
Ze kini tengah duduk bergabung dengan para orang tua, duduk persis di hadapan Kenan yang sadari tadi memasang senyum jahi, seolah olah dia meledaknya.
" Puasa sekali dia mengerjaiku " batin Ze sambil memalingkan pandangan nya.
Pandangan nya mulai melihat mengitari seluruh ruangan, hati nya mulai sedikit tentang, karena tidak terlalu banyak orang yang ada di sana,
Kenan memang sengaja meminta Bunda nya, agar keluarga dekat nya saja yang hadir di pertunangan ini,
karena dia tak ingin menarik perhatian orang orang, jika sampai orang melihat iring iringan keluarga Wijaya, membuat mereka bertanya tanya, apa yang akan keluarga Wijaya lakukan?? apa lagi kalau sempai mengetahui siapa Kenan sebenarnya.
Walaupun awalnya Kenan menyembunyikan identitasnya karena menolak perjodohan ini, tapi kini di sudah menikmati kehidupan nya, tanpa orang memandangnya sebagai anak keluarga Wijaya yang terkenal dengan kekayaannya. Dia lebih senang menjalani kehidupannya sekarang tanpa embel embel nama Ayah nya.
" Ayah...! kenapa tidak memberitahu Ze dari awal....!"
protes Ze pada Ayah nya.
"Om...! Tante...! kenapa kalian tidak memberitahu Ze....?"
"Kalian tega sekali mengerjaiku...!"
protes Ze pada mereka, hingga kini mata nya langsung menatap tajam Kenan.
" Hei...! kau sengaja kan...! ini rencan mu kan..?"
sinis Ze pada Kenan sambil memasang wajah kesal.
Mereka hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Ze yang tak henti hentinya bicara
dan juga protes.
"Ze sayang...!! mulai sekarang jangan panggil Om dan Tante lagi ya...! panggil saja Ayah dan Bunda, sebentar lagi kan kamu akan jadi anak kami juga...!"
ujar Widi sambil tersenyum manis hingga membuat Ze tertunduk malu.
"Kami sengaja tidak memberitahu mu, karena kita ingin membuat kejutan untukmu."
tipal Maya sambil membeli lembut kepala Ze.
"Kejutan apanya, inimah kalian mengerjaiku tau " batin Ze
"Tidak penting kau mengetahui nya dari awal Ze yang penting sekarang kau ada di sini, untuk menerima dan memakaikan cincin calon suami mu."
timpal Angga hingga membuat Ze terdiam antara malu dan kesal yang bercampur aduk.
"Apa benar-benar aku akan bertunangan dengannya sekarang...?,
kau harus menerima Ze, ini pilihan orang tua mu, dan ini adalah yang terbaik untuk mu."
batin Ze mencoba meyakinkan diri sendiri.
Kenan pun mulai berdiri mengeluarkan kotak cincin yang berisi 2 cincin di dalamnya.
Ze ragu untuk berdiri menghampiri Kenan namun Maya dengan cepat mengarahkan Ze untuk segera berdiri, dan Ze akhirnya berjalan menghampiri Kenan walaupun dengan perasaan berat.
Kini mereka sudah saling berhadapan, namun dengan jarak sedikit jauh karena Ze masih sangat gugup dengan perasaan nya.
Kenan mulai membuka kotak cincin itu, dan mengambil satu cincin yang akan di pakai kan ke jari manis Ze.
"Apa kau akan terus di sana...? tangan ku tidak cukup panjang hingga biasa memasangkan cincin ini di jarimu...!"
ujar Kenan dengan memang senyum jahil di bibir nya.
__ADS_1
"Oh Tuhan...!! dalam situasi seperti ini pun dia sangat menyebalkan sekali...!"
batin Ze sambil melangkah mendekati Kenan.
Kenan pun mulai meraih tangan Ze dan menyematkan cincin di jari manisnya,
membungkuk mencoba melihat wajah Ze dan memastikan setiap ekpresi yang terlihat dari wajah cantik nya.
"Seperti nya dia sangat marah, dia terlihat gugup sekali, tangan nya saja sampai bergetar,
hahaha dia lucu sekali...."
batin Kenan dan kini dia mengarahkan kotak cincin yang masih berisi satu cincin ke arah Ze, mengisyaratkan agar Ze mau memasangkan cincin itu di jarinya.
Tanpa adanya perdebatan kini Ze mulai meraih cincinnya dan langsung memasangkan nya di jari Kenan.
Merasa ada perasaan yang bahagia di saat Ze memegang tangan dan memasangkan cincin di jarinya. Tidak pernah terbayangkan bahwa dia akan memilih wanita yang Ayah nya jodohkan dengan nya, mengingat dulu dia selalu menentang Ayah.
Hantaran hangat dari tangan Ze menimbulkan perasaan yang aneh dalam diri nya, senang dan gugup bercampur aduk, akhirnya dia bisa menemukan wanita pilihan nya, meskipun dengan perjodohan tapi ia akan berusaha meyakinkan Ze bahwa dia benar-benar memilih nya bukan karena paksaan. Meskipun dia tak bisa mengekspresikan secara langsung perasaan nya karena memang dia bukan tipe orang yang selalu romantis.
"Hei kenapa badan mu pendek sekali, sampai sampai aku tidak bisa melihat wajah mu....!"
Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Kenan, mencoba mengalihkan suasana berusaha menenangkan kegugupan nya.
Mengejek Ze yang gugup, padahal dia sendiri yang lebih gugup dari apa yang di rasakan Ze.
"Hei....! bukan aku yang pendek tapi kau saja yang terlalu tinggi...!"
Timpal Ze kesal karena ledekan Kenan, sambil sedikit mengangkat kepalanya berusah melihat wajah Kenan, karena memang postur tubuh Kenan sangat tinggi, hingga harus mendongkang ke atas bila ingin melihat jelas wajah Kenan bila di jarak sangat dekat seperti sekarang.
Kenan yang mendengar kata kata Ze hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah Ze yang berjarak sangat dekat dengan nya.
"Jangan cemberut begitu...! kalau kau gak mau aku menagih tantangan mu waktu itu...!"
"Itu tidak akan pernah terjadi...!"
sinis Ze sambil menginjak keras kaki Kenan, dengan memasang senyuman manis penuh kemenangan dan langsung berlari meninggalkan Kenan.
"Rasain tuh...! itu akibat nya karena berani mengerjaiku...! "
batin Ze yang melangkah mendekat ke arah Widi mencari perlindungan tau bahwa Kenan tidak akan tinggal diam dan pasti akan membalas nya.
"Hei kau...!! berani nya kau menginjak kakiku!! sini kau kalau berani...!"
ujar Kenan dengan begitu kesal dan mulai menghampiri Ze yang bersembunyi di balik tubuh Widi.
"Hei kenapa kau malam bersembunyi
di sana...?"
tanya Kenan, yang makin kesal karena Ze malah berlindung di belakang tubuh Bunda nya.
"Karena kau pasti tidak akan berani membalas ku, karena sebelum kau kemari Bunda akan memukul mu dan melindungi ku, iya kan Bun...?!"
ledek Ze sambil menjulurkan lidahnya,
mencari pertolongan pada Maya.
Kedua orang tua mereka hanya bisa tertawa melihat kedekatan anak anak nya, yang bertingkah seperti anak kecil.
Bahagia karena akhirnya mereka bisa bersatu juga.
__ADS_1
"Sudah....! sudah...! jangan berdebat terus, sebaiknya kita makan malam dulu..!" ujar Maya yang mengajak semuanya untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di meja makan.
Para orangtua pun langsung melangkah menuju meja makan, namun para anak muda tetap tinggal di ruang tengah menyantap makanan ringan yang sudah tersedia di meja.
Ze mulai mendekati Naura, sambil matanya terus pokus melihat keadaan, takut Kenan akan tiba-tiba mendekat dan membalas kelakuan.
"Selamat ya Kak....! akhirnya Kakak bertunangan juga...!"
ucapan selamat dari Naura langsung di balas senyuman manis Ze.
"kalianyang sangat cocok sekali, sama sama kaku terhadap Cinta, dan mempunyai cara yang beda mengungkapkan perasaan masing masing....!"
ujar Naura di akhiri dengan senyum jahilnya.
"Apa sih...! anak kecil jangan so tau...!"
sahut Ze sambil memukul bahu adiknya.
Tiba-tiba saat mereka asik mengobrol muncul Kenan dengan membawa piring kecil berisi potongan buah-buahan yang langsung ia berikan ke tangan Ze.
"Bawakan ini untuk ku...!!
sepertinya lebih nyaman kalau memakannya sambil menghirup udara malam...!"
ujar Kenan dengan santai nya mencari
alasan padahal sebenarnya dia hanya ingin berduaan dengan Ze, dan mengajak nya ke luar taman belakang rumah.
Tingkah Kenan membuat Ze gelagapan menerima piring yang ia berikan, hingga Ze tidak bisa bicara apapun.
" Hei apa apaan ini, mengagetkan saja, kan bisa pegang sendiri, kenapa malah menyuruh ku...?!"
batin Ze kesal sambil menggerutu.
"Maaf ya adik cantik, aku pinjem Kakak nya sebentar...!"
kata Kenan meminta izin pada Naura.
"Hei memangnya aku barang apa...! maen pinjam pinjam aja...!"
ucap Ze protes.
"Jangan banyak bicara...! ikuti saja aku...!"
ucap Kenan sambil pergi melangkah tanpa mempedulikan ocehan Ze.
Akhirnya Ze mengikuti Kenan berjalan di belakang nya, karena tidak ingin berdebat lagi.
.
.
.
.
.
jangan lupa like nya ya ππ
dan vote sebanyak banyaknya ππ
__ADS_1
Terimakasih ππ