Cinta Yang Tak Pernah Salah

Cinta Yang Tak Pernah Salah
jatuh cinta itu merepotkan.


__ADS_3

Aldo menjadi gelisah sekaligus gusar karena Andini tak kunjung menjawab panggilan video nya.


"sayang, kamu kemana sih! tidak menjawab panggilan video ku" gumam Aldo frustasi mengacak rambut nya kasar. hingga panggilan video itu berakhir, tidak ada jawaban dari Andini.


**


Andini tertawa lepas karena ucapan Reza yang menurutnya sangat lucu.


dan pria itu hanya tersenyum melihat tawa lepas Andini.


Reza datang berkunjung ke tempat pamannya yang notabene nya adalah ayah Andini setelah mengetahui kalau Andini masih tinggal untuk beberapa hari dan apalagi tidak ada Aldo di samping Andini.Reza tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bertemu dengan Andini setelah pulang dari kantor Arkan.


"cantik sekali" gumam Reza memandangi lekat wajah Andini yang sedang tertawa.sadar di perhatikan Reza yang seperti itu perlahan tawa Andini hilang dari wajah nya.


"Kenapa kamu Za?" tanya Andini heran dengan cara tatapan Reza.


"HM?,ah tidak.aku hanya sedang mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapan ku ini" jawab Reza absurd dengan gaya cool nya.


tapi ucapan Reza berhasil membuat Andini diam, wajah nya memerah.


"mm, kamu lagi cuti kuliah Za?" tanya Andini mengalihkan pembicaraan sekaligus rasa canggung.


"iya, aku cuti dua hari saja, kebetulan jam kuliah ku lagi kosong hanya satu.besok sore aku sudah balik ke Jakarta eh, kenapa kamu kuliah online An?"


belum sempat Andini menjawab pertanyaan Reza..


"Andini, kamu tidak membawa ponsel mu?" tiba-tiba Arkan datang menyela pembicaraan mereka berdua.Andini menoleh ke arah Arkan.dan pria berwajah araban itu, memberikan ponselnya pada Andini.sesaat Andini bingung karena Arkan memberikan ponsel milik Arkan.


"apa bang?" tanya Andini masih memasang mode bingung.


"suami mu telpon seperti nya marah, karena kamu di hubungi tidak kamu respon"


deg


"benarkah,oh ya ampun" wajah Andini pias membayangkan wajah suaminya yang marah.


"ini, jawab lah dulu" Arkan memberikan ponsel nya pada Andini dan..


"halo kak"sahut Andini menyapa suaminya di sana.


"astaga sayang.. kemana kamu ha, di telpon, di vc tidak di respon" ucap Aldo di sana dengan nada sedikit tinggi. Andini menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"maaf kak, aku sedang di ruang tamu"


"dengan siapa? kamu belum tidur?"tanya Aldo cepat


Andini diam dia melirik ke arah Reza dan Arkan bergantian.


"aku bersama bang Arkan dan Reza" jawab Andini merendahkan suaranya di penghujung katanya.

__ADS_1


"Reza di situ?! rupanya bocah songong ada di situ? cepetan kamu masuk ke kamar sayang, aku mau vc sama kamu" titah Aldo


"baik lah.." jawab Andini dengan nada malas melipat bibir nya ke dalam.


"ini bang ponsel mu" Andini memberikan ponsel Arkan lalu beranjak dari duduknya.


"mau kemana kamu An?" tanya Reza


"aku mau masuk ke kamar dulu"


sahut Andini lalu berjalan menuju kamar nya di lantai dua. tanpa menoleh lagi pada Arkan dan Reza.


"aku belum puas ngobrol dengan mu Andini!" ucap Reza setengah teriak karena Andini sudah berjalan menjauh. Andini hanya menoleh sekilas ke arah Reza dan tersenyum tipis.terus melangkah, menapaki anak tangga menuju kamar nya.


melihat sikap, serta tatapan Reza yang terlihat beda, Arkan mengerutkan dahinya.


"kamu menyukai adik ku? Aryan?" tanya Arkan menatap tajam Reza.tapi pria muda itu tak menyahut pertanyaan Arkan karena pandangan nya masih terpaku pada Andini yang terus melangkah ke lantai dua Dan menghilang di balik pintu kamar nya.


"Aryan!" sapa Arkan, kali ini suara nya sedikit lebih keras sehingga membuat Reza kaget terpecah objek nya.


"a_apa kamu bertanya pada ku? brother?"


Arkan yang berdiri dengan kedua tangan nya di atas pinggang masih menatap Reza dengan tatapan yang sukar untuk di artikan.


"apa kamu menyukai adik ku?" tanya Arkan mengulang pertanyaan nya.


pertanyaan Arkan membuat Reza gugup.


"aku tidak pernah jatuh cinta pada seorang gadis, karena bagi ku jatuh cinta itu merepotkan.tapi setelah aku mengenal Andini semua nya terpatahkan.pertama kali aku melihat Andini sudah kagum dengan sikap nya yang energik apa lagi wajah nya yang cantik, manis.ah, pokoknya wanita yang aku idamkan ada pada Andini, tapi.. Reza menjeda ucapan nya dan tersenyum getir mengalihkan pandangannya ke arah lain menghela nafasnya berat sebelum meneruskan ucapannya


"ternyata takdir bicara lain, ternyata dia sudah menjadi milik orang lain dan sekarang fakta baru yang aku baru ketahui kalau Andini sepupu jauh aku. ironis bukan?!" ucap Reza kembali menatap Arkan yang masih berdiri menjulang di depan nya.dengan kedua tangannya di lipat di dadanya. mendengar kan kata-kata curhatan adik sepupu nya.


"benar sekali, takdir sangat kejam pada mu" timpal Arkan kemudian terkekeh.


"hey! kenapa kamu malah mentertawakan aku?!"


"adik ku memang cantik jelita, seperti aku yang tampan,gen ayah ku memang tidak sembarangan. anak yang berwajah punya kualitas" ucap Arkan membanggakan gen ayah nya.


"sombong sekali kau" gerutu Reza walaupun di dalam hati nya membenarkan ucapan Arkan.


Arkan hanya terkekeh merespon ucapan Reza.


lalu pria itu pun berlalu dari hadapan Reza.


"pulang lah Aryan, sudah malam" ucap Arkan mengentikan langkah nya.


"apa kamu mengusir ku?!"


"ya, aku mengusir mu karena sudah malam aku juga mau istirahat"

__ADS_1


"hey, ini baru jam delapan malam masih terbilang sore, seperti anak kecil saja kamu jam segini sudah mau istirahat" ucap Reza dengan nada mengejek.


"terserah Anggapan mu, besok aku harus berangkat pagi karena ada pertemuan dengan pengembang" jelas Arkan lalu pergi begitu saja meninggalkan Reza yang masih berada di ruang tamu.


"sial! sungguh tidak sopan, meninggalkan tamu begitu saja!" gerutu Reza


"aku mendengar mu Aryan!! pulang lah!!" sahut Arkan yang sudah di lantai dua rumah nya lalu masuk ke dalam kamar nya yang berada di sebelah kamar Andini.


akhirnya dengan masih ada kekesalan di hati nya karena merasa di abaikan oleh tuan rumah Reza beranjak dari duduknya berjalan ke arah pintu keluar rumah besar tersebut menuju parkiran mobil nya.sebuah mobil sedan Mercedes Benz berwarna hitam legam memasuki pekarangan rumah tersebut dan berhenti persis di samping mobil Reza.tak lama Radit turun dari mobil tersebut membuka pintu belakang mobil tersebut dan keluarlah Jayed dari mobil mewah itu.


Reza yang masih berdiri di samping mobil nya melihat pamannya datang


berjalan mendekati nya.


"Selamat malam uncle jayed" sapa Reza sopan menundukkan kepalanya tanda hormat pada jayed.


"Reza? apa kabar mu?" sapa Balik jayed mendekati Reza dan menepuk pelan pundak Reza.


"baik uncle"


"dengan siapa kamu kesini?"


"dengan abah, tadi siang kami ada pertemuan di perusahaan jaya parma dengan dewan direksi lain nya" jelas Reza.


jayed hanya mengangguk kan kepala nya pria berusia enam puluh lima tahun depan wajah masih terlihat tampan dan gagah serta wibawa nya terpancar di wajah nya.


"kamu mau pulang?" tanya jayed


"iya uncle"


"sudah bertemu dengan sepupu baru mu?"


"Andini maksud uncle?"


"iya"


"sudah uncle, kebetulan kami satu kampus dan satu jurusan" jelas Reza.


"oh ya? kebetulan sekali" ucap jayed sedikit kaget.


"betul, sangat kebetulan sekali memang, tidak pernah aku bayangkan.ah,baik lah uncle aku permisi dulu, sudah malam"


"baik lah silahkan, sampai kan salam ku pada jamaidan" ucap Jayed.


"baik uncle akan aku sampaikan permisi, selamat malam" ucap Reza sopan yang di angguki oleh Jayed kemudian Reza masuk ke dalam mobil nya lalu meninggalkan rumah besar tersebut.


di dalam kamar, Andini nampak tersenyum, tersipu malu melihat pemandangan di layar ponsel nya yang membuat wajah nya merona.


*

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2