
Satu minggu telah berlalu. Kediaman Tuan Muda Bilions itu semangkin dipenuhi kecerahan karna setiap harinya seorang wanita yang dulu bertubuh berisi dengan penampilan dekil itu tengah bermetamorfosa menjadi seseorang yang akan membuat rasa penasaran di kepala semuanya.
Tak ada satu orang pun yang berani mengekspose hal baru yang telah diusahakan secepat mungkin dalam pantauan Team Yoga dan beberapa kesehatan menjamin hasil yang sempurna.
Seperti sekarang. Sam baru saja pulang dari tempat Proyek besarnya di Jerman karna pergi beberapa hari kemaren, ia terlihat menelfon didekat Mobil dengan para pengawal yang bersiaga ketat mempersilahkan Tuan Mudanya untuk melakukan apapun yang di inginkan.
"Aku tak ingin semuanya kacau. cari cadangan pengganti untuk Modelnya sebelum semuanya diproses."
"Apa Model yang anda inginkan sudah siap? Presdir!"
Sam menatap kearah pintu masuk Kediamannya yang sudah 6 hari tak ia jejaki. entah bagaimana perkembangan wanita itu Sam pun tak tahu karna terlalu sibuk dengan pekerjaan yang ada disana.
"Siapkan saja yang ku pinta!"
"Baik. Presdir!"
Sam memutus sambungan lalu memberikan Tas kerjanya pada kepala pelayan yang seperti biasa mengiring Tuannya masuk dengan langkah pelan.
Tatapan mata Sam langsung dipaparkan dengan luasnya bangunan mewah ini. namun, dahi Sam mengkerut melihat bunga yang ditata rapi di setiap sudut dengan Cat dinding berubah Putih bersih tapi bergradasi abu yang terkesan Casual dan santai.
Belum lagi tangga yang terlihat dilapisi karpet bulu berwarna abu gelap dengan lukisan-lukisan antik yang ada didinding pengiringnya.
Sungguh kenapa Kediamannya yang dulu seperti Mansion Vampir sekarang seterang ini. bahkan wajah-wajah para pelayan juga terlihat lebih menyatu dengan Mansion ramah yang ada dihadapannya.
"Bunda!!!!!!" .
Sam lansung menoleh kesamping dekat Ballroom hingga matanya membulat dengan wajah terperangah melihat siapa yang tengah berlari mengejar seorang bocah membawa selembar kertas dengan baju basah.
"Kau mulai nakal. ha??"
"Tapi. Bunda yang membolehkan main air."
Teriak Alfin diselingi kekeh renyahnya menghindari seorang wanita dengan rambut panjang sepunggung itu mengejar disela tetesan Daster yang basah membentuk tubuhnya.
"Alfin!!! jangan lari-lari lantainya lic.."
"Bunda!!!!"
Alfin terkejut saat kaki jenjang itu tergelincir lantai ini hingga pandangan semua orang lansung mengosong seakan waktu berslowmo sesaat.
"Nona!!!"
Grepp...
Kilatan tubuh kekar seseorang lansung menyambutnya menebas angin yang menyisakan keterkejutan sekaligus terpana dalam.
Tubuh ramping yang berbentuk sempurna itu telah dikurung oleh belitan tangan kekar Sam yang bersitatap intens menghunus netra polos bening yang menatapnya dengan kosong dibalik kacamata santai yang berkelas.
Benarkah ini Kumanku? pertanyaan yang terlintas dibenak Sam melihat leher jenjang putih dengan wajah tirus begitu terawat. bibir mungil berisi merah segar ini mampu menyihir mata Sam yang tak bisa berkedip lagi.
Keduanya sama-sama mengagumi pahatan masing-masing sampai akhirnya Natalia sadar dan lansung mendorong dada bidang Sam menjauh darinya.
"A.. Tuan!"
Natalia mundur dengan wajah kaku diselingi dingin diterpa angin pagi ini. ia mengusap lengannya canggung dengan tatapan semua orang terlihat malu dan ada yang menutup wajahnya karna terlalu berdemeg.
__ADS_1
"T. Tuan. k..kau ... kau sudah pulang?"
"Angkat wajahmu!"
Suara dingin Sam tanpa melepas tatapannya dari Natalia yang menunduk gugup tapi perlahan wanita itu mengangkat wajahnya membuat rambut panjang digeluti air itu mengurai diri sampai wajah cantik Natalia terlihat jelas dimata mereka semua terutama Sam yang dibuat kaku.
Tak ada pembicaraan sama sekali selain tangan Sam beralih terangkat pelan menyelipkan anak rambut dipipi Natalia kebelakang telinga wanita itu memantik rasa malu para pelayan wanita yang melihatnya.
"Sepertinya kau sangat bekerja keras."
"A.. apanya?"
Natalia tak mengerti hingga Sam melepas Jasnya dan dengan ringan membalutkan benda itu ke tubuh bagian atas Natalia yang tercetak jelas dimatanya.
"Kalian pergilah!"
"Baik. Tuan!"
Para pelayan sana mengurai diri dengan cepat. mereka terlihat berbisik lalu terkekeh kecil sesekali menoleh kebelakang melihat dua manusia yang masih dalam keadaan yang sama.
"Tuan!"
"Hm."
"Tuan kapan pulang? kenapa tak menelfon dulu dan apa sudah makan?"
Deretan pertanyaan yang terdengar sangat perhatian membuat Sam hanya menyembunyikan wajah senangnya dibalik topeng dingin ini.
"Belum!"
"Ganti pakaianmu!"
Sam menarik lengan Natalia untuk keatas melewati Alfin yang menyipitkan matanya menatap gelagat aneh Pria ini. ia yang mengancam semua orang agar tak memberi tahu apapun soal perawatan Bundanya.
"Cih. kenapa dia yang terlihat senang?!"
Gumam Alfin duduk di sofa dekat tangga seraya mengamati puisi yang tadi di buat di taman belakang tapi ia tak memperbolehkan Natalia melihatnya.
Sementara diatas sana. Natalia dibuat heran saat Sam ikut masuk ke kamarnya lalu menutup pintu rapat seakan tak memperbolehkan angin masuk mengintip kemari.
"Tuan!"
"Siapa yang mendampingi olahraga selama aku tak ada disini?"
Pertanyaan yang begitu menghakimi sampai lengan Natalia tak dilepas oleh pria ini.
"A.. itu ..."
"Laki-laki atau perempuan?"
Semangkin mendesak bahkan lengan Sam beralih menarik pinggang ramping Natalia mendekat hingga wajah dewasa pria ini terlihat menggoda tapi menekannya.
"JAWAB!" Tekan Sam merapatkan tubuh keduanya sampai Natalia terjepit sesak.
"A.. itu ... kemaren ada Team Yoga datang. lalu banyak lagi, Alfin bilang itu dari k.."
__ADS_1
"Laki-laki. perempuan?"
Desak Sam yang tak pernah mengirim satupun Instuktur Yoga karna ia ingin mengajari Natalia sendiri. tapi ini pasti pekerjaan bocah nakal itu.
"L..Laki.."
"Laki-laki? kau ini bagaimana, ha? tak ada laki-laki yang diam saja melihatmu seperti itu. dia pasti melakukan hal apapun memegang bagian.."
"Bagian apa?"
Polos Natalia tak mengerti apa yang dimaksud Sam barusan. kenapa pria ini terlihat sangat marah padahal ia tak melakukan kesalahan apapun?
"Kau ini kelewat tolol atau bagaimana? katakan siapa yang melakukannya padamu. NATALIA!!"
"Semuanya perempuan. tak ada laki-laki, mereka juga tak memegang. Tuan!"
Pekik Natalia mengalahkan suara keras Sam yang tersigap dengan ucapan itu. wajahnya kembali mendingin dengan mata menyipit seakan meragukan.
"KAU YAKIN?"
Natalia menghela nafas halus ingin lepas tapi Sam justru semangkin merapatkan menipiskan angin yang menerobos.
"Iya. tapi terimakasih karna berkat mereka aku jadi bisa kurus." Natalia tersenyum bahagia akan semua ini.
"Akan ku pastikan sendiri!"
"Tuan!!!"
Natalia memekik saat Tubuhnya diangkat ringan dengan sebelah tangan oleh Sam yang memperagakan gerakan menimbang membuat Natalia terkekeh menepuk bahu kekar ini akrab.
"Memangnya aku beras."
"Hm. kau sangat mengenyangkan."
Natalia hanya menjawab dengan wajah malas karna ia tak mengerti itu semua. tapi, Sam tak bisa melepas pelukannya dengan terus beralasan berat badan Natalia belum pasti jadi ia harus terus menimbangnya begini.
Modus asli dari Bule Jerman yang berumur 30 tahun itu tak pernah lekang dalam mengkibuli wanita ini.
"Tuan!! aku mau ganti baju sendiri!!"
"Kau tak boleh sendirian. kau bisa saja meminum air untuk menambah berat badan."
"Tidak! aku..aku tak minum air."
"Husttt. kau harus ke Perusahaan jadi cepatlah bersiap!!!"
Suara keduanya terdengar keras sampai terdengar keluar sampai memenuhi gema dilantai atas. Alfin hanya menulikan telinganya untuk fokus ke pentas puisi tapi ia penasaran apa Papanya memang menyukai Bundanya atau hanya dijadikan pelarian?!
.......
Vote and Like Sayang..
Untuk Visual akan Author aplod di IG author ya. maklum baru buat jadi bantu Follow biar banyak yang mampir ke lapak kita ya Zayangg..ðŸ¤
__ADS_1