
Pandangan para Kariawan di Perusahaan ini mulai risih saat Natalia datang bersama pria yang berbeda. biasanya Natalia selalu datang dengan Presdirnya, apa wanita ini telah dicampakan?
Natalia yang ditatap seperti itu hanya memilih acuh. ia menekankan pada dirinya sendiri kalau hubungannya diantara Dokter Andra dan Sam sendiri itu hanyalah sebatas ikatan yang berbeda, Sam sebagai suami tapi hanya terpaksa karna perjodohan dan Dokter Andra yang baik dari saat ia masih kecil. semuanya ia tempatkan sesuai dimana kisah ini berasal.
"Jangan lupa. ya?"
"Yah, akan ku usahakan."
Jawab Natalia dengan Dokter Andra yang mengangguk kembali masuk kedalam mobilnya membunyikan klakson dan melaju pelan dengan Natalia yang pergi sendirian.
Alfin telah pulang bersama Supir yang menjemputnya hingga hanya ia yang melangkah menuju pintu masuk Perusahaan. langkah pertamanya sudah disambut pandangan sinis semua orang tapi Natalia hanya menganggap itu angin lalu.
"Sudah merusak rumah tangga orang. dan sekarang gonta ganti laki-laki."
"Hm. cantik sih cantik! tapi PELAKOR!"
Natalia meredam semuanya membelah keramaian para Kariawan yang menggosipkannya. banyak mata yang begitu iri tapi juga tak suka dengan Natalia yang lebih dekat dengan Presdir mereka dengan modus menjadi Model Utama disini.
"Itu Lift khusus Presdir! enak sekali kau masuk kesana!"
Tegur satu Staf HRD yang menatap Natalia dengan sinis. ia adalah Putri wanita lokal berpakaian ketat yang selalu mengomentari setiap apa yang Natalia lakukan.
"Hm. tadi Nyonya besar datang kesini, aku yakin dia tak akan suka dengan wanita sepertimu!"
Timpal yang lainnya merendahkan. Natalia benar-benar merasa sangat tak percaya dengan bicara para manusia didalam sini. tampilannya saja yang terlihat begitu berpendidikan tapi cara bicaranya sama sekali tak bermoral.
"Lalu kenapa?"
Natalia berbalik menatap mereka dengan angkuh tanpa embel ramah yang biasa ia tunjukan. wajah Natalia terlihat licik padahal tak sejalan dengan sikap asli wanita itu.
"Oh. lihat! dia..."
"Ya, kenapa denganku?" tanya Natalia membuat mereka diam dengan Putri yang mengepalkan tangannya kuat.
"Setidaknya aku menjual TALENTA. bukan DADA!"
Tekan Natalia lalu melangkah ke Lift Kariawan setelah. membuat mereka bungkam hanya memandangi Natalia yang tak mau membuat kacau tapi ia juga tak suka selalu disebut Pelakor.
Saat Lift tertutup hembusan nafas panjang Natalia segera keluar. ia bersandar ke dinding Lift mencoba untuk lebih tenang memikirkan semua ini. sebenarnya kenapa aku tak bisa menolak Sam? aku tak mungkin melanggar prinsipku sendiri yang tak ingin merusak apapun.
Natalia memejamkan matanya untuk melupakan sejenak tentang kejadian hari ini. ia harus fokus pada pekerjaannya dan mengurus Keluarga Pramudita.
Setelah beberapa lama. pintu Lift terbuka hingga ia melangkah keluar dengan lunglai, belum bekerja saja ia sudah sangat lelah. di Mobil tadi ia sibuk memikirkan Sam yang tak sempat makan tadi.
Tepat didepan ruangan Sam. Natalia dengan ringan menekan gagang pintu tanpa tahu siapa yang ada didalam.
"Tuan!"
__ADS_1
Degg...
Seketika Natalia terkejut saat melihat Nyonya Maria yang duduk diatas sofa tengah menatapnya dengan murka. sedangkan Sam masih berdiri didepan dinding kaca sana membelakanginya tanpa mau menoleh.
"Kau!!! kenapa kau kesini?"
"Nyonya!"
Nyonya Maria berdiri seakan menelan Natalia yang cukup merasa khawatir jika Nyonya Maria membuat keributan dan memperparah rumor di luar sana.
"Sudah puas kau menghancukan Rumah Tangga. Putraku? ha!!!"
"Nyonya. saya tak tahu apapun soal itu. maksudnya apa?" tanya Natalia kurang paham. ia memang tak tahu soal gugatan cerai Sam yang telah diproses pengadilan aggama dan suratnya akan sampai dengan cepat.
"Kau tahu. karna kau menantuku kehilangan Putra dan Suaminya."
"Pergilah!"
Suara Sam membuat Nyonya Maria terhenti menyaambar Tasnya lalu melangkah menyenggol bahu Natalia yang berpeggangan ke meja disampingnya.
"Sialan kau!"
Natalia hanya diam terperanjat saat Nyonya Maria menutup pintu dengan kasar. suara gebrakan tadi mengantarkan keheningan, bibir keduanya seakan terkunci dengan jarak yang ada.
Pandangan Natalia menghunus Sam yang masih enggan berbalik. apa ia sudah keterlaluan? tapi bukankah itu yang dulu Sam mau dari Pernikahan ini? Sam sama sekali tak menginginkan itu terjadi.
"Tuan!"
"Tuan! Tuan sudah makan?"
Sam hanya membisu. ia masih tak bisa menerima perlakuan Natalia yang seakan menganggapnya hanya orang asing padahal keduanya sudah mengetahui secara lebih intim.
Melihat Sam yang membeku Natalia meloloskan nafas pasrahnya berbalik ingin melangkah pergi tapi ..
"Sudah puas dengannya?"
Natalia terhenti dengan pertanyaan mengintimidasi Sam yang masih tak berbalik tapi kedua tangannya terkepal didalam saku celana sana.
"Kenapa Tuan marah?"
"Kenapa?"
Gumam Sam mengangkat sudut bibirnya miring merasa sangat tragis.
"Memangnya kenapa? aku tak mengerti. kenapa kau marah? kau selalu marah tak jelas dan..."
"Tak jelas kau bilang?"
__ADS_1
Geram Sam membuat Natalia langsung melangkah mendekat bahkan berdiri dihadapan Sam yang yang tampak mulai terpancing emosi.
"Yah!! kau kenapa? kenapa kau melarangku kemanapun dengan pria padahal kami tak punya hubungan yang .."
Prankkk....
Natalia terkejut saat Sam meninju dinding kaca dibelakangnya sampai pecah dengan tubuhnya yang Sam tarik menjauh.
"Tak punya hubungan!!!! tapi dia memelukmu! menciumu!!! menyentuhmu!!! apa aku bisa diam???"
Bentakan Sam menggelegar membuat Natalia gemetar dengan wajah memucat menatap wajah kelam Sam yang sudah tak bisa ditahan. ia tahu Natalia menyetujui ajakan jalan keluar itu tanpa meminta izin darinya seakan ia hanyalah batu yang dipajang dimana tempat.
"A..Aku .."
"Pertama di Jalanan. dia memelukmu, mencium keningmu bahkan seakan mau menelanmu! dan kau masih mengatakan tak punya hubungan?"
Geram Sam menggertakan giginya kuat bahkan urat-urat kemarahan itu menyala dimatanya menerkam Natalia yang mulai mengembun.
"T..Tuan.."
"Tuan?"
Sinis Sam menepis tangan Natalia yang ingin memeggang lengannya. darah itu mengalir dipunggung tangan kekar Sam yang sudah biasa dengan semua ini.
"T..Tuan.."
"Tuan? tetaplah seperti itu."
Tekan Sam melangkah menuju kursi kerjanya tanpa memperdulikan luka ditangannya. air mata Natalia luruh karna tak tahan dibentak seperti ini, ia sangat lemah jika Sam bicara seakan-akan Natalia menjadi orang jahat di dunia ini.
"T..Tuan. Tuan aku .."
"Pergilah!" dingin Sam hanya mengelap punggung tangannya dengan tisu tanpa memperdulikan Natalia yang berdiri disampingnya dengan mata yang digenangi air bening itu.
"T.. Tuan aku ..aku... m..maaf."
Sam hanya diam seakan tak mendengar. padahal jantungnya sudah seakan terlepas mendengar suara bergetar Natalia barusan.
"Dia ...dia yang..yang perduli padaku s..saat aku masih seperti dulu! aku...aku tak bisa menolaknya."
Lirih Natalia sesekali menyangga air matanya dengan nafas tersendat. ia seperti seorang anak yang dimarahi oleh ayahnya dan tentu bersama Sam Natalia terasa dilindungi.
"S..saat P..Papa menamparku. di..dia yang mengobatiku dan..dan.."
Natalia tak mau mengungkitnya lagi hingga ia dengan cepat ingin pergi tapi Sam dengan kilat menarik lengan Natalia melayang jatuh kepangkuannya.
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..