Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Mulai sakit-sakitan!


__ADS_3

Pagi ini sesuai janji mereka telah pergi ke Dokter kandungan untuk memeriksa kelahiran sang buah hati. Tentu yang sangat bersemangat adalah Sam dan Alfin yang tak mau ditinggal hingga mau tak mau Sam membawa putranya keluar rumah sakit tak begitu jauh.


Sesuai perkiraan Dokter Natalia akan melahirkan dalam beberapa hari ini. Karna tadi pagi Bumil itu sudah keluar masuk kamar mandi dengan keluhan bagian bawah perutnya sakit.


"Sayang!"


Sam menegur Natalia yang tak sabaran keluar dari Rumah Sakit karna ingin menemui Maya yang sangat ia rindukan. Mereka memakai mantel hangat karna cuaca sekarang termasuk musim dingin.


"Cepatlah! nanti Maya lama menunggu."


"Pelan-pelan!"


Cemas Sam menggenggam tangan lentik itu melangkah keluar menuju Taman rumah sakit yang besar jadi mereka bebas mau berkeliaran kemana saja.


Alfin sedari tadi asik melihat wajah bahagia Bundanya setelah diperiksa dokter tadi kalau adiknya akan lahir sebentar lagi.


"Sayang!"


"Hm?" Natalia meliarkan matanya menatap orang-orang barat khas eropa yang berselisih jalan dengan mereka. Mereka hanya memberi tundukan kecil pada Sam karna tak mau menganggu sama sekali.


"Sebaiknya kau jangan banyak berkeliaran! perutmu tadi sakit. Sayang!" cemas Sam yang sebenarnya tak mau keluar tapi Natalia yang memaksa.


"Tidak apa! lagi pula bosan di kamar terus, iyakan anak Bunda?" tanya Natalia pada Alfin yang mengangguk digendongan ringan lengan kekar Papanya. Ia tak lagi memakai infus karna sudah makan dari tangan Natalia.


Dari kejahuan terlihatlah Maya yang sudah menunggu didekat Taman dengan Fagan yang berdiri tegap seketika menunduk saat melihat mereka.


"Tuan! Nona, Tuan kecil!"


Maya ikut menunduk membuat Natalia mendekat tanpa segan memeluknya ramah membuat Sam menggeleng melihatnya.


"N..Non!"


"Hm? kau tambah cantik saja?" goda Natalia pada Maya yang memang manis dan cantik. Mata bulat dan hidung bengirnya begitu enak dipandang.


"Nona juga. anda sangat cantik dan selamat atas kehamilan anda."


"Hm. kau mau memeggangnya?" bisik Natalia membuat Maya melotot menelan ludahnya menggeleng tak mau lancang.


"Ayolah. memangnya kita ini orang asing!"


"N..Non!"


Sam langsung menarik lengan Natalia agar tak membuat kecanggungan. Ia mendudukan Alfin diatas kursi Taman dan beralih pada Natalia yang tak mau duduk tapi ia paksa.


"Duduk!"


"Haiss! lihat Papamu!"


Gerutu Natalia beralih memeluk Alfin yang kembali mengelus perutnya. Sam berdiri menatap Fagan yang mengangguk tahu akan isyarat Tuannya.


"Kau temani istriku!" pinta Sam pada Maya yang mengangguk.


"Yeess!"


"Awas. jangan aneh-aneh."


Tekan Sam mengecup kilas kening Natalia lalu melangkah menuju tempat duduk tak jauh dari sini. Sekitar hanya 10 langkah karna Sam ingin bicara serius dengan Fagan.


Melihat mereka pergi. Natalia langsung menarik Maya mendekat dan duduk disampingnya.


"Bagaimana? apa ada kemajuan?"


"M..Maksud an.."


"May! ayolah, kenapa kau jadi aneh? apa tak bisa panggil nama saja?" decah Natalia masam membuat Alfin menatap tajam Maya yang mengangguk.


"Baiklah. Lia!"


"Yeah! begitu!" jawab Natalia menepuk paha Maga yang memakai pakaian santai yang elegan.


"May! apa kau dan Fagan.."


"Tidak ada. dia atasanku dan aku bahawannya bahkan jauh dari kata itu."


Jawab Maya dengan senyuman membuat wajah Natalia terpantik nanar. Ia dulu tahu jika Maya dan Fagan memang terlibat pertengkaran disetiap saat tapi ia kira setelah 8 bulan lebih ini ada kemajuan.


"Apa dia itu kasar padamu?"


"Lia! memangnya kenapa kalau dia tak menyukaiku? biarkan saja toh dia itu orang yang sibuk." sambar Maya dengan wajah jenaka tapi Natalia tahu itu hanya senyuman kemirisan.


"Tapi, jujur kau menyukainya atau tidak?"


"Emm.. aku tak tahu." jawab Maya menoleh kearah samping dimana dua orang beda jabatan itu masih berbicara dengan mata Sam tak lepas dari Natalia.

__ADS_1


"Kau mencintainya. May! tapi kau hanya takut untuk mengungkapkannya." ucap Natalia mengusap punggung Mata lembut membuat Maya mencolos. Yah. memang ia mencintai Fagan tapi apa bisa? boleh ia jatuh hati pada atasannya sendiri sedangkan ia hanya pelayan. Fagan saja tak pernah memandangnya.


"Lia! wajahnya tak pernah baik jika menghadapku dan selalu datar seperti enggan dan jijik. Jadi.. yaah begitulah, lebih baik nikmati saja gajiku!" ucap Maya penuh canda darinya.


Natalia diam sesaat lalu tersenyum kecil melihat Alfin yang asik mencari tendagan adiknya didalam sana.


"Emm. Permisi Nona!"


Suara pria dan itu adalah Hendry yang menunduk dihadapan Natalia dengan membawa Paper-bag ditangannya. senyum Maya mekar melihat pria ini kembali.


"Hend!"


"May! ini pakaianmu tadi!" Hendry memberikan paper-bagnya membuat dahi Natalia mengkerut dan Maya segera paham.


"Ini pakaian ku yang basah tadi pagi! kami makan dan jusku tumpah, dan yaah.. Hendry yang mencarikan pakaian lain!"


"Ouhh. pilih sendiri. ya?" tanya Natalia menaik-turunkan alisnya menggoda Hendry yang tersenyum malu menggeleng.


"Tidak. Nona! ada pelayan toko yang membantu saya."


"Em. Terimakasih, Hend! bajumu pas dan keren!"


Hendry mengangguk suka melihat senyuman manis Maya yang memang menjadi Ikon terbaik dimatanya.


"Emm. Hend! kalau begitu bisa pesankan air minum. soalnya Alfin butuh banyak minum." sopan Natalia yang diangguki Hendry.


"Ajak Maya sekalian!"


"A...!" Maya ingin menyangga tapi Natalia menatapnya tajam hingga mengangguk berdiri. Semua itu tak lekang dari netra panas seseorang yang sedari tadi melihatnya.


"Aku pesan yang jeruk kalau Alfin air putih!"


"Baik!"


Keduanya melangkah pergi dengan Hendry yang berjalan beriringan membuat Natalia dan Alfin tos bersama akan rencana mereka.


"Uncel Fagan atau Uncel Hendry?"


"Uncel Fagan itu aneh! lebih baik Uncel Hendry, orangnya ramah." jawab Alfin menatap Fagan yang kembali fokus diseberang sana.


Lama Natalia bersenda-gurau dengan Alfin soal adiknya hingga mata Natalia menangkap sesuatu diujung sana. Tepat didekat jalan dibalik dinding rumah sakit.


Mata wanita itu berkaca-kaca duduk dikursi rodanya dengan seseorang yang ada dibelakang mengawalnya. Disaat netra keduanya berbenturan barulah Natalia sadar itu siapa.


Batin Natalia syok melihat keadaan wanita itu. Ia beralih menatap Alfin yang berbincang kecil dengan perutnya membuat hati Natalia mencolos. Apa dia merindukan putranya? apa benar atau itu hanya pura-pura.


Lama Natalia memandangnya hingga ia menghela nafas. Ia harus memastikan ini sendiri.


"Saam!!!" panggil Natalia pada Sam yang langsung mendekat tanpa menunda.


"Ada apa? ada yang sakit?"


"Tidak! tapi, boleh aku minta sesuatu?" tanya Natalia sesekali melihat ke ujung sana.


"Katakan!"


"Emm. aku mau beli makanan yang ada diseberang jalan sana."


"Baiklah!" Sam ingin memanggil pengawal tapi Natalia segera mencengkal lengannya.


"Maunya Papa yang belikan!" bujuk Natalia mengerijab bak kucing.


"Tapi.."


"Please! kalau mereka yang membelinya berarti mereka Papa dari ..."


"Ok Ok! berhenti bicara."


Decah Sam mengecup lama kening Natalia lalu melangkah kearah toko yang di inginkan istrinya. Ia mengisyaratkan para pengawal berjaga dengan Fagan yang ikut berdiri menatap diberbagai sisi.


"Mau kemana. Nona?" Fagan menyangga Natalia yang berdiri.


"Tolong panggilkan wanita diujung sana!"


Fagan menoleh hingga melihat wanita berkursi roda dan seorang pelayan yang menjaganya. Kemungkinan itu Pasean disini.


"Untuk apa? Nona!"


"Panggil atau aku yang kesana!"


Fagan mengangguk cepat melangkah mendekati wanita itu membuat kepanikan yang nyata. Wajahnya ditutupi masker hingga tak bisa dikenali dengan kacamata coklatanya yang telah dipasang padahal tadi tidak ada.


"Permisi!"

__ADS_1


"Maaf!"


Pelayan itu mendorong kursi rodanya menjauh tapi Fagan dengan cepat menghalangnya membuat Natalia tersenyum puas tapi Alfin tak tahu apa rencana Bundanya pada orang itu.


"Jangan takut. kau tak membawa senjatakan?" tanya Fagan yang diangguki wanita itu.


"Tuan. maaf! Nona saya .."


"Temui Nona saya sebentar! dia memanggil anda."


Wanita itu menggeleng membuat Fagan mulai tak sabar segera mengambil alih kursi rodanya membuat kepanikan pelayan dan wanita itu. Fagan mendorongnya menuju Natalia tanpa menghiraukan tatapan beberapa orang disekitarnya.


"Ini. Nona!"


"Kau kasar sekali!" gerutu Natalia menatap kesal Fagan yang hanya diam berdiri dibelakang kursi wanita itu menyelidiki apa dia membawa senjata atau tidak.


Alfin hanya menatap datar wanita itu. Ia tak sadar jika yang tengah duduk dengan keadaan tak berdaya itu adalah seseorang yang dulu membuangnya.


"Pergilah! aku mau bicara dengannya!"


"Baik!"


Fagan melangkah kembali ketempatnya tapi pistol disemua saku pengawal sudah siaga mengantisipasi tindakan nagatif.


"Siapa dia? Bunda!" tanya Alfin tak tahu membuat bibir wanita itu bergetar dengan air mata mengalir dibalik kacamatanya. Natalia tahu itu hingga ia kembali duduk berhadapan dan lekat.


"Aunty ini sedang sakit. coba Alfin peggang tangannya!"


"N..Natalia!"


Hati wanita itu bergetar dikala Natalia berucap lembut mengarahkan tangan mungil Alfin memeggang tangan lentik pucat milik wanita itu.


"Tangannya dingin!"


"Benarkan. Aunty ini lagi sakit, kalau ada orang sakit apa yang harus Alfin ucapkan?" ajar Natalia pada Alfin yang mengangguk.


"Cepat sembuh. Aunty! semoga bisa jalan kembali."


Wanita itu tak mampu membendung tangisnya. Ia tak pernah bisa menyentuh putranya dan baru sekarang ia rasakan kulit hangat ini.


"Pintar anak Bunda! sekarang cium tangan Auntynya!"


"Baik. Bunda!"


Alfin melakukannya hingga bahu wanita itu bergetar menahan isak dengan Natalia yang perlahan menggenggam tangannya membuat mata wanita itu terhenyak.


"Cepatlah kembali sembuh! impianmu belum usai."


"Em, hiks!"


Ia menangis membuat Fagan bingung. apa Nonanya memberi ucapan prihatin hingga wanita itu menangis?


"Sudahlah. lain kali kau.."


Natalia menjeda ucapannya dikala perutnya mulai serasa dicengkram.


"K..Kau.."


"A..***!!"


Natalia meringis mencengkram tangan wanita itu dengan satu tangan memeggangi perutnya membuat Fagan segera mendekat dengan Alfin yang panik melihat air yang mengalir disela paha Bundanya.


"B..Bunda, hiks! Bunda!!"


"No..Nona!"


Fagan terkejut dengan semua ini dengan wanita itu yang sudah dibawa pergi oleh pelayannya karna melihat Sam yang sudah ada didekat Gerbang.


"S..Sakitt!"


"Tuan!!! Tuan Saam!!!"


Teriak Fagan memanggil Sam yang terkejut melihat Natalia sudah merintih sakit hingga ia berlari mendekat menjatuhkan paper-bag ditangannya dengan Alfin yang digendong Fagan cepat.


"S..Sayang!"


"S..Sakitt! P..Perutku!" Natalia mencengkram bahu Sam yang dengan cepat menggendongnya membawa masuk menuju Rumah sakit. Wajahnya sudah mengeras dingin dikala air keruh itu sudah membasahi lengannya.


"Aass S..Sam, hiks!"


"Tenaglah! kau akan baik-baik saja."


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2