
pak Maman yang melihat kemarahan majikan nya hanya diam, dan menundukkan wajahnya tidak berani berkata lagi.pria berusia empat puluhan dengan tubuh tinggi besar itu hanya bisa diam tanpa berani menjawab majikan nya yang sedang marah besar terhadap nya.
"aku ingin, lain kali kamu, jangan sekali-kali memberi izin, kedua orang ini masuk ke dalam rumah ku tanpa seizin ku. kamu mengerti pak man?!" sentak Aldo, sebenarnya dia tidak tega berkata kasar pada penjaga rumah nya yang sudah lama bekerja dengan nya.
tapi apa yang di buat kali ini adalah kesalahan yang benar-benar yang membuat Aldo marah pada penjaga rumah itu.
"baik tuan" sahut pak Maman dengan menegakkan tubuh dan wajah nya.
lalu dengan amarah yang masih menggebu di dada nya, Aldo memarkir kan mobil nya di dalam garasi rumah nya.
lalu pria itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah nya dengan langkah yang tergesa.
masuk ke dalam rumah nya sudah di sambut oleh bi Ratmi.
"tuan" sapa bi Ratmi Pelan dengan nada terbata wanita tua itu melihat ada kemarahan jelas di wajah majikan nya yang telah dia asuh selama lima belas tahun.
Aldo hanya menoleh pada bi Ratmi menatap tajam ke arah nya.
"di mana tamu tak diundang itu bi?"
tanya Aldo masih dengan wajah gusar nya.
"kamar tamu tuan" sahut bi Ratmi.
"apa?? di kamar tamu? kenapa kamu berani memberi tempat pada tamu tak diundang itu ha?" Aldo sedikit menaikan nada bicaranya pada bi Ratmi.membuat wanita tua itu diam dan merasa salah. sungguh dia di hadapkan dengan orang yang membuat bingung mengambil keputusan.
tak lama pintu kamar tamu yang berada di lorong ujung lantai satu terbuka nampak dua orang wanita berbeda usia keluar dari kamar tersebut. mereka berjalan dengan santai, dengan wajah tak berdosa nya mendekati Aldo yang berdiri menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Rey, kamu sudah pulang?" sapa wanita yang masih terlihat cantik walaupun usianya sudah setengah abad. Aldo bergeming tidak ada sahutan dari bibir nya.
"Aldo, apa kabar mu" kali ini wanita cantik yang usianya tiga tahun di atas Aldo namun tetap terlihat menawan dan tentu nya cantik.tapi dari tatapan Aldo dia tidak sama sekali tertarik oleh wanita cantik dan dewasa itu.
__ADS_1
"mau apa kalian kesini?? kalau tidak ada hal yang penting, sebaiknya kalian segera tinggalkan rumah ini!"
"Reynaldi! kenapa bicara mu tidak sopan begitu ha?! apa ini yang kamu dapatkan selama sekolah di Amerika ha?!" sentak Wanita paruh baya itu tanpa dosa.
Hahaha.. Aldo tertawa lepas, tapi terdengar sumbang ada kegetiran di di tawa nya.
"apa peduli mu?? hebat!! tiba-tiba kamu peduli dengan sikap ku, siapa diri mu ini? berani protes dengan sikap ku?"
"diri ku? aku ini mamah mu! wanita yang melahirkan mu!" ucap Wanita itu yang mengklaim dirinya sebagai mamah nya Aldo.
Aldo tersenyum sinis
"mamah? kenapa baru sekarang kamu menyadari kalau kamu itu mamah ku ha?! kemana saja kamu selama dua puluh dua tahun ini?! di mana diri mu di saat aku butuh dukungan dan kasih sayang dari seorang ibu di mana?? kenapa dengan gampang nya kamu meninggalkan aku bersama papah ku, papah sudah memohon pada mu agar tidak untuk pergi dari rumah dan meninggalkan kami.tapi ternyata ego mu lebih tinggi dari pada cinta mu yang ada!"
jelas Aldo menatap nyalang pada mamah nya.
"dan sekarang kamu dengan enteng nya sekarang, datang kesini dan mengklaim bahwa kamu adalah mamah ku, wanita yang melahirkan aku? buat apa kamu memberikan kehidupan pada ku kalau hanya untuk kamu sia-siakan karena ke keegoisan mu ha?? dan sekarang... Aldo menjeda ucapan nya menatap tajam ke arah Marsya yang berdiri di samping mamah nya dengan wajah tak berdosa nya. dan kembali Aldo tersenyum sinis pada wanita itu.
"Marsya datang bersama mamah kesini sengaja untuk bertemu dengan mu" ucap Judith menjawab pertanyaan Aldo pada Marsya.
"oh ya? apa ada yang sangat penting sampai kamu membuat wanita ini menjadi tameng mu ha?!" ucap Aldo sarkas.
"mamah ingin kamu menikahi Marsya Rey" ucap Judith tanpa beban.
mata Aldo seakan ingin keluar dari tempat nya mendengar ucapan Judith mamah nya.yang dengan enteng nya bicara seperti itu.
"what's??? what the hell!!" apakah kamu sadar apa yang kamu katakan nyonya?? menikahi nya? apa yang membuat mu segitu pede nya berkata seperti itu??!"
"maaf kan aku, yang telah meninggal kan mu waktu itu Al, karena aku tidak mau bertunangan dengan mu karena waktu itu aku sakit, aku sakit.. Marsya menahan ucapan nya ada keraguan dalam bicara nya wanita itu mengigit bibir bawahnya
Aldo membuang pandangannya ke arah lain, bukan nya dia tergoda dengan sikap absurd Marsya, tetapi dia merasa muak, dengan tingkah wanita itu yang sangat tidak tahu malu nya.
__ADS_1
"aku sakit kanker serviks Al, dan aku kira waktu itu aku tidak ada harapan sembuh dan rahim ku akan di angkat jadi aku mencari alasan untuk mu untuk tidak bertunangan pada mu, aku tidak pergi dan menikah dengan orang lain Al, tapi aku pergi ke Singapur untuk menjalani pengobatan di sana dan ketika aku kembali kesini aku dengar dari keluarga mu, kalau kamu sudah menikah, aku marah, aku tidak terima Aldo!" ucap Marsya meninggi kan nada bicaranya menjelaskan mengapa dirinya pergi meninggalkan Aldo.
sesaat Aldo terdiam menatap tajam Marsya lalu dia berdecih.
"lalu, apa yang kamu harapkan sekarang setelah menceritakan tentang kisah mu itu?" ucap Aldo dengan wajah dingin nya.
"tentu saja aku kesini dengan niat yang sama, menikah dengan mu Al" ucap Marsya dengan penuh cinta menatap Aldo.
"dan kamu pikir, pikiran dan perasaan ku tetap sama?! bukan kah sudah aku ingatkan pada mu, kalau kamu itu sudah menjadi masa lalu ku, tidak ada lagi perasaan yang tersimpan untuk mu di hati ku, sekarang ini hanya wanita yang menjadi istri ku, dan sedang mengandung anak ku yang memenuhi ruang hati ku.dan sekarang dengan yakin nya kamu berkata ingin menikah dengan ku? otak mu masih waras ha?! apakah kamu sudah tidak ada yang menginginkan mu?!" ucapan Aldo sangat menghujam hati Marsya sehingga membuat wanita itu tak kuasa menahan air matanya hingga turun membasahi pipinya.
tak ada iba ataupun lainnya yang Aldo rasakan melihat air mata Marsya menetes. pria itu tetap dengan sikap dingin nya.melihat Marsya menangis Judith buru-buru merangkul bahu Marsya berusaha memberikan ketenangan pada ponakan jauh nya itu.lalu mengalih kan pandangan nya pada Aldo.
"Reynaldi, mulut mu itu terlalu kejam!!" sentak Judith tidak terima
"oh ya? kalau kalian tidak ingin mendengar kan kata-kata tajam dari mulut ku selanjutnya, sebaiknya kalian segera tinggalkan rumah ku ini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku, dan kamu nyonya, aku benar-benar salut pada mu, bisa-bisanya kamu menyuruh ku untuk menikahi perempuan tak tahu malu ini. padahal kalian tahu aku sudah mempunyai seorang istri dan sedang mengandung anak ku pula,di mana hati dan
nurani kamu nyonya?? apa itu yang di sebut orang tua ha?! oh ya, aku hampir saja melupakan kalau kamu memang wanita yang egois dan tak punya hati!"
PLAKK!
tamparan keras mendarat di pipi Aldo hingga wajah putih Aldo memerah akibat tamparan yang di berikan oleh Judith, wanita itu meradang.
"TUTUP MULUT MU!! kamu jangan terus berkata kasar Reynaldi"
"Jangan panggil Aku dengan sebutan nama itu nyonya!!! aku muak!! nama ku ALDO BAGASKARA!! bukan nama sialan yang kamu sebut tadi!! keluar kalian dari rumah Ku!!" teriak Aldo suara menggelegar memenuhi ruangan rumah nya merasakan panas pada pipi nya karena tamparan mamah nya tadi dan sekarang dadanya bergemuruh di penuhi dengan amarah yang sudah di ubun-ubun kepala nya.
"PAK MAN!!" teriak Aldo memanggil penjaga rumah nya itu.
*
to be continued...
__ADS_1