Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Aku ingin dia mati!


__ADS_3

Kepalan tangan kekar pria itu menguat. Rahang tegas dipipi mulusnya mengeras dengan sorot mata membunuh bahkan sangat kejam dari manik kecoklatan. Wajah super tampan berlapis iblis itu diselumbungi kabut kebencian dan dendam yang menyala-nyala.


"SAM."


Gumamnya dengan murka. Ia tengah menatap kaca ruang operasi dimana Adiknya telah kritis dengan parah. Berbagai Dokter didatangkan membuat Rumah Sakit khusus ini tak lagi menampung pasean karna Pria yang tak pernah muncul dijagat publik itu baru saja datang setelah mendengar informasi dari anggotanya.


"Kau harus membayar semua ini."


.......


Dikamar yang mewah dengan desain megah yang nyata. terlihat sepasang pasutri yang semalam tak sempat berkuda karna penolakan keras Natalia yang tak mau membuat Suaminya lelah tengah bermanja diatas ranjang peraduan. Walau Sam memaksa ia juga tak bisa menuruti itu, terkadang Natalia berfikir. Apa ia tak akan hamil jika melakukan itu setiap saat?


Seperti sekarang. Sam enggan bangkit dari tempat tidur karna ia sudah nyaman dengan Dot pabrik satu ini. Kelembutan dua dagging kenyal nan sekang milik Natalia membuat ia tak mau melepas hisapan yang menggemaskan.


"Tuan!"


"Hm."


Sam masih asik dengan dadanya membuat Natalia menghela nafas membiarkan saja. Toh ia sudah biasa seperti ini, dikala sikap manja suaminya akan muncul maka disitulah ia tak akan dibiarkan bergerak.


Wajah Sam tepat terbenam dibagian sekang itu dengan Piyama tidur sang istri sudah tergorok tak berdaya dibawah ranjang mempermudah Sam mengemut santai.


"Ini sudah jam 9. kau tak bekerja?" tanya Natalia seraya mengelus kepala Sam yang masih bermain disana.


"Aku masih ingin seperti ini."


"Haiss. Tuan! kau sudah besar, kenapa masih begini?"


Sam hanya acuh. ia tahu Natalia berusaha mengontrol diri agar tak terpancing sensasi panas dari lidah basahnya, tapi Sam juga belum melepas dahaga pagi ini.


Lama Natalia menatap Sam yang terlihat sangat gemas dengan dua benda sekang itu. sesekali Sam mengigit dan menarik kecil puncak ranumnya membuat nafas Natalia berat.


"Apa seenak itu?" tanya Natalia hangat membelai rambut Sam dengan lembut.


"Hm. ini punyaku! aku tak mau berbagi."


"Apanya? dasar aneh."


Gumam Natalia meraih remote TV disamping bantalnya dan menyalakan benda pipih besar didepan sana. Ia mencari Filim yang bagus untuk ditonton pagi ini dan itu pasti Filim kartun membuat sudut bibir Sam terangkat kecil.


"Kau pantas saja nyambung bersama Alfin."


Ucap Sam menyudahi permainannya karna dada Natalia sudah merah. ia memilih bersandar ke kepala ranjang dengan mata tak teralihkan dari karya seni yang baru saja ia buat.


"Tuan!"


"Hm?"


"Siang ini aku ada pertemuan dengan pihak Investor."


Jawab Natalia memeluk pinggang kekar Sam yang tak memakai atasan hingga ia bebas meraba perut berkotak atletis ini.


"Perusahaanmu di bidang Batubara!"


"Iya. aku tak tahu harus apa, Talita juga akhir-akhir ini sangat aneh."


Lirih Natalia membiarkan Sam menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya. Pahatan natural yang sangat indah dipagi hari.

__ADS_1


"Aneh kenapa?" Sam mencoba menyelami kegundahan istrinya.


"Aku tak tahu dia pura-pura baik atau tidak. tapi, tangannya luka-luka. wajahnya juga pucat, aku takut jika pria jahat itu mencelakainya. Tuan!"


Resah Natalia mengadah melempar pandangan gusarnya. Wajah Sam hanya tenang tapi ia berfikir disela tangan yang memberikan kenyamanan pada sang istri.


"Sepertinya dia takut akan sesuatu."


"Nanti akan ku cari penyebabnya." Sam pura-pura tak tahu.


"Benarkah?"


Binar Natalia merekakahkan senyuman membuat Sam ikut damai. ntahlah ia sudah gila akan Natalia si wanita polos yang terpaksa ia nikahi.


"Hm. kau fokus saja pada Papamu. untuk Bisnis nanti akan ku coba pikirkan."


"Tidak. Bisnis itu urusanku. aku mau belajar jadi sepertimu."


Jawab Natalia mencyengir kuda bangkit dari baringannya dan beralih memeluk tubuh Sam dengan erat. Hatinya tak bisa dilepas dari pesona Sam yang membuat jejak dalam dalam hidupnya.


"Managermu akan menemani."


"A..Apa?"


"Hm. Rani akan menemani, dia salah satu orang kepercayaanku di Perusahaan."


Jawab Sam yang sudah mengatur itu. Rani juga akan mempermudah dirinya untuk memantau Natalia yang sibuk dan tak akan sempat bertemu sebanyak yang biasanya.


"Kau masih pemula dalam Bisnis. katakan apapun padaku, nanti akan ku bantu." tegas Sam mengambil jalan depan.


"Em, baiklah! tapi jangan larang aku bekerja di Perusahaanmu."


"Kau sibuk. aku tak ingin kau lelah."


Wajah Natalia memerah mendengarnya. Ia menghadiahkan kecupan lembut ke pipi Sam yang masih mencegat nafasnya.


"Tidak akan. aku hanya mau belajar, aku janji tak akan membuat ulah lagi."


"Cih. kapan kau tak menyusahkanku?"


Sinis Sam turun dari ranjang melepas pelukan Natalia yang hanya tersenyum geli. Ucapan pedas Sam sudah biasa ia dengar tapi percayalah hati pria itu selembut kapas.


"Aku hanya tak ingin disamakan dengan Qyara."


Gumam Natalia memandangi Sam yang melangkah kekamar mandi.ia juga ingin menjadi wanita mandiri.


Natalia beralih menatap Televisi dihadapannya hingga mata Natalia terbelalak melihat berita tadi malam sudah disiarkan.


*Presdir Sam terlibat perkelahian dengan Tuan Muda Yuchin di Club Rhose kemaren malam. dipastikan keduanya bersaing ketat memperebutkan Nona Natalia yang menjadi Model Utama Perusahaan Bilions.


*Menurut pernyataan dari Dokter Maican. Tuan Muda Yuchin mengalami kritis bahkan hampir saja kehilangan nyawanya, Pihak Kepolisian masih mengusut tuntas apa yang sebenarnya terjadi.


"A..Apa?"


Gumam Natalia sangat terkejut. bagaimana kalau Sam ditangkap polisi hanya karnanya? apalagi citra Sam sebagai Presdir akan terperanguh karna berita ini.


Tak ingin bergekut dalam kehingan. Natalia langsung menyambar ponselnya diatas nakas membuka situs berita yang sudah bergejolak. Banyak artikel tentang Sam yang disebut sebagai orang angkuh dan tak pantas menjadi Presdir, ada juga yang menyalahkan Natalia sebagai orang ke 3 diantara rumah tangga Sam dan pemicu perkelahian.

__ADS_1


"*Hanya karna kau dua Penguasaha Tajir melintir itu berkelahi. dasar pembawa sial."


"Kau juga yang menghancurkan rumah tangga Presdir."


"Sudah terbukti bukan? wanita ini hanya ingin didewikan*."


Semua komentar negatif menyerbu akun media sosial milik Natalia yang digunakan untuk Bisnis Perusahaan. Banyak para Investor yang ikut memberinya pesan dengan kalimat mencekik leher Natalia.


"*Kami tak ingin berbisnis dengan manusia seperti anda."


"Sangat tak terhormat*."


Tangan Nagalia gemetar memeggang ponselnya yang jatuh keatas selimut. Wajah Natalia yang semula bersemangat seketika runyam dengan mata berkaca-kaca. Kemana lagi ia akan mencari Investor?


"Mereka tak mau lagi bekerjasama dengan Perusahaan Papa hanya karnaku. Apa yang akan ku lakukan?"


Batin Natalia gunda. ia mencengkram kepalanya yang buntu tak tahu lagi bagaimana memecahkan masalah ini, bicara pada Sam itu sama sekali tak memungkinkan. Pria itu akan kembali mengulurkan tangan membantu setiap hal yang tak pernah selesai ia kerjakan.


"Tidak. Sam tak boleh tahu ini! dia sudah sangat susah karna aku, nama baiknya juga tercoreng."


Gumam Natalia pada dirinya sendiri. berhentilah menjadi beban dan ia bisa melakukan segalanya. ia tak mau menyeret Sam dalam masalah ini


"Kuman!!!"


"A..Ada apa?"


Natalia bangkit dari tempat tidur seraya kembali memakai atasan melangkah mendekati pintu kamar mandi.


"Kau makan dulu. jangan kemana-mana sebelum mengisi perutmu."


"I..Iya!!"


Jawab Natalia menyembunyikan kegugupannya. Mata Natalia melirik kearah sofa dimana vitamin dan suplemen makanan itu sudah disiapkan sedari semalam oleh Sam yang khawatir Asam Lambungnya kembali naik.


"Sebaiknya aku ke bawah."


Gunam Natalia mencempol rambutnya keatas seraya merapikan Pyamanya. Sebelum itu Natalia pergi ke Walkcloset menyiapkan stelan kerja Sam seperti biasa yang ia letakan diatas ranjang dan barulah ia melangkah keluar kamar.


"Berarti aku harus pergi ke Perusahaan mereka. yah, memang begitu."


Gumam Natalia disela langkah menuju Lift. Perasaannya tak tenang karna belum menemui Alfin yang semalam sudah tidur duluan. Didalam Lift Natalia terus berfikir soal berita tadi membuat kepalanya pusing, mau bagaimanapun semua orang tak akan menerima hubungannya dengan Sam.


Setelah beberapa lama. Lift terbuka dengan langkah kecil Natalia keluar menuju kamar Alfin yang tak begitu jauh dari sini.


"Dengar. aku ingin semuanya rapi! jangan sia-siakan pengorbanannya."


Langkah Natalia terhenti saat mendengar suara Qyara yang menelfon didekat tangga. Gelagat wanita itu sangat aneh membuat Natalia bersembunyi dibalik pilar disampingnya.


"Sam sudah membuatku di keluarkan dari Agnesi. dia juga harus merasakan bagaimana penderitaanku selama ini."


Qyara terlihat menggeram dengan wajah merah penuh kebencian.


"Aku ingin wanita itu mati. Jika Sam tak bisa ku miliki, maka dia juga tak akan bisa."


Geram Qyara terlihat mendendam. bahkan dengan jelas Natalia merasakan aura tak bersahabat yang membongkemnya untuk jauh.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang .


__ADS_2