Cinta Yang Tak Pernah Salah

Cinta Yang Tak Pernah Salah
takdir dan Jodoh.


__ADS_3

Jayed memegang kedua bahu lebar milik putra sulung nya di tatap nya dengan penuh rasa sesal dan bersalah dirinya wajah tampan putra nya itu.rasa sesal karena Arkan terlahir dari rahim wanita yang tidak pernah dia berikan cinta nya hanya ada rasa tanggung jawab dan kewajiban saja yang selama ini dia berikan pada Marjiah sehingga lahirlah seorang Arkan putra tampan nya.rasa bersalah karena selama dua puluh lima tahun dirinya tidak bisa memberikan hatinya dalam bentuk cinta kepada seorang wanita baik yang melahirkan Arkan.


Arkan menyingkirkan Pelan kedua tangan kekar milik ayahnya yang ada di kedua bahunya pria tampan itu tersenyum menatap manik coklat terang Jayed.


"sudah lah ayah, biarkan kebersamaan mu dengan mamah ku menjadi kenangan yang baik untuk mu walaupun itu bukan kenangan manis.aku ikhlas, ayah menerus kan hidup ayah bersama wanita satu satunya yang ayah cintai"


Arkan melirik ke arah Reyna dan wanita itu tertunduk karena serba salah Arkan hanya tersenyum melihat itu.


"oke, kalau begitu, kita rayakan momen bahagia ini, bagaimana kalau kita makan malam? aku sudah lapar rasanya dan sudah lelah sekali pengen buru-buru mandi dan istirahat banyak sekali kerjaan ku di kantor apa lagi di tambah pertemuan dengan beberapa klien wah, rasanya aku ingin memanjakan diri ku berendam di air yang hangat" seloroh Arkan memecah kecanggungan yang dia ciptakan sendiri.


"makanya cari, cepat gadis untuk di jadikan istri mu bang, biar ada yang memanjakan dan mengurus kamu sepulang kerja untuk menghilangkan kepenatan mu" ucap Andini ekor matanya tertuju ke Aldo yang seperti paham dengan ucapan istrinya itu di balas nya lirikan mata istri nya itu dengan senyuman dan makin mengeratkan rengkuhan tangan nya di pinggang istri nya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya dan berbisik


"kamu memang yang terbaik dalam hidup ku sayang" kontan saja bisikan Aldo itu membuat rona merah di wajah wanita hamil itu.


"ah, benar itu Arkan, seperti nya ayah punya kenalan bisnis ayah yang mempunyai.. belum Jayed menerus kan kata-kata nya


"STOP ayah! aku tidak mau ada perjodohan lagi di keluarga ini biar semua nya mengalir seperti udara yang berhembus bebas" ucap Arkan lalu memicingkan matanya menatap ayahnya


"apa ayah mau nasib ku seperti ayah dulu HM?" tanya Arkan telak, membuat Jayed bungkam sesaat


"tapi kalau ayah beda ya Arkan,ayah pada waktu itu sudah ada wanita yang ayah cintai, bahkan sudah ayah nikahi.beda dengan diri mu sekarang kamu masih sendiri belum ada satupun wanita yang kamu pilih ya kan? apa kamu sudah ada gadis pilihan mu? kalau memang ada jangan lama-lama, segeralah kamu lamar gadis itu untuk jadi istri mu"


"tidak ada ayah,NO ONE!" ucap Arkan cepat dan tegas


"so, kalau begitu tidak salah dong kalau ayah memperkenalkan salah satu anak gadis dari keluarga baik-baik untuk kamu jadikan istri"


Jayed terus saja mencecar Arkan masalah jodoh putra nya itu


"tidak ayah, aku tetap tidak mau ada perjodohan dalam bentuk apapun.. aku ingin dengan sendirinya bertemu dengan jodoh ku kelak"


"tapi umur mu sudah cukup untuk berumah tangga Arkan"

__ADS_1


"ya ampun ayah..usia ku masih muda, baru dua puluh enam tahun masih muda ayah" ucap Arkan menegaskan usianya seraya menepuk nepuk dada bidangnya sebelah kanan.


"oke,oke silahkan kamu cari sendiri gadis pujaan mu, ayah tunggu sampai satu tahun ini kamu harus sudah menemukan nya.tapi kalau dalam satu tahun ini kamu belum menemukan gadis sebagai calon istri mu kamu akan mendapatkan nya dari perjodohan" final Jayed akhirnya dan tentu saja keputusan jayed tersebut di tolak oleh Arkan.


"mana bisa begitu ayah, tidak bisa! memang nya segampang itu mencari seseorang yang akan mendampingi aku seumur hidup


NO,NO! aku tidak mau!" bantah Arkan.


"tidak ada bantahan Arkan" ucap Jayed melayangkan tatapan tajam pada Arkan dan pria tampan berusia dua puluh enam tahun itu seketika terdiam dia tahu arti tatapan Jayed yang seperti itu Arkan kali ini diam tidak ada kata bantahan lagi dari mulut nya pria tampan itu menghela nafas berat dan


kemudian pria itu berjalan ke arah ruang tengah menuju ruang makan sambil memanggil julia


"Julia..Julia..! apakah makan malam sudah ada?!!" tak menunggu lama Julia muncul dari arah dapur bersama satu pelayan lain nya.


"sudah tuan muda, semua sudah di siapkan di meja makan" sahut Julia


"bagus kalau begitu aku sudah sangat lapar" ucap Arkan sambil mengusap usap perut liat nya.


mereka pun mengikuti langkah Arkan menuju meja makan untuk menikmati makan malam bersama.


*


*


dua bulan berlalu Reyna dan Jayed sudah kembali rujuk dan menikah


mereka hidup bahagia menjalani rumah tangga yang pernah terjeda waktu nya oleh takdir yang memisahkan mereka.


sedangkan Andini sudah masuk bulan nya untuk melahirkan dan terkadang Reyna harus menginap di rumah Andini cukup lama untuk menemani putrinya itu begitu juga dalam jayed terkadang ikut menemani putrinya bersama Reyna walaupun tidak bisa bisa lama seperti Reyna karena pekerjaan.


di saat Aldo harus bertugas di rumah sakit yang kadang bisa tidak pulang berhari-hari karena jadwal operasi yang padat walaupun Aldo sangat mengkhawatirkannya keadaan istrinya yang sudah masuk bulan nya dan bisa kapan saja Andini melahirkan Aldo diam-diam tanpa sepengetahuan istri nya memantau istri nya dengan memasang cctv di dalam kamar nya yang mengikuti gerak tubuh orang yang di dalamnya yang hanya terhubung langsung di awasi oleh Aldo sendiri, tentu saja karena itu privasinya jelas tidak boleh ada orang yang melihat kegiatan istri nya di dalam kamar pribadi nya. seperti saat ini di saat Aldo sedang di ruang kantor nya senyam senyum sendiri melihat layar laptop yang ada di depan nya

__ADS_1


padahal Dokter tampan itu sedang menerima kunjungan dua orang rekan sejawat nya Danis dan Ridwan yang duduk di hadapan nya hanya terhalang meja kerjanya saja kedua pria berjas putih itu merasa heran sekaligus jengkel karena seperti nya ucapan mereka di abaikan oleh Aldo yang seperti nya melihat objek lain


"Dokter Aldo? apakah kamu mendengar kan kata-kata ku?" ucap Danish yang sedari tadi bicara panjang lebar sedang mendiskusikan tentang masalah penyakit seorang pasien yang sedang dia tangani dia sengaja datang dengan di temani oleh Dokter Ridwan dari spesialis penyakit dalam, untuk bertemu dengan Aldo di ruangan nya.


Aldo terhenyak karena suara Danish yang cukup keras refleks langsung menutup layar laptop nya dan menegakkan kembali tubuh nya


"km,ya? apa yang kamu bicara kan tadi Danish?" ucap Aldo menatap Danish dan Ridwan bergantian tanpa ada rasa bersalah. Ridwan terkekeh dan langsung menepuk pundak Danish


"ah, kasihan sekali kamu Dokter Danish seperti nya kamu di abaikan" ucap Ridwan kemudian di susul dengan gelak tawa nya.


Danish hanya mendengus kasar


merespon ucapan Ridwan yang seolah mengejek nya.


"maaf,maaf.aku tadi sedang fokus dengan istri ku di rumah, aku harus memantau istri ku di sela kesibukan ku di rumah sakit ini karena istri ku sudah masuk bulan nya untuk melahirkan" jelas Aldo merasa tidak enak dengan Danish yang merasa di abaikan nya.


"oh ya? wah, pasti sangat menegangkan kamu sebentar lagi akan menjadi seorang papah dan itu sangat menyenangkan karena anak adalah bonus dari Tuhan untuk pelengkap kehidupan kita, yang di dilahirkan dari rahim wanita yang kita cintai seperti yang aku rasakan sekarang ini aku sangat bahagia dengan satu putri kecil ku yang baru berusia dua tahun ah, aku jadi kangen ingin segera pulang karena membicarakan gadis kecil ku" ucap Ridwan yang memang sudah menikah dan mempunyai seorang putri kecil, menceritakan


bagaimana bahagia nya menjadi orang tua.


Aldo mendengar kan penuturan Ridwan dengan antusias.


"benarkah? aku pun merasakan kebahagiaan dengan kehamilan istri ku tapi sekarang aku merasa cemas dengan istri ku yang sering aku tinggal kan karena pekerjaan kita ini tidak ada kata penolakan"


"tapi kamu juga manusia Dokter, yang punya kehidupan sendiri. di rumah sakit ini masih ada yang bisa mewakili pekerjaan mu, kalau memang ada hal yang darurat yang bersangkutan dengan istri mu tidak ada yang mewakili untuk hal sepenting itu. kamu harus mendahulukan nya ambilah cuti beberapa hari untuk mendampingi istri mu" ucap Ridwan merasa prihatin dengan atasan nya itu.


"aku pernah bicara dengan istri ku kalau aku akan mengajukan cuti, tapi istri ku melarang ku karena sudah ada ibu nya yang menjaga nya di rumah bahkan ada ayah mertua ku juga datang menginap meskipun tidak setiap saat" keluh Aldo dengan sikap keras kepala istrinya


tak lama kemudian ponsel Aldo yang dia letakkan di atas meja kerja nya bergetar di lihat nya nama ibu mertua nya tampil di layar ponsel nya, tiba-tiba saja jantung nya berdebar dengan cepat Aldo mengambil ponsel nya itu


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2