
Sesuai janjinya. sore ini Natalia pergi ke kediaman Pramudita karna Bibik Mina juga menelponnya untuk segera datang. Sambutan para pelayan sangat hangat bahkan begitu bahagia melihat kedatangannya tapi tidak dengan Mentari dan Talita yang ntah apa yang terjadi sampai lengan wanita itu diperban.
"Nona!"
Bibik Mina memeluk Natalia yang dengan senang hati mendekapnya. ia sangat merindukan keluarga kecil tak sedarah ini hingga hatinya bercampur aduk datang kesini.
"Bik! bagaimana keadaan Papa?"
"Dokter Andra selalu datang kesini memeriksa Tuan Besar. tapi, tadi malam keadaanya kembali memburuk."
Iba Bibik Mina membuat Natalia menghela nafas. ia melangkah melewati Talita yang dengan cepat membuntuti langkah kaki jenjangnya dari belakang.
"Kau bertambah cantik setiap hari." puji Talita berjalan beriringan.
"Benarkah?"
"Yah! pakaianmu juga selalu mahal, bekerja di Perusahaan Bilions memang sangat menguntungkan."
Jawab Talita ceria tak seperti biasanya. Natalia memang tersenyum tapi ia tak akan jatuh dalam lubang yang sama. Wanita ini sama sekali tak bisa dipercaya.
"Tentu saja. aku tak seperti kau yang hanya sibuk tak tentu arah." ketus Natalia tajam.
"A.. maaf! aku memang salah, Lia!"
"Hm. sangat salah."
Tekan Natalia enggan banyak memberi komentar membuat Talita mengepal bersabar membuntuti Natalia. Tangannya hampir saja putus karna Bos Renom mengancamnya agar cepat meminta pengampunan karna anggota pria itu sudah meluluhlantahkan Casino miliknya.
Beberapa menit kemudian. Keduanya sampai didepan kamar Tuan Hartono yang masih tetap sama. Tak ada yang berubah dari bangunan megah ini.
"Pa!"
Talita duluan masuk karna Tuan Hartono hanya mau dirinya. melihat itu Natalia terdiam tapi tetap mempertahankan wajah datarnya.
Pandangan pertama dilayangkan para sosok lemah yang masih terbaring tak berdaya diatas ranjang sana. selang oksigen dan infus itu kekar dipasang dengan mata masih tertutup.
"Pa! Lia mengunjungimu."
Ucap Talita meringsek duduk disamping kiri Papanya sedangkan Natalia telah berdiri disamping ranjang sebelah kanan menatap tanpa guratan apapun pada sosok tua itu.
"Bangun!"
"Lia! Papa.."
"Bangun! kau sama sekali tak mendengarkan apa yang ku ucapkan."
Geram Natalia melihat Tuan Hartono tak kunjung membuka matanya. Hati Natalia kelut dan kacau, ia hanya mencoba menguatkan batin agar tak terlihat lemah.
"L...i..ta.."
Lirihan kaku dibibir pucat itu menyebut nama Talita yang langsung menggenggam tangan rentannya. Wajah Natalia kini tampak kelap dengan rasa sesak tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Pa! Lia datang."
Perlahan tapi pasti. kelopak netra lelah itu terbuka pelan dengan hati-hati menoleh kearah Natalia yang mencengkram pinggiran Dressnya.
"K...Kau.."
"Hm. ini aku!"
Pandangan Tuan Hartono termenggu lama menatap wajah cantik nan damai Natalia. pahatan yang ayu begitu mirip dengan mendiang istrinya. Ia sangat mencintai wanita yang sudah mendahuluinya itu tapi kenapa ia masih tak terima dengan kematian wanita itu?
"Sudah cukup sakit-sakitan seperti ini. kau harus bisa sehat karna kau belum memberi pernyataan kalau Aku pewaris utama Pramudita."
"Iya. Pa! Papa harus sembuh, walau Natalia hanya ingin itu tapi aku berharap Papa bisa seperti dulu, bersamaku."
Timpal Talita mengambil kesempatan. sungguh rasanya hidup ini sangat tak adil bagi Natalia. Tapi, kalau dengan itu Papanya sehat maka ia rela terus menjadi penjahat.
"Aku sudah menghubungi Paman Farman. dia akan datang sebentar lagi."
"F..Farman?"
Gumam Talita terperanjat. itu adalah kaki-tangan Tuan Hartono dalam segala hal dan Natalia sudah bergerak cepat menghubungi pria itu. Sangat tak bisa dibiarkan.
"Biiik!"
"Iya. Non?"
Bibik Mina hang sedari tadi didekat pintu langsung mendekat menunduk sopan.
"Apa dia sudah makan dan minum obat?
"Belum. Non! Tuan Besar menolak meminumnya."
Jawab Bibik Mina masih menunduk membuat Natalia langsung meletakan Tas kecilnya lalu meraih nampan makanan dan obat diatas nakas ranjang.
"Talita!"
"Iya?" Talita bersiaga.
"Kau buatkan dia teh hangat tapi kurangi gulanya."
__ADS_1
Titah Natalia masih tegas membuat Talita kebingungan. ia sama sekali tak bisa melakukan apapun bahkan pekerjaan semacam itu.
"Kau mendengarku?"
"A.. itu.. baik!"
"Jangan sampai kau melakukan kesalahan."
Ancam Natalia keras diselingi kilatan tajam dari lensa mata indahnya. Mau tak mau Talita bergegas pergi walau menahan ribuan dongkol dihatinya.
Sekarang. tinggalah Natalia yang tanpa exspresi damai menyodorkan segelas air putih kemulut pucat Papanya.
"Minum!"
Tuan Hartono tetap diam memandangi wajah cantik putrinya. terkadang ia melihat netra polos itu masih ada tapi ditutupi oleh kelabu jiwa yang berjaga.
"Kau tak dengar? Minum atau aku akan menyiksa Putrimu."
Geram Natalia hingga perlahan Tuan Hartono meminumnya sampai menengah gelas barulah Natalia menghentikan. Jari lentik itu mengangkat sendok yang sudah membawa makanan kemulut Pria paruh baya itu.
"Kalau tak sembuh. kau akan semakin menyusahkanku. kau sudah tua, tak berdaya dan hanya menghabiskan uang untuk pengobatan. ke rumah sakit saja kau tak mau."
Natalia mengeluarkan kalimat pedas tapi percayalah ia tengah mengomeli sang Papa agar cepat bangkit. ia ingin melihat Tuan Besar Pramudita ini kembali berdiri gagah mengayomi putrinya.
"Lia!!"
Suara bahagia dari luar sana menarik wajah Natalia menoleh. senyum Natalia mekar menatap Dokter Andra yang sudah datang dengan seorang pria paruh baya yang tampak masih gagah dengan rambut yang sedikit memutih.
"And!"
"Lia. Sayang!!"
Dokter Andra tak bisa menahan gejolak kerinduannya hingga ia berlari mendekap Natalia yang dibuat tercekat. sendok ditangannya terlepas dipiring yang ada dipahanya hingga waktu seakan mencekik.
"Lia! kau datang juga."
"A.. Iya "
Natalia melepas belitan tangan pria itu dengan wajah agak tak nyaman. ia menjaga jarak dengan Dokter Andra yang malah duduk didekatnya.
"Papamu semalam memang kembali kambuh. tapi, aku sudah memberikan pengobatan khusus. mungkin Tuan Hartono akan cepat siuman kalau kau selalu disini."
"Hm. aku dengar kau selalu kesini. ya?" tanya Natalia merasa beruntung.
"Yaa, begitulah! kalau tak aku siapa lagi? aku takut kau sedih."
Natalia terdiam menatap hangat Dokter Andra yang dibuat meleleh dengan pandangan manik indah ini. Ia sama sekali tak bisa melupakan sedikitpun lekukan wajah sang pujaan hati.
"Kau tak pernah berubah. masih cantik dan polos."
"And. aku ingin bicara denganmu!" mengambil tasnya.
"Hm. Baiklah!"
Keduanya berdiri dengan Paman Farman yang teelihat diam masih tak percaya kalau yang dihadapannya ini adalah Natalia. Si wanita lugu yang tak pernah dianggap manusia di kediaman ini.
"Paman. jaga dia!"
"B..Baik."
Natalia melangkah keluar dengan Dokter Andra yang tak berhenti memekarkan senyuman. ia beberapa kali ingin memeggang lengan Natalia yang dengan sigap menghindar seakan tak mau berlebihan.
"Ada apa. Lia?"
"Apa Papa bisa sehat seperti semula?"
Tanya Natalia mengiring Dokter Andra melangkah turun tangga menuju taman. hanya Dokter Andra-lah yang saat ini ia percaya dalam menangani Papanya.
"Kalau untuk seperti semula. aku tak menjamin! Jantung Papamu sudah begitu rusak tapi bisa diselamatkan dengan pencangkokan."
"Apa bisa?"
Dokter Andra mengangguk terus melangkah beringan dengan Natalia menuruni tangga.
"Bisa. tapi akan perlu waktu karna kondisi Papamu belum memungkinkan untuk melakukan Operasi Besar."
"Lalu bagaimana?"
Natalia terlihat resah memikirkannya. Ia sudah menghendel Bisnis Batubara Papanya yang semakin menurun ketika Pria itu sakit, ia harus mencari investor baru agar Perusahaan Pramudita Crop mampu bertahan.
"Aku akan berusaha. kau tenang saja, hm?"
"Tapi.."
"Yang penting sekarang. kau fokus pada Bisnis Keluargamu, temani selalu Papamu karna dia tak bisa ditinggal sendirian."
Ucap Dokter Andra hanya dijawab kebisuan oleh Natalia. bagaimana bisa ia selalu disini sementara Sam tak pernah mau berpisah sejenak saja? pria itu selalu membatasi apa yang ia lakukan diluar Kediaman.
Lama Natalia berfikir membiarkan langkah mereka dipercepat menuju taman. udara segar disini berhembus pelan membuat rambut Natalia merebak seakan mengurai pesona dari lambaian surai hitamnya.
"And!"
__ADS_1
"Hm?"
Dokter Andra masih tak bergeming memandangi wajah cantik ini. mereka sudah berdiri didekat pembatas Taman mini yang cukup membuat hati terasa adem.
"Aku tak bisa selalu disini."
"Kenapa?"
Satu pertanyaan yang selalu Natalia lampaui. hanya bibir yang terkatup rapat dan mata ingin bicara tapi hati menolak mengatakan.
"Kenapa? Pekerjaan di Kediaman Bilions lagi?"
"Aku .."
Natalia ingin mengatakan tapi ia tak bisa. bagaimana kalau Dokter Andra menganggapnya wanita murahan karna bisa seperti ini gara-gara menjual tubuhnya? bagaimana kalau pria ini membencinya?
"Kenapa? katakan saja!"
Dokter Andra memeggang pipi lembut itu hangat hingga Nagalia sulit mengontrol hatinya. ia tak merasakan malu atau debaran jantung seperti dulu tapi hanya ada rasa khawatir kalau pria ini tak akan mau berteman dengannya lagi.
"Kau kenal aku dari kecilkan?" tanya Natalia sendu.
"Yah. aku sangat mengenalmu!"
"Kau akan tetap percaya padaku. kan?"
Dokter Andra mengangguk. matanya terus menanti dengan hati berdebar. ia takut untuk mengetahui satu kenyataan yang sudah ia duga sejak lama membuat dunianya hancur berkeping.
"Aku tak tahu harus apa. tapi sebenarnya aku.."
Dreett..
Ponsel di tas Natalia berdering membuat suasana buyar. Dokter Andra menghela nafas kembali menurunkan tangannya yang tadi menangkup pipi lembut itu.
"Ada apa?"
Tanya Dokter Andra heran saat Natalia memucat. wajah wanita ini sangat gugup agak memberi jarak padanya.
"And! kau duluan saja kekamar. Papa! aku ada urusan sebentar."
"Baiklah!"
Dokter Andra melangkah pergi hingga jantung Natalia seakan meloncat melarikan diri melihat nama Pak Tua yang tertera dilayar benda pintar ini. Dengan hela'an nafas panjang Natalia memberanikan diri memencet tombol hijau dan..
"Hall.."
"Kau dimana?"
Suara dingin itu menyambut telinga Natalia yang mendengung. tapi ia berusaha rileks.
"A.. Aku di Kediaman. Papa!"
"Dengan siapa?"
"Banyak! ada Bibik, Pelayan, penjaga kebun. Pak Anton lalu.."
"Masih ingat pesanku?"
Natalia menelan ludahnya kasar. rasa takut menyeruk membayangkan kemarahan Sam waktu itu dan ia khawatir Sam akan marah besar lagi tapi ia tak bisa menghindari Dokter Andra yang sudah dari dulu bersamanya.
"Kau mendengarku?"
"A.. Iya. aku ..aku ingat."
"Katakan!"
Natalia melirik kanan kiri melihat apakah ada orang didekatnya.
"Natalia!!"
"A.. iya?" Natalia terigap akan bentakan Sam.
"Kauu!!"
"Aku milikmu. Tuan! hanya milikmu!"
Jawab Natalia cepat sedikit keras dan khawatir hingga tak ada jawaban dari seberang sana selain suara nafas berat.
"T..Tuan!"
"Pulang cepat! aku tak mau tahu, kau harus ada si Kediaman saat aku sudah kembali."
"Iya. aku akan pulang cepat."
Jawab Natalia mengalah. berdebat-pun ia tak akan menang, Sam kalau sedang marah seperti ini tak akan bisa disela sama sekali.
Semua itu didengar Dokter Andra yang tak pergi. ia menguping semua yang Natalia bicarakan dengan dada sesak dan sakit. kepalan tangannya menguat mendengar suara laki-laki yang sudah ia duga ada hubungan dekat bahkan sangat dekat.
Saat Natalia mengatakan AKU MILIKMU. hatinya hancur bahkan terasa dicabik, sejauh itu hubungan mereka sampai Natalia tak berkutik.
"Kita lihat. sampai mana kau akan menyembunyikan ini! dan jangan harap kau bisa mengambilnya dariku."
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang..