Di Jodohkan Dengan Gadis SMA

Di Jodohkan Dengan Gadis SMA
episode 36


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


SEMOGA SUKA SAMA KARYA OUTHOR


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN


DENGAN CARA LIKE KOMEN VOTE


Sekarang Dara sudah selesai memasak semua menu yang di request oleh suaminya, jadi Dara tinggal mengantarkannya ke kantor suaminya, tapi sebelum pergi ke kantor suaminya Dara ganti baju terlebih dahulu, Dara memilih memakai dress berwarna merah marun dengan menggunakan warna itu kulit Dara yang putih mulus itu semakin bersinar, dress itu panjangnya di atas paha dan bagian atas yang memperlihatkan sebagian bahunya yang mulus, Dara lebih memilih mengenakan sendal ber hak yang tingginya 5 senti dan tak lupa tas slempang kecil yang dia bawa hanya muat untuk uang dan ponsel saja.


Dara juga tak lupa untuk mengenakan make up tipis sehingga membuat penampilannya semakin cantik, sengaja Dara berdandan karena Dara tidak ingin membuat suaminya malu.


Setelah selesai Dara segera menuju ke kantor suaminya dengan menumpangi mobil yang sudah di siapkan oleh suaminya serta sopir yang siap mengantarnya, sekitar 20 menit Dara sudah sampai di perusahaan suaminya.


"Wah besar banget perusahaan mas Bima, bagus lagi kantornya sekaya apa sih mas Bima itu" batin Dara yang mengagumi perusahaan suaminya.


Dara turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam kantor suaminya tak lupa Dara menanyakan ruangan suaminya ke bagian resepsionis.


"Permisi mbk" ujar Dara dengan ramah.


"Iya nona ada yang bisa saya bantu?" tanya mbak reseosionis itu tak kalah ramah.


"Ruangan tuan Bima di mana ya?" tanya Dara.


"Maaf nona tidak sembarang orang bisa masuk atau bertemu dengan tuan Bima, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" jawab mbak resepsionis itu dengan balik bertanya.


"Saya tadi di suruh datang ke kantor ini oleh tuan Bima untuk mengantarkan makanan" ujar Dara dengan memperlihatkan rantang makanan yang sedang dia bawa.


"Sebentar ya saya tanyakan dulu sama tuan Bima, soalnya sudah banyak wanita yang datang kesini dengan alasan seperti nona padahal mereka tidak ada keperluan penting, mereka hanya sekedar ingin bertemu atau berkenalan dengan tuan Bima" jelas mbak resepsionis itu sedangkan Dara hanya menganggukkan kepalanya.


Suaminya itu memang tampan dan kaya pantas saja jika banyak wanita diluaran sana yang hanya ingin untuk bertemu ataupun bekenalan dengan suaminya, bahkan lebih dari itu juga mau.


"Iya mbak silahkan bisa di tanyakan dulu"


"Maaf dengan nona siapa?" tanya mbak resepsionis sebelum menelfon Bima.


"Nama saya Dara."


"Baik nona tunggu sebentar"


Resepsionis itu segera menghubungi Bima menggunakan telfon kantor tak lama langsung di angkat sama Bima.


"Hallo......"


"Selamat siang tuan Bima maaf mengganggu waktu anda, ini di bawah ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan tuan namanya nona Dara" ujar mbak resepsionis itu menyampaikan.


"Kamu antarkan dia ke ruangan ku ya dan ingat setiap nona Dara datang kamu wajib mengantarnya sampai ruanganku, kamu mengerti?" titah Bima yang langsung di iyakan oleh mbak resepsionis itu.


"Baik tuan saya akan mengantarnya"


"Mari silahkan nona saya antar ke ruangan tuan Bima" ujar resepsionis itu setelah Bima memutuskan sambungan telfonnya.


"Iya terimakasih" jawab Dara, sedangkan mbak resepsionis itu segera mengantarkan Dara keruangan Bima, ruangan Bima berada di lantai paling atas dan hanya orang penting yang ruangnya berada di lantai paling atas.


Setelah sampai di depan ruangan Bima resepsionis itu meminta izin dulu dengan sekertaris Desi yang tempat kerjanya berada di depan ruangan Bima.


"Selamat siang nona Desi ini ada yang ingin bertemu dengan tuan Bima dan kata tuan Bima tadi saya di duruh untuk mengantarkan Nona ini ke ruangannya tuan Bima" ujar Mbak resepsionis itu menyampaikan kepada Desi.


"Ya udah kamu anterin aja ke dalam, tuan Bima ada di dalam" jawab Desi dengan jutek.


"Gila banget ini perempuan masak kerja bajunya sexy gitu pantesan mas Bima betah di kantor perempuannya cantik cantik dan sexy lagi" Gumam Dara dalam hati yang melihat penampilan Desi.


"Siapa lagi sih perempuan itu cantik banget, apa jangan jangan istrinya tuan Bima ya? kata asisten Edo kan tuan Bima sudah menikah, yah udah gak ada harapan dong" Gumam Desi berbicara dalam hati.


mbak resepsionis itu mengetuk pintu ruangan Bima terlebih dahulu sebelum masuk.


"tok.....tok ....tok."


" masuk......."


Setelah di persilahkan masuk resepsionis itu segera membuka pintu ruangan Bima.

__ADS_1


"Mari silahkan masuk nona" ujar mbak resepsionis itu dengan membukakan pintu ruangan Bima sedangkan Dara hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu saya permisi dulu tuan" pamit resepsionis itu setelah mengantar Dara keruangan Bima.


"Iya silahkan " jawab Bima, sedangkan mbak resepsionis itu langsung keluar dari ruangan Bima, sesampainya di luar Desi yang kepo itu lantas menghadang langkah mbak resepsionis untuk bertanya.


"Eh perempuan tadi itu siapa sih?" tanya Desi.


"Maaf nona saya tidak tau, tadi saya hanya di suruh tuan untuk mengantarkan perempuan itu ke ruangannya" jawabnya.


"Ya udah sana kamu balik kerja lagi" ujar Desi dengan galak, sedangkan mbak resepsionis tadi langsung pergi untuk kembali bekerja.


💗❤️💗


Di rungan Bima Dara langssung di sambut pelukan oleh Bima setelah resepsionis itu pergi kemudian Bima myuruh Dara untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Ruangan kamu luas banget ya mas, bagus" ujar Dara yang mengagumi ruangan suaminya.


"Kamu suka sayang?" tanya Bima dan Dara hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh ya ini makan siang buat kamu mas sesuai dengan permintaan kamu" ujar Dara dengan menaruh rantang di atas meja.


"Mmmm kayaknya enak banget nih, jadi laper." jawab Bima yang duduk di sebelah istrinya.


"Ya udah mas Bima langsung makan aja ya Dara ambilin mumpung masih anget"


"Boleh sayang tapi suapin ya?" titah Bima dengan memeluk istrinya dari samping lalu melayangkan sebuah kecupan di pipi istrinya.


"Ih mas Bima jangan gini dong nanti kalo ada yang masuk gimana" ujar Dara yang takut jika ada orang yang tiba tiba saja masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Emang siapa yang berani masuk ke sini sayang"


Baru juga Dara selesai ngomong tiba tiba ada yang masuk begitu aja keruangan suaminya.


"Bim........" seketika omongan Revan terhenti karena di ruangan Bima ternyata ada istrinya, begitupun juga Edo yang merasa gak enak atas kelakuan Revan yang emang udah biasa masuk ke ruangan Bima tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka memang bersahabat dari masa kuliah makanya Revan gak ada sungkan sungkannya dengan bosnya yang merupakan sahabatnya sendiri, berbeda dengan Edo yang selalu bersikap formal karena Edo yang awalnya kariawan biasa bisa di percaya oleh Bima dan di angkat menjadi asistennya.


"Lo bisa gak sih Van kalo masuk ke ruangan gue itu ketuk pintu dulu kebiasaan banget" ujar Bima dengan kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Revan dan Edo, tadinya Bima mau romantis romantisan dengan istrinya eh malah datang dua pengganggu.


"Maafkan saya tuan atas kelacangannya" Kata Edo yang merasa gak enak hati.


"Kalau gitu sekalian aja kita makan siang bareng soalnya aku bawa makanan banyak, cukuplah untuk kita ber empat" ajak Dara yang membuat Bima gak suka, kalau mereka berdua ikut makan otomatis Bima gak bisa mesra mesraan dong.


"Wah beneran boleh nih kayaknya makanannya enak enak tuh" ujar Revan tanpa sungkan.


"Boleh kan mas?" tanya Dara sama suaminya dan mau gak mau Bima terpaksa mengiyakan.


"Iya boleh" jawab Bima terpaksa karena istrinya sudah terlanjur menawarkan.


"Boleh do ayo kita ikut makan" ujar Revan dengan menyenggol Edo yang diam saja.


"Ya udah aku ambilin sekalian ya" Dara ingin mengambilkan makanan untuk Edo dan Revan tapi Suaminya itu langsung melarangnya.


"Eh gak perlu di ambilin sayang mereka bisa ambil sendiri"


"Iya ra gak usah kita ambil sendiri aja, oh ya kita belum sempat kenalan kan aku revan" kata Revan sambil mengulurkan tangannya tapi langsung di tepis oleh Bima.


"Gak usah pakai salaman segala, sayang kenalin ini Revan jangan kaget ya orangnya agak rada rada" ujar Bima dengan mebaruh jari telunjuknya di kening.


"Enak aja orang ganteng gini" balas Revan yang gak terima di katain rada rada.


"Cihh, kalo yang ini namanya Edo sayang asisten aku" ujar Bima mengenalkan Edo sebagai asistennya sedangkan Dara hanya mengangguk mengerti.


"Mmmmm, enak banget makanannya siapa yang masak? apa kamu sendiri ra?" tanya Revan dengan mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Iya nona masakannya enak banget" tambah Edo membenarkan perkataan Revan.


"Benarkah? syukur deh kalau pada suka" jawab Dara senang.


"Ya jelaslah enak masakan istri gue itu" saut Bima ikut menimpali.


"Kamu masih kecil udah pinter masaknya " puji Revan.

__ADS_1


"kan Dara emang udah biasa masak Kak"


"Gak usah panggil dia kak dia bukan kakak kamu sayang panggil aja Revan" kata Bima tak terima bila Dara memanggil Revan dengan sebutan kakak.


"Sirik banget sih kamu Bim biar aja di panggil kakak"


..." Kan gak enak mas memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama" ujar Dara yang bingung mau manggil Revan apa....


"Tuh denger kamu Bim" tambah Revan dan Bima hanya diam.


"Dasar gak berubah kamu Bim tetep aja kalau makan minta di suapin, kaya anak kecil aja" ejek Revan.


..."Biarin, sirik aja lo kalo iri suruh aja pacar...


kamu buat suapin" jawab Bima ketus.


"Siapa juga yang iri" balas Revan tak mau kalah.


"Saya sudah kenyang nona terima kasih untuk makan siangnya yang sangat enak ini" ujar Edo setelah selesai dengan makannya.


"Iya sama sama lagian aku seneng kalau kalian pada suka makanannya" jawab Dara.


"Aku juga udah kenyang nih, makasih ya ra atas makan siangnya yang sangat enak" tambah Revan dan Dara hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah tuan dan nona kalo begitu saya sama Revan permisi dulu" pamit Edo yang gak ingin mengganggu tuanya.


"Eh kok sama aku sih ya kamu sendi......"


Belum selesai Revan bicara Edo sudah menarik Revan untuk ikut dengannya sedangkan Bima hanya geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


"Kamu apa apaan sih Do main tarik tarik aja, kalo mau keluar ya udah sediri aja ngapain ngajak ngajak, aku kan masih mau ngobrol" ujar Revan setelah keluar dari ruangan Bima.


"Dasar gak peka banget sih kamu jadi temen, kamu itu ngeganggu mereka tau gak, biarin aja mereka beduaan gak enak juga kan mana udah di kasih makan lagi" Jawab Edo.


"Biasa aja kali do, bukannya Bima memang gitu orangnya."


"Tuan Bima tadi tuh dah kesel banget tau gak, jadi ya udah aku seret aja kamu keluar biar kamu ngerti"


"Ya udah deh kalau gitu aku balik aja deh keruanganku" uja Revan yang langsung pergi ke ruangannya.


Sedangkan di ruangan Bima karena sudah pada selesai makan Dara ingin membereskan bekas makan tadi tapi langsung di larang sama Bima.


"Kamu mau ngapain sayang?" tanya Bima saat melihat istrinya mau ngeberesin sisa sisa makanan.


"Mau beresin ini dulu mas" jawab Dara.


"Gak usah sayang kamu jadi istriku bukan buat jadi pembantu dah itu biarin aja, nanti biar aku suruh orang buat beresin" ujar Bima yang di angguki oleh Dara.


"Iya deh mas."


"Sekarang kamu sini ikut aku" ujar Bima yang menyuruh Dara untuk duduk di kursi kebesarannya sedangkan Bima duduk di atas meja di hadapan Dara, lalu Bima meraih telfon kantor untuk menelfon Desi, kebetulan jam istirahat sudah selesai.


"Keruangan ku sekarang" titah Bima setelah sambungan telfonnya terhubung, belum juga Desi menjawabnya tapi Bima sudah menutup telfonnya begitu saja.


Tak lama terdengar ketokan di pintu ruanganya dan Bima langsung menyuruhnya masuk.


"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Desi setelah masuk ke dalam ruangan Bima.


"Kamu beresin bekas makanan yang di atas meja itu" titah Bima dengan menunjuk ke arah meja.


"Baik tuan"


"Kayaknya beneran deh itu istrinya tuan Bima, kok gak istrinya aja sih yang beresin atau nyuruh OB gitu malah aku yang di suruh, ngeselin" omel Desi dalam hati dengan membersihkan sisa makanan di atas meja.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA YA DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA


LIKE


KOMEN

__ADS_1


VOTE


BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UPNYA


__ADS_2