
Tubuh wanita itu terlempar kesamping dengan tabrakan keras yang sudah menghantam tubuh Bibik Mina sampai menjipratkan darah ke tubuh Natalia yang tergeletak tak jauh disamping Real yang melindas ganas tanpa ampun.
Para penumpang Kereta api tampak terkejut saat kaca depan sana penuh darah dengan potongan tubuh seseorang berserakan membuat mereka ingin muntah.
"Siapa itu??"
"Ya. Tuhan apa yang mereka lakukan?"
Para penumpang histeris menatap kebelakang dimana masih remang terlihat bekas kecelakaan tadi. Lumeran darah yang berceceran di bebatuan dan real sana menciptakan bau amis tapi mereka tak bisa berhenti selain menghubungi pihak kepolisian.
Bagian belakang kereta itu ditatap kabur oleh Natalia yang sudah berlumuran darah. Ia terguling diatas bebatuan tajam dengan keadaan yang mengenaskan. Ia melihat jelas tubuh Bibik Mina hancur didepannya. Ntah kenapa tadi kaki Natalia tergelincir saat Bibik Mina memberontak membuat ia terdorong kebelakang.
"A..***!!"
Natalia meringis memeggangi perutnya yang terasa sakit bahkan begitu menusuk diarea bagian bawahnya. Mata Natalia yang kabur karna lensa itu sudah tak bisa dikatakan baik hingga membuat semuanya tak jelas dimendung pagi yang mulai mengurai kabut.
"T..Tolong!!"
Lirih Natalia mencengkram perutnya yang teramat sakit. Ia hanya bisa merintih lemas menarik bebatuan agar menjadi topangan tubuhnya.
"M..Mama, hiks!"
Isak Natalia tak tahan dengan rasa sakit disekujur tubuhnya yang tak lagi mampu bergerak selain tergeletak begitu saja. Rasa hangat itu mengalir dipangkal pahanya membuat Natalia perlahan meraba dengan bibir bergetar pucat menahan sakit yang semakin menjalar.
"D..Darah?"
Gumam Natalia bergetar saat mencium aroma amis ditangan yang tadi merabanya. Jantung Natalia berdebar kuat dengan keringat dingin mengalir dileher dan keningnya menahan tusukan dan rasa dililit didalam sana.
"M..Mama, hiks!! S..Sakit!!"
Geraman Natalia begitu memekik keras tak tahan dengan semua ini hingga kepalamya mulai pusing dengan mata berkunang tak mampu lagi melihat walau kabur memekat lensanya.
"M..Mama!"
Lirih Natalia perlahan memejamkan matanya yang begitu gelap sampai menenggelamkannya dalam keheningan melupakan bayang-bayang kejadian ini.
"M..Maa!"
Natalia langsung tak sadarkan diri diatas kerikil hitam itu dengan darah yang mengalir dipaha dan betisnya. Dinginnya pagi ini membuat awan gelap yang tadi menyelubungi langit langsung bergemuruh menurunkan tetesan hujan yang jatuh membasahi tanah.
Butiran air yang semakin deras dengan suara geluduk dari langit yang gemerlap. Suasana kembali menghitam membasahi darah yang sudah bercampur dengan tetesan air hujan. Tak ada yang lewat sama sekali kecuali suara Mobil Polisi yang terdengar lantang.
Sorot mata iblis itu sedari tadi memantau dari kejahuan. Netra sipit dan bibir penuh seringaian itu seakan menerkam sesosok wanita yang tadi membuatnya cukup puas akan pertunjukannya.
"Sudah selesai?"
Gumamnya langsung keluar dari belakang gudang tua itu dengan jaket menutupi seluruh kepala dan hanya memperlihatkan area bibir yang begitu menawan dan senyuman menakutkan.
Langkahnya menyibak air dan memijak kerikil dengan tubuh kekar nan gagah terguyur rintikan dingin itu. Langkahnya terhenti tepat didekat Natalia yang sudah basah kuyup dengan tubuh yang tercetak jelas dari balik stelan Piyama penuh cairan merah.
Pria itu berjongkok tepat disamping wajah cantik Natalia yang memucat. Terlihat sekali wanita ini begitu lelah dan tak berdaya membuat hatinya tergelitik akan kisah sadis percintaan Herchier dari jerman itu.
"Lihatlah! aku selalu beruntung."
Gumam Pria itu menyeringai lalu mengangkat Natalia ringan dengan tatapan tajam bak naga menghunus bagian paha yang telah mengalirkan darah. Mata pria itu mulai berkobar menunjukan dugaan besar tapi ia segera pergi membawa tawanan barunya karna polisi akan segera kesini.
...........
"Dimana. Bunda??"
Teriak Alfin yang semalaman mencari Natalia namun tak ketemu. Ia tak diperbolehkan keluar kamar oleh Maya sesuai perintah Fagan yang tengah mengurus Tuannya yang semalaman mabuk dan sekarang masih belum sadar didalam kamar sana. Dengan susah payah ia membawa Sam pulang karna didalam alam bawah sadarnya Sam selalu memaki dirinya sendiri yang tak begitu baik.
"Tuan! sebaiknya anda makan. sedari semalam anda belum mengisi perut." bujuk Maya prihatin melihat Alfin yang terus bertanya dimana Bundanya. Maya tak tahu apa yang terjadi karna tak ada yang mau membuka suara.
"Bunda!!! aku mau bunda!!!!"
"Tuan kecil! saya janji akan mencari tahu dimana Nona Natalia. tapi anda makan dulu, ya?"
Alfin malah menepis sendok yang Maya suapkan sampai terpental ke lantai kamar membuat para pelayan yang berdiri didepan pintu langsung terperanjat kaget bahkan begitu takut.
"Sialan!!! kalian semua!!!"
__ADS_1
"T..Tuan!"
Alfin meloncat dari tempat tidurnya ke lantai dan berlari keluar menerobos para Pelayan yang tak mampu menghentikannya. Ia berlari kearah lift menuju lantai atas mencari wanita itu.
"Bunda!!!!"
Teriak Alfin dengan mata berkaca-kaca menekan tombol Lift yang membawanya keatas dengan para pengawal yang dibuat panik saat Tuan Kecilnya sudah keluar.
Setelah beberapa lama. Lift itu terbuka hingga Alfin berlari keluar dengan tatapan mata terkejut melihat keadaan lantai atas yang hancur. Foto-foto mereka yang tadinya terpajang didinding dengan rapi seketika berantakan dilantai.
"B..Bunda!"
Lirih Alfin langsung melangkah lebar menuju kamar Papanya disela degupan jantung yang melaju kuat. Ia ingin menekan gagang pintu yang sudah terbuka memperlihatkan Fagan yang baru keluar dengan wajah terkejut atas kedatangan Tuan kecilnya.
"T..Tuan kecil!"
"Dimana Bunda? kenapa tak pulang-pulang?"
Khawatir Alfin dengan perasaan takut wanita itu akan meninggalkannya. Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada kalimat itu dan sangat menakutinya.
Bagaimana kalau kau tahu jika Bundamu memilih pergi?"
Batin Fagan menatap nanar wajah panik Alfin yang menunggu jawabannya.
"Dimana Bundaku??"
"Tuan! Tuan kecil kembalilah kekamar anda. Tuan Muda tengah istirahat dan..."
"Bunda!!!"
Alfin menerobos membuat Fagan panik segera mengejar tapi sayangnya Alfin telah leluasa mendekati ranjang dimana terpampang jelas seorang pria yang tampak lelah tertidur lelap tak bisa diganggu.
"Dimana. Bunda??? Kau..kau bangun!!"
"T..Tuan kecil! Papa anda baru saja istirahat dan saya mohon jangan menganggunya."
"Tapi kenapa???"
Bentak Alfin menepis tangan Fagan yang ingin menariknya keluar membuat kebisingan ini masuk dalam alam bawah sadar Sam yang seketika menyeringit pusing.
"T..Tuan kecil! saya..saya mohon jangan membuat masalah baru."
Lirih Fagan mengiba melihat Sam yang mulai menringis mencengkram kepalanya. Rasa sakit itu memecah benaknya sampai Alfin kembali menoleh dengan tatapan terkejut melihat kondisi Papanya.
"Kau.. Kau kenapa? dimana Bunda?"
"Ss!!"
Sam meringis menatap kesekelilingnya yang suram dan berputar. Sepertinya ia benar-benar mabuk sampai lupa waktu dan keadaannya sekarang.
"L..Lia!"
Gumam Sam memejamkan matanya mencoba kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Seketika kepalan tangan Sam kembali mengerat ketika bayangan kejadian itu seakan berputar jelas diingatannya.
"D..Dimana. Bunda?"
Tanya Alfin mengguncang betis Sam yang semakin dibuat tak tahan. Emosi yang semalam ia luapkan telah kembali ia telan dan sekarang muncul dengan sendirinya.
Melihat Sam diam. Alfin semakin dilanda ketakutan. Ia naik keatas ranjang mencengkram lengan kekar Sam yang masih memejamkan matanya mengatur ritme nafas.
"D..Dimana B..Bunda?"
"Lupakan dia!"
Degg...
Seketika Alfin terlonjak kaget dengan wajah memucat. Cengkramannya ketangan Sam seketika terlepas dengan mata berkaca-kaca.
"K..Kau.."
Sam membuka matanya yang merah dengan raut wajah datar bahkan begitu dingin. Ia menahan rasa sesak tak berani melihat mata putranya yang pasti akan hancur dengan kenyataan ini.
__ADS_1
"M..Maksudmu?"
"Dia sudah bahagia. untuk apa mengikatnya lagi." jawab Sam beku. Kedua tangannya masih mengepal membuktikan jiwa pria itu sangat bertentangan dengan ucapannya.
Sam tahu segalanya. Dari mulai Natalia mempunyai rasa cinta pada Dokter Andra dan pasti wanita itu sudah bahagia dengan hidupnya. Ia tak masalah jika Natalia membencinya tapi wanita itu bebas dari segala hal yang menyakitkan.
"Mulai sekarang. jangan membahasnya!"
"Kau bercanda-kan??? Dimana Bundaku???!" teriak Alfin dengan tangis yang pecah membuat Sam semakin dilanda dilema cinta yang sulit.
"Dimana Bundaku??? hiks, dimana???"
Sam menatap Fagan yang mengangguk mendekati Alfin yang terus memukul lengan kekar Papanya meluapkan emosi dan kekecewaan.
"Tuan kecil!"
"Bunda!!! aku mau Bunda!!!"
Sam hanya diam seakan menuli membiarkan Fagan mengangkat Alfin paksa walau bocah ini memberontak tapi Fagan terpaksa menyeretnya keluar meninggalkan Sam yang langsung memijat pelipisnya yang berdenyut.
Helaan nafasnya terdengar stabil karna usaha yang jelas ia redam sekuat tenaga.
"Shitt!"
Sam mengumpat saat ia masih saja memikirkan Natalia. Kenapa wanita itu tak pernah hilang dalam benaknya?
"Apa kau bahagia sekarang?"
Gumam Sam mencengkram dadanya mencoba untuk tetap tenang. Entah kenapa rasanya ia sangat khawatir pada wanita itu bahkan bernafas saja Sam susah memikirkan bagaimana keadaanya sekarang.
Tapi apa ia sanggup melihat Natalia bersama Pria lain? dari dulu Natalia sangat dekat dengan Dokter Andra dan besar kemungkinan mereka akan cocok.
"Baik! kau yang mau ini dariku."
Sam menekan batinya untuk segera mengambil keputusan. Jika disini terus ia akan sangat tersiksa dan lebih baik ia pergi mencoba untuk tak nekat kembali mengambil wanita itu.
"Kau harus melakukannya! dia .dia juga berhak bahagia."
Gunam Sam tekanan batin. Walau rasanya sangat tak rela dan tak mungkin membayangkannya tapi ia tak mau membuat Natalia kembali masuk dalam kehidupan kotornya.
"Fagan!!!"
Panggil Sam dengan lantang seraya duduk disamping ranjangnya. Ia menatap nanar handuk yang biasa Natalia gunakan di sofa sana membuat dada Sam sesak bahkan sangat perih.
"Iya. tuan!"
Fagan yang datang langsung menunduk ketika melihat mendung diwajah tampan kacau Pria ini. Tak pernah ia bayangkan semuanya akan serumit ini.
"K..Kau siapkan semuanya!"
"Maksud. Tuan?"
Tanya Fagan tak mengerti dengan Sam yang sama sekali tak menoleh. Sam melempar selimutnya kearah sofa menutupi handuk itu agar tak membayang dikepalanya tapi meja rias Natalia kembali hadir membuat nafasnya tercekat.
"Jaminan keselamatan Papanya harus maksimal! Beri suntikan dana besar-besaran ke Perusahaannya dan bantu saudarinya masuk ke Agnesi Permodelan. dan Bunuh wanita sialan itu " geram Sam yang tak lagi mempertimbangkan Natalia. Dulu ia khawatir Natalia akan terluka tapi sekarang semuanya sudah terlanjur.
"Baik! ada lagi Tuan?"
Sam memejamkan matanya mencoba memantapkan pikiran. Jika disini terus ia akan gila dengan semua kenagan Natalia apalahi Alfin yang akan membuat masalah besar nantinya.
"Berikan uang dalam jumlah besar setiap bulan ke Rekeningnya! pastikan dia hidup dengan layak dan mudahkan semua urusannya. Aku tak mau ada satupun kesalahan dan ingat.."
"A..Apa. Tuan?" gugup Fagan saat mata yajam Sam menekannya.
"Setelah ini semua. Jangan ada yang membahas dia dihari kedepannya!"
"T..Tapi anda mau kemana?"
Sam berdiri dari duduknya dengan pandangan berat dan nafas tertahan di-kerongkongan. Selama Natalia baik-baik saja ia akan menjauh selagi wanita itu menginginkannya.
"Aku akan menetap di Jerman!"
__ADS_1
Degg...
......