak melihat sekitarnya, karena berkutat dengan dasi nya yang tak kunjung selsai ia pakai.
"Bun...! tolong dongk pasangin dasi ku...! aku sudah telat nih....!"
Perkataan Kenan lagi lagi membuat Ze terkejut, hingga menyondongkan sedikit kepalanya untuk melihat siapa yang baru turun dari tangga itu.
Hah... ternyata benar dia, kenapa dia bisa ada di sini...?
apa ini sebenarnya?
kalau dia anak Om Surya berarti dia....!
Aaaaaa..... tidak mungkin.....!
Batin je menjerit membayangkan bagai mana kalau benar Kenan adalah calon suaminya.
"Kamu kan sudah besar kenapa masih belum bisa memasang dasi sendiri...!"
Merasa lucu mendengar kata kata Widi, Ze tak sadar bahwa dia mengeluarkan suara tawa yang cukup keras, sehingga Kenan bisa mendengarnya.
Apa aku gak salah lihat...? ini benar dia! kenapa sepagi ini dia bisa ada di sini??
apa jangan jangan benar dia adalah wanita yang di jodohkan dengan ku.
Kenan terkejut saat melihat sosok wanita yang sedang bersembunyi di balik tubuh Ayah nya, saking terkejut Kenen langsung menurunkan tangannya yang sedang memasang dasinya yang tak kunjung rapi itu.
Surya dan Widi yang melihat ekspresi anaknya hanya bisa tersenyum kecil,
dan merencanakan sesuatu agar mereka bisa saling bicara.
"Bun! bantu Ayah nyiapin berkas untuk di bawa ke kantor ya...!"
Surya mengajak Widi ke ruangan kerjanya mencari alasan agar membiarkan mereka berdua bicara.
__ADS_1
" Ke -, ke...napa kamu ada di sini....?"
Ze yang gelegapan memandang kenan di hadapannya, karena tersadar bahwa tidak ada lagi yang menghalangi mereka.
"Bukannya aku yang harus bertanya...! kenapa kamu ada di rumahku...?"
Perkataan Kenan membuat nyali Ze menciut, apa lagi tatapan seramnya, membuat Ze ingin segera pergi dari sana.
Kau harus segera pergi dari sini, suasananya mulai buruk, sepertinya dia benar benar ingin memakan ku hidup hidup.
Ze membalikan badan mulai melangkahkan kakinya untuk kabur,
namun langkahnya terhenti karena tas yang ada di punggungnya di tarik Kenan dengan keras, sampai kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang dekat .
"Tidak segampang itu kau kabur dariku....! kau harus menerima hukuman karena berani beraninya membentak ku dan memutuskan teleponku semaumu....!"
Kata kata kenan membuat Ze semakin menciut ketakutan.
Habis lah aku!!! dia memeng moster gila pendendam, pasti dia tidak akan mengampuniku.
"Karena aku orangnya baik hati dan suka memaafkan. Maka hukumannya cukup ringan kau harus memasangkan dasi ku...!"
Dengan hati yang sudah cengengesan,
berusaha bicara dengan tegas, padahal kenan merasa malu, yang lagi lagi ke pergok tak bisa memakai dasi di hadapan Ze. hingga menjadikan alasan hukuman untuk Ze supaya memakaikan dasinya.
semudah itu,,??
baik lah Ze!! sekarang pasangkan saja dasinya, dan sesudah itu langsung pergi kabur dari hadapannya
Kenan hanya bisa tersenyum kecil melihat Ze yang mulai memasangkan dasi di lehernya.
Setakut itu kau melihatku sampai sampai jadi menjinak begin...?!
tapi terlihat lebih manis kalau dia sedang diam dan jinak begini.
"Apa calon suamimu tidak marah kau dekat dekat denganku?! "
Dengan suara datar kenan berbicara, padahal dalam hatinya dia cengengesan, karena bisa mengerjai Ze, dan melihat ekpresinya yang terkejut.
Waaaa,,,, kenapa dia malah bertanya seperti itu, aku kan jadi salah tingkah.
Merasa terkejut dengan perkataan Kenan, Ze tidak sengaja mengencangkan dasi Kenan sampai membuat Kenan terbatuk kesakitan.
"Kau ingin membunuh ku....?! "
Dengan sedikit membungkuk Kenan melihat Ze di depannya.
" Maaf aku tak sengaja, makannya jangan bicara terus, aku kan jadi tidak bisa pokus memasangkan dasinya,
sudah!! sekarang sudah rapi. aku bisa pergi kan?? "
Kenan yang sedari tadi melihat Ze, melihat semua pergerakan tangan Ze yang memasangkan dasinya, dan mendengar perkataan maaf lembut dari bibirnya, merasakan perasaan senang di dalam hatinya sehingga terpancar senyum di wajahnya.
"Jangan pergi...!! ayo kita menemui ayah untuk memperjelas semua ini."
Kenan mencegah Ze untuk pergi, tanpa dia sadari tangannya sudah memegang tangan Ze dan menariknya.
"Hai... kenapa kau menarik tangan ku??
aku bisa jalan sendiri lepaskan aku!! "
"jangan banyak bicara,!! kalau kau terus bicara, aku tak akan segan untuk menggendongmu."
Ze pun terdiam membungkam mulutnya mendengar perkataan Kenan.
dan matanya melirik tangan Kenan yang menarik tangan nya, terseip perasaan aneh muncul dalam hatinya.
Kenapa tangannya terasa hangat sekali.
Merekapun pergi melangkah ke ruangan kerja Ayah Kenan
.
.
.
.
.
hai para readers semua. π€π€π€
mohon dukungan nya ya. ππ
dengan cara like comen search dan tambahkan ke favorit ππ
terimakasih. πππ
__ADS_1