
"Kalian siapa???"
Talita terkejut saat 3 orang pria dengan paras sangar itu menghadang langkahnya menuju ruang Make-up disamping sana. ia berdiri ditengah-tengah koridor Apartemen yang digunakan sebagai penginapan untuk melakukan Syuting pagi ini.
Salah satu pria bertopi hitam itu mendekati Talita yang dibuat melangkah mundur menyusuri dinding disampingnya. sialnya tak ada satupun orang yang lewat atau keluar dari kamarnya untuk membantu.
"Kau harus bertanggung jawab!"
"M...Maksudmu a...apa?"
Gugup Talita terus melangkah mundur hingga Delon yang menjadi pemimpin suruhan Bosnya itu langsung menarik lengan Talita yang ingin berteriak tapi dibekap 2 anggota lainnya.
"Emmm!!!!"
"Cepat bawa dia keluar!"
Titah Delon dengan kasar menarik Talita menuju tangga darurat dengan dua anggota lain mengawasi situasi seraya memberi pesan pada Bosnya untuk Stand-by ditempat.
Mulut Talita dibekap kuat sampai wanita itu kesulitan bernafas bahkan. ia sudah mencoba untuk memberontak tapi ia malah semakin dibekap keras sampai menekan wajahnya.
"Ehmm!!!!"
"Kau memang mencari masalah."
Delon menggeram. pria dengan rambut ikal berwarna hitam itu terus menyeret Talita turun menapaki tangga demi tangga. kaki Talita benar-benar terasa terkilir dipaksa melangkah cepat padahal tangga ini sangat panjang.
"Tak ada penjaga dibawah."
"Cepat!!!"
Delon benar-benar kasar menarik lengan bahkan bergantian dengan rambut Talita yang tak bisa berbuat banyak selain menurut walau umpatan dihatinya tak kunjung lepas.
"Sialan!!! meraka merusak tubuhku!!"
Umpat Talita disepanjang jalan hingga akhirnya mereka sampai ke tangga terakhir dengan kaki Talita terasa mau patah dan remuk dipaksa begini. pintu terakhir dihadapan mereka dibuka hingga memperlihatkan punggung seseorang berjaket kulit dengan Topi hitam menutupi rambut memutihnya.
"Bos!"
Delon mendorong kasar Talita kedepan membuat wanita itu lansung membentur lantai kasar dibawah tepat dibelakang kaki Renom yang langsung berbalik kebelakang dengan wajah murka.
"K..Kau..."
Plakkk...
Tamparan keras itu melayang kewajah Talita yang seakan dipukul dengan kayu keras memutar lehernya kesamping. dengungan itu mengalir dikepalanya dengan hidung yang mulai menghangat meneteskan cairan kental.
"BERANI KAU MENIPUKU!!!"
"M..Menipu?"
Lirih Talita tak mengerti mengangkat wajahnya menatap Bos Renom yang tampak mendidih melihat wajah Talita yang sangat memantik kemarahannya. karna wanita ini kehidupannya akan hancur dan tak akan bisa di bangun lagi.
"KAU MENGIRIM WANITA YANG TERNYATA ADALAH BAGIAN DARI MUSUHKU! KAU BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALANYA!!"
Renom kembali menampar Talita dengan keras membuat wanita itu benar-benar merasakan sakit disekujur tubuhnya. tak ia sangka kalau Natalia akan selamat dan kenapa sekarang ia yang menjadi tawanan?
"Tuan! dia..dia wanita biasa. aku menjaminnya."
"Wanita biasa? tak ada satupun wanita biasa jika anggotaku sampai mati ditempat karenanya!!!"
Talita dibuat terkejut bahkan matanya begitu membulat akan pernyataan Bos Renom. m..maksudnya apa? siapa yang melindungi Natalia?
Pikiran Talita tertuju pada Dokter Andra karna hanya pria itu yang terlihat perduli tapi ... tapi tak mungkin. Dokter Andra saja tak pernah menemukan wanita itu apalagi...
"Kau harus membuat wanita itu membujuk Prianya untuk tak menghancurkanku atau kau akan menjadi wanita terburuk yang pernah ada."
"T..Tapi .."
__ADS_1
"Waktumu hanya sedikit. jangan sampai kau menjadi penggantinya!"
Bos Renom lansung melenggang pergi dengan penjagan ketat dari anggotanya meninggalkan Talita yang masih terkulai tak berdaya diatas lantai dingin sana dengan tatapan mata kosong sekaligus penuh amarah.
Kedua tangannya mengepal saat wajah cantik dan paras luar biasa Natalia melayang dibenaknya.
"NATALIA!!!!"
Teriak Talita melontarkan hawa panas. wajahnya yang bengkak mengigil menahan kebencian bahkan kobaran dari mata penuh dendam itu tak lagi disembunyikan.
"Kau selalu menjadi sumber masalah!!! kau harus mati!!! mati sialan!!!!"
.......
Diruangan sunyi yang luas. semua benda mewah bersemayam ditempat ini dengan berbagai lekuk tempat untuk meletakan barang-barang berharga fantastis. desain yang elegan terkesan begitu mewah sampai dindingnya dilapisi ukiran emas yang sangat cantik.
Foto Pernikahan yang ada diatas dinding utama terlihat ditonjolkan dengan dua pasang manusia berparas memukau tengah memancarkan binar kebahagiaan. tapi foto itu sangat dingin dan tak beraura sama sekali.
Namun. yang jadi pusat perhatian adalah sebuah ranjang King-size. menampung 3 manusia yang semalaman tak tidur dan pagi ini keduanya sudah lelah menahan mata untuk terbuka dan tak bangun sampai jam menunjukan pukul 9 pagi.
"Emm."
Lirihan kecil dari sela bibir mungil berisi itu muncul dikala kepalanya terasa ditimpa hantaman batu besar. keringat dingin dikeningnya mulai muncul saat rasa sakit itu terasa begitu mencengkram kepala dan perutnya.
"M..Mama!"
Sam yang tengah tertidurpun langsung tersentak saat tangan Natalia yang ia genggam bergerak mencengkram perutnya sendiri.
"Lia!!"
"M..Mama!"
Lirih Natalia masih dengan mata terpejam dengan ringisan disela nafasnya membuat Sam seakan tertikam keadaan.
"Fagan!!!!!"
"M..Mama."
"B..Bunda."
"Alfin. panggil Dokter kesini!"
Alfin yang tadi tersentak akan bentakan Papanya lansung berlari keluar memanggil Dokter Grely yang menginap di Kediaman ini. sementara itu Sam mencoba membangunkan Natalia yang masih saja melirihkan kata MAMA dengan sangat lemah dan beegetar.
"M..Mama hiks! M..Mama!"
"Lia. hey! Lia kau ... kau jangan membuatku. takut!"
Sam terlihat sangat khawatir bahkan tak mampu tenang terus berteriak memanggil Dokter Grely yang menerobos masuk dengan Fagan yang juga membawa beberapa Dokter Ahli.
"Tuan!" .
"Tubuhnya panas. cepat kau periksa!!"
Dokter Grely dengan cepat mengeluarkan Stetoskopnya dan langsung memeriksa Natalia yang terlihat benar-benar pucat.
"M..Mama!"
"Nona. anda mendengar saya?"
"M..Mama.. Mama jangan.. jangan tinggalkan Lia. Mama!!"
Natalia lansung terbangun dengan nafas memburu dan mata kabur menggenang menatap kesemua arah ditempat ini seakan tak melihat mereka semua.
"M..Mama! M..Mama.."
"Nona."
__ADS_1
"M..Mama.. d..dimana. Mama?"
Tanya Natalia memaksa untuk duduk hingga perutnya kembali dililit bahkan terasa ditusuk membuat rasa sakit yang begitu mendenyutkan.
"M..Mama hiks. Mama.."
"Nona. tenanglah. anda tak sendirian disini!"
"M..Mama.."
Sam langsung menarik Natalia kedalam dekapannya dengan pertanyaan Natalia yang mencari Mamanya.
"M...Mamaku. tadi ...tadi aku .."
"Suttt! tenanglah, jangan begini."
Sam mendekap hangat Natalia yang masih mencari-cari dimana Mamanya karna tadi ia melihat wanita itu.
"T..Tuan. M..Mama.."
"Suttt! aku disini, kau tak sendiri."
Natalia termenung kosong hingga membuat pandangan mereka menjadi sendu. terlihat sekali tatapan matanya begitu merindukan soskk sang Mama yang memjadi penyemangatnya selama ini.
"S..Sam."
Satu kata yang membuat pandangan Sam melemah bahkan begitu tunduk. lirihan penuh kelembutan tapi tersirat pertanyaan dari netra hangatnya.
"M..Mama?"
"Dia ada disampingmu. hm?"
Natalia langsung tercekat kembali sadar dengan dunianya. ia menatap Sam dengan pandangan penuh rasa sakit hingga air matanya kembali menetes pilu.
"M..Mama..hiks."
Sam mengisyaratkan mereka untuk keluar hingga perlahan Dokter Grely mengiring Teamny keluar memberikan ruang bagi Natalia untuk tetap menatap kedepan.
"M..Mama hiks. Mama!"
"Kau sangat merindukannya?"
Natalia mengangguk dengan mata kaburnya yang semakin ditutupi embun kepiluan. ia lupa kalau wanita itu sudah tak ada disampingnya bahkan melihatnya saja ia tak bisa.
"Sudahlah. matamu bisa semakin kabur."
Natalia hanya diam membiarkan Sam menghapus air matanya dan menyelipkan anak rambut disela telinganya. jempol pria ini mengusap pipi basahnya dengan lembut penuh kehalusan.
"Tuan!"
"Hm?"
"Tinggalkan aku sendiri."
Sam terdiam melihat wajah Natalia berubah datar dengan pandangan yang tak ia mengerti. tapi, karna tak ingin membuat keadaan Natalia semakin parah Sam langsung meredam egonya.
"Kau tak sendirian. banyak orang yang selalu bersamamu walau tak terlihat nyata."
Ucap Sam mengelus kepala Natalia yang hanya diam tak menjawab sama sekali hingga akhirnya Sam melangkah turun dengan berat hati meninggalkan wanita itu dalam keheningan.
Sesekali ia terlihat menoleh kebelakang memastikan keadaan Natalia baik-baik saja.
"Mama!"
Lirih Natalia memejamkan matanya dengan kedua tangan mengepal. bayangan dimana perbuatan Talita padanya begitu keterlaluan bahkan sampai ingin menjualnya pada laki -laki hidung belang itu tak lagi bisa ia tahan.
"Maafkan Lia. jika melupakan persaudaraan ini!"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang