Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Khusus untuk kita!


__ADS_3

Satu Kediaman besar itu langsung dibuat sunyi oleh seorang wanita yang sudah lama tak kesini. wanita angkuh yang tak pernah memandang kelas bawah tengah berjalan gontai melewati para pelayan yang berjejer menyambut, mereka kira yang datang tadi Nona Muda Natalia tapi ternyata Nenek Sihir satu ini.


Tak ada yang berani bersuara selain membiarkan Qyara menatap ke lantai atas dimana tempat kamarnya dan Sam.


"Aku ingin kalian pindahkan barang-barang Natalia kekamar belakang."


Seketika mereka saling pandang dengan Kepala pelayan yang tak berani membantah. tapi Maya yang sudah sedari tadi pulang pun dengan cepat menyangganya.


"Maaf. Nona! tapi anda bukan lagi NYONYA disini."


"Kau berani, ha???"


Bentak Qyara melotot tajam tapi Maya tak lagi takut seperti dulu. ia memang sangat muak dengan wanita yang tak tahu diri dan selalu membuat masalah dimana tempat ini.


"Saya selalu menghormati anda. tapi jika anda ingin mengusir NYONYA MUDA dari kamar atas, maka saya tak akan tinggal diam."


"Yah, Nona! anda hanya 3 bulan disini."


Timpal salah satu dari pelayan lain yang masih takut-takut bicara membuat Qyara mengepal mendekati mereka dibaluti amarah.


"Dia bukan apa-apa disini! aku masih NYONYA, kalian mengerti!!"


"Tapi anda telah bercerai dengan Tuan Saya."


"Kau memang sialan!!!"


Qyara mengangkat tangannya ingin menampar Maya yang hanya diam tapi lengan wanita itu langsung ditahan oleh lengan kekar seseorang membuat mereka membisu.


"Jaga sikap anda!"


Suara geram Fagan yang seketika membuat para pelayan sana tak mampu bergerak. Fagan memang terkenal dengan sikap tegasnya yang selalu menjunjung titahan Tuan Mudanya.


"Kau!!!"


Fagan melepaskan secara kasar lengan Qyara uang dibuat sangat marah bahkan wajah cantiknya sudah merah meradang sedari tadi.


"Sesuai perintah Tuan Muda. anda hanya bisa tinggal, bukan menguasai!"


"Sam hanya bercanda. dia pasti tak akan seperti ini."


"Saya tak perduli. yang jelas jangan pernah melanggar aturan disini."


Tegas Fagan tanpa embel-embel Nona seperti biasa. Tuan Muda Sam memerintahkannya mengubah semua struktur kamar sampai membuat sesuatu yang luar biasa untuk Nona Natalia.


Qyara dengan arogan melangkah ke tangga atas menuju kamarnya. ia harus melakukan sesuatu agar Natalia pindah kekamar belakang dan ia bebas menikmati hidup bersama Sam diatas sini.


"Sialan. kau tak bisa menguasai Kediaman besar ini, Natalia."


Gumam Qyara disela tapakan kakinya keatas tangga. sesampainya diatas Qyara melewati kamar Alfin dan melangkah menuju kamarnya. Namun, dahinya mengkerut saat melihat para pelayan yang ada didepan kamarnya.


"Kalian!"


Para pelayan itu hanya diam lalu ingin pergi tapi Qyara kembali mencegahnya.


"Apa yang kalian lakukan dikamar,ku?"


"Nona! anda tak punya hak untuk bertanya."


Seketika Qyara kembali memanas mendengar kalimat itu. apa maksudnya? kenapa semua orang seakan tak lagi menghormatinya seperti dulu, tak ada rasa takut tapi malah menentangnya.


"Lihat saja. aku akan membuat kalian dipecat dan keluar dari Kediaman ini."


"Silahkan. Nona!"


"Kalian memang ingin mati. ha? Sam tak akan.."


"Tuan Muda Sam lah yang mengatur semuanya."


Mereka pergi membelakangi Qyara yang sudah ingin memaki semuanya. Namun, langkah mereka terhenti dan seketika beranjak ke pinggir dengan kepala tertunduk didekat tangga sana.

__ADS_1


"Bunda! Alfin pergi dulu, ya?"


"Mandi lalu turun kebawah, kita makan."


"Iya. Bunda!"


Alfin melangkah kekamarnya sedangkan Natalia tampak sudah berjalan pelan dengan pinggang ramping yang dibelit lengan kekar Sam yang terlihat menyimpan sesuatu, wajah pria itu tak semangat seperti biasanya.


"Tuan. saya bisa kekamar saya sendir..."


"Kamarmu bukan disitu."


Natalia terdiam dengan pikiran berkelana. maksudnya apa? sudah jelas kamarnya ada disamping kamar Alfin.


"Tuan Muda! semuanya sudah selesai!"


"Hm."


Para pelayan sana pergi dengan tatapan bingung Natalia yang tak tahu apapun, padahal ini sudah direncanakan Sam sebelum mengambil keputusannya.


"Tuan!"


"Diamlah!"


Sam mengiring Natalia menuju Lift didekat tangga tak jauh dari mereka, ia mengimbangi langkah pelan Natalia yang masih belum terlalu bisa berjalan bebas walau ia memeggang lengan Suaminya sebagai sanggahan.


"Sam!"


Seketika langkah mereka terhenti saat mendengar sapaan Qyara yang sudah melangkah mendekat kearahnya dengan wajah penuh kebencian.


"Sam, kamarmu disana!"


Sam hanya diam tak mau meladeni hingga masuk kedalam Lift tapi Qyara tak semudah itu didiamkan begini.


"Sayang! kamarmu bersamaku dan .."


"Jaga sikapmu! atau kau pergi dari sini."


"Sam! kau tak bisa memperlakukanku begini, aku masih punya hak atas harta dan.."


"Aku sudah memberikanmu semua aset yang kau mau. tak ada hakmu disini."


"Aku mau kita satu kamar dan..."


Sam sudah menekan tombol Lift hingga suara Qyara hanya ditelan besi baja yang ditutup ini. Natalia cukup terdiam akan apa yang barusan terjadi.


"Tuan!"


"Hm."


"Bukankah kamarmu dibawah?"


"Tidak!"


Natalia seketika menekuk wajahnya masam. Sam sangat aneh, saat ingin pulang tadi ia lebih memilih diam tanpa satu kata apapun yang dilontarkan secara berlebih.


"Kau kambuh lagi. Pak Tua!"


Batin Natalia kesal juga jengkel. tapi Sam hanya diam, pikirannya berkelut membayangkan apa yang tadi Natalia katakan itu membuat hatinya gelisah dan tak tenang. ia sama sekali tak menyukai Impian itu.


Setelah beberapa lama diam. suara pintu Lift terbuka membuyarkan keduanya untuk melangkah keluar dengan mata Natalia yang heran sekaligus kagum akan lantai atas yang lebih mewah dari yang bawah.


"Ada pilar-pilarnya!"


Gumam Natalia menyentuh pilar besar disampingnya. ia memang jarang keatas sini tapi kenapa desainnya sangat berbeda dari yang pertama, Gorden-Gorden mewah itu terbentang rapi dengan lantai keramik yang bersih dan Elegan. disini juga ada foto-foto Alfin dan Foto dirinya yang sangat aneh.


"Tuan!!!"


Pekik Natalia kesal saat melihat deretan bingkai Foto di dinding yang memperlihatkan foto-fotonya di setiap tempat, saat makan, merajuk, tertawa, bahkan menangis. semuanya lengkap membuat mata Natalia menatap Sam dengan geram.

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa panjang foto-foto seperti ini?"


Sam hanya menghela nafas memeluk Natalia dari belakang dengan mata yang mengamati setiap visual cantik yang berexspresi beragam. ia suka melihat semua respon Natalia yang diabadikan secara sembunyi-sembunyi olehnya.


"Kau langka!"


"Iya. tapi ini... aku menguap pun ada! ganti!"


"Ini Lantai khusus kau dan aku! tak ada yang melihatnya selain keluarga kita."


Ucap Sam enteng padahal lantai ini sangat luas. ada ruangan baca, ruangan santai dan masih banyak lagi. dan dinding-dindingnya selalu dipajang foto-fotonya dan Alfin.


"Ini tak adil!"


"Kenapa? hm.".


Tanya Sam berpangku dagu ke bahu Natalia yang mengamati foto-fotonya hingga ia menyeringai merencanakan sesuatu.


"Tidak ada."


"Jangan mencoba hal ceroboh."


Natalia hanya mengangguk dengan Sam yang mengiringnya menuju kamar yang ada diujung sana. desain pintunya begitu mewah membuat Natalia terpaku melihat gradasi emas yang terselip dinetranya.


"Tuan! kalau begini pasti Kediamanmu akan banyak didatangi pencuri."


"Diamlah!"


Jengah Sam geli membuka pintu kamar seraya memasukan Natalia yang langsung berbalik karna bingung kenapa ia tak masuk.


"Tuan!"


"Pergilah dulu, aku masih ada pekerjaan!"


"Tapi tadi kau bilang..."


Sam langsung membungkam kalimat Natalia dengan ciuman bibir yang menekan membuat mata wanita itu melebar dengan tubuh yang kaku.


Lagi-lagi Natalia menahan nafas membuat sudut bibir Sam terangkat mengecup lama bibir manis ini dan barulah ia melepasnya.


"Istirahatlah. jika butuh sesuatu kau bisa menelfonku!"


"I..Iya."


Kaku Natalia mengangguk malu dan gugup saat tangan Sam mengelus kepalanya lembut dan berbalik pergi kearah Lift seraya terlihat menelfon.


Wajah Natalia memanas merah dengan semberaut menjengkelkan itu terukir dipipinya. ntahlah terkadang ia tak bisa menahan diri untuk tak mencintainya.


"Sadar Natalia. Sadar! jangan menjijikan begini!!"


Teriak Natalia membekap wajahnya sendiri. ia tak sadar semua itu bisa dilihat seseorang yang tadi tengah dilanda kesibukan pekerjaan dan misinya sendiri tengah berdiri dilantai dasar dengan senyuman samar melihat layar ponselnya.


"Tuan!"


Fagan menyadarkan Sam untuk kembali pada pembahasan hingga pria itu memasukan kembali benda pintar itu kedalam saku celananya.


"Aku ingin kau mencari tahu apa penyebab kematian Ibu Istriku dan kenapa? semuanya sudah ada dimejaku malam ini."


"Baik. Tuan!"


Sam mengangguk datar lalu melangkah pergi. ia harus menyelesaikan semuanya karna ia ingin fokus pada Natalia dan satu rencana yang telah ia duga dari Dokter Sialan itu.


..


Vote and Like Sayang..


__ADS_1


Maaf ya say... masalah talak menalak author kurang ngerti. makanya author cari digeogle, kalau salah sih author nggak tahu nggak pernah belajar soalnya. mungkin yg bilang ini novel rasis ama menduakan tuhan terserah kalian.. toh ini yg dibilang beberapa orang.



__ADS_2