Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Lumpuhkan wanita itu!


__ADS_3

Mobil-mobil stasiun berita Negara ini terlihat berjejer didepan Gerbang Kediaman Pramudita. Mereka semua menyerbu mencari berita soal kejadian menggemparkan tadi malam. Tak sedikit dari mereka yang melempar kediaman Natalia dengan sampah karna begitu geram akan apa yang dilakukan wanita itu.


"Nona apa karna kau Nona Qyara dikeluarkan dari Agensinya?!!!"


"Presdir Sam memiliki hubungan dekat dengan anda, bukan?"


"Berikan pernyataan anda. Nona!!"


Pak Anton dan para penjaga lain yang mengawal gerbang pun dibuat kelimpungan. Ada para Penggemar Qyara yang datang sampai melakukan tindakan anarkis melempar batu sampai memecah kaca Kediaman.


"Dasar Perusak hubungan orang!!!"


"Tak berguna!! baru naik jabatan saja sudah berani sesombong itu."


Ucap mereka semakin menjadi membuat Pak Anton langsung menghubungi Natalia agar tak datang kesini. Telponnya tersambung tapi sayangnya Natalia sudah ada di Mobil yang mengarah kesini.


"Iya. Pak!"


Natalia duduk dengan anggun didalam Mobil mewahnya dengan Manager Rani yang siap siaga didekatnya. Ia tampil dengan begitu manis berbalut Gaun kecoklatan selutut dengan lengan panjang bergradasi cantik. Rambut Natalia diurai dengan jepitan pita rapi didekat telinganya.


"Non! sebaiknya anda jangan kesini."


"Kenapa?"


Tanya Natalia yang melihat keluar jendela. Ia sudah ada dipersimpangan masuk menuju area Kediaman Pramudita. Natalia tak menduga akan ada banyak Wartawan yang memenuhi kehidupannya.


"Disini ramai. Non! jangan datang, bisa saja mereka menyakiti. Nona!"


Natalia terdiam. Suara teriakan keras itu juga terdengar membuat Rani yang ada disampingnya diam membeku dengan pandangan serius. Wanita dengan wajah lokal yang tulus itu cukup mencerna apa yang akan dilakukan.


"Mereka melempar batu dan sampah. Non! sepertinya penggemar Nona Qyara juga ada."


"Pak. tangani saja mereka, tak akan terjadi apa-apa."


"Tapi. Non.."


"Percaya saja padaku. Pak!"


Terdengar helaan nafas diseberang sana hingga Pak Anton menyetujui dan barulah Natalia memutus sambungan. Sorot netra cantik berlensa ini terlihat berat tapi menyimpan ketegaran disana.


"Sebaiknya biar saya yang bertemu dengan mereka. Nona!"


"Tidak."


Rani terhenyak dengan jawaban Natalia yang tersenyum seakan tak gentar. Dunia tengah memporak-porandakan hidupnya tapi ia masih bisa duduk tenang tanpa kalimat yang gunda.


"Non! kita bisa mengontrol Media agar tak menanyaimu tapi Penggemar Nona Qyara bisa saja berbuat nekat."


"Jika aku menghindar. mereka akan semakin berfikir itu benar."


Rani terdiam tak mampu berkata banyak. Mulutnya membisu dengan perasaan kagum dan sulit dipercaya. Semenjak Natalia bekerja menjadi atasanya, Rani seakan mendapat moto baru dan sosok yang penuh dengan ujian.


"Lihatlah!"


Natalia menatap sekumpulan orang yang memenuhi jalan diarea depan Gerbang. Ia tahu semua ini resiko yang diambil jika berdekatan dengan seseorang yang memiliki pengaruh yang sangat besar.


Melihat keraguan diwajah supirnya, Natalia langsung memberi isyarat agar tetap tenang menampik rasa khawatir Supir itu untuk melaju mendekati Kerumunan.


Mereka mulai memperhatikan Mobil Natalia dengan sorot mata beragam. Para Penggemar Qyara terlihat menatap penuh musuh dan geram bahkan batu ditangannya sudah siap melayang.


"Biarkan saya lebih dulu turun. Nona!"


"Baiklah!"


Natalia masih memantau situasi yang sunyi karna kedatangannya. Semua orang menepi dengan para penjaga membuka Gerbang yang tadi ditutup.


"Nona!!"


"Nona Natalia!!"


Para awak media mendekat membuat penjagaan pengawal menguat. Rani turun dari mobil menatap semua orang yang seakan memangsa Natalia yang dengan tenang diduduk didalam sana.


"Nona!!!"


"Berikan kami penjelasan!!!" Mereka meringsek maju


"Mohon, jangan bertindak anarkis."


Tegus Rani tegas mengamankan Natalia yang menghela nafas halus lalu mulai mengeluarkan kaki jenjang mulusnya membuat mereka ssmua terpana.


"Nona!"


Pak Anton tersenyum melihat Natalia yang semakin cantik. Aura wajah ayu itu juga sangat mendamaikan hati mereka ditengah teriknya mentari ini.


"Percuma cantik. tapi siluman!!"


Ketus seorang wanita berpenampilan biasa yang berdiri tak jauh dari Natalia. Wajah tak suka dan sangat membenci itu membuat Natalia diam sesaat tapi masih memakarkan senyuman menguarkan ketegasan.


"Ada yang mau bertanya?" penuh kebijaksanaan.

__ADS_1


"Nona. apa benar anda diperebutkan Presdir Sam dan Tuan Muda Yuchin?"


"Apa anda punya hubungan khusus dengan Presdir? akhir-akhir ini kalian sangat dekat."


Tanya awak media menyiapkan kamera mereka membidik wajah cantik Natalia yang tak pucat atau gugup. Membuktikan bahwa ia sama sekali tak bersalah dalam tuduhan pada masyarakat.


"Yang berkelahi itu Presdir dan Tuan Muda Yuchin. kenapa tak tanyakan langsung pada mereka?"


Semuanya terdiam saling pandang ngeri. Mereka tak berani bertemu Presdir Sam yang pasti akan menjawab dengan terkaman mata yang mengerikan.


"K..Kami..kami ingin anda yang menjawab. kami melihat anda juga disana."


"Baiklah. aku bekerja di Perusahaan Bilions. aku baru disana bahkan pengalamanku masih jauh dari Model-Model lainnya, tapi. Presdir mempercayakan gelar Model Utama padaku. apa aku harus diam saat mendengar atasanku yang terlibat masalah?"


Tanya Natalia membuat mereka melempar pandangan heran dan masuk akal. Tapi begitulah awak media, mereka akan membuat berita asal tak tahu itu benar ataupun tidak.


"Cih. sudah jelas kau selama ini ingin memisahkan Presdir dan Istrinya, Nona Qyara sampai dikeluarkan dari Agensi."


Sarkas wanita tadi yang semakin membuat suasana diambang-ambang. Natalia menatapnya dengan lama hingga ia menemukan unsur adu-domba disini.


"Kenapa menyalahkanku? tanyakan langsung pada Nona Qyara kenapa dia bisa dikeluarkan. Kalian semua adalah orang-orang yang cerdas dan berpendidikan. Mustahil jika langsung menyalahkan orang lain."


Ucap Natalia hangat dan tegas. mereka semua diam memandangi Natalia melangkah membelah Keramaian yang hening seakan terbungkam akan penjelasannya barusan.


"Anda luar biasa. Nona!" Pak Anton mengacungkan kedua jempol.


"Tunggu mereka pergi. baru tutup Gerbangnya, Pak!"


Perintah Natalia tersenyum melangkah masuk kedalam pekarangan dimana para Pelayan sudah terlihat berkerumun menyaksikan perdebatan tadi.


Termasuk Mentari dan Talita yang diam dengan wajah kosong seakan tak percaya Natalia bisa meredam amukan besar tadi dengan gaya bak seorang bangsawan terhormat.


"Kembali bekerja!"


"B..Baik!"


Mereka mengurai barisan tak beraturannya dengan Talita yang langsung menggandeng lengan Natalia membuat Rani bersiaga.


"Kau luar biasa. Lia!"


"Hm. kau sudah selesai mengerjakan tugasmu?"


Tanya Natalia membuat senyum Natalia luntur. Ia sudah muak dengan pekerjaan Rumah tapi Natalia selalu mengancam hidupnya.


"Sudah. aku sudah mengerjakannya, menjemur, mencuci bahkan menyetrika."


Titah Natalia melepas gandengan Talita yang menekuk wajah cantiknya. Ia punya janji dengan Teo tapi wanita kampungan ini merusak semuanya.


"Nona. dia semakin angkuh." bisik Mentari geram.


"Lalu aku harus bagaimana? semua sumber uang ada padanya."


Decah Talita kesal membuat otak Mentari bekerja lebih baik. Melihat para Media dan Penggemar Model Top tadi ia punya satu Ide yang berlian.


"Aku punya rencana. bagus."


Dahi Talita mebgkerut seakan menebak apa isi kepala Mentari yang Ratu dalam membuat rencana besar.


"Apa?"


"Jika satu tetes racun diminum. itu tak akan mematikan."


"Maksudnya?"


Tanya Talita heran. satu lengannya masih diperban membuat ia sulit bergerak bebas seperti biasa. Mentari berbisik ditelinga Talita yang segera menutup mulutnya tak percaya.


"K..Kau .Kau serius?" Syok dan kagum.


"Hm. aku yakin wanita itu akan setuju, apalagi kau tahu asal-usul Natalia. Nona!"


Talita mengangguk berbinar cerah menatap kearah Kediaman. Ia seakan melahap semuanya kalau sampai Natalia mati dan ahliwaris hanya tinggal dirinya.


Sementara Natalia diatas sana tengah dibanting oleh Pekerjaan Perusahaan. ia memindahkan semua data yang ada di Laptopnya kedalam Flashdisk yang mudah ia bawa kemanapun.


"Rani! hubungi Tuan Denis Investor kemaren!"


"Baik."


Rani segera menghubungi list-list nama yang sudah dibuat Natalia tapi tak satupun yang menerima. bahkan, tak diangkat sama sekali.


"Apa sudah?"


"Tak diangkat. Nona!"


Natalia langsung menghempaskan diri keatas kursi kerjanya. Dunia ini seakan menekan Natalia untuk tetap diam dibawah kaki semua orang.


"Tak ada yang mengangkat. bahkan mereka Memblokir akses Perusahaan."


"Haiss... kenapa bisa? seharusnya mereka bicara baik-baik padaku."

__ADS_1


Gumam Natalia mendesis menahan kekecewaan. ia tadi berharap akan bisa datang berunding secara terhormat tapi tiba-tiba tak ada yang mampu diajak bertemu.


Seketika harapan Natalia diawang-awang. netra cantiknya berkelana mencari jalan keluar membuat Rani diam-diam memotret Nonanya yang tengah diam menatap kedekat jendela dengan wajah ditekan keadaan.


"Maaf. Nona! anda terlalu baik, Presdir bukan orang sembarangan tapi anda tak mau meminta bantuan padanya."


Batin Rani mengirim foto itu pada Sam lalu kembali menyimpan ponselnya karna Natalia sudah tampak lebih baik.


"Pekerjaan perusahaan Tuan Sam bagaimana?"


"Anda tak perlu khawatir. semuanya baik-baik saja."


Jawab Rani mengantisipasi kemalut pikiran Natalia yang melepaskan nafas lega karna sedikit beban dipundaknya hilang.


Dreett...


Tiba-tiba Ponsel Natalia menyala menyita perhatian wanita itu. Tertera disana Nomor asing yang tak ia kenal.


"Hello!"


"Dengan Nona Natalia?"


"Iya, kenapa?"


Tanya Natalia bingung mendengarkan dengan baik. ia sesekali menatap Rani yang hanya diam mempertahankan wajah datarnya.


"Saya Asisten Tuan Denis. anda bisa datang hari ini juga untuk membahas soal Investasinya."


"A.. apa??"


Natalia berdiri dari duduknya dengan tatapan mata tak percaya bahkan sangat syok.


"Benar. Nona! semuanya juga sudah hadir termasuk Tuan Badwin."


"A...Baik! aku..aku akan segera datang."


"Terimakasih. Nona!"


Sambungan mati dengan Natalia yang langsung berhambur memeluk Rani erat. Wajahnya sangat bahagia bahkan tak terjabarkan bagaimana hatinya yang kembali mekar seakan disirami berbagai bunga. Tubuh Natalia terasa kembali bangkit tak lagi lunglai.


"Raniiii!!! aku...aku sangat bahagia!!!"


"Selamat. Nona! anda berhasil."


"Aaaa.. aku..aku harus semangat. semangat!!!"


Teriak Natalia kesenagan berjingkrat sesukanya. Rani tak lupa memvidiokan itu sebagai bukti kebahagiaan dan exspresi menggemaskan Nonanya.


"Ayo! kita berangkat!!!"


"Jangan berlari. Nona!"


Natalia tak mendengarnya. ia sudah sangat kesenagan sampai meninggalkan Rani yang mengulum senyum kecil mengirim Vidio itu pada Tuannya.


"Anda sangat beruntung. Nona!"


.......


Senyum dibibir sensual pria itu mekar dengan hangat. sorot netra elangnya melembut damai menatap tingkah konyol istrinya yang berjingkrat didekat meja yang dijadikan tempat pelampiasan rasa senang.


Tak terjabarkan bagaimana perasaan Sam melihat wajah cantik ini kembali hidup penuh mimpi. Ia tak pernah bisa menahan rasa sesak dikala masalah itu menghantam hati lembut Natalia.


"Tuan! mereka semua sudah setuju akan perintah anda."


"Hm. aku ingin semuanya lancar! jangan ada yang membantah atau menolak keinginan Istriku."


"Baik "


Fagan mengangguk memberikan pesan pada para kolega bisnis Natalia. Sam yang tadi sibuk di Perusahaan cukup geram dengan gempuran awak media tapi notiv dari Rani membuat ia meluangkan waktu padatnya.


Ia tahu Natalia tak akan meminta apapun darinya sebelum ia yang mengerti harus apa.


"Satu lagi!"


"Apa? Tuan!"


Tanya Fagan menatap Sam yang menatap lurus kedepan dengan wajah misterius. Entah apa yang ia pikirkan Fagan pun sulit menebak.


"Lumpuhkan wanita itu."


"A..Apa?"


"Dia tak lagi berguna."


Ucap Sam menyeringai. Ia sudah tahu siapa saja yang telah ikut dalam rencana bengis menghancurkan Keluarganya dan ia tak lagi butuh wanita itu.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2