Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Model Perusahaan?


__ADS_3

Diruang Tamu itu terlihat perbincangan serius antara kolega-kolega bisnis yang membicarakan tentang keseriusan dalam Perusahaan yang semangkin genting. Tuan Bajrani dam Anjaya tampak saling bertukar pikiran tapi berbeda tujuan.


Tuan Anjani ingin agar Perusahaan Bilions melirik Perusahaannya sebagai citra bersahabat sedangkan Tuan Bajrani ingin Presdir Sam mempercayakannya dalam berbagai pemilihan Model Iklan dan termasuk ingin mempermudah urusan dengan Perusahaan Bilions.


"Presdir! bagaimana keputusan anda?"


"Yah. kami butuh kepastian secepatnya apalagi Produk kita akan Launching secepatnya."


Timpal Tuan Anjaya sopan dihadapan Sam yang tampak santai dengan gestur Coolnya. ia tengah memakai kemeja lengan panjang dan celana formalnya seperti biasa. tatapan matanya terus terlihat santai tapi ia masih tenang tak banyak menunjukan ketergesaan yang bisa saja akan menimbulkan niat buruk dari mereka semua.


"Akan ada Model baru yang akan menggantikannya."


"Model? saya bisa mencarinya dan.."


"Aku sudah menemukannya."


Tegas Sam menbungkam kalimat Tuan Bajrani yang tadinya sangat menunggu kesempatan ini seketika dibuat mengepal akan ketelitian Sam. ia pikir dengan desakan mereka maka Sam akan membiarkan kendali dipegang olehnya.


"Tapi.."


"Kau keberatan?"


"A.. tidak. Presdir! saya setuju."


Tuan Bajrani mengalah hingga Tuan Anjani hanya mengangguk menyetujui dan berdiri untuk memutus kontak mata terlalu lama. ia tak berani bertanam disini karna auranya sangat tak manusiawi.


"Kalau begitu saya permisi. Presdir!"


"Hm!"


Para Pengawal langsung mengantar mereka kedepan Bangunan mewah yang dijaga ketat ini hingga mata Sam melihat kilatan tangan yang begitu cepat dari Tuan Bajrani yang berbalik kebelakang melepaskan tembakan kearah Sam.


"Tuan!!!"


Para pengawal mengelilingi Sam yang sama sekali tak dicapai timah panas itu bahkan pria gagah dengan kesan Bule Jerman itu hanya santai duduk diatas sofa singelnya bertopang kaki angkuh menatap dingin Tuan Bajrani yang tampak sudah kehabisan kesabaran.


"Kau pria yang paling angkuh dan sombong diatas dunia ini!!!!"


"Diam kau!!"


Para pengawal membekuk Tuan Bajrani yang memberontak di pegangan mereka dengan Tuan Anjaya yang terkejut akan aksi bunuh diri dari pria ini.


"Kau begitu ingin menguasaiku. hm?"


Sam bangkit dari duduknya hingga tegukan saliva itu mengalir di kerongkongan Tuan Anjaya. sedangkan Tuan Bajrani sudah menggigil tapi masih mempertahankan wajah tegarnya penuh dendam dan amarah.


Sam memasukan kedua tangannya kekedua sisi celana formalnya sampai para pengawal sana diam membisu tapi mereka tahu apa yang akan dilakukan Pria ini.


"Kau bajingan!!!"


"Hm? benarkah?!"


Sam mengeluarkan satu tangannya mengambil pisau yang diberikan oleh salah satu pengawal yang hanya bisa diam dengan Fagan yang melihat kekanan kiri ruangan Tamu yang sepi. tak ada pelayan atau Alfin yang tengah belajar di ruangan Studynya.


"Alfin!"


"Tuan Kecil tak ada disi.."


Bughh..


Mata Tuam Anjaya terbelalak saat Sam menghantamkan pisau itu kewajah Tuan Bajrani yang seketika tersungkur dengan pipi robek na'as.

__ADS_1


"Pr..Presdir!"


Lirih Tuan Anjaya sudah tersandar ke dinding pintu keluar ruang tamu melihat darah bercecer deras diatas lantai dengan mulut Tuan Bajrani sudah tak selayaknya dipandang meloloskan rintihan sakitnya.


"Kau pikir mudah mengincar Putraku?!"


"P..Presdir.."


Lirih Tuan Bajrani terkejut. kenapa pria ini tahu kalau ia datang kesini berencana untuk menculik Tuan kecil yang tak pernah ditunjukan ke publik setelah beberapa tahun lalu?


"Kau belum merasakan dikuliti dengan benda ini bu.."


"Alfin!! jangan berlari!!"


Sam lansung menatap Fagan yang dengan cepat mengarahkan para pengawal menyeret Tuan Bajrani melalui pintu dibelakang dengan lantai yang dibersihkan sekilat mungkin karna suara samar diluar sana telah terdengar.


"Tuan!"


Natalia terlihat muncul dari ambang pintu menatap mereka dengan segan apalagi ada Tuan Anjaya yang tampak memucat tanpa rona berdarah disudut sana.


"Hm!"


Sam mengusap kedua tangannya dengan tisu basah lalu mendekati Natalia yang menarik Alfin untuk masuk. tentu mata tajam Alfin melihat gelagat aneh yang telah terjadi disini walau Natalia tak bisa mencerna itu.


"Ada apa?"


"Yang jadi Model di perusahaan. Bunda Lia saja!"


"Alfin!"


Natalia lansung membekap mulut Alfin yang mencengir memeluk paha Natalia yang menggeleng menatap Sam yang juga memandangnya datar.


"T..tuan. Alfin hanya bercanda. iyakan, Sayang?"


Natalia lansung menggendong Alfin berlari keluar dengan wajah Sam mulai menunjukan raut geli. tapi ia akan mempertimbangkan itu mengingat latar belakang Natalia yang masih belum terungkap segalanya.


"Tuan!"


"Bawa dia keluar!"


Titah Sam pada para pengawal yang mengangguk mengiring Tuan Anjaya yang masih trauma akan kejadian tadi untuk keluar dari Kediaman ini.


Sementara Fagan. ia mulai memahami sedikit rencana Sam yang pasti akan menjadikan Natalia sebagai Model utama di Perusahaan.


"Apa anda akan.."


"Ini akan berguna."


Sam lansung melangkah keluar. jika Qyara berani melanggar aturannya maka ia juga bisa membuat hal yang lebih bahkan akan menurunkan popularitas wanita itu melalui Natalia.


"Bunda!!"


"Kenapa bicara begitu? itu bukan lelucon. Alfin."


Decak Natalia menggendong Alfin menuruni tangga hingga Sam benar-benar memperhatikannya. ia berjalan tak jauh dari tubuh Natalia yang menggunakan Daster untuk menutupi bagian spesial yang belum ia lihat tapi sudah ia bayangkan betapa indahnya pemandangan didalamnya.


"Tuan Kecil!"


Seorang pria dengan kacamata profesor itu tengah keluar dari lift dibawah mendekati Natalia yang masih ada dipertengahan tangga.


Pria berwajah ramah dengan potongan rambut ala K-pop itu tampak menatap Natalia dengan sangat manis bahkan deretan gigi rapi itu tak disembunyikan olehnya.

__ADS_1


"Mr Jeon!"


"Aa.. Tuan kecil! saya meninggalkan tugas anda diatas meja. untuk pelajaran berikutnya anda bisa melihatnya di sana."


Alfin mengangguk lalu Natalia melangkah mendekat kearah Mr Jeon yang tersenyum ramah menyambut wanita itu.


"Nona Natali!"


"A.. tak usah panggil Nona. kenapa harus seformal itu?"


Canggung Natalia mengusap tengkuknya kaku dengan Alfin yang hanya diam menatap kebelakang. ia menyipitkan matanya melihat wajah dingin Papanya.


"Tapi. anda itu .."


"Jangan begitu. aku disini hanya pelayan, jadi. karna tadi Mr Joen juga mengajariku maka aku panggil Guru!"


Polos Natalia ingin mengulur tangannya untuk meraih tangan Mr Jeon untuk ia cium seperti yang ada di desa tapi dicengkal seseorang.


"Kau pergilah!"


"Ha?"


Sam menarik Natalia keatas sampai kedua tangan yang tadi ingin bertautan seketika berjarak dengan wajah bingung Natalia yang tak mengerti.


"Pergilah!"


"Baik!"


Mr Jeon melambaikan tangannya pada Natalia yang ingin melakukan hal yang sama tapi tangannya lansung dicengkram Sam yang mengeraskan wajahnya datar.


"A.. Tuan!"


"Hm."


"T..tanganku sakit!"


Desis Natalia hingga barulah Sam melepasnya dan kembali bersikap biasa seakan tak melakukan apapun. Cool dan sangat berkharisma.


"A..apa salahku?"


"Kau harus bersiap!"


Dahi Natalia menyeringit mengejar langkah lebar Sam menuju Pantri didekat dapur belakang.


"Bersiap! untuk apa?"


"Turunkan berat badan dan berhenti memakai Daster kampungan itu!"


"Tapi kenapa?"


Sam lansung berbalik memberi seringai yang sangat meremangkan Natalia. begitu tampan dan sexsi tapi menyeramkan.


"T..Tuan."


"Kau jadi Model di Perusahaanku!"


Duarr...


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


maaf yak lama . author ketiduran🤭🙃


__ADS_2