Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Apa kau baik-baik saja?


__ADS_3

8 bulan telah berlalu. Tak terasa kehidupan begitu berubah sampai mengubur masa lalu yang tak terhingga kelamnya. Dunia seakan kembali berbeda sesuai detikan jam yang beradu nyaring membuat perubahan yang nyata.


Lihatlah sekarang. Klan gelap Ryoto tiba-tiba menyerang Markas besar Sam yang ada di jerman dengan perlawanan keras dari anggota mereka yang tak main-main berusaha mengambil alih kekuasaan di laut Jerman.


"Sialan!!!"


Umpat Fagan melihat anggotanya dibantai dengan tembakan. Ia sangat muak dengan perlawanan Sersan sialan itu yang selama ini mempertahankan wilayah kekuasaan-nya membuat Fagan tak bisa menembus sistem koneksi mereka.


"Tuan! dimana Tuan Sam?"


Tanya Hendry yang menyabit beberapa anggota yang telah mendekat ke pelabuhan. Etnos juga ikut ambil karna ia biasanya mengurus Markas di Jerman dan sekarang tengah ada di Jembatan Pelabuhan membantai anggota musuh yang selalu datang.


"Jangan bertanya lagi!"


Pandangan Fagan menajam di-kegelapan malam ini. Ia yakin ada sesuatu yang ditutupi Sersan gila itu selama berbulan-bulan ini tak ikut ambil dalam segala penyerangan.


"Dibelakangmu!!"


Brakk..


Fagan menendang punggung anggota musuh yang ingin menembak Hendry yang sudah dilatih keras hingga bisa ikut dalam perkelahian kali ini.


Kemampuan beladiri anggota Ryota memang tak bisa dianggap remeh. Mereka memiliki cakar yang sangat tajam mengandung racun yang mematikan sistem otak lawannya.


Ada 10 anggota gelap Ryoto yang menyaksikan perkelahian mereka dari dekat batu besar di pelabuhan. Mereka memantau ketat sesuai titahan Sersan-nya untuk membalas serangan yang kemaren Fagan luncurkan ke Markas bagian.


Pelabuhan kecil ini tampak hancur oleh peluru dan senjata masing-masing Klan. Musuh tampak mundur saat Mobil seseorang sudah melesat mendekat ke Jembatan dengan kilatan cahaya dari atas lampu jalan.


"Mundur!!!"


"Kemari kalian!!!"


Teriak Fagan setelah menembak salah satu anggota mushuh yang langsung terjun ke lautan luas sana. Pasukan gelap itu tiba-tiba menghilang digebuan ombak dengan tembakan yang dilontarkan ketua dari mereka sebagai salam perpisahan yang menyebalkan.


"Tuan!!"


Mereka menunduk kembali saat melihat Sam yang sudah datang dengan wajah semakin dingin. Ia baru kali ini turun tangan karna sibuk mengurus Putranya yang tengah dirawat di rumah sakit besar sana.


Tatapan singa Sam begitu penuh arti pada para anggotanya yang tak begitu luka berat. Hanya tusukan dan tembakan, tak ada korban yang tewas. Tentu Sam merasa aneh. Jelas ia sangat kenal Klan bajingan itu sangat ganas dan kejam. Tak mungkin membiarkan pasukan musuh kembali dengan nyawa.


"Tuan!"


"Berapa kali mereka datang?"


Tanya Sam bersandar di Body Mobilnya. Ia yakin ada hal yang direncanakan pria itu sampai membuat taktik serumit ini.


"Mereka sudah sering melakukan hal seperti ini! sudah 5 kali mereka menyerang diaera yang berbeda. dan waktunya selalu dimalam hari."


"Kau melakukan sesuatu?" tanya Sam dingin membuat Fagan memucat. Ia menunduk menarik tatapan tajam dan menyelidik dari Sam.


"T..Tuan!"


"Katakan!"


Fagan langsung menghirup nafas dalam. Ia harus jujur atas penyerangannya pada Klan Ryoto beberapa bulan ini karna anggota informan di Indo mengatakan kalau Nonanya menghilang setelah kematian Bibik Minah. CCTV dipinggir kota pun telah dihancurkan dengan jejak-jejak lain yang musnah.


"Saya melakukan pengeboman di daerah mereka. Tuan!"


"Kenapa?" Sam masih tenang menatap lurus kedepan.


"Karna saya yakin. dia menyembunyikan sesuatu."


Ucap Fagan serius membuat Sam diam. Selama ini ia menutup diri dari segala hal dan tak pernah muncul karna mengurus soal hati dan Alfin. Ia hanya fokus pada bisnisnya saja.

__ADS_1


"Menyembunyikan?" gumam Sam berfikir dengan Fagan yang langsung membuka mulut.


"Iya. semenjak kematian wa.."


Dreett..


Ponsel Sam berbunyi menghentikan Fagan yang seketika diam. Ada pesan masuk dari Dokter Grely membuat wajah Sam memekat kelam.


"Masukan mata-mata di wilayahnya, jika seperti ini terus kau akan diperas oleh mereka." tergesa-gesa.


"Tapi sangat sulit. Tuan! selama ini anda yang mengatur kami tapi setelah berbulan-bulan anda tak pernah ikut dalam misi seperti ini."


"Mereka tak akan melukai anak kecil!"


Ucap Sam lalu masuk ke mobilnya membuat tanda tanya besar dibenak mereka. Sekarang semangat mereka untuk menghancurkan Klan satu itu mulai kembali berapi saat Pimpinannya sudah mau keluar.


Tentu Sam tak membiarkan Klannya berlarut sendirian. Walau selama ini Sam diam didalam kegelapan tapi ia tak akan menuli pada keadaan.


"Dia tiada. lalu bagaimana denganmu?"


Batin Sam memejamkan matanya. Ia sangat khawatir akan keadaan Natalia tapi beberapa bulan ini ia meredam rasa khawatirnya saat melihat berita yang menyiarkan kejayaan Dokter Andra dalam dunia kedokterannya.


.......


Tetesan air mata itu terus keluar dengan hunusan netra sendu menatap lurus kedepan dengan wajah sembab beserta tisu yang berserakan dilantai sana. Ia duduk bersandar ke sofa panjang dikamarnya dengan perut besar yang menyesakan Baju hamilnya.


"K..Kenapa?"


Lirihnya begitu terluka membuat seorang pria yang membuka pintu kamar mewah ini seketika terdiam dengan mata sipit menajam begitu menakutkan.


"Kau menangis lagi!!!!"


Natalia terperanjat dengan suara bentakan itu hingga wajahnya pucat melihat Daychi yang sudah menyala-nyala melangkah mendekatinya. Tuan barunya ini memang sangat menyeramkan sama dengan seseorang diluar sana.


"T..Tuan!"


Natalia langsung menggeleng ingin memungut sampah tisunya dilantai berkarpet ini tapi ia tak bisa karna perutnya sudah begitu besar sulit untuk bergerak.


"S..susah."


Lirih Natalia sesak dengan nafas terengah tak tahu cara membawa gumpalan besar diperutnya ini. Ia selalu dikurung didalam kamar oleh Daychi yang tak seruangan dengannya.


Melihat usaha Natalia yang terlihat takut dengannya Daychi langsung mendekat menarik bahu wanita itu untuk kembali duduk.


"Sudahlah!"


"T..tapi nanti kau.."


"Kau tak mengerti kata SUDAH!!!"


"i..Iya!"


Natalia langsung duduk kembali dengan kepala tertunduk dan jantung berlarian. Ia mulai hafal tabiat Daychi si pria kasar yang tak bisa mengontrol emosi dan suara menakutkannya seakan menjadi terompet raksasa.


"Air matamu tak habis setiap hari menangis tak berguna seperti ini." maki Daychi duduk disamping Natalia yang menekuk wajahnya.


"Ta..tapi aku.."


"Kau berhenti membuang waktu atau ku masukan kau kekadang Metina!"


Natalia langsung menggeleng cepat dengan wajah bertambah pucat. Metina itu sangat garang, Daychi pernah memasukannya kedalam kandang spesies itu membuat bulu kuduknya merinding.


"Masih ingin menguji ucapanku?" tekan Daychi menyelidik.

__ADS_1


"T..tidak. aku..aku janji."


"Hm."


Daychi hanya bergumam memperhatikan lekat wajah cantik Natalia yang semakin bersinar. Natalia pun ikut tak nyaman dipandangi seperti ini.


"Dia memang tampan! tapi sangat menakutkan."


Batin Natalia menurunkan Baju hamilnya menutupi lutut dengan perasaan siaga. Ia tak akan membiarkan Daychi berbuat tak senonoh padanya. Walau pria ini kasar tapi selalu memperhatikannya.


"I..ini sudah malam."


"Dan kau masih menonton TV." geram Daychi membuat Natalia dengan cepat mengambil remote mematikan televisi yang memperlihatkan serial drama yang begitu menguras emosi.


Lama Daychi mencerna semua ini. Menatap layar Televisi dan wajah sembab Natalia bergantian hingga..


"K..Kau.."


Natalia langsung membekap wajahnya malu saat Daychi sudah bisa menebak ia menangis karna apa. Wajah tampan Daychi langsung bergurat geli menatap Natalia yang masih enggan menunjukan wajahnya.


"Shitt!"


Daychi membuang muka menyembunyikan senyum gelinya membuat Natalia merasa sangat malu.


"Jangan begini!!"


"Menangis karna drama. Cih!"


Daychi berdiri menggeleng kembali merubah wajah tampannya menjadi datar. Ia sepertinya sudah begitu baik sampai membiarkan Istri musuhnya sendiri bernyawa selama ini.


"Tidurlah!"


"Hm. Tuan sudah makan?"


Tanya Natalia lalu terdiam karna terhenyak akan ucapannya barusan. Tiba-tiba ia membayang pada masa lalu dimana ia sering mengucapkan ini.


"Hm!"


"A.. sebaiknya anda makan."


Natalia perlahan berdiri. walaupun susah ia tak pernah meminta bantuan pada siapapun termasuk Daychi yang dibuat sangat tertarik akan perilaku Natalia yang sangat berbeda dari wanita-wanita yang telah ia temui.


"Hm."


Tanpa banyak bicara Daychi mematikan lampu kamar lalu melangkah keluar meninggalkan nampan susu yang tadi sudah dibawa oleh pelayan kesini.


Natalia hanya diam. ia duduk ditepi ranjangnya dengan tangan mengelus perut besarnya. Selama ini ia jalani dengan pura-pura bahagia dan seakan tak mengenal yang namanya masa lalu. tapi nyatanya ia hanya menipu diri sendiri.


"K..kau merindukan. Papamu, hm?"


Gumam Natalia berkaca-kaca mengelus perutnya lembut. Sekuat tenaga ia mencoba bertahan walau rasanya sangat menyakitkan.


"K..kau tahu?"


Natalia tersenyum dengan air mata yang luruh. Disaat seperti ini ia begitu tersiksa dimana tak ada lagi bocah kecil dan Pak Tua yang bisa menemaninya setiap harinya.


"Kau punya Kakak. dia tampan."


Gumam Natalia membayangkan wajah Alfin yang pasti akan sangat bahagia kalau tahu ia akan punya adik. Natalia juga merindukan putranya satu itu.


"Semoga kau baik-baik saja. Alfin! Bunda selalu menyayangimu."


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2