Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Cerita sebenarnya!


__ADS_3

Mobil mewah itu memasuki pekarangan Kediamannya dengan penjaga gerbang yang segera mendekat menghampiri Mobil Tuan Mudanya. Nyonya Andini yang sedari tadi menunggu kepulangan putranya-pun tak sabaran untuk mendekati Mobil yang tadi melaju kencang.


"And!"


"Mama!"


Dokter Andra keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa membuka pintu samping hingga mata Nyonya Andini terbelalak melihat siapa yang tengah duduk didalam sana dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Lia!"


Gumam Nyonya Andini tak percaya. Ia kenal Natalia karna sering disiarkan di Televisi dan menurut cerita Andra kemaren wanita ini memang telah berubah secantik ini tapi kenapa keadaanya begitu parah. Make-up yang kacau dan mata sembab membuat kekhawatiran yang mencekat.


"Kenapa begini? apa yang terjadi?"


"Ma! bantu aku membawa tasnya!"


Nyonya Andini mengangguk membawa tas kecil Natalia dan Mantel wanita itu. sementara Dokter Andra menggendong ringan Natalia yang sudah pingsan karna menangis sepanjang waktu. Malam ini semakin larut tapi batin wanita itu tertekan membuat darah kental yang keluar dari hidungnya semakin pekat.


Mereka masuk kedalam Kediaman dengan para pelayan yang keheranan siapa yang ada didalam gendongan Tuannya. mereka tak berani bersuara selain diam menatap Dokter Andra dan Nyonya Andini membawa Natalia kekamar atas.


"Ma! bisa berikan baju ganti pada. Lia?"


"Sebentar!"


Nyonya Andini berlari kekamarnya sedangkan Andra masih melangkah cepat menuju kamarnya. Jantung yang sedari tadi tak mau diam membuat nafas pria itu memburu mengontrol rasa cemas.


"Lia!"


Panggil Dokter Andra memasukan Natalia kekamar tamu dengan cepat membaringkan wanita ini diatas ranjang empuk yang begitu rapi. Ia mulai mengusap tangan Natalia yang dingin membuat dadanya bergemuruh.


"Chika!!!!"


Panggil Dokter Andra keras seraya mengambil tisu membersihkan hidung Natalia yang terus mengeluarkan darah. Wajah wanita ini sudah pucat dengan tubuh yang mendingin.


"Chika!!!"


"Ada apa?"


Gadis belia berumur 18 tahun itu sampai dikamar dengan nafas memburu karna khawatir akan panggilan Kakaknya.


"Kau ambil peralatan Kakak di ruang kerja!"


Chika yang mematung-pun segera diam menatap siapa yang terbaring diatas ranjang sana. Ia kenal itu adalah Natalia yang selama ini membuat Kakaknya begitu murung bahkan tak seperti biasanya.


"Kenapa dibawa kesini?"


"Chika!!"


Geram Dokter Andra menatap tajam sang adik. Ia tahu Chika tak suka dengan Natalia tapi sekarang bukan saatnya untuk mengibarkan permusuhan.


"Cih! ambil saja sendiri."


Gumam Chika acuh lebih memilih melangkah pergi membawa kejengkelan. ia sudah sangat senang saat wanita itu sudah tak merasuki hidup Kakaknya tapi sayang harapannya memudar begitu saja.


Ia berpapasan dengan Nyonya Andini yang menatap Chika lembut seorang ibu. Tentu Chika hanya membalas dengan senyuman melanjutkan langkahnya membuat Nyonya Andini paham tak mau ambil pusing terus melangkah ke kamar tamu.


"And!"


"Ma! tubuhnya dingin."


Resah Dokter Andra yang terus menggosok punggung tangan Natalia yang sama sekali tak bergeming. Dokter Andra berhasil menghentikan pendarahan dihidung Natalia tapi ia sangat khawatir merasakan kulit wanita ini membeku.


Nyonya Andini mendekat membawa pakaian ganti hingga Dokter Andra pamit keluar untuk mengambil peralatan Dokternya. Kepergian Dokter Andra membuat pandangan Nyonya Andini begitu lekat ke wajah cantik namun kacau Natalia, terlihat sekali wanita sangat tertekan.


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"


Gumam Nyonya Andini seraya membuka Gaun Natalia. Ia mengamati setiap lekuk tubuh wanita ini sangatlah mempesona tapi ia yakin Natalia tak bahagia dengan hidupnya.


"Apa ada seseorang yang benci?"


Nyonya Andini menerka-nerka seraya terus mengganti pakaian Natalia. Ia mengagumi kecantikan wanita ini tapi Nyonya Andini paham betul kalau paras ayu Natalia didapat dari Mamanya.


Setelah beberapa lama. Gaun Natalia sudah berganti dengan Piyama tidur dengan make-up yang juga dibersihkan wanita paruh baya itu. Nyonya Andini memperlakukan Natalia selayaknya anak sendiri. Ia tahu sedari kecil Natalia selalu diceritakan putranya sebagai sosok boneka yang imut dan begitu menggemaskan. Semua tingkah Natalia selalu diceritakan penuh kisah dan emosi oleh Andra dan ia tahu wanita ini memiliki hati selembut kapas dan dia selalu menyimpan masalahnya sendiri.


"Ma!"


Dokter Andra masuk membawa Tasnya dengan langkah tergesa-gesa kearah ranjang menatap khawatir wajah pucat pujaan hatinya itu.


"Ma! Natalia mengidap asam lambung akut, aku takut keadaannya semakin parah."


"Lakukan yang terbaik."


Ucap Nyonya Andini mengusap bahu putranya lembut hingga Dokter Andra melakukan injeksi ke lengan putih Natalia untuk memberikan suntikan vitamin dan penambah daya tahan tubuh.


"S..Sam!"


"Lia!"


Dokter Andra terhenyak saat gumaman lirih itu muncul. Tangannya masih menekan perut Natalia yang terlihat meringis dengan cairan bening itu kembali keluar dari ekor matanya.


"S..Sam!"


"Kauu.."


Dokter Andra tak bisa berbuat apa-apa selain mencengkram alat injeksi ditangannya. Wajah pucat Natalia terus membuatnya tertusuk sembilu dengan lirihan lemah nama pria itu.

__ADS_1


Apa kau tak bisa menyebut namaku? hanya aku.


Dokter Andra merasa begitu terluka sampai tak mau menatap wajah Natalia sama sekali. Nyonya Andini mulai merasa janggal dengan semua ini.


"Mama ingin bicara denganmu!"


"M..Ma." lirih Dokter Andra dengan bergetar.


"Mama tunggu diluar!"


Nyonya Andini berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Dokter Andra yang terus mencoba menahan emosinya. Natalia tak berhenti melirihkan nama itu seakan tak pernah merasakan keberadaannya.


"S..Sam!"


Tak mampu lagi bertahan dengan keadaan akhirnya Dokter Andra memilih melangkah keluar meninggalkan peralatan dan Natalia yang tak berhenti


Setibanya diluar. Ia langsung dihadapkan dengan wajah datar Nyonya Andini yang seakan menekan putranya untuk menjelaskan apa yang telah terjadi?


"Ma!"


"Kau apakan dia?" tegas penuh ancaman.


"A..aku.."


"Ha? jelaskan."


Dokter Andra kaku berdiri dihadapan Nyonya Andini yang tahu betul ada yang dirahasiakan pria ini. Ia dengan cepat menarik Dokter Andra menuju sofa disamping sana ingin mendengar kejadian sebenarnya.


"Katakan!"


"M..Ma!"


Lirih Dokter Andra duduk disamping Nyonya Andini yang terlihat serius. Biasanya wanita ini selalu menatapnya lembut tapi kali ini Nyonya Andini curiga dengan sikap putranya.


"Kau yang membuatnya seperti itu?"


"Ma! aku...aku tak bisa."


"Kenapa? kau mau merahasiakan sesuatu pada Mamamu sendiri. Andra!!"


"Aku tak mau dia bersama laki-laki lain!!!"


Bentak Dokter Andra membuat Nyonya Andini tersentak bahkan wajah wanita itu termenung kosong akan suara keras itu. Chika dan Tuan Kurnia yang tadi tak tahu apapun segera berlari ke sumber suara.


"Andra!!"


"Kak!"


Chika dan Papanya mendekat membuat wajah Dokter Andra melemah. Papanya pasti akan marah besar dengan semua ini bahkan semuanya akan rumit.


Tatapan menajam pria paruh baya itu begitu menghakimi membuat kepala Dokter Andra tertunduk tak mau bersitentang.


"Ini pasti karna wanita sialan itu!" timpal Chika memanas-manasi suasana membuat Tuan Kurnia mendingin.


"Apa maksudnya ini?"


"P..Pa!"


"Kau masih berhubungan dengan wanita itu!!!"


Bentak Tuan Kurnia membuat Nyonya Andini memucat dengan Chika yang menyeringai. Ia sengaja membuat suasana semakin panas agar Kakaknya sadar kalau wanita itu bukanlah pion terbaik.


"Pa!! Aku mencintai Natalia!!"


"Sialan!!"


Tuan Kurnia meninju wajah Dokter Andra membuat Nyonya Andini terkejut melihat putranya tersungkur ke lantai sana. Kepalan tangan Tuan Kurnia menguat membuat suasana mencekam.


"Sudah ku bilang jangan berhubungan dengannya lagi. kau tuli. ha??"


"Tapi kenapa?? kenapa aku tak bisa bersamanya??" tanya Dokter Andra dengan mata merah dan wajah penuh kesakitan.


"Karna dia hanya akan membuatmu gila!!! aku tak ingin kau bernasib sama dengan pria-pria yang dulu pernah mencintai Mamanya!!!"


Seketika mereka diam dengan Nyonya Andini yang juga bungkam. Maksudnya apa? apa suaminya tahu sesuatu tentang Nyonya Besar Pramudita itu?


"P..Pa.."


"Mamanya itu seorang wanita yang membuat kehancuran! Dia banyak disukai laki-laki dan membuat ambisi di semua otak para pria!!"


Suara keras Tuan Kurnia menarik tanda tanya besar dari mereka semua. Dokter Andra hanya diam karna ia tahu itu dari Bibik Mina yang ternyata memiliki dendam dengan Mamanya Natalia.


"Dia membuat seorang pria bunuh diri hanya karna menolak cintanya! aku yakin kau juga akan seperti itu!"


"Aku tahu."


Degg...


Mereka semua terperanjat dengan ucapan Dokter Andra yang malah tersenyum kecil dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu segalanya sejak memergoki Bibik Mina bicara sendiri dikamar belakang. Ia tahu dan sejak itu akal sehatnya hilang sampai ingin melakukan apapun supaya Natalia hanya miliknya seorang.


"K..Kau.."


"Aku tahu! bahkan istri pria yang kau sebut telah mati itu yang sekarang ingin balas dendam mengatakan semuanya padaku."


Ucap Dokter Andra dengan hidung yang berdarah akibat pukulan Papanya.

__ADS_1


"Kau gila. ha?"


"Yah!!!! aku sudah gila!!!"


Sambar Dokter Andra dengan wajah merah dan tetesan air mata luruh begitu saja. Ia bersandar ke dinding disampingnya menatap mereka semua yang diam.


"Aku gila! aku menggilainya karna dia memang sangat aku cinta!!! bahkan aku rela mengorbankan segalanya hanya demi dia!!"


"Tapi kau tak bisa menandingi kisah hidupnya. Andra!!"


"Lalu siapa?? siapa yang bisa mendampinginya??"


Tanya Dokter Andra dengan tatapan penuh luka membuat Nyonya Andini merasa tersayat. Air matanya menggenang tak tahan melihat keadaan putranya yang sebenarnya.


"A..And!"


"Dia itu polos. Pa!! Wanita itu memafaatkan keluguannya selama ini untuk mendapatkan surat warisan itu. Sekarang semuanya hancur!! Kediaman itu terbakar karna rencananya dan musuh-musuh Natalia yang lain!!"


"Dan kau pun sama."


Dokter Andra hanya diam dengan wajah penuh tekanan. Ia tak lagi mampu bicara selain menahan gebuan nafas didadanya yang sangat berat dan penuh kesesakan. Nyonya Andini yang melihat ini semua pun mulai lemas menduga apa yang telah dilakuakan putranya.


"K..Kau.."


"A..aku hanya ingin dia..dia bersamaku."


Nyonya Andini langsung tersandar tak berdaya membuat Chika dengan cepat menopang tubuh Mamanya. Tatapan wanita itu menghunus sendu kearah Dokter Andra yang sudah terlihat berantakan.


"Hanya satu orang yang bisa bersanding dengannya!"


"Itu aku!" kekeh Dokter Andra menyeringai puas.


"SAM AUSTIN BILIONS!"


"kau salah!!!"


Bentak Dokter Andra menggila tapi Tuan Kurnia tak lagi bisa mentorelir kegilaan putranya. Ia takut Andra akan sama seperti lelaki yang sudah-sudah.


"Aku benar! Pria itu bahkan membuat sayap Natalia lebih lebar merentang di dunia ini, tak ada yang bisa membuatnya terluka dan selalu menjadi garda paling depan. Dan kau apa?"


"P..Pa.."


"Kau hanya seorang Kakak bagi Natalia! aku menyuruhmu menjahuinya bukan karna dia wanita yang buruk, tapi kalian para lelaki tak bisa memposisikan diri saat bersamanya."


"P..Pa!" Lirih Dokter Andra mencengkram kepalanya sendiri. ambisnya seketika terbakar akan apa yang Tuan Kurnia katakan.


"Sekarang hanya dua yang akan terjadi. Natalia akan hancur karnamu dan kau tak akan dapatkan apapun. TAK ADA APAPUN."


Tuan Kurnia melangkah pergi kearah kamar Dokter Andra yang menatap nanar punggung Papanya yang berlalu didepan sana. Matanya benar-benar panas dengan akal sehat yang mulai kembali merenggut nafasnya.


"M..Ma.."


"Kesini!"


Nyonya Andini merengangkan tangannya membuat Dokter Andra berhambur memeluk wanita itu. Tangisnya pecah mengoyak nasip dengan hati remuk redam.


"M..Maa hiks, aku ...aku harus apa?"


Nyonya Andini mengelus kepala putranya lembut. Ia juga tak bisa membendung rasa sakit karna telah membiarkan putranya salah langkah begini.


"Sebenarnya kau juga terlibat bukan?"


"T..Tapi aku...aku hanya ingin Natalia bersamku. dan.. dan aku.."


Nyonya Andini langsung menangkup kedua pipi putranya. Ia menghapus lelehan bening ini untuk menyangga kekosongan pikiran anaknya.


"Jujur. apa kau sudah lama bekerja sama dengan wanita itu?"


Dokter Andra langsung menggeleng mengingat jika ia hanya tahu dalam beberapa hari ini. Sebelumnya ia tak tahu apapun.


"T..Tidak. Ma! aku..aku hanya bergabung saat dia mengancamku akan memberi tahu Natalia kalau aku sengaja terus menyibukannya di Kediaman lama agar bisa bertemu. dia juga mengancamku kalau aku tak menuruti kemauannya maka dia akan membuat Natalia membenciku."


"Siapa?"


Tanya Chika tak mengerti siapa yang dimaksud Kakaknya. Ia mulai ada rasa simpati pada Natalia yang ternyata dikelilingi banyak orang berwajah malaikat.


"B..Bibiknya!"


Lirih Dokter Andra mengepal. Ia berjanji pada dirinya sendiri setelah Natalia jadi miliknya maka ia akan membawa wanita itu jauh dari Wanita siluman itu.


"Kau tak bisa, Nak! jangan membuat Natalia semakin membencimu dengan merenggut kebahagiaanya."


Dokter Andra diam dengan perasaan tak rela tapi Nyonya Andini selalu menatap penuh kasih seakan mengatakan ia ada disini dan kau tak akan sendirian.


"Percayalah pada. Mama! jangan membuat dirimu jahat tapi sebenarnya kau tak seperti ini. Jadilah Andra yang dulu, Sayang!"


Pinta Nyonya Andini masuk dalam hati dan jiwa putranya. Mereka tak sadar semua itu didengar jelas oleh seorang wanita yang tak lagi mampu bicara selain bersandar ke pintu kamar.


Matanya menatap kosong kedepan dengan linagan cairan bening itu. Tak ada lagi rona kehidupan disana selain hancur dan hancur.


Ia tersenyum kecil menatap langit-langit kamar dengan hidung kembali berdarah.


"M..Mama!"


Hanya itu yang keluar dibibir pucatnya. Hidup itu tak lagi ia rasakan selain sunyi dan kehilangan. Ia terlalu buruk untuk hidup diatas dunia ini dan manusia sepertinya hanya bisa musnah dan jangan dibiarkan bernafas.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2