
Malam ini semakin menarik bulan yang telah naik mendaki langit. kabut hitam itu terlihat jelas di jalanan padat sana bahkan keadaan Ibukota masih rapai dengan gemerlap lampu yang berpijar indah menghiasi gedung dan pinggiran betonnya.
Mobil-mobil itu berlalu-lalang tanpa henti. tapi, Mobil hitam yang tengah mengintai didekat simpang jalan khusus kearah Kediaman yang selalu dipantau dari sini menjadi pemfokusan.
Dua sosok manusia tengah berdiri berbicara santai menukar pengalaman. tapi, mata keduanya seakan berputar mencari target yang direncanakan.
"Kalian pantau terus. masukan anggota kedalam Kediamannya dan jangan sampai ketahuan."
"Baik. Tuan!"
Keduanya saling memberi isyarat sesuai perintah diseberang sana hingga salah satu dari keduanya melihat Mobil mewah seseorang yang baru datang dari arah jalan khusus Pria itu.
"Dia sudah pulang. Tuan!"
"Lakukan sesuai rencana!"
"Baik!"
Keduanya kembali masuk ke dalam Mobil dan melaju stabil membuntuti Mobil mewah yang tadinya sudah melesat pelan ke daerah khusus Kediamannya.
Mobil yang ada didepan sana pun terlihat tak mengetahui apa yang mereka lakukan sampai Pintu Gerbang Bangunan besar itu dibuka oleh dua penjaga yang seperti biasa memberi salam hormat.
Sam yang tengah duduk didalam Mobil dengan mata terpejam itu merasa aneh dengan suasana di tempat ini. pendengarannya yang tajam tak melewatkan suara Mobil yang tak jauh di belakang sana.
"Tuan!"
Sam membuka matanya melihat kearah spion dimana Mobil yang terlihat melaju pelan dibelakangnya. lama mata tajam Sam menatapnya dari pijaran lampu Kediaman hingga sudut bibirnya terangkat kilas dengan raut tak habis pikir dengan tikus liar satu itu.
"Mobil itu mencurigakan. Tuan!"
"Biarkan saja. hanya perlu sedikit peringatan."
Gumam Sam lalu menatap kearah kiri jendelanya hingga Fagan menggeleng saja. pria ini memang sangat aneh dan misterius, ia memang terlihat cool dan sangat tak mau ikut campur urusan lain. Namun, dibalik itu semua tersimpan salah satu sifat yang disembunyikan dari tameng kharismanya.
Seakan tak terjadi apapun. Fagan hanya bersikap santai melajukan Mobil kedalam lingkungan Kediaman karna Sam sudah lelah malam ini ia tak sempat untuk bermain seperti masa remajanya.
"Tuan!"
Para pelayan yang seperti biasa menunggu membawa Mantel hangat dan sapu tangan untuk mensterilkan semuanya. mereka terlihat masih tetap segar walau ini sudah hampir melewati jam 12 malam.
"Buka bangunan belakang!"
"Baik!"
Walau tak mengerti atas perintah itu. mereka masih tetap melakukannya dengan patuh sementara Fagan hilang ntah kemana dengan langkah Sam yang hanya gontai masuk kedalam Kediaman.
"Alfin!"
"Tuan kecil sudah tidur. Tuan!"
"Hm."
Sam melangkah cepat ke arah tangga seraya melenturkan jari-jemari tangannya. ia sudah merasa sangat letih menyelesaikan Pekerjaan yang semangkin banyak di Perusahaan apalagi masalah Qyara yang tadi tak ikut pulang. Sam pun masa bodoh tak lagi ingin ikut campur membiarkan waktu yang menjawab rasa dihatinya akan tetap ada atau tidak.
Setelah beberapa lama. Sam sampai ke lantai atas dengan kamar Putranya yang terlihat terbuka kecil hingga kepala Sam mulai berfikir jika wanita itu masih ada didalam.
"Tidur yang nyenyak. hm?"
Sam tertegun didepan pintu melihat Natalia mengecup lama kening Alfin yang tampak memeluk erat dada Natalia yang mengurai dekapan hangat ini.
"Bunda.. emm."
"Suttt!!"
Natalia menepuk punggung Alfin yang menggeliat malah mempererat pelukannya. nafas si kecil ini terdengar stabil membuktikan betapa nyenyaknya mimpi yang tengah ia lalui. tentu semua itu pemandangan yang begitu mendamaikan pikiran Sam yang telah dibanting oleh semua pekerjaannya.
"Tuan!"
Natalia melihat Sam yang masuk dengan raut biasa mendekati ranjang yang besar dengan motif kartun kesukaan Alfin.
"Dia sudah tidur."
__ADS_1
"Iya. habis minum susu langsung bobok begini, tak sadar lagi dengan Papanya yang baru pulang."
Kekeh Natalia gemas mengusap kepala Alfin lembut selayaknya putranya sendiri membuat Sam merasa begitu nyaman. ntalah, kenapa Natalia selalu memberinya kejutan?
"A.. Kau sudah makan? Tuan!"
"Aku tak lapar!"
Ucap Sam seraya memainkan jari-jemari kaki kecil Alfin yang pasti kalau masih bangun tak akan membiarkannya melakukan ini. tentu Natalia tersenyum hangat melihatnya seraya melepas pelan dekapan dari bocah ini.
"Tuan! saya permisi sebentar."
"Kemana?"
"Ke dapur!"
Sam mengangguk membiarkan Natalia berlari keluar selayaknya anak-anak. ia hanya menggeleng lalu mengelus kepala Alfin yang terlihat masih mencari-cari Bundanya hingga Sam mengganti dekapan itu dengan bantal tapi Alfin terlihat tak senyaman tadi.
"Sebenarnya kenapa kau sangat suka memeluknya. hm?"
Gumam Sam merasa heran. ia mulai membayang soal beberapa kejadian yang menarik hayalannya pada bagian empuk yang selalu memijat dadanya. Sam tak bisa melupakan sensasi itu sampai ia mulai meremang sendiri.
"Tuan!"
"Ha?"
Sam disentak suara Natalia yang telah kembali dengan membawa Nampan makanan yang terlihat masih panas.
"Kauu.."
"Tuan! ini makanan yang tadi aku siapkan. khusus!"
Sam hanya diam dengan wajah datar yang mulai menyusut. Natalia memanfaatkan itu semua dengan duduk di samping Sam yang masih menunggu tindakannya
"Ini! tak baik jika tak makan apalagi Tuan sudah sangat keras bekerja, kalau sakit nanti Alfin pasti akan terlantar."
"Dia tak membutuhkankku!" jawab Sam dingin.
"Benarkah?"
Sam sedikit terlihat geli seraya menerima suapan dari Natalia yang mengangguk menggunakan perbincangan ini untuk meneruskan makanannya.
"Iya. Tuan! Putramu ini hanya bicaranya saja yang kasar tapi dia sangat menyangimu, buktinya dia mau aku menyiapkan makananmu hingga kau tak kelaparan."
"Dia bicara begitu?"
Tanya Sam tak habis pikir. putranya yang selalu tak bersahabat dengannya ini ternyata seperduli itu.
"Hm. itu karnanya Tuan harus makan yang banyak, kalau kurus nanti tak bisa bekerja dan membeli mainan lagi, dan.."
"Kau cerewet!"
Sam menjentik kening Natalia pelan yang mencengir kuda akan ucapan Sam barusan. rasanya bahagia melihat wajah lelah pria ini tak begitu terlihat semberaut.
"Kalau begitu. anda harus habiskan ini! tapi a.. itu.."
"Apa?"
Tanya Sam seraya mengunyah lahap menghabiskan makanan yang terus Natalia berikan sampai ia merasa perutnya selalu terisi dan begitu lapar jika memakan masakan ini.
"A.. itu.. "
"Hm?"
"Apa boleh aku pindah ke kamar belakang?"
Seketika raut Sam berubah mengeras hingga Natalia lansung memutar otaknya dengan refleks menangkup pipi pria ini spontan.
"Tidak jadi kalau tak boleh."
"Apa yang kau butuhkan?"
__ADS_1
Pertanyaan yang sama sekali tak bisa dicerna Natalia yang pastinya akan jujur.
"Didalam sana aneh. Tuan!"
Dahi Sam mengkerut mendengarnya.
"Aneh?"
"A.. ada suara-suara yang aa .. susah kalau ku sebutkan."
Natalia tak bisa menjelaskan dengan gamblang hingga Sam berdiri menegguk segelas air putihnya lalu menarik lengan Natalia untuk berdiri.
"Kau penakut?"
"A.. kalau tak percaya kau bisa lihat sekarang!"
Natalia menarik lengan Sam keluar kamar hingga Alfin yang tadi terbangun akan suara percakapan dua manusia itu mulai menjalankan rencananya yang sempat tertunda karna ketiduran.
"Kauu!!"
"Aku mohon lihat! sekali saja."
Natalia mendorong Sam kedalam kamarnya secara paksa memperlihatkan ruangan luas yang rapi dan wangi.
"Kau kenapa? awas!!"
Sam ingin keluar tapi Natalia lansung melihat sesuatu di bawah ranjangnya yang sedari semalam menakutinya.
"Tuan!!!"
"Kauu!!!"
Sam tampak memanas saat Natalia memeluknya dari belakang dengan suara debaran jantung yang ketakutan dari Natalia bisa dirasakan jelas oleh Sam.
"Ada apa??"
"I..itu..itu dibawah ranjang!"
Sam berbalik dengan keadaan yang masih sama. Natalia enggan melepas pelukannya sampai tubuh keduanya benar-benar bertaut tanpa jarak.
Wajah Sam tampak tegang karna bukan hal yang ditakuti Natalia yang memanasi tubuhnya tapi semua hal yang tadi membayang telah kembali ia rasakan.
"T..Tuan.. aku..aku takut itu ular. ada.. .ada suaranya."
"Diamlah!"
Sam mendekati ranjang dengan Natalia dibuat menggelijang geli membayangkan itu memang ular. jangan sampai ia memanjat tubuh Sam yang tengah menahan diri.
"Kau jangan bergerak-gerak!"
"Tapi, itu.. ihhh geliii Tuan!!"
Natalia yang memang takut akan Ular itu tak sadar dengan semua perlakuannnya mampu membangkitkan sesuatu yang telah lama bersemayam di bawah sana.
"Tuan!!!"
"Diam. kalau kau diam semuanya akan mudah!!"
Suara keduanya terdengar ambigu dari luar sana bahkan Nyonya Maria yang tadi tak sengaja melewati lantai atas lansung terkejut setengah mati mendengarnya.
"Tuan!!! hiks, i..itu.."
"Sutt! kau bis diam, ha? ini tak akan mengigitmu. Kuman!!"
Suara geraman Sam yang terdengar ambigu sampai Nyonya Maria ingin mendobrak pintu tapi sayangnya pintu itu telah terkunci rapat oleh seorang bocah yang bersembunyi dibalik pilar didekat Lift.
"Cih. Nenek sihir tak berguna."
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
Untuk yg mau Action.. author emang buat ini campuran. tapi akan ada saatnya karna nggak mungkin kagak ada di Novel Author. bahkan saat itu akan datang secepat mungkin🤭