
dengan sedikit gugup Aldo langsung menyambar ponsel nya yang bergetar karena ada panggilan masuk dari ibu mertua nya.
( ya halo Bu? apa semua baik-baik saja?') tanya Aldo langsung karena dia tahu situasi sekarang di mana ibu mertua nya sedang berada di rumah nya menemani sang istri tercinta.sudah tiga hari Aldo tidak pulang dan rencana nya sore ini dia akan pulang menemui istrinya karena sudah merasa kangen berat setelah beberapa hari meninggalkan istri nya di rumah walaupun di saat ada kesempatan dirinya selalu melakukan panggilan video Dengan istri nya hanya untuk melepas rindu.
( istri mu akan melahirkan Aldo, ibu sudah di perjalanan menuju rumah sakit mu bersama ayah dan Arkan kebetulan Arkan sedang berkunjung) sahut Reyna di panggilan telepon nya. seketika Aldo berdiri dari duduknya, dengan wajah panik dia langsung menyambar jas putih kebesaran nya yang dia sampirkan di sandaran kursi nya dan saat itu juga Aldo memutuskan panggilan telepon nya dan melangkah cepat
"Ada apa Dokter?" tanya Danish bingung karena melihat wajah panik Aldo yang tergesa pergi keluar dari ruangannya dengan setengah berlari tak menghiraukan ucapan Danish dan Ridwan yang ikut panik, lalu mengejar dan mengikuti langkah Aldo tanpa bertanya lagi sesekali Ridwan dan Danish saling pandang berusaha menyamakan langkah nya dengan Aldo yang berjalan sangat cepat.
"Dokter,ada hal darurat apa ini?" Ridwan berusaha bertanya di tengah kepanikan tepat nya kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah Aldo.
"istri ku akan melahirkan dia sedang dalam perjalanan bersama ibu mertua ku dan lain nya"
akhirnya Ridwan dan Danish mendapatkan Jawaban dari sikap Aldo yang terlihat panik lalu tanpa bicara lagi mereka pun mengikuti langkah Aldo untuk turun ke lantai bawah dan menunggu kedatangan mobil yang membawa istrinya bersama keluarga nya di depan pintu masuk rumah sakit dengan wajah cemas Aldo berjalan mondar mandir tak tenang dengan kedua tangan di sisi pinggang.
"ah, kenapa mereka lama sekali sampai nya"
Aldo sudah tak nyaman perasaan nya karena khawatir. sudah ada para tenaga medis yang sudah bersiap-siap dengan kedatangan istri sang direktur dan tentu saja semua yang terjadi itu tak luput dari perhatian dari para pengunjung serta staf medis lainnya yang sudah mendengar kabar sang nyonya pemilik rumah sakit akan melahirkan sudah ada dokter Mita dan bidan Arumi yang juga menunggu kedatangan nyonya sang direktur utama rumah sakit tersebut.
Akhirnya tak lama kemudian mobil yang membawa sang istri pun tiba di depan lobi rumah sakit dan dengan segera pintu mobil itu di buka oleh Aldo dengan tidak sabaran wajah Aldo tambah panik melihat wajah kesakitan istri nya yang menahan sakit karena kontraksi perutnya.
"sayang" ucap Aldo langsung menunduk kan tubuhnya masuk ke dalam mobil itu, meraup tubuh istrinya untuk dia gendong.
"kak..sssakit.." desis Andini sangat lirih menahan rasa sakit akibat kontraksi perutnya yang menderanya sangat terasa dan mantap dia rasakan
Aldo yang setengah berlari menggendong tubuh istrinya ke dalam menuju ruang persalinan
"iya sayang,tahan ya,iya aku tahu rasanya pasti sakit tahan ya sabar, sebentar lagi anak kita lahir" ucap Aldo sangat lembut menenangkan istri nya lalu memberikan kecupan singkat pada kening istrinya
__ADS_1
"Dokter Aldo sebaiknya istri anda di rebahkan di sini biar lebih nyaman dan aman" pinta seorang perawat wanita meminta Aldo agar meletakkan tubuh Andini di brankar
yang akan di dorong menuju ruang persalinan dan sebagai seorang Dokter Aldo paham, lalu merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati seolah takut tergores tubuh itu ke atas brankar.Aldo masih menggenggam tangan istrinya di saat brankar itu di dorong oleh kedua perawat pria menuju ruang persalinan.wajah kesakitan Andini yang terus-menerus merintih sakit membuat Aldo ikut merasakan sakit dan tak tega melihat istrinya yang seperti itu.
"sabar sayang.. tahan ya?" ucap Aldo terus menemani isteri nya.
tiba di depan ruang persalinan Brankar yang membawa tubuh istrinya itu masuk kedalam ruangan tersebut dengan Aldo yang juga ikut masuk ke dalam mendampingi istri nya.
di luar nampak Reyna, Jayed serta Arkan yang baru saja tiba di rumah Adik nya itu sangat terkejut karena Ayahnya dan Reyna keluar dari rumah tersebut dengan memapah adiknya yang nampak kesakitan Arkan yang tidak sempat lagi memarkir kan Mobil nya dengan baik langsung keluar dari mobil nya, dan langsung meraup tubuh adiknya itu untuk di duduk kan di dalam mobil di ikuti oleh Reyna, masuk ke dalam mobil. Arkan yang sudah bisa menebak kalau adik nya itu akan melahirkan.
ketiga orang tersebut tampak terlihat khawatir dan harap-harap cemas menunggu Andini yang sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang bayi ke dunia, Dari dalam rahimnya.
"Rey,tenang lah kamu jangan mondar mandir seperti triskaan
baju" tegur Jayed yang merasa pusing melihat Reyna berjalan mondar-mandir.dan wanita itu langsung menghentikan langkahnya
"apa kamu tidak khawatir By?"
tanya Reyna dengan suara menekan karena gugup.
"tentu saja aku khawatir Rey, apalagi ini cucu pertama kita" ucap Jayed meyakinkan Reyna kalau dirinya juga sama khawatir nya dengan Reyna.
"tapi sepertinya kamu terlihat tenang-tenang saja?" tuding Reyna lagi menatap tak senang pada Jayed
"ya Tuhan Rey... apa aku harus teriak atau menjerit agar terlihat khawatir di mata mu HM?" balas Jayed tambah tak terima dengan asumsi istri nya itu.
Arkan yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit membeli tiga cup kopi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua orang tua nya.
__ADS_1
"apa kalian tidak sadar, kelakuan kalian menjadi perhatian orang di sekitar kalian" ucap Arkan mencibir.
Reyna dan Jayed pun menghentikan perdebatan mereka kedua nya membuktikan ucapan Arkan dan pandangan kedua nya menyisir sekitar nya dan benar saja orang-orang yang tak jauh dari mereka berada sekarang pandangan nya sedang tertuju pada mereka
akhirnya Jayed dan Reyna berhenti berdebat memutuskan untuk duduk di kursi tunggu dengan wajah yang cemas menatap pintu ruang persalinan di mana Andini di dalam nya.
di dalam ruang persalinan, Andini sedang berjuang untuk melahirkan bayi nya ke dunia, Andini terus mengejan di kala rasa kontraksi itu datang menerjang nya
"ayo nyonya,ya.. terus ayo sedikit lagi duh, bagus begitu, yang kuat dorong nya ya..tuh lihat kepala bayi nya sudah kelihatan ayo nyonya Bagaskara tambah tenaga nya pus terus" Dokter Mita terus memberikan instruksi pada Andini
keringat dingin terus mengalir di tubuh serta wajah Andini
sementara Aldo sibuk menyeka keringat istrinya yang sedang berjuang melahirkan bayi nya Aldo sudah tidak mempedulikan penampilan nya yang sudah tidak karuan tubuh nya yang juga berkeringat seolah AC ruangan itu tidak berpungsi.rambutnya yang acak-acakan karena tadi sempat di jambak oleh Andini karena melampiaskan rasa sakit nya dengan menjambak rambut Aldo hingga Dokter tampan itu meringis menahan sakit walaupun begitu Aldo tidak keberatan karena perhatian nya tersita dengan keadaan istrinya sakit jambakan rambut nya tidak lah seberapa di banding apa yang di rasakan istri nya sekarang ini.
tak lama suara tangis bayi merubah ketegangan pada wajah orang yang berada di ruangan itu, berganti dengan raut kebahagiaan karena masa-masa menegangkan sudah lewat berganti dengan rasa haru serta bahagia yang tak terkira Aldo tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata cinta dan terimakasih pada istri yang telah berjuang mati-matian untuk melahirkan anak mereka yang pertama ke dunia
"terima kasih sayang, aku mencintai mu istri belia ku yang cantik" ucap Aldo penuh dengan kelembutan dan sayang sembari tak henti-hentinya mengecup kening istrinya.
"kak.. sudah cium nya.. malu tuh" ucap Andini dengan suara yang masih lemah protes dengan tingkah suami nya yang tak tahu malu menatap sayu suami nya
"biarin sayang, Anggap ajah mereka nggak ada" sahut Aldo sekenanya tanpa ada rasa bersalah.
"kalau menganggap kita nggak ada, terus tadi yang menolong persalinan istri anda siapa Dokter?" timpal Dokter Mita yang sedang sibuk membersihkan bayi mungil itu dari darah dan lendir Mita merasa geram dengan ucapan Aldo yang sekenanya. Aldo hanya tersenyum merespon ucapan sendiri yang absurd.dan itu tidak di perduli kan karena saat ini hati nya sedang di selimuti rasa bahagia yang amat sangat atas kelahiran putra pertama nya ke dunia.
*
TBC..
__ADS_1