
Malam pun berlarut meninggalkan mentari yang telah berpindah kebelahan bumi yang lain. suasana gelap yang dipenuhi gemerlap lampu dengan kedipan bintang berpijar indah diatas sana.
Sesuai janji yang telah dibuat, Natalia memutuskan untuk mengajak Dokter Andra ke Pesta Perusahaan dan tentu pria itu mau bahkan siap siaga untuk bersamanya.
"Bunda!"
Alfin yang berlari dari tangga atas mendekati Natalia yang tadi keluar lebih dulu karna tak mau Dokter Andra tahu ia tinggal di Kediaman ini. tentu Alfin tak masalah karna ia juga akan pergi menyusul nanti.
"Alfin. Bunda pergi dulu, Sayang!"
Alfin terdiam didekat pintu menatap kearah bidadari yang telah berdiri melempar senyum memikatnya. bagaimana tidak? Natalia memakai Gaun hitam panjang tanpa lengan dan hanya ada satu tali yang berkalung dileher jenjangnya membuat penampilan Natalia malam ini begitu anggun dan lebih dewasa dengan make-up mempertajam mata indahnya.
"Bunda?"
"Hm?"
Natalia mengibas rambut panjangnya yang diurai kebelakang
berjongkok menyamakan tingginya dengan Alfin yang terlihat menelan ludahnya kasar menatap leher Natalia yang tersibak rambut hingga memaparkan jejak langka seseorang.
"Ada apa?"
"A.. Bunda. sudah bercermin?"
Natalia mengerutkan dahinya dengan raut wajah Alfin yang terlihat memucat. ini pasti karna Papanya, mustahil Bundanya tak pernah bercermin jika tak dilarang pria itu.
Memang tadi Sam tengah sibuk hingga saat pulang mereka berpisah. Sam tak melarangnya sama sekali selain jangan bercermin dan turuti saja ucapan para Periasnya.
"Apa Bunda jelek?"
"A...Tidak, Bunda sangat cantik. dan semoga sukses!"
Ucap Alfin mengecup pipi Natalia lalu melangkah kembali masuk kedalam. beberapa pelayan yang melihat Natalia juga berubah malu dan memerah seakan melihat hal yang sangat menggelikan sekaligus mempesona.
"Mereka kenapa?"
Batin Natalia bingung kembali berdiri memeggang tas kecil ditangannya. ia terlihat mencari apa yang menjadi pusat perhatian semua orang, menatap kaki jenjangnya yang terlihat sempurna dibalik balutan Gaun panjang yang terbelah sampai kebagian lututnya dengan menampilkan keindahan perut datar dan dadanya yang berisi, Natalia tak masalah dengan pakaian ini karna ia akan melapisinya dengan Mantel bulu yang hangat.
"Nona!"
Para pengawal didepan sana memanggil Natalia yang mengangguk melangkah keluar dengan anggun dan pelan sesuai detakan Heelsnya. salah satu pelayan memakaikan Mantel bulunya menutupi bagian terbuka dari gaun ini.
"Jaga Alfin! mungkin aku akan pulang terlambat."
"Baik. Nona!"
Natalia melanjutkan langkahnya menuju Gerbang besar diujung sana. ia sesekali melihat ponselnya yang terdapat panggilan dari Dokter Andra yang sudah menunggu didepan.
"Hallo. And!"
"Lia! apa alamatnya tak salah?"
Natalia melihat dari kejahuan dimana ada Mobil mewah Dokter Andra yang tampak berdiri memunggunginya. suara pria ini seakan tak percaya melihat lingkungan Elit dan Manshion megah dari luar sana.
"Alamatnya benar. aku tadi mengurus pekerjaan disini."
"Kau dimana?"
"Hay!!!!"
Dokter Andra yang ada didepan sana langsung tersigap dengan suara lembut yang memanggilnya hingga ia spontan menoleh dengan ponsel yang masih ada ditelinganya.
Deggg...
Seketika mata Dokter Andra membulat bahkan seakan mau terlempar keluar melihat bagaimana keindahan yang memijari lampu disekiatarnya. wajahnya termenung kosong seakan terlempar dalam Dimensi langit ke 7.
"And!"
Dokter Andra masih belum sadar membuat dua penjaga gerbang disampingnya hanya beraut datar. sesuai titahan Tuannya mereka harus menjaga Nonanya.
"AND!"
"A..Apa?"
Dokter Andra tersadar akan suara sedikit keras Natalia yang melangkah mendekatinya.
"Ada apa?"
"A.. itu .aku ..."
Dokter Andra mengusap tengkuknya kaku untuk bicara apa. yang jelas dari remangan bulan ini saja Natalia sudah seperti Dewi Kencana malam.
__ADS_1
"A.. itu.. kau kenapa disini?"
"Em. aku bekerja disini. atasanku sangat baik."
Jawab Natalia ringan hingga Dokter Andra mengangguk dengan kaku membuka pintu mobil mempersilahkan Natalia untuk masuk.
"Silahkan yang mulia!"
"Haiss."
Natalia mendesis geli melangkah menuju pintu Mobil dengan Dokter Andra yang masih belum memperhatikan leher Natalia yang ditutupi helaian rambut panjangnya. pria itu dengan sangat bahagia menutup pintu mobil dan kembali masuk menduduki kursi kemudi.
"Ke Gedung Avanella kan?"
"Iya."
Jawab Natalia tersenyum fokus kedepan dengan Dokter Andra yang mengemudi stabil. wajah tampan pria ini begitu berbinar dengan raut senang yang luar biasa, bahkan senyum manisnya tak lekang sama sekali melihat arah jalan.
"Lia!"
"Hm?"
"Kau sangat cantik!"
Natalia terdiam sesaat tapi ia segera memberi senyuman hangat dan santai. ntahlah ia tak merasakan debaran jantung seperti dulu saat Dokter Andra memujinya, tak ada rona merah melainkan hanya wajah biasa dan tenang.
"Kau juga tampan. And!"
"Em. apa nanti kau bisa ke ..." .
Tiba-tiba ada suara notif di ponsel Natalia yang teralihkan olehnya. Dokter Andra meredam ajakannya untuk membawa Natalia kerumah karna sedari dulu Mamanya ingin menemui wanita ini.
"Kau dimana?"
Pesan dari Pak Tua yang ada diseberang sana. wajah Natalia terlihat jengkel membalasnya
"Aku di Mobil. mau ke gendungnya."
"Lihat ke sampingmu!"
Dahi Natalia mengkerut dan menatap kesampingnya dimana tak ada apapun sama sekali selain lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip dimalam hari. karna tak mendapati satu bendapun Natalia membalasnya lagi.
"Lihat lagi*!"
Natalia kembali mengamatinya membuat Dokter Andra mulai merasa heran melihat Natalia seperti mencari sesuatu disekitar jalanan.
"Ada apa? Lia!"
"Em. tidak ada."
Jawab Natalia tersenyum tapi ia kembali fokus ke ponselnya tanpa sadar membuat suasana hening yang membosankan. Dokter Andra terlihat berwajah murung saat Natalia begitu sibuk tanpa menoleh padanya.
"Apa kau sibuk?"
Natalia tak mendengarnya sama sekali karna bualan dari Sam membuatnya lupa akan keadaan. seakan ada angin yang menyampaikan suara Dokter Andra barulah Natalia menoleh.
"Ha? a..apa kau .."
"Kau sibuk. ya?" tanya Dokter Andra membungkus senyuman. ia tak mau menggangu Natalia yang terlihat asik dan sibuk. bisa saja wanita ini punya pekerjaan yang penting.
"A.. itu .. aku .aku tak sibuk. tapi hanya ada pesan dari Manajerku."
Jawab Natalia agak merasa bersalah menutup Ponselnya mulai fokus kedepan. tapi lagi-lagi suara pesan itu membuat Natalia geram bahkan Dokter Andra ikut kesal.
"Siapa?"
"Ini.. dia tak sabaran untuk segera kesana."
"Sebentar lagi. ini tak begitu jauh."
Jawab Dokter Andra meredam kekesalan Natalia yang hampir ingin mematikan Ponselnya tapi pesan Sam membuat ia memucat.
"Awas jika kau melanggar aturanku!"
Pesan disertai emoticon marah membuat Natalia mengurungkan niatnya. membalas singkat tapi Sam seakan menjadi Tukang Counter HP yang selalu memberi pesan yang bersifat mengancam dan masih mendesak Natalia untuk mencarinya diantara jalan-jalan.
Disepanjang perjalanan. Dokter Andra hanya melirik Natalia yang masih bersikap aneh melihat keluar jendela lalu mengetik diponselnya. hal yang begitu tak bisa ka cerna sama sekali.
"Lia!"
"Haiss. Pria Tua."
__ADS_1
Kekehan Natalia masih belum sadar karna Mobil sudah masuk kearea lokasi Gedung. Dokter Andra seketika bungkam dengan wajah yang tadi begitu bahagia berubah muram seakan tak bersemangat.
"Sudah sampai!"
"Ha?"
Dokter Andra menatap Natalia dengan rumit. bahkan tersirat rasa sakit yang tak mampu diutarakan pria itu padanya.
"Sudah sampai."
"B..Benarkah?"
Natalia melihat kesekitar dan benar saja sudah begitu ramai dengan orang-orang berlalu lalang dengan kendaraan mewah mereka. para awak Media juga memenuhi halaman depan membuat Natalia gugup dengan spontan menyibak rambutnya membuat pandangan Dokter Andra menyipit dan..
"L..Lia..."
Gagap Dokter Andra tercekik saat melihat leher Natalia yang dipenuhi bekas merah memar biru yang ia tahu betul itu apa. matanya mulai mengigil menatap Natalia yang menautkan alisnya.
"Kenapa?"
Dokter Andra mengulur tangannya yang gemetar menyibak pelan rambut panjang Natalia hingga dadanya langsung dibongkem keras dengan pandangan kosong.
"And. kau kenapa?"
Dokter Andra hanya diam menatap Natalia dengan sangat rumit bahkan kedua tangannya mengepal dengan dada bergemuruh.
"Keluarlah!"
"A..And.."
Dokter Andra memejamkan matanya menormalkan deru nafasnya yang memburu. ia tersenyum memandang Natalia yang dibuat sangat bingung akan sikap semua orang.
"Maaf. aku tak bisa menemanimu kedalam."
"Kenapa? kau sakit?"
Natalia ingin mendekat tapi Dokter Andra buru-buru menggeleng tak lagi memandang wajah Natalia yang semangkin membuat hatinya berdenyut. genggaman tangannya menguat menahan emosi dan pergelutan.
"Aku ada pekerjaan mendesak. kau pergi saja."
"B..Baiklah. tapi kau baik-baik sajakan?"
Dokter Andra mengangguk hingga Natalia turun dari Mobil dengan wajah sendu. ia melihat jelas netra lembut itu terluka tapi kenapa? apa karna tadi ia sudah begitu sibuk?
Merasa bersalah Natalia ingin menyangga.
"And! aku mi..."
Mobil itu sudah putar arah menjahui Natalia yang dibuat mematung ditempat bahkan beberapa orang yang melihatnya penuh kagum tapi, juga heran kenapa ia mau berdiri lama diluar sini.
"Ya Tuhan. apa lagi ini?"
Natalia frustasi menatap kepergian Mobil Dokter Andra yang begitu cepat bahkan tak biasanya pria itu membawa mobil sebrutal itu.
Hati Natalia benar-benar tak enak. apa Andra akan salah laham dengannya? tapikan mereka bisa bersikap selayaknya teman dan baik-baik saja seperti orang diluar sana.
Semua itu ditatap puas oleh seorang pria yang sedari tadi menjadi Operator didalam Mobilnya. ia sengaja tak masuk ke Gedung Pesta karna menantikan Natalia.
Sudut bibirnya terangkat licik bahkan ia menyeringai begitu jahat sampai Fagan yang ada didepan menegguk ludahnya kasar.
"Kau pikir aku sudi melihatmu dengannya?!"
Gumam Sam tersenyum bengis. Natalia sangatlah polos dalam urusan percintaan, ia tahu jika keduanya terus bertemu tak hayal rasa itu akan dibumbui kembali tapi jika sikap Natalia yang berubah maka pria itu sendiri yang akan menjahuinya.
"Tuan!"
"Aku masuk dengan Istriku!"
Jawab Sam keluar dari Mobil dengan kondisi sekitar Gerbang yang mulai tak dipenuhi banyak orang. beberapa pengawal dibelakangnya juga mengkontrol suasana agar tak mengerumuni Tuan Mudanya.
Natalia yang masih bingung didepan sana tak tahu akan kehadiran Sam yang telah berdiri tak jauh darinya. Sam berdiri tegap dengan kedua tangan masuk kedalam sisi saku celananya yang menambah kharisma dari stelan Tuxedo yang tengah membungkus tubuh kekarnya yang begitu tampan dan mempesona.
"Kuman!"
Degg...
....
Vote and Like Sayang..
Yg Vote ama kasih Gift di ss ke group ya .. besok author umumin yoke syg🥰
__ADS_1