
Arkan tersenyum tipis merespon ucapan Reza pada Andini.
para pria berbeda usia itu berdiri diam. pandangan mereka tertuju pada Andini dan Aldo yang masih duduk di sofa.
sadar sedang menjadi objek perhatian ke empat pria yang berdiri di depan nya.wajah Andini merona dan ada lagi yang sedari tadi yang dia baru saja sadari posisi nya masih belum berubah dengan kedua kaki nya yang masih berada di atas paha suaminya.
"kak, lepasin tangan mu itu" pinta Andini dia ingin menurunkan kaki nya namun kedua tangan Aldo masih bertengger di kedua pahanya Andini.Aldo yang masih terbawa perasaan tidak senang nya ketika melihat kemunculan Reza.kaget ketika Andini mencubit lengan nya Kontan saja Aldo mengaduh dan mengalihkan pandangan nya tertuju pada istri nya.
"duh, sakit sayang" Aldo mengusap usap jejak cubitan kecil dari istri nya.
"lepasin tangan mu kak, aku mau turun kan kaki ku" pinta Andini. Aldo tersadar kalau tangan nya masih bertengger di atas paha Istri nya.langsung menyingkir kan tangan nya dan tersenyum kikuk.
"oh,iya.aku lupa" ucap Aldo tersenyum tanpa dosa.
Andini hanya mencebik merespon sikap suaminya.
lalu dengan cepat Aldo berdiri dari duduknya dan berusaha Menetralkan dirinya berusaha bersikap tenang kembali membangun imejnya.di depan keempat pria yang ada di depan nya ini.begitu juga dengan Andini wanita cantik itu membenarkan posisi duduk nya.Arkan tersenyum tipis melihat tingkah Adik perempuannya itu.lalu berjalan menuju singgasana nya melewati Andini seraya satu tangan nya mengacak lembut pucuk rambut Andini. sebelum Arkan duduk di kursi kebesaran nya.
"silahkan tuan-tuan duduk" ucap Arakan mempersilakan para tamu nya duduk di sofa dan mereka pun duduk di sofa setelah di persilahkan oleh Arkan.
Reza walaupun senang bertemu dengan Andini, tapi dia merasa heran dengan keberadaan Andini di perusahaan Arkan bersama Aldo.
dengan sengaja Reza bergerak cepat mengambil tempat duduk di sofa yang di sebelah Andini.
"hai, An" sapa Reza.
Andini hanya tersenyum tipis merespon sapaan Reza.
"kamu kok ada di sini?" tanya Reza lagi dengan rasa penasaran nya.
"kenapa emangnya kalau aku di sini?" balas Andini ekor matanya melirik ke arah suaminya yang tampak tidak senang melihat dirinya bicara dengan Reza.
"Andini adik ku Aryan" jelas Arkan menyela pembicaraan Reza dengan Andini dan menjawab pertanyaan Reza pada Andini Arkan memanggil nama Reza dengan nama belakang Reza.
kontan saja Reza menoleh ke arah Arkan yang ada di singgasana nya.
"adik? adik Anda tuan Arkan?" ucap Reza sedikit tidak percaya. tampak keterkejutan terlihat di wajah Reza.
"iya, Andini adik perempuan ku satu-satunya" jelas Arkan lagi.
kini Reza kembali mengalihkan perhatian nya pada Andini.
"benarkah begitu An?" tanya Reza
__ADS_1
"iya, seperti yang kamu dengar dari mulut Abang ku"
"wow, kejutan"
Andini dan Aldo memicingkan matanya melihat sikap Reza.
"kejutan?" tanya Andini
"iya" balas Reza.
"kamu dengan Aryan ini masih sepupu sayang" jelas Arkan lagi dengan santainya.
"APA???"
sahut Andini dan Aldo bersamaan tidak percaya apa yang mereka dengar dari mulut Arkan.
Hahaha..."semesta memang kejam pada ku ya" ucap Reza di barengi dengan tawa nya yang terdengar hambar.
"Reza sepupu ku? kok bisa?" gumam Andini.
"tepat nya sepupu jauh sayang..mamah Reza Adik dari mamah ku" jelas Arkan kembali.
"oh begitu,iya sangat jauh itu sih tepat nya tidak ada hubungan darah sama sekali" ucap Andini.
"apa kamu senang hubungan kita hanya sebatas itu saja An?" tanya Reza absurd.
"ah tidak, lupakan" sahut Reza dengan senyum misterius nya.
cih, dasar bocah gemblung" gumam Aldo menatap tajam Reza.
drrtt
drrtt
suara getaran ponsel Aldo yang ada di dalam saku jas nya terdengar.
lalu pria itu pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon nya.
"bi Ratmi?" gumam nya.
Aldo berdiri dari duduknya
"sebentar sayang, aku mau menjawab telepon ku dulu ya" pinta Aldo.
__ADS_1
Andini mengangguk
"baik kak, jawab lah dulu telpon mu itu" setelah dapat izin dari istrinya Aldo melangkah keluar dari ruangan itu.Aldo berjalan menuju sudut ruangan yang ada di luar kantor Arkan dan menjawab telepon dari bi Ratmi.
"ya hallo bi, ada apa?" tanya Aldo pada bi Ratmi di sana.
wajah Aldo tampak menegang ketika mendengar kan sahutan dari bi Ratmi di sana, tangan nya mengepal kuat sehingga tampak buku-buku tangannya memutih pucat Aldo seperti menahan emosi dan tak lama dia pun memutuskan panggilan telepon nya dengan bi Ratmi.
pria itu tampak menghela nafasnya kasar setelah menerima panggilan telepon dari bi Ratmi.Aldo mencoba untuk menetralkan wajah nya agar tidak terlihat dirinya sedang emosi setelah merasa sudah bisa meredam emosi nya dan bersikap seperti biasa Aldo kembali ke ruangan kantor Arkan untuk menemui istrinya.dan setelah Aldo sudah ada di dalam ruangan tersebut..
"sayang, seperti nya Sore ini kita harus pulang ke Jakarta"
"ya?" ucap Andini tidak paham mengapa tiba-tiba suaminya itu mengajak nya pulang ke Jakarta padahal dirinya masih betah tinggal bersama keluarga nya ini.
"sore ini? Kenapa mendadak sekali kak?" tanya Andini dengan wajah bingung nya.
Aldo duduk di sebelah istrinya dan menggenggam tangan istrinya itu.
"iya,ada sesuatu yang mendadak yang mengharuskan kita pulang sayang"
"tapi kak,kita baru kemarin di sini"
"apa kamu masih mau di sini hm?" tanya Aldo tak yakin
Andini diam hanya menatap netra coklat terang milik suaminya.
Aldo tersenyum membalas tatapan istrinya itu dia paham arti tatapan itu.
"kalau kamu masih mau tinggal di sini tidak masalah, Dua hari lagi kamu bisa tinggal di sini, aku akan pulang ke Jakarta sendiri, nanti dua hari lagi aku jemput, gimana?" ucap Aldo membiarkan istrinya itu untuk menambah hari untuk tinggal bersama keluarga nya.Aldo mengerti kondisi Isteri nya yang masih belum puas bertemu dengan ayah dan kakak nya itu.
"benarkah? apa boleh?" ucap Andini sedikit ragu tapi nampak terpancar kebahagiaan di wajah nya mendengar ucapan Suaminya yang mengizinkan nya untuk tinggal beberapa hari lagi di Bogor.
"tentu saja boleh. kalau begitu aku tidak menunggu sore, aku akan kembali sekarang ya" ucap Aldo pelan.
"apa ada sesuatu yang penting sehingga kamu harus terburu buru begini kak, bukan kah kamu mengambil cuti selama empat hari"
"iya sayang, sangat penting.dan aku harus segera menyelesaikan nya agar tidak ada sesuatu yang terjadi yang tidak kita inginkan" jelas Aldo.
Andini mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldo.
"apa segawat itu kak?" selidik Andini.
Aldo tersenyum berusaha menutupi kegelisahan hati nya.
__ADS_1
*
to be continued..