
Tatapan ngeri Natalia terlihat gemetar bersembunyi dibalik dinding dingin yang menjadi saksi bisu tindakan kejam seorang pria yang sedari pertama memang sangat kasar. Natalia bersembunyi dibalik dinding pembatas ruang bawah tanah yang terdengar jelas gema jeritan seseorang.
"Wa'ng !!!" Suara keras Daychi terdengar membuat Natalia gemetar memeggang perutnya.
Ruang basah lembab dan remang itu tampak dikelilingi para anggota Ryoto yang hanya diam berdiri tegap penuh ketegasan. Mereka membiarkan Sersan-nya memberikan pelajaran pada anggota yang berkhianat karna memata-matainya.
"A..Ampun S..Sersan!" gugup Pria bernama Wa'ng itu. Ia tertangkap basah ingin mengirim informasi pada Klan musuh soal keadaan Klan mereka. Tapi sayangnya Zuan yang menjadi kaki tangan Daychi tak semudah itu dibohongi.
Daychi begitu geram bahkan sangat kelam. Ia memeggang benang besi ditangannya berdiri tepat didepan kepala Wa'ng yang bersujud padanya.
"Pengkhianat bukan dari Klanku!"
Krett..
"Aaaa...S..Sersan!!!"
Mereka hanya diam membiarkan Daychi menginjak kepala pria itu dengan sangat kuat membuat wajahnya begitu hancur bergoresan dengan lantai kasar ruang penyiksaan ini.
"S..Sersan!!!"
"Bajingan!!"
Daychi dengan kilat mengunci leher pria itu hingga langsung tercekik akan kekuatan kaki kekar Daychi yang meremukan nyawa dan tulangnya. Darah itu mengalir dari mulut sang tawanan dengan mata terbelalak membiru. benar-benar mengerikan.
"Kau.."
Brugh..
Terdengar suara jatuhan barang membuat Daychi tersigap dan para anggota bergegas menyeret mayat pria itu ke penggilingan untuk makanan Metina. Zuan menoleh kebelakang dengan mata menajam menduga itu musuh tapi Daychi terdiam sejenak melempar benang besi yang sudah berlumuran darah.
"Sersan!"
"Cih! urus ini."
Zuan mengangguk menunduk membiarkan Daychi melangkah kebelakang menuju pintu masuk. Anggota membawakan tisu hingga ia mengelap tangannya yang ada sisa darah pria tadi.
Sementara Natalia. Ia terlihat gemetar memperbaiki Vas bunga dan beberapa buku yang jatuh diperbatasan dinding tadi. Ia mengusap keringat di keningnya lalu bergegas ingin pergi.
"Kemana?"
Degg..
Natalia terlonjak kaget dengan suara dingin penuh kelicikan itu membuat bulu-kuduknya merinding. Ia masih belum berbalik dengan satu tangan memeggang perut besarnya mencoba meredam rasa takut.
"Aku mendengar suara barang jatuh!" pancing Daychi memainkan Vas bunga yang retak didekatnya.
"T..Tuan!"
"Kau melihat kucing?" tanya Daychi tak melepas tatapan netra sipit mempesonanya dari Natalia yang perlahan menoleh dengan wajah tertunduk.
"K..Kucing?"
"Hm. mengendap, menyelinap, dan .."
"A.. iya, tadi..tadi sudah lari k..kesana!"
Elak Natalia menunjuk kearah dinding disamping membuat dahi Daychi mengkerut menatap kearah sana.
"Dinding?"
"A.. t..tidak. ma..maksudku di..di.."
Natalia gugup saat melihat Daychi melangkah mendekatinya membuat ia mundur. Ia tadi tak tahu kalau jalan ini mengarah ke perbatasan dinding ruang bawah tanah dan ternyata Daychi tengah..
"Kau mendengar sesuatu?"
__ADS_1
"T..Tidak!" jawab Natalia menggeleng terus mundur tapi sayangnya langkah lebar Daychi sangat kokoh.
"Kau yakin?" mata Daychi menyelidik membuat Natalia hampir saja mau tergelincir tapi dengan cepat lengan kekar Daychi menarik pinggang Natalia yang langsung masuk dalam pelukannya.
"Tuan!!!"
Natalia mendorong cepat Daychi menjauh lalu bersembunyi dibalik tiang di belakangnya dengan wajah memucat.
"Kauu!!"
"J..jangan pegang-pegang."
Gugup Natalia waspada membuat Daychi yang tadi mulai ingin membentak-pun segera membuang nafas kasar. Ntah apa yang membuat Herchier Jerman itu jatuh cinta pada wanita ini? bisanya hanya menangis, lemah dan mudah pingsan. Tapi ntah kenapa Daychi suka dengan wajah takut dan waspada Natalia padanya.
"Hm. Kembalilah kekamarmu!"
"Kamar?" gumam Natalia tak bersemangat.
"Kamar? mau di kandang Metina?"
"T..tidak..! aku..aku kekamar!"
Jawab Natalia dengan pelan melangkah kearah tangga memeggang pinggangnya yang nyeri terlalu lama berdiri. Tubuh Natalia tampak sedikit berisi menambah kesan gemoy begitu imut.
Daychi menatap lama wanita itu seakan menjaga setiap langkahnya. Zuan yang melihat dari belakang-pun mulai merasa aneh. Kenapa Sersan-nya tak membunuh wanita ini? padahal Natalia mengandung benih musuh dan Natalia juga istri kesayangan pria itu.
"Sersan!"
"Hm."
"Maaf, tapi kenapa dia tak anda siksa seperti dulu?"
Zuan segera menunduk saat tatapan membunuh Daychi mencekik nafasnya. Daychi tak memberi jawaban selain melangkah pergi kearah dimana tadi Natalia keluar.
Sementara Natalia. Ia sama sekali tak ke kamarnya melainkan ke lantai dasar menuju taman. Matanya tak mau dipejamkan dia harus ke tempat yang sudah ia buat selama berbulan-bulan ini untuk mengisi waktu.
"Sutt!"
Natalia membekap mulut Emi yang mau melarangnya keluar. Emi adalah pelayan yang selama ini mengurusnya dan Natalia sudah akrab dengan wanita ini.
Natalia membawa Emi ke pintu samping menuju taman seraya menatap kesekelilingnya.
"Diam!"
"Xiaojie! anda.."
"Sutt! nanti Sersan-mu datang." bisik Natalia bersembunyi membuat Emi mengangguk. Xiaojie berarti Nona, ia memanggil Natalia dalam bahasa China.
"Xiaojie! kenapa anda keluar?"
"Aku bosan dikamar. hanya ditaman aku rasa tak masalah."
Jawab Natalia dengan riang melangkahkan kakinya menuju tanah Taman yang dipenuhi bunga mawar dan kuntum cantik yang sudah merambat rimbun. Tak sia-sia ia berkebun selama ini.
Markas bagian Klan Ryoto masih di Indo. tapi tempat ini ada di pelosok hutan membuat Natalia selalu dijaga dengan pengawalan. Walau begitu Natalia paham karna ia sudah biasa akan aturan ini ketika bersama seseorang.
"Emm. apa aku boleh bertanya?"
"Silahkan. Xiaojia!" ucap Emi yang beparas khas negara tirai bambu itu.
"Apa Sersan-mu punya kepercayaan?"
"Saya tak berhak menjawabnya!" sopan Emi tak mau mengungkap identitas Sersannya membuat Natalia manyun. Ia kembali asik memetik bunga mawarnya sesekali berbicara dengan Malaikat kecil diperut buncit itu.
"Nanti kalau sudah besar jangan jadi seperti paman tadi! ingat kata-kata bunda."
__ADS_1
"Sersan dan suamimu sama saja. Xiaojie!"
Batin Emi menggeleng. Namun, ia merasakan ada yang memantau sedari tadi membuat tatapannya menajam kearah sekeliling taman kecil ini. Hutan belantara didepan sana membuat Emi bersiaga.
"Nona!"
"Hm?" Natalia masih asik dengan bunga mawarnya.
"Cepat masuk!"
"Kenapa?" Natalia kesal.
"Masuk! ada musuh yang mengintai."
Mau tak mau Natalia pasrah kembali masuk dengan Emi yang mengisyaratkan pada anggota bayangan untuk melihat ke pelosok hutan.
Tentu itu adalah seorang bocah kecil yang langsung berlari menjahui tempat ia memanjat. Pengawal gelap dibelakang sana mengejarnya tapi kelihaian bocah itu membuat mereka cukup geram.
"Kenapa bisa lolos mata-mata mereka." umpat keduanya memblokade akses keluar dari hutan rimba ini. Bocah berpakaian pemburu itu telah menghilang digumpalan semak sana membuat mereka sudah menerka ini anak buah siapa.
.......
"Tuan!"
Fagan dengan cepat mendekati Sam yang tengah meretas semua jalan yang dulu Natalia lalui. Nafasnya tercekat saat menemukan kasus kematian Bibik Mina di kereta tua tempat pembuangan dan ia yakin ini semua ada kaitannya dengan Natalia dan Klan Ryoto yang mengincar Istrinya.
"Dia menemukan sesuatu?"
"Dia mengirim hasil pantauannya!"
Fagan menunjukan Tab-nya ke meja Sam yang dengan cepat membukanya. Matanya begitu tajam menelisik diantara bagian rekaman teropong berteknologi tinggi ini. Dedaunan pohon itu diterobos dengan paparan suasana hutan dan penginapan yang terlihat sangat misterius tapi Sam tahu ini dimana.
"Itu Tuan!"
Sam menjeda rekamannya hingga ia memperbesar permukaan layar memperlihatkan dua wanita tengah berbicara tapi yang satunya memunggungi kamera.
"I..Ini.."
"Sepertinya itu bukan. Nona!" decah Fagan melihat perut wanita itu membuncit tapi Sam hanya diam mengamatinya dengan intens hingga tangannya mulai berkeringat saat melihat leher wanita ini. Jari Sam yang gemetar terus memperbesar dengan jantung yang berlarian.
"Tuan!"
"D..Dia..."
"Nona tak mungkin hamil! dia.."
"Ini Natalia!" Gumam Sam. Mendung itu memenuhi wajahnya terus mencari hal yang memperkuat dugganya. Fagan menyeringit tak tahu kenapa Tuannya begitu yakin.
"Tuan! Nona tak.."
"Aku yakin ini dia!! lehernya sama, tubuhnya sama, rambutnya sama!!!!!"
Bentak Sam dengan suara mengigil. Tidak. Natalia apa kau hamil? i..itu anak siapa, Sayang?
Wajah Sam pucat mencoba tenang. Ia tak bisa menunggu lagi, ia tak bisa menahan gejolak kerinduan ini terlalu lama.
"Aku.."
"Tuan!"
"Aku ingin memastikannya sendiri!"
Ucap Sam bergegas keluar seakan kesetanan.
.......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..