
SELAMAT MEMBACA
SEMOGA SUKA SAMA KARYA AUTHOR
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN CARA LIKE KOMEN VOTE
"Bagaimana ceritanya Bim kok Sena bisa sama kamu bukanya kamu masih di bali?" tanya Rendy, sekarang mereka berdua sedang berada di ruang kerja sengaja Bima mengajak papahnya untuk bicara di sana biar tidak ada yang mendengarnya.
"Jadi gini ceritanya pah Bima gak jadi pulang besok karena Edo telfon dan bilang kalau besok ada pertemuan dengan investor dari luar negeri, jadi Bima memutuskan untuk pulang jam 3 sore, Waktu Bima baru nyampe di jakarta dan baru juga selesai mandi tapi Bima langsung dapat kabar dari orang suruhan Bima kalau Sena sepertinya dalam bahaya, karena menurut orang suruhanku itu Vian telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Sena sewaktu makan di cafe xx, setelah itu Sena di bawa pergi sama Vian ke hotel xx untuk melancarkan aksinya, mendengar kabar dari orang suruhanku itu otomatis aku panik lah pah Bima takut kalau Sena sampai di apa apain sama si bre***sek itu jadi Bima langsung buru buru pergi ke hotel itu" jelas Bima.
# FLASH BACK ON #
Bima mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke hotel xx dimana tempat adiknya di bawa oleh Vian, Bima bener bener merasa panik karena jarak dari apartemnya ke hotel itu cukup jauh, Bima hanya bisa berdo'a semoga aja adiknya itu gak akan kenapa kenapa, apalagi Bima juga belum dapat kabar lagi dari orang suruhannya itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya Bima sampai juga di hotel itu, Bima segera memarkirkan mobilnya dengan sembarangan lalu Bima buru buru turun dari mobil dan berlari untuk masuk ke dalam hotel, Bima juga melihat orang suruhannya itu yang mungkin sedang menungggu kedatangannya.
"Di mana Sena?" tanya Bima sama orang suruhannya yang masih berada di loby hotel.
"Nona Sena di bawa masuk ke hotel oleh Vian tuan, kami sudah berusaha menanyakan sama resepsionis itu tapi mereka tetep bungkam" jawab salah satu anak buahnya menyampaikan.
" Bodoh kalian semua" maki Bima dengan kesal, bisa bisanya anak buahnya pada santai santai sedangkan adiknya entah gimana nasibnya.
Bima segera menghampiri bagian resepsionis untuk menanyakan kamar Vian. "Maaf saya mau tanya kira kira di mana kamar atas nama tuan vian?" tanya Bima kepada resepsionis yang bertugas, Bima berusaha meredam emosinya yang sedang meluap luap.
"Maaf tuan kami tidak bisa memberi tahu orang sembarangan karena itu privasi" jawab resepsionis itu yang membuat Bima murka.
"Adik saya dalam bahaya sekarang, kalau terjadi apa apa sama adik saya kamu mau bertanggung jawab" bentak Bima dengan tatapan yang nyalang.
"Maaf tuan tapi itu tidak bisa karena hotel ini....." belum selesai Resepsionis itu berbicara Bima langsung menggebrak meja yang seketika membuat resepsionis itu berjengkit kaget.
BRAKKK
"denger ya, kamu tau siapa saya, saya Bima sanjaya orang terkaya no 2 di negara ini jadi kalian jangan macam macam, saya bisa saja menutup hotel ini sekarang juga dan kalau sampai terjadi sesuatu dengan adik saya kamu orang pertama yang harus bertanggung jawab bahkan saya bisa menjebloskanmu ke dalam penjara" ujar Bima dengan mengancam.
"Ma.....maaf tu.....tuan sa....saya tidak tau, baik tunggu sebentar saya lihat dulu" jawab resepsionis itu dengan ketakutan.
"Cepetan saya tidak punya banyak waktu" bentak Bima dengan suara meninggi.
"Tuan Vian berada di lantai 30 kamar no 87"
Setelah resepsionis itu memberitahu dimana kamar Vian berada Bima langsung berlari dan di ikuti oleh keempat anak buahnya dari belakang.
" kalian berempat berjaga saja di depan pintu kalo saya butuh bantuan nanti akan saya panggil, biar saya sendiri saja yang akan menanganinya" titah Bima ketika sudah sampai di depan pintu kamar hotel yang di booking oleh Vian
"Baik tuan" jawab mereka berempat secara bersamaan.
Dengan tidak sabaran Bima langsung menendang pintu kamar hotel itu, dengan sekali tendangan pintu itu berhasil terbuka, seketika tangan Bima terkepal dengan rahangnya yang mengeras melihat adiknya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun sedang meronta dan melawan di bawah kungkungan vian, melihat itu Bima langsung berlari dan menendang punggung Vian sampai Vian terjungkal ke lantai lalu bima segera mengambil selimut dan meleparkannya kerah adiknya supaya adiknya segera menutupi tubuhnya yang polos, Bima segera menghajar Vian habis habisan dan setelah itu Bima menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Vian karena Bima ingin membuat perhitungan dengannya, setelah itu Bima segera membawa adiknya pulang.
# FLASH BACK OFF#
"Jadi begitulah pah ceritanya" jelas Bima dan sekarang Rendy sudah faham untunglah Bima itu cepat bertindak jika nggak Rendy gak tau gimana nasib putrinya selanjutnya.
"Bener bener brengsek itu Vian, trus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya sama Vian, apa kamu akan mengurusnya ke jalur hukum?" tanya Rendy yang gak terima dengan perbuatan Vian terhadap putrinya, jelas ayah mana yang terima jika putrinya dilecehkan.
"Jangan pah kasian Sena kalau di bawa ke jalur hukum nanti malah orang orang pada tau lagi kalau Sena pernah mendapatkan pelecehan seksual, pasti nanti Sena akan malu banget pah" jawab Bima yang gak setuju dengan perkataan papahnya yang akan mengurus lewat jalur hukum.
__ADS_1
"Kamu bener Bim, lalu apa yang akan kamu lakukan pada si brengsek itu?" tanya Rendi yang harus memastikan bahwa Vian harus mendapatkan ganjaran yang setimpal atas apa yang telah dia perbuat.
"Papah tenang saja serahkan saja semuanya sama Bima" jawab Bima sedangkan papahnya hanya menganggukkan kepalanya setuju.
"Oke, papah serahkan semuanya sama kamu Bim, papah percaya kamu bisa mengatasinya, kamu pinter Bim bisa bergerak cepat dan papah sangat bangga sama kamu"
"Ya udah deh pah kalau gitu Bima balik dulu ya lagian udah larut malam kasian Dara pasti nungguin"
"Ya Bim kasian juga menantu papah sendian, rumah kamu sudah jadi belum? kalau sudah mending kamu segera pindah aja Bim biar Dara ada temennya se enggaknya ada pelayan dan penjaga" tanya Rendy yang memastikan menantunya aman karena dunia bisnis itu kejam bisa saja kan ada seseorang yang sengaja ingin merusak keluarga Sanjaya karena iri atau semacamnya.
"Iya pah Bima usahain secepatnya, Bima pergi dulu pah, sampein juga sama mamah kalau Bima pulang"
"Iya Bim nanti papah sampaikan, kamu hati hati di jalan"
Bima langsung berjalan ke luar rumah dan masuk ke dalam mobilnya lalu setelah itu Bima segera menghubungi Edo terlebih dahulu sebelum menjalankan mobilnya.
" Hallo tuan...." jawab Edo di sebrang sana saat sambungan telfonnya sudah terhubung.
"Hallo do aku punya tugas buat kamu"
"Tugas apa tuan?" tanya Edo.
"Kamu cari informasi sedetail mungkin tentang orang yang bernama Vian, saya mau besok pagi sudah ada infonya" titah Bima yang langsung disanggupi oleh Edo.
"Baik tuan siap laksanakan"
Setelah itu Bima memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak, lalu Bima segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sudah legang karena memang sudah larut malam, dan gak butuh waktu lama Bima sudah sampai di apartemennya.
Bima memarkirkan mobilnya di basement apartemen lalu Bima segera masuk ke unit apartemennya.
Setelah Bima masuk dia mendapati istrinya yang sedang mondar mandir gak jelas di ruang TV dengan memegang ponsel di tangannya mungkin saja Dara sedang menunggu telfon dari suaminya.
"Mas Bima akhirnya pulang juga, gimana Dara bisa tidur kalau mas Bima gak pulang pulang, aku nungguin mas Bima takut kalau terjadi apa apa sama mas Bima" jawab Dara yang membuat Bima seneng aja, ternyata istrinya itu sangat mencemaskannya sampai sampai gak bisa tidur.
"Owh jadi istri aku ini ceritanya lagi mengkhwatirkan suaminya" ujar Bima yang sengaja ingin menggoda istrinya.
"Ih mas Bima Dara serius ini malah bercanda" balas Dara dengan mencubit perut suaminya.
"Owhhh sakit, udah berani ya kamu sekarang"
"Sakit ya mas, maaf dara reflek tadi abisnya mas Bima malah bercanda" ujar Dara dengan mengelus elus perut suaminya yang di cubitnya tadi.
"Kamu harus tanggung jawab ya sayang"
" Iya ya, oh ya tadi katanya Sena dalam bahaya memangnya Sena kenapa mas kok mas Bima kelihatan panik banget tadi?" tanya Dara yang penasaran kenapakah adik iparnya itu.
"Iya sayang tadi Sena hampir aja di per***sa sama vian" jawab Bima yang membuat Dara jadi terkejut, pantas saja suaminya itu panik banget.
"Apa ? tapi Sena gak pa pa kan mas?" tanya Dara yang khawatir dengan keadaan adik iparnya
"Untungnya aku langsung dateng tadi tapi gak tau deh karena waktu aku dateng Sena udah di te***ngin sama si brengsek itu, aku harap sena gak pa pa" jawab Bima.
"Ya ampun kasian banget Sena pasti dia takut dan shok banget"
"Padahal aku sudah menasehatinya supaya menjauhi Vian karena aku sudah tau kalau Vian itu laki laki brengsek, tapi Sena gak percaya dan malah pergi jalan berdua secara diam diam" jelas Bima.
__ADS_1
"Terus Sena sekarang di mana mas?"
"Ya aku langsung bawa pulang aja, dia shok banget kalo di tanya cuma nangis doang bisanya"
"Besok aku kerumah mamah ya mas mau melihat keadaan Sena sekalian bawain mereka oleh oleh" ujar Dara yang langsung di setujui oleh suaminya.
"Boleh sayang besok aku anterin"
"Terus Vian gimana mas sudah di bawa ke kantor polisi?"
"Ya enggak lah sayang kamu lupa aku ini siapa? kalau lapor polisi kasian Sena beritanya bisa kemana mana belum lagi pasti banyak orang orang yang mungkin akan menghujat Sena atau memandang rendah sena karena kasus pelecehan itu"
"Keenakan Vian dong mas kalau di lepas gitu aja" Dara seperti gak rela jika pelakunya di biarkan bebas begitu saja.
"Siapa bilang aku akan melepaskannya, akan aku pastikan dia akan jauh menderita berada di tanganku, akan aku pastikan pula dia kapok sama perbuatannya itu"
"Serem juga ya suamiku"
"Kenapa ? apa kamu takut?"
"Iya soalnya kalau mas Bima sudah marah itu serem banget"
"Makannya kamu jangan bikin aku marah sayang, ih gemes banget sih" ujar Bima dengan mencubit hidung istrinya yang mancung.
"Ih sakit hidung aku mas." keluh Dara.
"Sayang aku laper nih" rengek Bima yang sudah kaya anak TK meminta makan emaknya.
"Iya kan kita memang belum sempat makan tadi mas"
"Apa? jadi kamu belum makan juga?" tanya Bima dengan khawatir pasalnya istrinya itu punya penyakit mag, Takutnya nanti malah kambuh lagi.
"Hehe belum mas, tapi Dara udah masak kok tadi ya seadanya si karena memang hanya ada itu di kulkas" jawab Dara dengan cengengesan.
"Terus kenapa gak langsung di makan hem?"
"Nungguin mas bima" lagian siapa sih yang bisa makan di saat sedang mengkhawatirkan suaminya.
"Lain kali gak usah nungguin kalau udah laper langsung makan aja ya" ujar Bima yang di angguki oleh Dara.
"Ya mana bisa Dara enak enak makan sedangkan mas Bima tadi panik banget terus pergi dengan terburu buru kan Dara jadi kepikiran"
" ya udah sebaiknya kita makan yuk tapi makan di sini aja deh sayang dan suapin ya"
"Iya Dara udah hafal, sebentar ya Dara ambil makanannya dulu."
"Okey" jawab Bima.
Dara langsung pergi mengambil makanan beserta minuman setelah itu Dara kembali lagi ke ruang tv dan duduk di sebelah suaminya
"Sini Dara suapin a' mas" Bima segera menerima suapan itu dengan senang hati.
"Kamu juga makan dong sayang, sini aku yang suapin a'...." Bima juga ingin menyuapi istrinya makan dan Dara dengan senang hati pula menerima suapan dari suaminya, dan akhinya mereka berdua makan dengan suap suapan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YA DENGAN CARA BERI VOTE KARENA AUTHOR LIHAT UDAH BANYAK BANGET PEMBACA TAPI BELUM ADA YANG KASIH VOTE.
AUTHOR BUTUH VOTE DARI KALIAN BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT NULISNYA.