Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Calon suami ( part 2 )


__ADS_3

Kenan masih menarik tangan Ze untuk menuju ruangan kerja Surya.


Membuka pintu dengan keras membuat Surya Dan Widi terkejut melihat kedatangan mereka. Mata mereka langsung tertuju pada tangan Kenan yang memegang tangan Ze. Mereka seolah terhipnotis melihat 2 sejoli di depannya,


Widi hanya bisa tersenyum bahagia melihat Kenan yang sepertinya mulai menyukai Ze, karena tak pernah terbayangkan bahwa anaknya akan sedekat ini dengan wanita pilihan mereka.


"Mana yang kemarin bilang tidak ingin mengenal wanita pilihan Ayah,


sekarang, sekali bertemu sudah berani bergandengan tangan di depan ku. Memang anak bodoh...!" ~batin Surya


"Akhem...."


Deheman keras Surya, membuat Kenan terkejut hingga sedar bahwa tangannya sedang memegang tangan Ze, dan sepontan langsung melepaskannya.


Ze yang merasa senang terlepas dari cengkraman Kenan langsung melangkah menghampiri surya dan widi.


"Ayah...! bisa jelaskan semua ini...?"


Suara keras Kenan mengagetkan Ze hingga semakin mendekatkan dirinya ke badan Surya.


"Om...! apa beneran dia anak om....?"


Bisik Ze mencoba memastikan, namun di tanggapi dengan anggukan Surya sambil tersenyum.


"Kenapa beda sekali dengan apa yang di katakan Ayah Om...!"


Surya hanya bisa tersenyum mendengarkan perkataan Ze.


Kenan yang melihat kedekatan Ayahnya dengan Ze membuatnya semakin kesal.


"Ayah...! sebenarnya aku atau dia yang anak Ayah...?


kenapa seolah olah malah dia yang anak kalian di sini...!"


Mendengar perkataan Kenan yang memakainya, Ze malah sengaja bergelayut manja di tangan Surya.


"Tuh kan Om...! bicaranya aja kasar sekali, beda banget dengan Om yang selalu ramah."


Ze bicara sambil matanya tertuju pada Kenan dan menjulurkan lidahnya meledek Kenan.


"Wah berani sekali dia,


kalau gak lagi di depan Ayah dan Bunda, ku sentil kepalanya.


Menyebalkan sekali....!"


Kenan hanya melebarkan mata, memelototi Ze yang sedang meledeknya.


Surya dan Widi hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan dua anak muda di depan mereka.


"Kalian sangat cocok."


Perkataan Widi membuat Kenan dan Ze mengingat bahwa maksud mereka kesini, ingin memperjelas apa maksud semua ini.


"Bun...! sebenarnya apa maksud semua ini...?"


Pertanyaan Kenan membuat Surya menahan tawanya, karena merasa lucu melihat anaknya yang tak sabar ingin mengetahui kebenaran yang terjadi.


"Sepertinya kalian cukup pintar , Ayah tidak perlu menjelaskan apa pun, iya kan Bun...?"


"Iya....!"


"Huuuh....! memang kalian sangat kompak dalam hal mengerjai anak kalian ini" ~batin Kenan.


Kini Widi mendekat ke arah Ze, merangkul pundaknya dan menuntunnya mendekat ke arah Kenan.

__ADS_1


"Ze...! kamu kan akan ke sekolah,! ikut saja sekalian dengan Kenan, kalian kan searah, kamu tidak keberatan kan Ken....?"


"Oh tante kenapa malah menyarankan ide gila begitu .


Dia memang tidak akan ke beratan, tapi aku yang akan keberatan. "


"Tidak usah tante, aku bisa di antar pak Edi, sepertinya dia sudah menunggu di luar,"


Ze sebenarnya tak tega menolak permintaan Widi, tapi dia mencari aman biar dia bisa lepas dari Kenan.


"Supir kamu kan udah pulang, tadi tante yang menyuruhnya, karena kasihan harus nungguin kamu...."


"Aaaaaa.... mati lah aku, mungkin kali ini aku tak akan selamat lagi hiks.... hiks...!"


batin Ze menjerit, lagi lagi dia harus berduaan dengan Kenan dengan waktu yang akan cukup lama.


"Baik Tan...! Ze akan bareng Kak Kenan...!"


Berbeda dengan Ze, Kenan dengan patuh menganggukan kepala, menerima kemauan Bunda nya, tanpa banyak bicara. Sejujurnya dalam hati Kenan dia sangt senang.


" Hahaaa....terimakasih Bunda telah mendukungku.


Awas saja aku akan balas ledekan mu tadi...!"


Setelah berpamitan ke pada Surya dan Widi, mereka berjalan menghampiri mobil yang sudah di siapkan oleh pelayan.


Ze yang berjalan lebih cepat dari Kenan tangan nya segera membuka pintu belakang mobil. Sengaja agar berada dalam jarak jauh dari Kenan. Namun pergerakan nya terhenti karena lagi lagi tasnya di tarik oleh Kenan.


" Aku bukan sopir mu...! kenapa malah duduk di belakang...?"


Kenan dengan cepat menggiring Ze ke kursi depan sambil membukakan pintu nya untuk Ze.


"Hai gak harus menarik tas ku juga kali, seperti lagi menarik tawanan saja...!."


Kenan melangkah menuju kursi kemudi sambil memasang seringai di bibirnya.


Saat di dalam perjalana tak ada yang berbicara sama sekali, Kenan hanya fokus melihat jalan, sedangkan Ze masih fokus dengan pikirannya, karena masih syok mengetahui kebenaran bahwa lelaki


yang ada di sampingnya itu adalah calon suaminya.


Lelaki yang baru hadir dalam kehidupannya dengan pertemuan yang tak di sengaja dan selalu mendapat pringkat menyebalkan dari awal pertemuan pertama.


Berbeda dengan Kenan yang tak habis pikir, dia yang selalu menolak untuk bertemu dengan wanita pilihan Ayah nya, bahkan jangankan bertemu mengenal nya saja dia tidak mau. Kini malah di pertemukan dengan ketidak sengajaan yang berulang ulang,


hingga wanita itu berhasil menarik perhatiannya.


Kenan mulai melirik Ze yang ada di sampingnya, melihat Ze yang duduk diam tanpa berulah, mebuat kenan menyelipkan senyum di bibirnya.


" Jadi dia yang selau Ayah bangga banggakan,


dia memang paling bisa menarik perhatian orang, sampai Ayah dan Bunda saja sangat menyukainya,


dia yang lagi diam saja sangat menggemaskan,"


Karena merasa bosan dengan kesunyian di sepanjang perjalanan, terbesit di pikiran Kenan untuk mengenai Ze.


" Kenapa tidak bicara...? bukannya tadi kau sangat berani sekali meledek ku....!"


Suara keras Kenan membuat Ze kaget dan menyadarkan dari lamunannya.


"Tuh kan dia pasti akan membalasku, suaranya saja sangat menakutkan..."


Kenan yang melihat Ze yang sudah ketakutan semakin menarik untuk mengerjainya lagi.


"Kenapa kau tidak menjawab...? kau takut pada ku...?

__ADS_1


mana calon suamimu yang tadi malam kau banggakan?


lapor saja padanya agar dia menolongmu...!"


Dengan suara datar tanpa memalingkan wajah yang masih fokus menyetir berusaha terlihat natural, padahal batin Kenan sudah ketawa cengengesan.


"Hei...! kenapa dia santai sekali bertanya begitu,


kau lah calon suamiku,


kau yang seharusnya menolongku,


bukan malah mengrejaiku,


dasar bodohhh...."


"Kenapa masih diam...?! apa kau tidak tau calon suamimu sendiri...!? ledek Kenan semakin mengerjai Ze.


"Kenapa kau sesantai itu berbicara, rasanya aku inggin lompat saja dari sini malu banget...."


Melihat wajah Ze yang merona malu, mebuat Kenan tak bisa berbicara lagi karena tak kuat menahan tawanya.


"Malu maluin banget si Ze, ngapain lagi tadi malam kau harus membahas tentang calon suami padanya, jadi dia punyai senjata untuk mengerjaiku. "


Ze terdiam merasa malu karena ulahnya sendiri, dia hanya bisa diam tak berkata kata,


sampai sampai tak menyadari bahwa mobil Kenan sudah berhenti di depan gerbang sekolah.


"Apa kau akan ikut denganku menemui pamanmu? kenapa kau tidak turun...?" seru Kenan menyuruh Ze turun.


"Oh ya...! aku turun...." dengan gelegapan


karena kaget Ze langsung melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu untuk turun, namun pergerakan nya terhenti karena mendengar perkataan Kenan.


"Apa kau merasa ada yang ke tinggalan....?"


Ze langsung nengok kiri kanan binggung karena merasa tak ada yang ketinggalan.


Namun Kenan malah memasang senyum jahilnya.


"Tidak ada kok, tak ada yang ketinggalan...!"


dengan polosnya Ze menjawab pertanyaan Kenan.


"Benarkah....? tapi aku merasa kau melupakan sesuatu...!"


"Apa....?"


"Tidak kah kau mengucapkan terimakasih karena telah di berikan tumpangan oleh calon suamimu....!"


Dengan sengaja kenan memperjelas kata calon suamimu, hingga membuat Ze salah tingkah.


"Whaaaa... kenapa kau se pede itu mengakuinya, ingin sekali aku mendekap mulutmu,


aku saja masih syok karena mengetahui kalau kau calon suamiku, kenapa kau malah santai sekali...."


Ze yang sudah tak kuat menahan malu langsung pergi berlari kecil menuju sekolahnya, meninggalkan Kenan di dalam mobil yang sudah tertawa puas.


"Hahaaa dia pasti malu sampai lari begitu...."


Kenan pun pergi berlalu meninggalkan area sekolah Ze dan melaju kantor Tuan Arya sambil senyum senyum bahagia.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2