
Arkan yang seolah mengerti dari tatapan mata yang hadir di ruang rapat itu pria itu hanya tersenyum tipis.apa lagi tangan Arkan yang menuntun tangan Andini dan menarik sebuah kursi tunggal untuk Andini. yang tepat berada di sebelah sofa tunggal tempat Arkan duduk dan mempersilahkan Andini untuk duduk di kursi tersebut.sungguh sikap Arkan yang manis dan lembut itu terhadap Andini membuat sebuah pertanyaan besar untuk semua mata yang hadir di ruangan tersebut. sedangkan Aldo di beri kursi tunggal oleh Hansson tepat di belakang Andini.Arkan melepaskan dua buah kancing jas yang dia kenakan lalu menyibak nya kebelakang kemudian duduk di kursi nya.menatap satu persatu para petinggi perusahaan nya itu dengan mata Elang nya.
walaupun Arkan pria muda yang masih berusia Dua puluh enam tahun, tapi keberhasilan dan kepiawaian nya dalam mengolah perusahaan Jayanatt group di bawah kendali nya tidak perlu di ragukan lagi sehingga para investor berlomba lomba ingin menanamkan modalnya di Jayanatt group milik keluarga nya.sehingga seorang Arkan sangat di segani oleh pesaing bisnisnya atau pun para kolega nya.
bahkan banyak rekan bisnis Ayah nya yang terang-terangan ingin menjodohkan anak gadis nya dengan Arkan pria muda tampan dan super mapan dengan segudang prestasi dan pengaruh yang dia punya.tapi Arkan dengan halus selalu menolak perjodohan itu yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan bisnis semata.walapun sang gadis itu sendiri sudah tergila-gila dengan pesona nya.
Arkan menegakkan tubuhnya dan menaruh kedua tangannya di atas meja, menautkan kedua jemari nya dan memulai pembicaraan nya.
"selamat datang untuk para eksekutif dan direksi PT jaya Parma.sebelum rapat ini saya mulai,
para tuan sekalian pasti penasaran dan bertanya-tanya siapa gadis cantik yang ada di sebelah saya ini"
Arkan menoleh ke arah Andini dan tersenyum sekilas lalu kembali dengan wajah nya yang tegas menatap para staf dan direksi nya
dan itu adalah pemandangan yang baru bagi para kolega nya melihat Arkan mengembangkan senyumnya.
sungguh kejadian langka untuk mereka lihat.
"perkenalkan ini Adik perempuan ku, Andini Damayanti Abdullah. yang telah lama berpisah dengan keluarga mahadat Abdullah. dan ini.. Arkan menjeda ucapannya melirik sekilas ke arah Aldo.dan mendengus kasar tampak rasa tak suka nya terlihat pada Aldo.
"dan pria di belakang ku ini Suami Adik ku Aldo Bagaskara tentu kalian tidak asing lagi dengan keluarga Bagaskara bukan?" jelas Arkan sedikit menegaskan siapa suami adik tersayang nya itu.biar bagaimana pun adik nya harus ada pandangan di depan rekan bisnis nya dan para petinggi perusahaan nya. kalau dia punya hubungan dengan keluarga Bagaskara salah satu pengusaha besar di negara ini, pemilik perusahaan GAMALION GROUP.
dan benar saja setelah mengetahui siapa Suami dari adik nya. mereka yang hadir di ruang rapat itu nampak berdecak kagum dengan hubungan keluarga Abdullah dengan Bagaskara.di situ Arkan tersenyum jumawa.
"cih, kamu akui juga siapa aku Kakak ipar" bisik Aldo mendekatkan wajahnya ke arah telinga Arkan.
Arkan tidak merespon ucapan Aldo yang terdengar mengejek dirinya.
Arkan tetap memasang wajah datar nya.
"baik lah, karena sudah aku perkenalkan adik ku tersayang pada kalian kita mulai rapat nya.Hansson!" panggil Arkan
sang assisten yang wajahnya sama datar nya dengan bos nya itu mengangguk kan kepalanya seolah mengerti apa yang di perintahkan oleh Arkan.
__ADS_1
"nona,tuan Aldo silahkan kita ke ruang kantor pak Arkan" Hansson mengulur kan tangan nya mempersilakan Aldo dan Andini untuk meninggalkan tempat rapat tersebut untuk menunggu Arkan di kantor pria itu.
Aldo mengerti,lalu membantu Andini untuk berdiri dari duduknya pandangan Andini dan Arkan bertemu sesaat.
Arkan mengangkat wajahnya ke arah Andini yang sudah berdiri.
"kamu tunggu di kantor ku dulu ya, istirahat di sana oke!"
Andini tersenyum dan mengangguk merespon ucapan Arkan lalu wanita cantik yang terlihat cantik di saat hamil itu berjalan keluar meninggalkan ruang rapat itu bersama Aldo.
dan di sini lah sekarang Aldo dan Andini berada di sebuah ruangan yang terlihat mewah dengan segala interior nya yang pas, dan sesuai dengan tempat nya tertata rapi.
"sini sayang kamu duduk dulu istirahat di sofa"
Aldo merangkul bahu istrinya itu dan membimbing nya untuk duduk di sofa.
"duduk lah, capek?" ucap Aldo lembut Aldo duduk di sebelah Andini sedikit menggeser duduknya lalu mengangkat kedua kaki istrinya itu lalu di letakkan di atas kedua pahanya.
"diam sayang, aku akan memijit kaki mu"
"memijat?" tanya Andini sedikit ragu dengan maksud suaminya.
"iya"
"nggak usah kak, aku nggak pegel kok" Andini kembali berusaha untuk menurunkan kaki nya.
"Diam sayang.. aku akan memijat kaki mu, Diam ya.nikmati saja" pinta Aldo memaksa.
"baik lah, hati-hati ya, aku takut kaki aku malah tambah pegel" jelas Andini takut.
Aldo tertawa kecil mendengar ucapan istrinya.
"tenang sayang, aku tidak akan membuat kaki mu terkilir, pijitan ku malah bisa membuat mu terbang ke awan" ucap Aldo yakin lengkap dengan kerlingan matanya pada istrinya.
__ADS_1
"issh,awas ya, jangan aneh-aneh.kamu kak. tahu kita ada di mana" Andini memperingati suaminya yang dia tahu sudah memasang wajah mesum nya.
Aldo tersenyum tanpa dosa.
"aku tidak akan macam-macam sayang.. tenang saja"
dan tak lama suara orang bicara di luar pintu ruangan kantor Arkan terdengar,suara itu semakin dekat hingga terasa sudah ada di depan pintu ruangan itu dan.. pintu ruang kantor Arkan pun terbuka.
Andini dan Aldo menoleh ke arah mereka dan..
"hai Andini, bagaimana kamu nyaman di kantor ku?" Arkan yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dengan satu orang pria paruh baya berwajah araban, Hansson dan satu pria muda tampan. tatapan Andini dan pria muda itu bertemu dan..
"Reza?!"
"Andini?!"
ucap kedua nya bersamaan sedang kan Aldo? pria itu terpaku melihat ke datangan Reza di kantor Arkan.
"kalian sudah saling mengenal?" tanya Arkan pada Andini dan Aldo
Andini hanya mengangguk menanggapi ucapan Arkan.
"tidak! aku tidak mengenal nya" sahut Aldo dengan suara datar.
Reza hanya tertawa kecil mendengar ucapan Aldo.
"ah,iya.aku tidak mengenal pria yang di sebelah Andini.aku hanya mengenal Andini saja.dia teman kuliah ku kita satu angkatan, satu jurusan.manis bukan?" jelas Reza tersenyum miring.
"oh ya, kebetulan sekali" sahut Arkan
*
to be continued...
__ADS_1