Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kecelakaan besar!


__ADS_3

Perdebatan satu keluarga itu masih belum juga usai. Qyara mendesak kedua orang tuanya agar menekan Sam untuk berbaikan dengannya tapi dengan cara apa? Tuan Ambana tak bisa berbuat banyak apalagi Perusahaan mereka tengah dalam kondisi tak baik-baik saja setelah Sam mencabut semua sahamnya.


"Pa! aku tak mau tahu, aku harus bersama Sam lagi." Qyara memelas dengan wajah penuh kesedihan. Mereka tengah duduk di ruang keluarga dengan Nyonya Divanti yang menemani suaminya.


"Qyara! salahmu sendiri, kenapa sampai membuat Sam semarah itu."


"Mama! aku tak salah, wanita kampungan itu yang mengambil suamiku."


Sangkal Qyara menatap Nyonya Divanti yang hanya diam. Ia sudah beberapa kali bertemu Natalia. Saat di pertemuan itu dan di beberapa tempat Pesta. Sikap yang ramah dan luhur, tak ada merujuk pada apa yang Qyara katakan.


Melihat keraguan dalam wajah Mamanya. Qyara langsung mengambil sikap agar kedua orang tuanya percaya.


"Ma, Pa! aku jujur tentang itu. Natalia sangat licik dan pandai bermain. saat aku tinggal disana, dia selalu menindasku agar tak bertemu Alfin."


"Benarkah?"


Tuan Ambana kembali terpancing. wajahnya terlihat geram akan ucapan Qyara barusan, wanita itu tak punya hak untuk melarang putrinya bertemu dengan Alfin.


"Iya. Pa! dia bahkan mengancam-ku untuk keluar dari Kediaman atau tidak dia akan membuat Sam menendang-ku dari sana."


"Sialan!! wanita itu memang benar-benar."


Umpat Tuan Ambana membuat mata Qyara yang berkaca-kaca terasa tak sia-sia. Senyumnya terangkat pelan dengan garis wajah puas.


"Cih! kau lihat bagaimana semua orang membencimu."


Batin Qyara licik. ia tak akan membiarkan Natalia hidup tenang bahkan tak akan pernah. Rencana besarnya telah dimulai. Musuh Sam yang sebenarnya juga sudah berhasrat menghancurkan pria itu dan ia tak akan lagi susah masuk kedalam kehidupan Sam.


"Pa. Ma! aku pulang dulu, ya? aku ingin melihat Putraku. walau entahlah.. Natalia marah-marah lagi padaku."


"Iya. Sayang! Papa akan bicara pada Tuan Anderson soal itu."


Qyara mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih menyambung pembahasan soal itu. Orang tua mana yang tak akan percaya pada anaknya? dan orang tua mana yang membiarkan putrinya diinjak tapi sayang, anak yang dibela bukanlah awal kebenaran.


"Nona!"


Manajer Bimo yang telah menunggu didepan pintu utama Megah Kediaman ini. pria itu menatap Nonanya dengan rumit tapi apalah dayanya yang tak bisa berbuat banyak.


"Transfer uang untuk wanita itu!"


"Tapi.."


"Lakukan!!"


Geram Qyara hingga Manajer Bimo mengangguk melakukannya. Uang di Rekening Qyara sedang masa tenggang karna Qyara tak lagi punya pekerjaan setelah di Black List kemaren. Sumber uang terbesarnya dari Sam juga tak lagi jalan karna pria itu menghentikannya.


Tentu Qyara tengah dibanting kenyataan. Impiannya sirna karna di keluarkan dari Agensi dan harapannya hancur ketika diceraikan Sam. Padahal pria itu gudang kemewahan hidupnya.


"Baiklah. aku harus ke Perusahaan suamiku."


"Non! saya sarankan anda jangan ke.."


Plakkk...


Satu tamparan itu langsung mengenai pipi Manajer Bimo yang dibuat terkejut sekaligus geram. Para pelayan yang melihat itu hanya bisa diam ketakutan karna Nona Muda tempramentnya ini sama sekali tak bisa diajak berteman.


"Kau itu hanya seorang Manajer dan sekaligus Pelayanku! kau ku Gaji dan selesai, kau tak ada hak untuk melawanku!!"

__ADS_1


"Baik. Nona!"


Jawab Manajer Bimo dengan kedua tangan mengepal. Perlakuan Qyara memang sangat merendahkan bawahannya. wanita ini tak pernah menganggap siapapun sebagai teman.


"Sialan kalian semua."


"Aku berharap kau tak bisa bergerak sebebas ini."


Rutuk Manajer Bimo membatin mengikuti langkah Qyara keluar dengan beberapa pengawal telah menyambut. mereka masuk kedalam Mobil yang dikendarai Manajer Bimo.


"Cepatlah!!"


"Iya. Nona!"


Manajer Bimo melajukan mobil sedikit cepat keluar Gerbang dengan wajah tak sabaran Qyara. ia sangat ingin bertemu Sam yang tak lagi memberinya kesempatan bicara bahkan pria itu tak pernah menatapnya lagi.


"Sialan!!! kau bisa cepat dari ini. ha?"


"Non. jika melaju kencang jalan didepan sana ramai. Nona!"


"Aku tak mau tahu. kau harus secepatnya kesana!"


Desak Qyara arogan membuat Manajer Bimo pasrah menambah kecepatan melewati beberapa orang yang beriringan dengan mereka. Kondisi Jalan Tol sekarang sangat ramai dan agak licin karna tadi terjadi guyuran hujan deras di Ibukota.


Disepanjang perjalanan. Truk pengangkut sampah dan Tangki-tangki besar berselisih dengan mereka membuat Qyara sangat muak mendesak Manajer Bimo kembali menambah kecepatan.


"Nona! ini sudah sangat cepat!"


"Kau pikir aku mau beriringan dengan Truk sampah itu? pikir dengan otakmu."


Manajer Bimo tak tahan lagi akan ucapan pedas Qyara hingga dengan lepas menginjak gas Mobil tanpa melihat kiri kanan. Perasaan dongkol itu membuat hati dan pikirannya panas membayangkan perlakuan buruk wanita ini.


"Ran! itu kenapa sangat cepat?"


"Ntahlah. Nona! apalagi didepan sana ada perbaikan Tol."


Jawab Rani yang dalam perjalanan ke Perusahaan Tuan Denis. Natalia terlihat khawatir terus celingak-celinguk ke berbagai arah mencari Mobil polisi agar menghentikannya. Karna bisa saja membahayakan orang lain.


"Apa disini tak ada Polisi?"


"Saya..."


Brakkkk...


"Mobilnya!!!!"


Teriak Natalia syok melihat Mobil itu menabrak keras Pinggiran Trotoar dan membanting kearah Truk disampingnya hingga keadaan jalan macet parah.


Supir Natalia membelokan stir gesit memutar arah saat Mobil dihadapan mereka sudah berhenti total saat Mobil mewah merek Lamborghini Veneno seharga 4,5 juta dolar AS itu terpental bahkan menghancurkan Marka jalan.


"Nona!"


Rani memastikan Natalia baik-baik saja tapi wajah wanita itu sudah memucat melihat kearah depan dimana semua mobil terhenti bahkan berkerumun. Ia melihat jelas Mobil itu hancur dan dipastikan penumpang didalamnya luka parah.


"A.. itu...itu ditolong!"


"Non!"

__ADS_1


Natali sudah membuka pintu keluar berlari mendekati kerumunan membuat Rani mengumpat juga ikut keluar dengan Supir yang mengisyaratkan kekanan dan kirinya dengan lambaian tangan hingga segerombolan pria bersetalan jas itu keluar dari mobil mereka berlari mengawal Natalia yang tampak pucat dan khawatir.


"Siapa? itu siapa yang kecelakaan?"


"Aku tak tahu. sepertinya mereka tak selamat."


Ucapan para masyarakat yang berkerumun membuat Natalia menerobos karna tak ada yang mendekati Mobil yang sudah hancur itu. Bahkan Bodynya terguling dengan asap keluar dari mesinnya.


"Kenapa kalian diam saja?? cepat keluarkan mereka!!!"


Teriak Natalia sangat geram karna orang sebanyak ini hanya menonton bahkan merekam semua itu. Salah satu wanita yang menggendong bayi itu mendekati Natalia yang tak perduli akan pandangan semua orang padanya.


"Kau pelakor itukan? lebih baik kau saja yang menyelamatkannya."


"Mobil itu akan meledak. Nona! kami tak bisa mendekat."


Timpal yang lain menjahui Mobil itu membuat Natalia tak bisa bertahan untuk tak membantu.


"Nona!! jangan mendekati itu!!"


"Persetan dengan kalian semua."


Umpat Natalia pada mereka yang tiba-tiba bersimpati saat melihat para Pengawal yang melesat maju menarik lengan Natalia untuk kembali menjauhi serpihan Mobil.


"Nona!"


"Tolong! jangan diam saja!!"


"Kami yang akan bekerja, anda bisa tenang menjauh dari sini!"


Ucap Hendry yang memang mengawal Natalia dari jauh. Ia mengisyaratkan pada para pengawal lain untuk melihat Mobil itu walau ia tahu siapa yang ada didalamnya.


Mobil Polisi dan Media-pun mulai berdatangan membuat keadaan semakin ramai. Rani menarik Natalia ke tempat yang aman dimana 3 pengawal masih menemani mereka.


"Ya. Tuhan darahnya."


Gumam Natalia memucat melihat darah berceceran diaspal dan kaca yang berserakan. Nafasnya tercekat dengan tungkai yang lemas tak bertulang seakan bayangan kecelakaan Mamanya melintas dibenak Natalia.


"M..Mama!"


Gumam Natalia dengan mata berkaca-kaca dan wajah pucat pasih menatap nanar jalanan yang hancur dan Mobil yang tengah ditangani Aparat Kepolisian. Jantungnya berdebar dengan rasa sesak mengumpul didadanya menjadi satu..


"Nona!"


Rani memeluk tubuh Natalia yang lemas bahkan deru nafas wanita ini sudah lemah membuat Rani panik bahkan 3 Pengawal tadi langsung menggendong Natalia cepat karna mata Natalia sayu-sayu terbuka.


"Maaf, Nona. kami terdesak!"


"M..Mama!"


Lirih Natalia gemetar masih terbayang jelas membuat tubuhnya benar-benar lemas. Darah itu mengalir dihidung Natalia mencegat nafas Rani dan mereka semua.


"Cepat bawa ke mobil!"


Desak Rani yang setengah berlari mengikuti langkah pengawal yang dengan cepat memasukan Natalia ke Mobil mereka dengan Rani yang seakan kesetanan masuk mengambil tisu mengelap darah dihidung Natalia.


"Cepatlah!!! kita bisa mati ditangan Tuan!!"

__ADS_1


"Baik!"


Vote and Like Sayang..


__ADS_2