Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Temui aku malam ini!


__ADS_3

Mobil mewah itu melaju stabil melewati jalanan yang tak terlalu ramai disekitarnya. Teriknya mentari siang ini masih saja membakar kulit membuat Natalia yang ada didalam mobil itu menutup kembali kaca disampingnya. Ia tengah memangku Alfin yang juga ingin menemui Papanya, tapi sayangnya setelah bercinta begitu lama tadi Sam tak bisa ikut karna ada urusan penting di Perusahaan. Tentu Natalia tak masalah karna ia sangat lega setelah melayani hasrat sang suami yang sangat perkasa membuatnya mabuk kepayang.


Rasanya bayangan panas itu masih terlintas dipikiran Natalia yang senyam-senyum malu akan tingkah mesum Sam yang ingin ia memimpin terus.


"Bunda!"


Natalia tak sadar akan panggilan Alfin. Pandangannya terus kearah luar jendela membuat Rani dan Alfin saling tatap.


"Bunda!"


"Eh!"


Natalia tersentak saat Alfin mencubit kecil pipinya gemas membuat Rani mengulum senyum geli. Ia tahu apa yang membuat Nonanya sampai se-kasmaran ini.


"Kenapa?"


"A..Apanya?" gugup Natalia salah tingkah.


"Kenapa Bunda senyam-senyum? apa jangan-jangan virus pria itu sudah menempel?"


Seketika wajah Natalia memerah membuang muka tomatnya memantik seringaian dibibir Alfin. Ia sangat bahagia melihat hubungan Papa dan Bundanya semakin maju, sangat bahagia sampai ia ingin segera memiliki adik.


"Bunda!"


"Hm? ada apa. Sayang?" tanya Natalia mengelus kepala Alfin lembut. ntah kenapa Natalia sangat menyayangi bocah yang bukan darah dagingnya ini.


"Bunda bisa tidak wujudkan keinginan. Alfin?"


"Bisa! memangnya apa?" ringan Natalia tak menolak.


"Alfin mau adik!"


Degg...


Seketika Natalia terkejut bahkan ia hampir saja tersedak dengan wajah linglung mau menjawab apa. Itu adalah pertanyaan besar dan bukan ia yang harus menjawabnya.


"Bunda maukan?" harap Alfin besar.


"A.. itu.. Alfin! Bunda.."


"Aku mau adik! sangat mau."


Natalia menatap mata jernih Alfin yang berharap banyak. Hati Natalia-pun sama menginginkan mahluk suci itu tapi apa bisa? ia takut mengatakan itu pada Sam yang dulu pernah membahasnya tapi Natalia masih ragu.


"Bunda! apa Bunda cinta sama Papa?"


"A.. aku.."


Natalia sulit berkata-kata menatap Rani yang mengerti dengan respon Natalia.


"Tuan kecil! sebaiknya anda tanyakan itu pada Tuan Muda lebih dulu."


"Dia pasti mau. secarakan dia mesum tingkat dewa." ketus Alfin merasa jengkel karna tak ada yang mau menjawab perintaannya.


Melihat kemurungan Alfin. Natalia akhirnya menghela nafas halus mengecup puncak kepala bocah ini penuh kasih dan cinta darinya.


"Memangnya Alfin mau adik berapa?"


"Apa Bunda mau?"


Tanya Alfin berbinar dengan wajah bak kembali disirami air segar.


"Emm. kalau tuhan berkehendak, Bunda mau!"


"Alfin mau 3 sekaligus!"


Natalia langsung terkekeh mencubit hidung mungil ini gemas. Begitu semangatnya sampai mengucapkan hal seperti itu.


"Tapi, Bunda tak ada keturunan punya anak kembar 3, Sayang! kalau satu mungkin bisa."


"Kalau begitu satu! tapi, perempuan!"


Timpal Alfin semakin membara membuat dahi Natalia mengkerut menangkup pipi mungil mulus ini.


"Kenapa? apa tak mau laki-laki?"


"Tidak! nanti sainganku tambah banyak. Bunda!"


"Saingan?" Natalia masih belum mengerti membuat Alfin mendecah.


"Iya! Pria itu sudah menjadi saingan berat, dia selalu menculikmu dariku. lihat saja tadi, bermain pagi-pagi saja tak boleh. dia langsung mengurungmu dikamarnya."

__ADS_1


Gerutu Alfin kesal penuh kejengkelan. Tapi Natalia tak akan membiarkan sifat egois ini tumbuh dengan baik di batin Alfin. Ia tahu betul Alfin mewarisi sifat Mama dan Papanya. Qyara memang sangat arogan dan memiliki sifat egois yang tinggi.


"Jangan bicara begitu!"


"Kenapa? aku benar Bunda. kalau laki-laki nanti.."


Alfin menjeda kalimatnya dengan wajah gusar. Ia takut Natalia kebih menyayangi putranya nanti dari pada dirinya yang bukan apa-apa.


"Nanti apa?"


"Tidak ada! pokoknya aku tak mau adik laki-laki."


Kekeh Alfin menekuk wajahnya dingin menatap lurus kedepan. Sama seperti Sam saat sedang marah. melihat itu tentu Natalia merasakan kekhawatiran Alfin yang sebenarnya.


"Laki-laki itu tak buruk. Sayang!"


"Tidak! aku tak mau bunda."


"Alfin! dengarkan bunda untuk.."


"TIDAK!!!"


Teriak Alfin membuat Natalia diam dengan Rani yang bungkam. wajah Alfin mulai berubah kelam membuat supir yang melihatnya merinding. Itu tatapan kejahatan dari dulu yang kembali bangun.


"Tidak, ya tidak! aku tak mau punya adik laki-laki, kalau bunda tak bisa tak apa."


Natalia hanya diam membiarkan amarah Alfin kian mereda dengan tangannya yang terus mengelus punggung kecil ini.


"Aku tidak mau. Bunda!"


Tolak Alfin dengan suara bergetar membuat Natalia langsung menangkup pipi mulus penuh pesona putranya. Ia melihat genangan air dimata bocah ini semakin dalam.


"Sudahlah. sekarang jangan pikirkan apapun, hm?"


"Hm!"


Alfin mengangguk membenamkan wajahnya kebelahan dada empuk berbalut Dress angun itu. Dekapan tangan mungil Alfin sangat erat membuat Natalia sesak tapi tak mau meneggurnya.


"Bunda!"


"Hm?"


Natalia tersenyum simpul menghujami puncak kepala Alfin lembut. Tak akan terjabarkan bagaimana perasaanya pada seorang anak yang bukan darah dagingnya ini.


"Sangat! sudahlah, sekarang kita mau sampai! Alfin jangan marah-marah lagi, nanti pasean rumah sakit kabur." canda Natalia menghibur Alfin yang hanya tersenyum kecil kembali moment intensnya.


Setelah beberapa lama. Mereka sampai ke sebuah Rumah Sakit besar yang memang bergensi dan terpercaya. Tempat ini hanya menjadi lalu-lintas para Miliyarder yang ingin berobat.


Supir memarkirkan Mobil kedalam Loby besar bangunan ini. Ia turun membukakan pintu untuk Natalia yang berterimakasih lalu keluar menatap beberapa orang yang melihatnya penuh kagum sekaligus berbisik.


"Pak! jaga dulu disini. ya?"


"Iya. Non!"


Natalia memeggang tasnya dengan Alfin yang berjalan menggenggam tangannya. Rani menatap tajam orang-orang yang ada disekitar rumah sakit karna begitu terpengaruh akan gosip murahan diluar sana.


"Nona!" para penjaga Rumah Sakit yang tahu kedekatan Natalia dengan Sam mencari aman menyapa dengan hormat. Natalia-pun membalas tak kalah ramah masuk kedalam pintu kaca tebal yang sudah dibuka.


Banyak orang disini dan rata-rata dari kalangan atas. Alfin hanya acuh melihat pandangan tertuju padanya dan sang Bunda karna tak ada yang bisa melukai mereka disini.


"Ran!"


"Iya. Non!"


"Bawa duluan Alfin keatas!"


Rani tersentak akan perintah Natalia yang seperti menahan kencing.


"N..Nona.."


"Aku mau ke toilet!" jawab Natalia merapatkan pahanya membuat Alfin mengangguk.


"Alfin temani!"


"Tidak. Sayang! Alfin duluan saja, Bunda hanya sebentar."


Mau tak mau Alfin mengangguk melangkah pergi karna tempat ini aman.


"Haiss! kenapa harus sekarang?"


Gumam Natalia melangkah cepat menuju Toilet. Ia bertanya pada beberapa penjaga hingga mengantarnya kearah samping yang ada beberapa wanita bercermin.

__ADS_1


"Permisi!"


"N..Non!"


Mereka semua mulai berbaris lalu membungkukan tubuhnya seakan menatap seorang Ratu. Natalia mematung kosong dengan paha masih menjepit.


"Kalian kenapa?"


"Silahkan!"


Mereka membuka pintu Toilet seraya menyingkir mempersilahkan Natalia untuk masuk membuat tanda tanya besar dibenak wanita cantik itu.


"Silahkan. Nona!"


"A.. maaf. jangan begitu, aku.."


"Kami permisi!"


Mereka buru-buru melangkah pergi membuat Natalia heran sekaligus terkejut. Tumben ada yang seperti itu biasanya selaku menggosip.


"Aku harap kau tak gila lagi. Tuan!"


Gumam Natalia menggeleng mengingat Sam lalu melangkah masuk ke dalam Toilet. Ia meletakan tasnya diatas Wastafel dan mulai melakukan hal yang menjadi tujuan sedari tadi.


Drett...


"Haiss. sabar! aku mencuci ini dulu."


Gumam Natalia kembali bersiap dengan Dress cantik selutut itu kian menambah pesonanya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan itu..


"Dokter Andra?"


Gumam Natalia lalu menjawab panggilan seraya merapikan penampilannya.


"Hallo!"


"Lia!"


Suara berbinar seperti biasa.


"Ada apa?"


"Bisa tidak kita bertemu malam ini?"


"Untuk apa?"


Tanya Natalia mulai tak enak. Ia tak mau membuat Sam marah lagi apalagi pria itu sangat berjasa baginya.


"Ini soal Mamamu!"


"A..Apa?"


Natalia terkejut dengan wajah sangat tak mengerti.


"Yah! ini sangat penting, jangan sampai ada satu orangpun tahu."


"T..Tapi. apa?" Natalia ragu akan semua ini. Sayangnya kalau berhubungan dengan Mamanya Natalia tak akan bisa menahan diri.


"Ini tak bisa ku bicarakan melalui telpon! kau temui aku di Pantai dekat kota dan ingat JANGAN BERITAHU siapapun. kau mengerti?"


Natalia diam sejenak. Bagaimana bisa? ia tak mungkin merahasiakan ini dari Sam.


"And! aku tak bisa."


"Kenapa? ini tentang Mamamu. kau tak mau mengetahuinya?"


"Tapi..tapi aku...."


"Kau harus datang atau kau menyesal seumur hidup. Aku menunggumu!"


"And! aku tak .."


Tutt..


Sambungan mati membuat Natalia frustasi. Kalau ia tak datang, bagaimana kalau Andra memang punya hal penting yang akan mengubah sesuatu. Ia percaya kalau pria itu tak akan mengkhianatinya tapi jika pergi maka Sam bagaimana?


"Maaf. Sam! hanya kali ini." penuh sesal.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2