
Sedari perjalanan tak ada percakapan sama sekali seakan keduanya hanyut dalam dunianya sendiri. Natalia menatap tenang kearah jendela Mobil dengan Sam yang juga diam menatap lurus kedepan membuat Alfin yang berada ditengah-tengah pun dibuat heran.
Sam terlihat beberapa kali melirik Natalia yang sama sekali tak membuka percakapan atau berniat bersuara selain mengelus kepala Alfin yang terbaring dipahanya dengan kedua kaki bocah itu ada dipaha Sam yang mulai tak nyaman.
"Kau kenapa?"
"Hm?"
Natalia tak begitu dengar kembali memandang Sam yang tak habis pikir. apa tak bisa untuk mengatakan jika ia tak bisa pergi? apa yang kurang di Kediamannya sampai Natalia ingin pergi dari sana?
"Kau kurang makan? tak bisa bicara atau bisu?"
"Bunda hanya lelah melayani pria menyebalkan sepertimu."
Sam hanya menunjukan wajah dinginnya tak lagi bicara. Fagan yang tengah mengendarai Mobil ini pun hanya diam seakan tak mendengar dan merasakan tingkah aneh Tuannya.
Setelah beberapa lama. Sam menatap jalan menuju Kediaman Pramudita yang begitu terawat dan rapi. wilayah disini juga tergolong aman tapi ia tak puas dengan hanya melihat dari sini, bisa saja ada penjahat kelas kakap yang mengincar Natalia.
"Apa ini? Nona!"
"Iya!"
Satu kata yang keluar setelah meresapi segalanya. satu penjaga Gerbang terlihat membuka pagar besi itu mempersilahkan Mobil mereka masuk karna melihat logo depan khas dibampernya itu sangat ia kenal dan bahkan begitu dihormati jagat ini.
"Bunda!"
"Bunda pulang dulu. ya? jaga diri baik-baik dan jangan lupa makan. Bunda mau saat Bunda pulang Alfin sudah gemuk."
Natalia mengecup lama puncak kepala Alfin yang tak rela jika wanita ini pergi. tapi apakah dayanya yang tak mampu membantah walau ia tak mau berjauhan dengan Bundanya.
"Bunda. cepat pulang!"
"Jangan nakal. hm? patuhi ucapan Papamu!"
Alfin mengangguk mengecup punggung tangan Natalia yang dibuat tersenyum kecil keluar dari Mobil dengan wajah Sam yang terlihat mendingin mengamati bangunan megah yang tak sebesar Kediamannya itu.
Saat diluar. mata Pak Anton cukup bingung melihat seorang wanita dengan tubuh langsing semampai itu turun dari Mobil mewah ini. ia mengamati pakaian dan barang-barang yang dikenakan wanita itu sangatlah mahal dan berkelas. dari belakang saja sudah terlihat seperti bidadari.
"Daaah.. Bunda!"
"Jangan nakal!"
Alfin mengangguk melepas genggaman tangannya dengan Natalia yang menatap sejenak Sam engan untuk melihatnya padahal dada Sam tengah menahan gejolak yang bisa saja memantik suara teriakan yang akan mengatakan JANGAN PERGI! AKU BUTUH KAU. KUMAN.
Tapi itu tak akan keluar karna ia memang tak suka terlihat begitu mengidolakan padahal memang benar. hanya Sam yang tak mengakuinya.
"Tuan."
"Hm."
"Luangkan waktumu untuk tidur!"
__ADS_1
Sam spontan menatap Natalia yang memekarkan senyuman hangat yang pasti akan ia cari dimana tempat. ia mencengkram lengan kursi Mobil menatap Natalia dengan penuh makna tapi wanita itu tak mengerti dan menutup kembali pintu Mobil.
"Jalan!"
"Baik. Tuan Kecil!"
Fagan membunyikan klakson pamit pada Natalia yang mengangguk melambaikan tangannya pada Alfin yang masih menatap dari Jendela menjawab lambaian Bundanya.
"Daaaa Bunda!!!"
"Daaaahh!!"
Sam masih memandangi Spion kanan Mobil dimana Natalia terlihat berdiri ditempat yang sama memandangi Mobil mereka hingga gerbang beton disampingnya menutup pemandangan itu menarik wajah gelisah Sam.
Pria itu menoleh kebelakang seakan merasa ada yang kurang dan hilang tak seperti tadi saat ada wanita itu.
"Kau kenapa? berhentilah menoleh kebelakang!" risih Alfin saat Sam terlihat gelisah ditempatnya bahkan sesekali mengusap wajahnya kasar tak bisa memahami semua ini.
"Dia belum menyiapkan makan malam!! siapa yang akan memasak nanti?" decah Sam menggeram dengan Alfin yang kembali berbaring meletakan kedua kakinya ke paha sang Papa.
"Kau lupa? disana banyak Pelayan, Koki bahkan apapun bisa datang. jangan belagak miskin!"
Fagan hampir saja menyemburkan tawa renyahnya tapi dengan cepat ia telan karna wajah tampan Sam sudah membeku dingin. tak ada yang bisa berbicara kasar pada pria ini kecuali Natalia dan Putranya sendiri.
.............
Natalia masih diam masih memunggungi Pak Anton yang mulai heran karna ia tak berbalik sama sekali. padahal, Natalia mencoba untuk mengendalikan dirinya agar ia tak kelepasan menangis melihat kembali orang-orang yang berarti baginya.
"Pak!"
Natalia berbalik menatap Pak Anton yang seketika menyeringit menautkan alisnya melihat wajah Natalia yang sangat mirip dengan seseorang. tapi ini tidak mungkin, ini bukan Nona Mudanya Natalia yang bertubuh semok bukan selangsing ini. kulitnya memang sama putih bersih dan begitu manis tapi ini lebih cantik dengan kacamata yang tak ada diwajahnya.
"N..Non. ini .."
Pak Anton mulai agak ragu saat melihat wajah Natalia lebih intens dan ia benar-benar tercekat saat semuanya mirip. senyuman hangat yang sama dan tatapan penuh kelembutan seakan mengayomi jiwanya.
"N..NONA LIA!!!"
Pekikan Pak Anton menggelegar sampai keseluruh Kediaman membuat Natalia cukup termenggu saat semua pelayan berlarian keluar Kediaman bahkan ada yang jatuh didekat Teras Utama membuat Natalia tersigap.
"Hati-hati!!"
Natalia menyangga langkah mereka semua terutama seorang wanita paruh baya dengan wajah memucat melihat siapa yang tengah berdiri ditengah-tengah mereka. semuanya meneliti penampilan Natalia yang sangat berbeda tapi Bibik Mina segera berlari mendekati dirinya.
"NON!!!!"
Natalia langsung merentangkan tangannya dengan mata menggenang memeluk Bibik Mina dengan sangat erat dan begitu hangat. mereka semua masih bungkam ditempat seakan tak percaya kalau yang tengah berdiri dihadapannya adalah Natalia wanita gendut itu.
"Non hiks. ini.. ini Nona Lia. kan?"
"Hm. aku Lia Bik, putrimu!"
__ADS_1
Bibik Mina semakin tak mampu menahan isak tangis karna ia begitu merindukan wanita ini. bahkan tak dikira Kediaman ini menjadi sunyi sama sekali tak bernyawa sejak kepergiannya.
"N..Non hiks. Bibik..sangat merindukanmu!"
"Aku juga Bik. kau yang terbaik!"
Bibik Mina terlihat tak berhenti mengecup pipi mulus Natalia yang begitu bersih dan lembut. benar-benar terurus tak seperti biasanya.
Pak Anton yang mendengar pengakuan Natalia pun merasa begitu bahagia sampai ia sendiri tak menyembunyikan wajah sumringah dengan para pelayan Lain yang ikut menatap Natalia dengan penuh kagum dan kerinduan.
"Apa kabar semuanya?"
"Baik. Non! Nona apa kabar? anda sangat cantik. pasti sudah bahagia!"
Natalia hanya menjawab dengan senyuman tanpa mau membalas perkataan mereka. ia diiring masuk oleh Bibik Mina yang terlihat tak mau melepas gandengannya kelengan Natalia sangat bahagia kembali menginjakan kaki disini.
"Masuk. Non!"
"Bik. dimana Papa?"
Pertanyaan Natalia membuat mereka semua saling pandang lalu menunduk membuat dahi Natalia mengkerut tak mengerti. ia menatap Bibik Mina yang terlihat begitu murung.
"Bik?"
"T..Tuan..."
"Ada apa? apa yang terjadi pada Papa?"
Natalia mulai khawatir dengan wajah memucat menduga apa yang terjadi.
"Tuan.."
"Pa! aku ingin menikah secepatnya!!! kenapa Papa melarangku??"
Suara bentakan diatas sana membuat Natalia langsung berlari kelantai atas dengan Bibik Mina juga ikut membintuti langkah Nonanya.
"Papa selalu saja mencampuri urusanku!!! aku sudah dewasa. Pa!!!"
Suara itu semakin keras hingga Natalia tiba didepan kamar Papanya dengan wajah yang seketika mengeras melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya.
"T .Talita. P...Papa hanya takut. kau .. kau dipermainkan."
"Dipermainkan? justru Papa yang mempermainkan hidupku! Papa yang membuat hidupku terkekang dan bahkan hancur seperti ini!!"
Plakkkk.....
"N..Nona!!!"
.......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1