
Wajah gugup itu begitu terlihat dari rona memucat Natalia yang tengah berhadapan dengan Treadmill, Sepeda Statis,Pull-up Bar, dan masih banyak lagi di ruangan GYM khusus di Kediaman milik Sam.
Semua benda-benda aneh ini benar-benar tak dimengerti Natalia yang memakai Hotpants sepaha dengan baju kaos seukurannya. kaki jenjang berisi dengan kulit putih menggigil itu tampak gemetar tak mampu melangkah naik.
"T..Tuan."
Lirih Natalia merasa bingung. sementara Sam yang sedari tadi memantau dari belakang sana hanya bisa diam duduk diatas sofa singel yang menopang tubuh kekarnya. ia memakai Kaos oblong tanpa lengan dengan celana Traning yang membuat penampilannya begitu mempesona dan sangat sexsi dengan tonjolan otot kekar yang menggoda.
Matanya sedari tadi tak lepas dari objek yang tengah bergerak gelisah menatap ruangan luas dipenuhi peralatan olahraga ini. Sam membiarkan Natalia kebingungan karna raut wajah wanita berkacamata ini tampak sangat manis.
"Tuan!!"
"Hm."
"Bagaimana cara memakainya?"
Gumam Natalia menggaruk tengkuknya heran hingga Sam meneguk air di botol minumnya lalu mendekati Natalia yang masih meneliti bentuk Treadmill berlari dihadapannya.
"Naik!"
"A...Apanya?"
"Naik! tahu naik?"
Natalia dengan pelan menaiki Treadmill yang masih belum dinyalakan. tempat lari santai di rumah itu tengah menanti injakan kaki jenjang pulen Natalia yang tampak menggiurkan.
"T..Tuan."
"Saat ini ku nyalakan. kau berjalan pelan!"
"A.. iya."
Sam menyalakan benda itu hingga tempat berpijak di kaki Natalia bergerak kebelakang sampai menyentak tubuh wanita itu yang oleng.
"Tuan!!!"
Natalia berpegangan ke lengan kekar Sam seraya berjalan pelan sesuai arahan pria ini. nafas Natalia mulai tak stabil karna ia tak terbiasa memakai alat ini.
"Lari perlahan!"
"A.. iya."
Natalia melakukannya sampai kakinya benar-benar kaku tapi topangan tangan Sam di punggungnya membuat langkah Natalia pasti tanpa hambatan. bahkan, Natalia nyaris tak mampu mengimbangi tapi Sam dengan sukarela menahan bobot tubuh wanita ini dari pegangan tangannya yang kokoh.
"Tuan!!!"
"Rileks. jangan kaku!"
Natalia berusaha tak takut hingga genggamannya beralih ke bahu Sam saat pria ini mempercepat laju Treadmill yang memang dirancang sangat moderen dan berteknologi.
Keringat itu mulai bercucuran di kening dan leher Natalia yang berusaha kuat dan keras. ia terbayang keinginannya untuk membuat Papanya bangga dan ia akan lakukan ini melalui latihan keras dari Sam yang memang suka berubah-ubah.
Plapp..
"Tuan!!!"
"Jangan lemot!"
__ADS_1
Ucap Sam setelah melempar tabokan gemasnya ke bokong Natalia yang sangat kenyal. ia pria normal tentu ia tak akan bisa menahan guncangan benda ini setiap Natalia melangkah.
Sam terus mencoba menahan dirinya tapi tetap saja ia memanfaatkan modus gelap yang tiba-tiba datang padahal ia belum pernah menjadi mesum segila ini.
"Lebih cepat!"
"I..ini sudah..sudah cepat!!"
Pekikan tertahan Natalia saat Sam menambah kecepatan hingga telapak tangan Sam berpindah ke pinggang Natalia dengan seringain licik yang samar terlihat. Sam juga tak tahu kenapa ia menjadi mesum kalau sudah begini.
Lama Sam mendampingi Natalia mencoba berbagai alat Gym sampai akhirnya Natalia tak mampu bergerak lagi karna lelah dengan baju kaos yang sudah basah karna keringatnya. namun, Sam hanya memberinya waktu 15 menit lalu kembali membakar lemak tubuh dan sesekali terdengar kekehan yang mencuat dari mulut keduanya.
"Tuan!"
"Hm?"
"Aku mau coba yang ini!"
Natalia menunjuk Pull-up Bar yang ada disampingnya hingga dengan siap dan tegap Sam mengangkat tubuh Natalia dari depan hingga kedua tangan Natalia lansung menggapai besi diatas sana.
"Peggang kuat-kuat!"
"Tapi. tubuhku berat."
Sam mendecah kasar tetap menggendong ringan Natalia yang mencoba menarik tubuhnya yang sangat berat. tetesan keringat yang mengalir dari dagu Natalia menerpa wajah Sam yang membenamkan wajahnya keperut agak berlemak wanita ini.
Namun. sekilat kemudian ia tersenyum kecil mengetahui kenapa Alfin begitu nyaman memeluk Bundanya? bahkan bocah itu tidurpun harus ditemani Natalia.
"Shitt. kau memang pandai memilih bantal."
"T...Tuan!"
"Hm."
"Sudah!"
Sam dengan tak rela mengangkat wajahnya dari bantalan empuk itu lalu menurunkan Natalia yang terlihat segar dan bercahaya. keringat yang bercucur deras memang sebanding dengan semangatnya untuk berubah.
"Besok latihan seperti ini. kalau aku tak ada kau bisa minta temani dengan pelayan."
"Siap!"
Natalia memberi hormat membuat sudut bibir Sam terangkat seraya memyambar botol minum tadi lalu melangkah keluar ruangan tapi ia terhenti mendadak membuat Natalia kembali membentur punggung kerasnya.
"Tuan!!!"
Pekik Natalia mengelus keningnya. Sam berbalik menatap wajah merah Natalia yang mengusap keningnya nyeri.
"Pelayan wanita!"
"A.. iya. aku pelayan wanita. memangnya kenapa?"
Polos Natalia tak mengerti.
"Jangan olahraga sendirian. kalau para pelayan wanita tak bisa mendampingimu. kau bisa menungguku pulang kerja."
Tegas Sam posesif tapi ia sendiri memang tak tahu kenapa dirinya begitu ingin yang terbaik bagi wanita ini.
__ADS_1
"A... itu. Mr Jeon pernah mengajakku bero... Aaa. Tuan!!"
Natalia memekik diakhir kalimatnya saat Sam sudah ingin memukulnya dengan botol minum di genggamannya. wajah Sam berubah mendingin seakan tak suka dengan itu semua.
"Berhenti membicarakannya!"
"T..tapi kenapa? dia baik. dan Tuan tahu.. dia mengajariku menulis dan ..."
"Kau mau mencoba mulut dijahit?"
Natalia menegguk ludahnya kasar menggeleng saat Sam mencengkram kedua pipinya dengan satu tangan kekar itu. tatapan tajam Sam mampu menarik rasa takut Natalia yang diam bungkam tapi tak bisa mengerti.
"Berhenti membicarakan itu!"
"Hm!"
Natalia mengangguk tanpa mau bicara dengan Sam yang melepas cengkramannya dan melangkah pergi meninggalkan Natalia yang mulai berfikir kenapa Sam begitu tak menyukai Mr Jeon. padahal orangnya baik.
"Cih. kau memang aneh, dasar pria aneh dan egois!"
Maki Natalia ciut lalu melangkah keluar. ia harus bersiap untuk olahraga kecil di taman karna tadi Alfin mengajaknya jalan-jalan sore di Kediaman.
"Hey!!! Kumu!!"
Suara yang menghentikan langkah Natalia dengan spontan. suara kasar yang Natalia kenal sejak kemaren memakinya terus menerus.
Nyonya Maria telah menanti kesempatan ini dimana Natalia sendiri tanpa didampingi Sam atau Alfin. ia perlu memberi peringatan keras agar Natalia tak mendekati atau menggoda putranya.
"Nyonya. anda.."
Plakk..
Satu tamparan keras yang membuat wajah Natalia tertoleh kasar ke samping dengan sudut bibir yang koyak dan berdarah. wajah Nyonya Maria sudah tampak kelam dan begitu mengeras melihat bagaimana kedekatan Sam dan wanita kampungan ini semangkin intim.
"Kau pikir kau bisa merebut posisi menantu di Kediaman ini?? ha!!!"
Natalia hanya diam dengan darah yang mengalir disudut bibirnya. ia mengangkat wajahnya menatap Nyonya Maria yang terlihat begitu marah dan membencinya.
"Saya tak pernah ingin menjadi.."
Lagi-lagi Natalia di bungkam dengan tamparan yang sama hingga kali ini pipinya bengkak membiru panas. tubuh Natalia masih tetap berdiri ditempat tapi wajahnya sudah dibekali banyak memar.
"Wanita kampungan!!! Udik dan tak berpendidikan sepertimu. kau begitu percaya diri mendekati Putraku yang begitu sempurna bahkan sangat berpendidikan."
Mata Natalia memanas tapi berusaha ia menahan agar tak menangis. sumpah demi apapun Natalia sudah lelah, ia sudah mencoba bangkit kenapa harus di jatuhkan lagi?
"Apa ini yang diajarkan Ibumu sebagai seorang perebut suami orang?"
Plakkk ..
Satu tamparan keras yang bahkan lebih keras dari dua gema suara yang tadi tercipta membuat tubuh Nyonya Maria tergeletak dilantai.
"Momy!!!"
.......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1