Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Dimana Sam?


__ADS_3

Mata wanita itu menatap nanar asap hitam mengepul dihadapannya. Tak ada lagi Bangunan megah yang biasa berdiri kokoh dengan fondasi yang utuh. Semuanya hangus menyisakan beton yang menghitam karna cairan kental panas itu.


Untung saja Tuan Hartono dan yang lain sudah dibawa ke Rumah Sakit oleh Anggota Sam hingga Natalia yang baru datangpun sedikit lega karna semuanya baik-baik saja walau ada yang tewas.


Tatapan Natalia mulai bergulir kesemua arah mencari seorang pria yang tadi meninggalkannya dengan alasan urusan penting. Natalia tak percaya Sam meninggalkan suasana bercinta mereka begitu saja kalau bukan terjadi masalah yang besar dan akhirnya Natalia mendesak Rani yang mau tak mau mengantarnya.


"Dimana Tuan?"


Tanya Natalia dengan wajah yang sudah muram terpukul akan ini semua. Ia menatap Rani yang sudah memucat karna tak tahu harus menjawab apa. Anggota lain juga tampak sibuk mencari sesuatu di sekitar Kediaman yang terbakar membuat hatinya mulai resah.


"Ran! Tuan dimana? lalu...lalu apa yang mereka cari?"


"Nona! i..itu .."


Rani terbata-bata menyebutkan hal sebenarnya yang ia tahu baru saja. Melihat itu Natalia benar-benar heran sampai mulai meratapi semuanya.


"Dimana Sam?"


"Nona! sebaiknya anda pulang. Tuan kecil masih.."


"Dimana Sam? dimana dia?"


Tanya Natalia membuat para anggota sana saling pandang bingung mau menjawab apa. Fagan terlihat acuh seakan kesetanan menyeok bara api yang masih terlihat panas.


"Dimana dia? Fagan!!!"


Fagan tak menjawab selain terus menyingkirkan beton yang menghalanginya. Wajah pria itu terlihat cemas dan tak percaya jika Tuannya sampai terluka tapi ledakan itu sangat besar. Mustahil jika Sam masih selamat.


"Tuan!!!"


Panggil Fagan frustasi seakan kehilangan cinta pertamanya membuat Natalia mulai gelisah berlari mendekat. Ia tak perduli jika tubuhnya masih memakai pakaian rumah sakit.


"Ada apa?"


"Tuan!!!"


Panggil Fagan lagi disisi gelap yang tak disinari cahaya lampu besar yang khusus dinyalakan untuk memulai pencarian. Atap-atap besi yang tak terbakarpun menyita perhatian Fagan yang hanya tahu ia harus menemukan pria itu.


"Tuan!!! aku...aku tahu kau masih hidup!"


"A.. Apa maksudmu?"


Natalia memucat mendengar teriakan Fagan yang mencengkram kepalanya untuk meredakan rasa khawatir ini. Ia yang semula selalu tenang seketika berubah panik.


"Apa maksudmu? ha!!!"


"Tuan ada didalam ledakan tadi!!!"


Degg...


Natalia terkejut bahkan tubuhnya hampir saja tumbang dengan Rani yang cepat menangkapnya. Mata Natalia seketika berubah berkaca-kaca menatap sisa lalapan api dihadapannya.


"A..Apa? d..dia.."


"Semua ini karna Pria sialan itu!!! dia yang brengsek!!! dan tak pernah mau kalah!!!!"


Bentak Fagan menendang apapun dihadapannya mengumpati Pria gila yang selalu membuat masalah. Dulu disaat keduanya masih remaja, perkelahian seperti ini sering terjadi dan sumber pertengkaran memang dari pria itu.


Deru nafas Fagan bergejolak dengan Natalia yang sudah lemas. Wanita itu mulai merasakan pusing dengan air mata yang menetes menatap nanar kegelapan disampingnya.


"T .Tidak! Sam! Sam kau ..kau tak mungkin seperti ini."


"Nona!"


"Saaam!!!! hiks, Saam!!!"

__ADS_1


Teriak Natalia kembali berdiri lunglai melangkah kedalam semak kering sana. Matanya sudah menumpahkan cairan bening itu dengan dada sesak menahan bayangan kelabu dikepalanya.


"Saaaam!!! kau..kau tak bisa begini, kau..kau tak bisa meninggalkanku. Saam!!!"


"Nona!"


Rani berlari menyusul Natalia yang beberapa kali terjatuh karna tubuhnya kembali lemas. Keadaannya tak begitu baik tapi malah ditimpa berita seperti ini.


"Kau ..kau jahat!!! kau pria jahat!!! aku...aku membencimu!!!"


"Nona! ini sudah dingin, ayo pulang!"


"Saaam!!!"


Jerit Natalia terus memecah keheningan dengan isak tangis membelenggunya. Bagaimana jika Sam memang terluka? siapa yang akan menemaninya disaat paling dibutuhkan? dan ia tak akan sanggup ditinggal seorang pria yang begitu berharga baginya.


"T..Tidak. Sam hiks! jangan..jangan begini."


Lemas Natalia menatap semua serpihan bangunan hingga mata Rani terbelalak saat hidung wanita ini kembali berdarah bahkan wajah Natalia bertambah pucat.


"N..Non!"


"S..Saam!"


Lirih Natalia lalu mulai kabur dengan pandangan yang berkeliling membuat Rani yang dengan cepat menopang Natalia untuk mengamankan wanita ini.


"Non! Nona!"


"S..Sam!"


Lirih Natalia menatap kearah kegelapan karna hatinya menuntun kesana. ini adalah area belakang Kediaman yang sangat Natalia kenal tepatnya didekat sumur tua dulu.


"S..Sam!"


"T..Tidak. itu ..itu Sam!"


Natalia menunjuk kearah tumpukan bangunan sana dengan nanar membuat Rani mulai tak bisa bertahan tetap bungkam.


"Non! biarkan anggota lain mencari Tuan. anda.."


"Aku mau bunuh diri kalau kau tak muncul!!"


Brakkk ...


"Awas!!"


Fagan menarik Natalia menjauh saat tumpukan beton itu diterjang oleh benda keras membuat kabut dari serpihan debu dan asap.


Natalia mengusap matanya yang perih sementara Fagan ikut menunduk menghindari serpihan debu yang melayang mengaburkan pandangan.


"S..Siapa?"


Gugup Rani karna bisa saja itu musuh yang kembali menyerang sedangkan Tuannya sudah tak ada. Walau ia tak percaya pria itu tiada tapi tetap saja sekarang keadaan yang sulit ditebak.


"ULANGI!"


DEGG...


Seketika mata mereka terbelalak menepis debu yang perlahan mengurai memperlihatkan sekilas tubuh kekar seseorang yang berdiri kokoh dihadapan mereka.


"S..Sam!"


Natalia berbinar melihat sepatu yang sama dengan yang dipakai Sam tadi dan suaranya juga. Ia bangkit dari tumpuan bahu Rani yang menunduk saat suara itu sangat menghakimi.


"S..Sam... kau ..kau!"

__ADS_1


"Non!"


Rani jantungan saat Natalia berlari menyongsong Tubuh kekar pria itu membelah asap dan debu yang sudah menyingkir karna hembusan angin malam.


Tubuh keduanya berbenturan dengan Natalia yang mendekap erat dada bidang Sam yang tak terluka parah. Hanya ada goresan dikening dan lengannya yang tak lagi memakai jaket.


"Tuan!! syukurlah kau baik-baik saja."


"ULANGI!"


Lagi-Lagi Sam menggertakan giginya menatap tajam Natalia yang bingung mau apa. Ia hanya fokus pada luka kecil dikening dan tangan Sam yang memeggang sesuatu.


"A..Apanya?"


"Bicaramu!" geram Sam sangat naik pitam mendengar ucapan Natalia yang asal.


"T ..tadi aku hanya takut. Tuan!"


"Kau selalu saja bertindak sesuka hati. Lari dari rumah sakit dan lihat hidungmu kembali berdarah!!!" Bentak Sam menyala-nyala.


"T..Tapi aku...aku takut. kalau..kalau Papa.."


"Aku sudah bilang. bukan? sekuat tenaga aku akan melindungi-mu. jika kau keluar sekarang, mereka bisa saja beralih menyerang-mu!!"


Geram Sam membuat Natalia menunduk. Ia meraih lengan Sam tapi ditepis pria itu sampai membuat bibir Natalia bergetar dengan mata kembali berair.


"Menangis! kau hanya bisa menangis."


"L..Lalu apa? kau bilang hanya itu keahlian-ku. kan?"


Tanya Natalia bergetar saat Sam mengusap hidungnya yang berdarah. Sekuat apapun Sam marah maka ia tak akan bisa tahan melihat Natalia seperti ini.


"Sudahlah! kau hanya bisa menyusahkanku, dasar kuman!"


Natalia tersenyum kecil akan kalimat ketus tapi sangat menyimpan rasa sayang untuknya. Natalia mengalungkan kedua lengannya ke leher Sam yang dengan ringan menggendong Natalia yang berkoala ke pinggangnya.


Sam masih menyembunyikan Bingkai foto ditangannya seraya menatap Fagan yang seakan hidup kembali melihat Tuannya baik-baik saja.


"Tuan!"


"Hm."


Sam memberikan benda itu penuh isyarat. Fagan terdiam menerimanya dengan dahi mengkerut tapi seketika ia paham saat mengingat apa yang telah Tuannya rencanakan.


"Apa dia sudah tahu?"


Gumam Fagan berfikir. Kenapa Tuannya terlihat tahu sesuatu dan itu dirahasiakan dari Nonanya.


Sementara Sam. sudah masuk ke mobil menyimpan benda kecil itu ke saku celananya. Natalia masih berpangku dipahanya dengan Fagan yang berlari menyusul mereka ke Mobil.


"Siapa yang membuat kau sampai begini?"


Tanya Natalia mengelus kening Sam yang mengambil tisu membersihkan hidungnya. Sam masih menutup rapat hal yang tadi ia dapat dengan dugaan sangat tepat. Natalia tak akan percaya saat Sam mengatakan hal yang selama ini ia curigai.


"Kau ingat pesanku?"


"Apa?" tanya Natalia membuat Sam melotot tapi ia segera ingat.


"Jika tak adalagi harapan. maka kembalilah pada suamiku, karna apapun keadaannya dia akan menerimanya. "


"Bagus! ingat itu."


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2