
Keringat dingin itu keluar dikeningnya dengan wajah pucat sedari tadi menahan sakit yang melilit perutnya. Ia menolak di Operasi karna ingin seperti ini membuat Sam yang terus menemani-pun ikut menahan nafas ketika Dokter tengah bersiap dibawah sana.
Natalia sudah dibaringkan di tempat persalinan yang lengkap dan berteknologi plus tempat bayi yang disediakan khusus disini.
"S..Sakitt!!! hiks!" geraman Natalia mencengkram lengan Sam menahan kontraksi luar biasa itu.
"Tarik nafas pelan lalu hembuskan melalui mulut. anda harus tenang. Nona!"
Dokter Helen memberi arahan karna jalan lahir sudah terbuka sempurna hingga ia hanya akan menyuruh Natalia tenang dan baru mengejan.
"Cepatlah!!" desak Sam sudah tak tahan melihat rintihan sakit istrinya. Ia baru pertama kali menemani wanita melahirkan karna saat bersama Qyara wanita itu memilih Sesar. dan ternyata rasanya begitu penuh sensasi mencekam.
"Y..Ya tuhan, hiks! S..Saam!!"
"It's ok! kau kuat, kau bisa. Sayang!" bisik Sam tak berhenti menyemangati Natalia yang mencakar leher dan lengannya. Ia tak menghindar melainkan terus menopang kepala wanita itu untuk tetap berjuang.
"Nona! sekarang mengejan!"
"Emm!!!" Natalia mengejan sekuat tenaga tanpa suara sesuai arahan Dokter Profesional yang selalu memantau jalan lahir seraya terus melebarkan paha Natalia memudahkannya.
"Jangan memejamkan mata Nona! rileks!"
"Aass Saaam emm!!" Natalia mencengkram lengan Sam saat merasakan bagian bawahnya panas dan begitu sakit bahkan seakan melepas paksa tulang-tulang penyusun tubuhnya. Rasa sakit itu menjalar membuat Natalia kebas dan ngos-ngosan.
"Tarik nafas dan hembuskan! jangan pejamkan mata, Paham?"
"S..Sakit!" lirih Natalia masih menahan sakit.
"Yes. I know! sekarang rileks dan tarik nafas pelan.
Dokter Helen yang begitu terlatih mencoba memberikan terapi kecil membuat Natalia perlahan tenang mengambil nafas dalam walau wajahnya sudah bersimbah keringat.
"Sekarang. Nona!"
"Emm!!"
Natalia kembali mengejan bahkan mengeluarkan semua tenaganya dengan urat leher terlihat jelas membuat Sam sesak. Seandainya ia punya kuasa mengatur Natalia untuk Sesar maka ia tak akan melihat ini. Sayangnya Natalia sangat keras kepala.
"Ayo. lebih semangat!"
"Emmm..Mmaaa hiks!"
Geraman Natalia menahan sakit mencengkram lengan Sam yang terus mengusap keringat dikening istrinya. Ia mengecup puncak kepala wanita itu lembut dengan jantung berdebar kuat.
"Ok! sedikit lagi, Nona!"
"S..Sam!"
Lirih Natalia sudah tak kuat sengan deru nafas sesak. Ia mengerijab beberapa kali mengambil nafas dan mengisi Tenaga yang begitu terkuras didalam sini.
"Tenanglah. demi Baby! hm?"
"I..iya!"
Natalia mengangguk kembali bersiap mengambil nafas dalam mencengkram kedua lengan Sam yang berdiri tepat di bagian kepala Bangkar hingga suster selalu memerah melihat raut tampan pria itu terlihat cemas.
__ADS_1
"Ok. sekarang mulai!"
Suara geraman itu kembali mengalun dengan mata Natalia diawasi Sam agar tak terpejam karna bisa saja menekan lensa matanya dan terjadi luka akibat pembuluh darah yang pecah. Apalagi wanita ini ada kerusakan pada matanya hingga harus hati-hati.
"Lebih keras! sedikit lagi!" arahan Dokter Helen mulai meletakan kedua tangannya dijalan lahir seraya terus mendorong Natalia mengejan sekuat yang ia bisa.
"Emmm!! Mama!!!"
"Sedikit lagi!"
Desak Dokter Helen sudah memeggang kepalanya dengan suster yang memantau selang di punggung tangan Natalia.
"S..Saaam!!!"
"Kau bisa. Sayang! kau bisa." bisik Sam terus menatap wajah merah istrinya yang mengejan sekuat tenaga hingga Dokter Helen langsung menarik pelan tubuh si kecil penuh darah itu secara terlatih dengan darah yang memenuhi tubuh malaikat suci ini.
"S..Sayang!"
Sam tertegun saat Dokter Helen sudah dengan cepat memotong tali pusatnya dengan Natalia yang sudah tumbang dengan mata terpejam dan nafas memburu karna kehilangan tenaga.
"Kenapa tak menangis?" cemas Sam melihat bayi merah penuh darah itu masih diberi pertolongan oleh Dokter Helen si wanita berambut pirang itu agar segera bernafas.
"Hey! Ayolah. lihat Momymu sudah lelah!"
Bisik Dokter Helen terus menepuk punggung bayi merah itu dan membersihkan hidungnya dari darah hingga setelah beberapa lama Sam mulai panik tapi..
"Ooeeekkk!!!"
"Bayinya perempuan dan lengkap!"
Mereka lega disaat suara itu sudah melengking dengan Sam yang tak tahu harus apa. Ia menatap Natalia yang tampak sudah tak sadarkan diri dan tak membuka matanya.
"S..Sayang! L..Lia!"
"Nona hanya kelelahan. Tuan! anda tenang saja, kami akan mengurusnya!"
Jawab Dokter Helen seraya menyerahkan Bayi perempuan itu untuk dibersihkan sedangkan ia langsung melakukan injeksi ke bagian bawah Natalia yang koyak karna bobot bayi ini cukup besar.
"Ciutnya! imut!!"
"Hm. cantik!"
Decah para suster sana membersihkan tubuh sikecil itu dengan air khusus ditengah tangisnya yang lantang. Kulit merahnya terlihat begitu lembut dan halus membuat mereka harus hati-hati.
"Bagaimana dengan Istriku? aku tak mau dia.."
"Anda bisa keluar lebih dulu. Tuan! kami akan mengeluarkan Nona saat sudah selesai dan Nona kecil masih di beri perawatan."
Sam menggeleng datar tetap berdiri didekat Natalia. Ia mengecup lama kening wanita ini meluapkan perasannya yang bercampur aduk. Antara senang dan begitu khawatir menguasai perasaanya.
"Tuan. sebaiknya anda memberi kabar pada keluarga anda diluar sana. Kasihan mereka sedari tadi menunggu!"
Sam berfikir sejenak menatap Para suster yang masih membersihkan si kecil itu. Tangisnya masih berwarna membuat Sam menghela nafas halus lalu mulai membisikan lembut ke telinga Natalia.
"Aku menunggumu! kita lihat Adik sama-sama. hm?"
__ADS_1
Dokter Helen menghangat melihat Sam begitu perhatian dan khawatir pada Natalia. Ia mandangi Tuan Muda Bilions itu ke luar tempat bersalin dengan perasaan tak karuan.
"Beruntung kau punya Dady seperhatian itu. kau juga sangat cantik seperti. Momymu!"
Puji mereka setelah membedong Bayi mungil merah itu dan meletakkannya keatas dada Natalia yang tak memakai apapun selain sehelai kain penutup hingga tangis si kecil itu mereda merasakan kehangatan tubuh Ibunya.
Sementara Sam diluar sana. Cukup termenggu akan kedatangan seseorang yang tak ia sangka akan secepat ini. Perasaannya begitu tak suka melihat pria tampan Tionghoa itu disini.
"Bagaimana Natalia?"
Tanya Daychi yang tampak khawatir dengan Zuan yang hanya diam menatap penuh sopan pada Tuan Anderson yang mengangguk menepuk bahu Sam agar tetap santai.
Daychi melihat lengan Sam penuh cakaran dan kemejanya juga tak lagi rapi membuat kepanikannya mulai menggunug.
"Kenapa kau diam? ada apa dengan anakku dan Natalia?"
"Dia anakku!" bantah Sam tak suka membuat Tuan Anderson berdiri ditengah-tengah pria keras kepala ini.
"Kalian bisa diam? ini keadaan genting tapi masih berbuat kekanak-kanakan?"
Geram Tuan Anderson menatap bergantian Daychi dan Sam yang saling membuang muka. Daychi ingin masuk tapi Sam segera menghadangnya jantan.
"Kemana kau?"
"Menyingkir!" geram Daychi mulai meradang hingga Tuan Anderson langsung menarik Daychi menjahui putranya yang sangat cemburuan.
"Katakan! apa istrimu baik-baik saja dengan cucuku?"
"Hm. Istriku sedang istirahat."
"Anakku?" tanya Daychi masih tak perduli amarah Sam yang tak habis pikir. Ia tak rela Queen kecilnya di bagi begini.
"Kauu!!"
"Katakan saja. Sam!" tekan Tuan Anderson jengkel hingga Sam membuang nafas kasar.
"Putriku sudah lahir dan dia sehat, lengkap!"
Mereka seketika lega mendengar jawaban Sam dengan Daychi yang terdiam sesaat. Putri? berarti anaknya perempuan dan pasti akan mirip dengan Natalia.
Daychi mengusap wajahnya merasa sangat senang. Ia tak sabar untuk melihat putri kecil itu apalagi sudah 8 bulan ia yang menantinya.
"Kau senang? itu putriku!" geram Sam tak rela.
"Dia putriku! dan PUTRIKU!" tekan Daychi membuat Sam langsung menarik Daychi ke dekat tempat sunyi menjauh dari ruang persalinan hingga terdengarlah suara perkelahian menarik nafas berat semuanya.
Nyonya Maria yang melihat dari tempatnya hanya diam. Tak anak tak ibunya selalu membuat para lelaki bertikai seperti ini.
"Sersan!"
"Biarkan saja! melerainya sama saja dengan mengantarkan nyawa."
Cegah Tuan Anderson pada Zuan yang diam. Suara adu mulut dan tenaga itu terdengar samar membuat mereka hanya menganggap angin lalu saja.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..