
Natalia langsung menerobos masuk kedalam Toilet wanita yang ternyata ada banyak perempuan yang tengah bercermin dikaca Wastafel. tatapan mereka semua begitu heran akan apa yang terjadi padanya, tapi tak ada yang berani menyela karna mengingat tadi Natalia sangatlah berpengaruh di ruangan Forum.
Salah satu wanita paruh baya dengan pakaian mewah itu. menatap Natalia dengan penuh kesinisan, ia sama sekali tak suka dengan kedatangan Natalia yang menjadi pusat perhatian bahkan telah membuat Putrinya gagal menjadi juara di lomba besar ini.
"Nona!"
"Permisi!"
Sopan Natalia ingin masuk ke toilet satunya tapi langkahnya dihadang oleh wanita paruh baya itu.
"Kenapa sangat terburu-buru?"
Natalia diam tanpa menundukkan kepalanya sama sekali. ia menatap datar mereka semua walau menahan sakit ditelapak kaki dan bahunya. melihat Natalia yang bungkam, Nyonya Tantrika langsung menyeringai.
"Seorang Model pendatang baru. apa hubunganmu dengan Presdir?"
"Untuk apa aku memberi tahumu?"
Nyonya Trantika terkejut akan jawaban Natalia barusan. ia berusaha menormalkan raut wajahnya karna disini banyak wanita yang berasal dari kalangan atas.
"Untuk apa kau kesini?"
"Aku ke Toilet. biasanya apa yang orang lakukan ditempat itu? Nyonya!"
"Ouh. silahkan!"
Nyonya Tantrika terpaksa menghindar dengan Natalia yang masuk kedalam Toilet satunya hingga pintu ditutup rapat barulah ia menghembuskan nafas lega bahkan begitu plong.
"Syukurlah!"
Natalia mengelus dadanya pelan lalu tertatih-tatih menyeok langkahnya kedekat Wastafel Toilet. untung saja ini ada dua bagian hingga ia menjadi mudah mengurung diri menjauhi nenek tua itu.
Namun, ia menatap wajahnya ke kaca dihadapannya. begitu pucat dengan separuh rambut yang menutupi sesuatu dikeningnya. Dengan pelan Natalia menyibak rambutnya hingga terlihat bekas memar dipelipis dan darah mengering yang sudah lama.
"Kepalaku pusing."
Gumam Natalia memijat keningnya. ia masih merasa takut akan kejadian tadi karna untung saja ia berhasil lolos walau bahunya sempat dipukul dengan balok kayu yang mereka peggang.
Darah di telapak kakinya juga sudah mengering tapi masih saja sangat sakit jika diinjakan kelantai, mungkin saja duri dari semak-semak tadi menggores kulit lembutnya.
"Tenanglah."
Gumam Natalia mencoba memenangkan diri. jujur ia masih takut jika 3 berandalan itu masih mengejarnya diluaran sana, pasti kali ini ia tak akan bisa lari lagi.
Ia beberapa kali menghela nafas lalu menggulung rambut panjangnya keatas agar memudahkan untuk melihat luka dibahunya. Natalia gemetar sedikit lemah karna tungkainya sudah letih berjalan sedari tadi.
Lengan baju bagian bahu Natalia sobek karna ditarik. bekas tanah dipakaiannya juga terlihat nyata dengan memar yang sangat pekat dipundaknya.
"Aku ..aku tak bisa membawa luka ini ke ..."
"Kemana?"
Duarr....
__ADS_1
Seketika Natalia terlonjak kaget bahkan ia berbalik cepat dengan mata membulat melihat siapa yang telah berdiri dibelakangnya. ia tadi fokus melihat luka dibahunya sampai tak sadar pintu dibelakang sudah dibuka.
Wajah Natalia memucat melihat tatapan dingin Sam yang kelam. pahatan sempurna ini mengeras bahkan membuat tubuh Natalia gemetar merapat ke meja Wastafel.
"T...Tuan!"
"Kemana?"
Sam melangkah masuk dengan pandangan menusuk dan aura wajah tak bersahabat. pintu itu kembali tertutup rapat seakan mengurung Natalia dalam rasa takut dihatinya.
"T..Tuan.. Tuan aku ..kau kenapa ...kau..."
Sam sudah merapat ke tubuh Natalia yang bertambah kikuk dan gugup. tak ada ruang bagi Natalia bergerak bahkan bernafas saja ia tahan sedikit demi sedikit. tatapan Sam sangat menyala bahkan sekakan menelannya hidup-hidup, pandangan pria itu tertuju pada luka dipelipis Natalia.
"JAWAB!"
Tekan Sam tak lagi bersabar sampai satu tangannya mengurung wanita ini. Natalia benar-benar merasa tak bisa berbuat apa-apa selain menunduk tak berani menatap netra elang ini.
"T ..Tuan!"
"Kenapa?"
"Aku ....aku tak apa. hanya... aaaas!!"
Natalia menjerit diakhir kalimatnya saat tangan kekar Sam sudah mencengkram bahunya sedikit kuat membuat ia ikut mencengkram lengan pria ini.
"T..Tuan..s..sakit." desis Natalia memelas dengan mata berair.
"Sakit?"
"S..Sakit. hiks!"
"Sakit? lalu kenapa kau menyembunyikan ini? berhentilah bertindak CEROBOH!!!"
Geram Sam menggertakan giginya seraya melepas cengkeramannya. kobaran api kemarahan itu terlihat jelas mengintimidasi Natalia yang sangat takut sampai suara isaknya mulai terdengar.
"Kau bisa menelfonku bukan? kau bisa memberi tahu kalau kau ingin kesini!!! kau bisa memakai otakmu. kan???"
"P..Ponselmu m..mati dan.."
"Dan apa? ha?"
Natalia langsung menangis saat bentakan Sam membuat ia terlonjak. ia sama sekali tak suka dibentak seperti ini.
"Pe..Pergilah!"
"Dan apa? aku memberimu pengawal dan kau tak suka! kau selalu bertindak semaumu, tak mau menurutiku!!"
"Pergilah!!!!"
Teriak Natalia mendorong dada Sam menjauhinya tapi tubuh pria itu tak bergerak sama sekali. bahkan, Natalia yang tertekan kebelakang.
"Kau menagis!! menangis, hanya menangis yang kau bisa."
__ADS_1
"Pergi dari sini!!!! hiks, pergi!!!"
"Kau menyembunyikan semuanya dariku!! teruslah seperti ini sampai nyawamu hilang karna tingkah lambanmu ini."
Geram Sam tak habis pikir. berpura-pura kuat itu bukanlah jalan yang benar? apa salahnya bercerita dan ia bisa mengambil langkah untuk melindunginya. tapi Natalia tak pernah mau menuruti apa yang ia perintahkan dalam masalah penjagaan ini.
"Ka..kalau begitu tinggalkan aku sendiri!!! kau ..kau tak mau melihatku. kan???"
Isak Natalia benar-benar sakit hati. ia hanya tak ingin menyusahkan Sam yang sudah banyak membantunya, apalagi Alfin juga pasti akan merasa bersalah. tapi pria ini malah menghakiminya.
"Kau tak bisa belagak sok kuat dihadapanku."
Sam langsung membuka pintu Toilet dan melangkah pergi hingga tubuh Natalia luruh ke lantai dibawahnya dengan gemetar menutup wajahnya menangis menekuk kedua lututnya.
"M..Mama hiks! Mama!"
Isak Natalia menyembunyikan wajahnya disela tekukan kaki itu. ia menangis akan sikap Sam yang seakan menganggapnya begitu lemah padahal ia hanya tak ingin menyusahkan siapapun.
Ia tak tahu kalau Sam tak benar-benar pergi. pria itu bersandar didinding luar Toilet yang sudah sunyi karna para pengawal sudah mengamankan tempat ini. Tangis Natalia terdengar jelas membuat Sam tak tega melakukan hal seperti ini padahal ia hanya ingin Natalia mengerti.
Saat tak mendengar tangis wanita itu lagi. Sam menjadi khawatir hingga perlahan ia menekan gagang pintu mengintip dari sela matanya melihat Natalia yang sudah membersihkan lukanya dengan air. wanita itu mencuci kakinya dengan ringisan dan isakan yang bercampur.
"M..Mama.."
Lirih Natalia tersendat seraya terus mengelap kakinya dengan tisu yang sudah ia basahkan. matanya sudah sembab dengan hidung memerah tapi masih saja melirihkan Mamanya.
"Itu tak akan bersih hanya dengan dilab!"
Natalia hanya diam tak mau merespon Sam walau ia cukup terperanjat akan kedatangan pria itu lagi. menoleh saja Natalia enggan membuat rasa dongkol Sam menggunung.
"Kau tuli. ha?"
Natalia masih diam bahkan ia asik dengan kegiatannya walau Sam begitu naik pitam dan emosi. tapi jika ia kembali membentak Natalia malah akan membuat wanita ini marah padanya.
"Hey!!"
Natalia hanya acuh menerobos keluar tanpa memperdulikan Sam yang dibuat heran. seharusnya ia yang marah tapi malah wanita ini yang berbuat seenaknya.
Melihat wajah kesal Tuannya. Fagan yang tadi baru datangpun langsung mendekat dengan wajah yang ikut menyeringit melihat Nonanya seberani itu.
"Nona hampir mau dilecehkan. Tuan!"
Sam hanya diam. wajahnya berubah dingin dengan keheningan yang nyata. sudah ia duga dari lengan Dress Natalia yang koyak dan kemungkinan wanita ini berhasil lolos tapi sangat susah payah.
"Apa kita langsung membawa mereka di .."
"Tidak."
Sam merubah pandangannya menjadi mengerikan membuat Fagan menelan ludahnya kasar.
"Aku juga ingin melihat Pengerat sialan itu."
"Baik. Tuan!"
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang..