Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Pendakian malam!


__ADS_3

Malam mendaki bulan. Mobil mewah pria itu sampai ke Kediaman besar Bilions karna ada urusan dengan Dadynya. Ia meninggalkan anak dan istrinya di Rumah Sakit dengan penjagaan yang ketat dan Fagan juga disana.


"Selamat Datang. Tuan Muda!"


"Hm!"


Sam mengangguk datar pada para pelayan yang menyambutnya dan segera masuk kedalam Mansion besar Bilions ini. Tampak pertama adalah lantai dasar yang begitu mewah dengan desain interior ala eropa yang begitu berkesan estetika.


"Sam!"


Seorang wanita paruh baya dengan tampilan glamor itu seperti biasa datang turun keluar dari Liftnya memakai baju tidur ala ningkrat.


"Dimana Dady?"


"Dadymu tadi belum pulang! katanya melihat Perusahaan!"


Sam diam sejenak. Perusahaan tak akan aktif jika sudah larut begini lalu kenapa pria itu selalu pergi? dan waktunya akan sangat lama.


"Hm. aku pergi!" Sam ingin berbalik tapi suara Nyonya Maria menghentikan langkahnya.


"Dia sudah kembali?"


"Hm." jawab Sam tak ingin berdebat.


"Apa hamil?"


"Itu anakku!" jawab Sam tegas membuat Nyonya Maria tersenyum kecil. Ia memang sudah melihat bagaimana pengaruh Natalia pergi sampai menghancurkan kehidupan Anak dan cucunya.


"Siapa bilang dia bukan anakmu?"


Sam segera berbalik menatap tajam Nyonya Maria yang tak akan ia biarkan mengusik Istrinya. Wanita itu tak bisa lagi ditekan dalam kondisi seperti itu.


"Sebaiknya kau jangan ikut campur! suka atau tidak dia akan tetap disini!"


"Sam! kenapa kau sangat berburuk sangka pada Momymu sendiri. hm? Momy hanya ingin melihat istrimu tapi kau dan dadymu sama saja." ketus Nyonya Maria yang tak bisa bermulut manis.


"Pikirkan apa yang kau perbuat selama ini. tak pernah meminta maaf dan tetaplah egois."


Geram Sam lalu melangkah pergi membuat pandangan Nyonya Maria mulai sendu. Para pelayan sana juga saling pandang menatap kepergian Tuan Mudanya yang selalu tak mau lama dan hanya menapaki lantai dasar saja.


Diluar sana. Sam berpapasan dengan Mobil Tuan Anderson yang sudah pulang dengan para pengawal keluar membukakan pintu mobil mewah itu.


"Sam!"


"Dad!"


Sam diam didekat Mobilnya menatap dingin Tuan Anderson yang keluar dengan Mantel hangatnya. Wajah pria ini tetaplah datar tanpa guratan apapun.


"Dad! kau kemana saja?"


"Ada urusan!"


"Cih!"


Sam berdecih. Ia menebak jika Dadynya tengah mengunjungi sesuatu dan melepas rindu pada seseorang.


"Kau tinggalkan Momy di Kediaman sebesar ini. dia menunggumu, Dad!"


"Bukan urusanmu!" tekan Tuan Anderson mulai tak suka dengan ucapan Sam yang menyinggungnya.


"Hm. tapi dia Momyku! setidaknya beri perhatian sedikit itu lebih baik "


"Kenapa kau kesini?"


Tuan Anderson mengalihkan pembahasan membuat Sam membuang nafas kasar tapi ia juga tak punya waktu untuk membahas ini.


"Apa aku harus bawa istriku kesini atau pulang ke Indo?" tanya Sam hanya ingin menghargai orang tuanya.


"Selama Istrimu belum melahirkan. biarkan dia disini! lagi pula Alfin masih belum sehat. dia akan tinggal di Kediamanku."


Tegas Tuan Anderson tak mau berpisah dengan Cucunya. Alfin yang begitu ia sayangi terlalu kecil untuk jauh darinya.


"Hm. baiklah! tapi aku tak mau istriku tertekan disini."


"Itu urusanku."


Sam mengangguk lalu pamit pergi masuk kedalam Mobilnya. Ia sama sekali tak mau ada pengawal yang mengiringnya di Jerman karna disini wilayahnya.


"Night. Dad!"


"Hm!"


Sam melajukan Mobilnya ke luar pekarangan luas Bilions dipelupuk mata Tuan Anderson yang menghela nafas berat. Mau sampai kapanpun. Ia tak akan menerima Maria karna hanya ada satu wanita dihatinya dan itu tak akan tergantikan oleh siapapun.


Sementara Sam. Ia tengah melajukan Mobil cepat karna memang keadaan jalan di Jerman sangat damai. Ia melesatkan Mobil menuju Restoran terbaik di Negara ini untuk mengambil pesanan khususnya dimana Hendry sudah ada disana.


"Tuan!"

__ADS_1


Hendry membungkuk tepat didepan Resto yang sangat ramai dengan desain lampu cantik dipenuhi orang-orang barat. Sam menghentikan Mobilnya di tempat agak gelap membuat Hendry yang menentang paper-bag itu mendekat.


"Ini. Tuan!"


"Sudah pas?" tanya Sam mengambilnya dari jendela Mobil.


"Iya. Tuan! semuanya dibuat khusus oleh Chef yang merupakan orang lokal dan ia tahu betul soal pesanan anda."


"Hm. beri uang lebih!"


"Baik!"


Hendry menunduk membiarkan Mobil Sam kembali melaju stabil didekat keramaian namun pria itu tancap gas saat sudah agak lengang membuatnya menggeleng kembali masuk ke Resto didekatnya.


Ia begitu memburu waktu karna ini sudah jam 11 malam. Kemungkinan istri gemoynya itu sudah tidur maka akan gagal rencananya malam ini. Dalam beberapa menit saja Sam bisa mengikis jarak jalan tak singgah kemanapun walau banyak para wanita malam berkeliaran dimana tempat merusak kesucian matanya.


"Yes!!"


Sam bersorak saat sudah sampai lingkungan rumah sakit dengan para pengawal menunggunya di Loby. Ia menghentikan mobil didepan tangga rumah sakit lalu keluar seraya melempar kunci pada pengawalnya.


"Masukan ke Loby!"


"Baik. Tuan!"


Sam melangkah kedalam Rumah Sakit dengan keadaan pasean dan pengunjung masih sama. Ia hanya acuh fokus pada satu tujuannya walau banyak yang mengagumi ketampanan ayah satu anak itu.


"Tuan!"


Fagan sudah setengah berlari kearahnya menunggu untuk ke ruangan VVIP milik mereka diatas sana.


"Pergilah ke tempat. Maya!"


"A.. itu ."


"Apa?" tanya Sam dingin seraya melangkah ke lift menuju ruangan mereka.


"Maya.."


"Hm. temani dia!"


Mau tak mau Fagan mengangguk hingga menatap Sam yang sudah masuk ke Lift dihadapannya. Ia merasa segan karna wanita itu terlalu membuat hidupnya kacau.


Sementara Sam. ia sudah ada didepan pintu ruangannya dan dengan pelan ia menekan gagang pintu hingga menatap kedalam dimana ada ruangan santai yang sudah sunyi.


"Apa dia benar sudah tidur?"


Namun. dahinya menyeringit saat di atas ranjang hanya ada Alfin yang tengah tidur lelap dengan lampu remang.


"Kemana dia?"


Gumam Sam meletakan paper-bagnya didekat ranjang lalu melangkah ke pintu kamar mandi.


"Sayang!"


Panggil Sam membuka pintu itu tapi tak ada orang. Hanya sisa air yang ada dilantai dengan aroma sabun khas tubuh wanita itu.


"Sayang! kau dimana?"


Khawatir Sam seraya membuka Mantel hangatnya mencari ke Walkcloset tapi juga tak ada hingga membuat Sam panik.


"Sayang! Lia!"


"Sutt!!"


Sam menoleh kearah Balkon hingga terlihatlah kepala wanita itu menyembul diantara Gorden yang tertiup angin.


"Kenapa disana? ini sudah malam!" cemas Sam mendekat menyibak Gorden hingga terlihatlah Natalia yang memakai Bathrobe dan Mantel hangatnya tengah berdiri didekat pagar Balkon.


"Kau!!"


"Alfin tidur! nanti dia bagun, Sam!" bisik Natalia membekap mulut Sam agar tak berisik.


"Ini malam-malam kenapa kau mandi? kau itu bisa masuk angin dan berdiri di.."


"Tadi Alfin tak mau lepas. badanku sudah lengket jadi aku mandi saat sudah menidurkannya."


Jawab Natalia pelan melepas bekapannya membuat Sam menghela nafas kasar menarik Natalia kepelukannya.


"Tanganmu sudah dingin! ayo masuk!"


"Tapi, aku suka melihat itu!"


Natalia menunjuk kearah luar dimana pemandangan kota Jerman terlihat cantik dengan lampu-lampu gedung dan pernik jalanan terlihat indah bagaikan kunang-kunang malam ini.


"Apa sangat indah?"


"Hm. tenang! pemandangannya indah, aku tak pernah kesini jadinya penasaran." jawab Natalia mencengir menunjukan gingsul manisnya membuat Sam menarik sudut bibir pelan memeluk Natalia dari belakang seraya bertopang dagu ke bahu wanita ini.

__ADS_1


"Lain kali kita jalan-jalan!"


"Benarkah?" Natalia bersemangat membuat Sam gemas mengecup pipi berisi ini lembut.


"Hm. tapi saat kau sudah lahiran! kau mudah lelah kalau sedang hamil, aku tak mau mengambil resiko."


Natalia mengangguk menikmati suasana damai malam ini. Sam semakin mengeratkan pelukannya dikala angin semakin dingin apalagi ia tak tahan akan suasana romantis begini.


"Sayang!"


"Hm? ada apa?" Natalia menoleh dengan mata polos begitu memantik asmara.


"Aku ingin!"


Natalia seketika memerah mendengar bisikan lembut Sam mengalun ditelinganya. Bibir pria itu sudah mengecup lembut tengkuk dan garis lehernya membuat Natalia meremang memejamkan matanya menikmati segalanya.


"Aku suka aroma kulitmu." bisik Sam serak mencumbu leher sang istri membuat Natalia mengigit bibir bawahnya menahan suara lenguhan.


"Emm. Sam!" geraman Natalia mencengkram tangan Sam langsung sudah bernafas berat dan wajah pria itu juga mulai meradang karna lonjakan hasrat yang tinggi.


"Emm" Natalia melenguh saat Sam sudah menyambar bibirnya panas membuat bulu kuduknya meroma. Pria ini mengecup lembut dengan lidah menyusuri rongga mulutnya membuat Natalia tak mampu bertahan dan juga membalas.


Perlahan Sam melangkah mundur dengan satu tangan membelit pinggang istrinya dan satunya lagi menekan tengkuk Natalia memperdalam ciuman panas itu.


"Emm!"


Keduanya menggeram menikmati sensasi belitan lidah didalam sana hingga dengan tergesa-gesa tapi masih mengutamakan keselamatan istrinya Sam mengiring menuju Walkcloset tanpa melepas tautan panas itu.


"S..Sam!" .


Lirih Natalia saat tautan itu terlepas dengan nafas sama-sama memburu dan tatapan saling mendamba didalam sana.


"Aku menginginkanmu!"


Natalia mengangguk hingga Sam langsung melepas baju kaos santainya hingga tubuh atletis itu terlihat menggoda membuat Natalia berdenyut.


"Sayang!"


Lirih Sam lemah saat tangan lentik itu sudah menyentuh dada bidang kekar dan menyusuri tonjolan otot liat itu membuat bara api didalam darah Sam mendidih.


"Dia sudah bangun!" kelakar Natalia menatap bagian menonjol itu. Perlahan tangannya turun menyentuhnya membuat Sam menggeram dan sangat sensitif.


"S..Sayang!" serak Sam meminta lebih dari pandangan netra berkabut hasrat menggelora itu. Natalia tersenyum kecil melepas Mantel menyisakan Bathrobe yang sudah pendek karna perut besarnya.


"Kau mau lebih?"


Sam mengangguk dengan dada naik turun menahan detakan jantung yang meledak saat gaya Natalia benar-benar menggoda melepas pelan tali Bathrobe itu hingga belahannya terlihat menggiurkan.


"It's so hot! Baby!" serak Sam menatap penuh gairah.


Natalia sengaja membasahi bibirnya dengan wajah dibuat sebegitu seksi membuat Sam sangat tak bisa menahan menatapnya dalam.


"Mau yang begini?"


"Hm!"


Sam hanya bisa bergumam saat Natalia perlahan berjongkok dihadapannya dengan gaya kucing mengintai membuat bagian bawahnya sudah ingin memberontak. Natalia paham ia harus liat sedikit kalau tidak suaminya akan bosan, walau perutnya besar tapi tak jadi halangan untuk itu.


"Cepatlah. Sayang!" berat Sam tak sabaran melihat Natalia begitu berbeda malam ini. Wanita itu sengaja menonjolkan bagian belakangnya membuat Sam tak mampu menahan meremas dua bongkahan kenyal itu.


"So Sexsi!!"


"Cih!"


Geli Natalia membuka bagian bawah Suaminya hingga Boxser itu terlihat menyembunyikan tombak surgawi. Perlahan tapi pasti Natalia mulai mahir memainkan alunan gairah suaminya dengan memberi cengkraman dan pijatan lembut membuat Sam tak tahu harus mencengkram apa.


"Ouss. Shitt!" geram Sam memejamkan matanya saat jari lentik itu mengobrak-abrik jiwanya. Tulangnya tiba-tiba panas dingin dikala nafas lembut itu sudah mengendus penuh permainan.


"Ss..Sayang!"


Serak Sam dikala Natalia sudah melepas bagian terakhirnya hingga benda perkasa itu membuat Natalia memerah sudah tegak menjunjung marwah keperkasaan.


"Aku rasa tak muat di.."


"C..Cepatlah!!" desak Sam sudah tak sabaran dengan deru nafas tak tertahan. Natalia mengerti hingga dengan perlahan semuanya ia lakukan lembut membuat Sam serasa terbang ke awang dengan sensasi gila ini.


"K..Kau sempurna! Sayang!"


Erang Sam mencengkram rambut Natalia yang hanya membiarkan cara suaminya berexspresi. Ia melakukan segalanya dengan sangat spesial karna memang ia tak bisa terlalu tergesa-gesa.


Sam merasa begitu bahagia saat istrinya memulai sendiri tanpa ia arahkan. Dulu memang Natalia tak begitu paham soal ini tapi semakin lama Permainan istrinya membuat Sam sulit untuk meredam hasrat dikala sudah berduaan begini.


......


Vote and Like Sayang .


Stop dulu yak. takut nggak lolos 🤭

__ADS_1


Maaf yak semalam eps 2 tapi sama.. soalnya sinyalnya eror jadi ke kumpul 2🥰 say


__ADS_2