Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Mencoba memberi tahu


__ADS_3

Tuan Hartono terlihat sudah sadar dengan para Dokter yang menanganinya. Dokter Grely yang diperintahkan khusus untuk memberikan pengobatan agar luka bakar di bahu Tuan Hartono bisa membaik pun tampak serius.


Para Team Dokter juga bergabung untuk mengontrol kesehatan Tuan Hartono sesuai perintah Sam yang tak ingin terjadi sesuatu yang fatal pada pria itu.


"Kenapa Bunda belum datang?"


Gumam Alfin menatap kearah pintu keluar dengan beberapa pengawal yang menjaga. Ia tak tenang duduk di sofa ini menunggu kedatangan Natalia.


"Tuan kecil! saya akan memeriksanya."


"Hm. pergilah!"


Rani mengangguk lalu melangkah menuju pintu keluar namun kakinya terhenti saat melihat Natalia yang sudah datang dengan wajah ramah nan cantik membalas sapaan para pengawal. Wanita itu menghela nafas melangkah mendekati Rani.


"Apa semuanya baik-baik saja?"


"Iya. Non! tapi kenapa anda lama sekali?"


Segan Rani bertanya sopan dengan Natalia yang terdiam sejenak menatap kearah ranjang rawat Papanya. Pria itu terlihat baik-baik saja tapi wajahnya semakin pucat menatap Natalia.


Bibir pria itu juga agak tak simetris seperti biasa hingga memantik kekhawatiran dihatinya.


"Aku tadi menelfon. em.. kau jaga Alfin sebentar. Ran!"


"Baik. Nona!"


Natalia menepuk bahu Rani hangat lalu melangkah mendekati Dokter Grely yang tampak sibuk bersama para Dokter Lainnya. ada dua pria paruh baya yang ikut dalam proses hari ini.


"Dok!"


"Non!"


Dokter Grely menyudahi arahannya hingga dua pria itu pamit keluar dengan tatapan rumit Tuan Hartono seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak bisa bicara.


"A...L..aa.."


"Pa!"


Lirih Natalia sendu duduk disamping Papanya. Ia tak bisa menjadi Natalia seperti biasa yang selalu ketus. Hatinya terlalu khawatir dan gundah untuk itu.


Mata Tuan Hartono berkaca-kaca membuat mereka saling pandang bingung mau apa. Dokter Grely-pun merasa ada yang ingin Tuan Hartono beritahu pada Natalia tapi tak bisa karna keadaannya sudah parah.


"Papa anda mengalami serangan jantung saat terjadi kebakaran! saya sudah berusaha memperlambat syaraf disekitar agar tak lemah tapi akhirnya seluruh tubuhnya mati rasa dan mengalami kelumpuhan."


"A..Apa?" Natalia bergetar mendengarnya.


"Tapi. saya akan berusaha Nona! dalam pemeriksaan kami, ditemukan cairan berbahaya yang melumpuhkan otot Papa anda."


Natalia semakin terkejut dengan mata berair. Benarkah? siapa yang tega melakukan ini? padahal ia sangat berharap Papa-nya bisa segera pulih.


"Kami masih menyimpan sempel darah Tuan! anda tenang saja, kami akan berusaha untuk memulihkan Papa anda."


"T .tapi bagaimana bisa? aku ..aku tak tahu kenapa bisa begini? padahal pengobatan Papa selalu dilakukan dan.."


"Banyak hal yang bisa terjadi. Nona! sekarang anda fokus saja pada kesehatan Tuan. semoga semuanya baik-baik saja."


Jawab Dokter Grely menepuk punggung Natalia lalu pamit. Ia harus mencocok sempel yang ia ambil itu dengan racun yang telah ia diagnosa sedari semalam.


Natalia benar-benar dibuat khawatir. Bagaimana kalau keadaan Papanya semakin parah? ia tak ingin ditinggal sendirian diatas dunia ini tanpa orang tuanya.


"Pa!"


"L..aaa.."

__ADS_1


Lirih Tuan Hartono terbata-bata dan tubuh kaku. tangannya digenggam Natalia yang sangat dibuat tersiksa dengan keadaan pria ini. Tak lagi bisa bergerak bebas dan telah lumpuh total.


"Pa! Papa tenang saja, Lia akan usahakan supaya Papa sehat."


Setetes air mata itu lolos dipelupuk netra Tuan Hartono yang terlihat sakit dan sangat sakit. Bayangan dimana ia membuat wanita ini sengsara pun menghiasi kepalanya. tapi kenapa kau masih mau mengurusku? aku pria yang jahat.


"Pa! jangan menangis."


Lirih Natalia mengecup punggung tangan Tuan Hartono yang sudah tak mampu menahan getaran sesak didadanya. Ada yang ingin ia katakan dan itu sangat penting. Hal yang semalam ia ketahui dan membuat semuanya runyam ia membiarkan wanita itu lolos membuat kehancuran besar.


"A.. itu... aa...l..naa." Tuan Hartono berusaha bicara tapi lidahnya seakan mati rasa membuat Alfin yang melihat dari kejahuan-pun mendekat.


"Ada apa. Pa?"


"J..an.. k..m..naa.. i..aa.."


Natalia tak mengerti hingga membuat Tuan Hartono frustasi. Alfin yang melihat-pun berusaha menyusun gerak mulut Tuan Hartono yang terlihat benar-benar berusaha dan ketakutan.


"J..h..u...i.. Mm..naa.."


"Jahui M.."


Gumam Alfin tak tahu lagi sambungannya. Gerakan bibir kering itu sama sekali tak bisa dimengerti membuat sakit didada Tuan Hartono mulai menyerang menarik kepanikan Natalia.


"Pa! Papa hentikan. kau..kau bisa saja semakin parah!"


"J..u..ii.. m..naa.."


"Nanti kalau Papa sudah sehat kita bicara. sekarang Papa istirahat."


Bujuk Natalia tapi Tuan Hartono semakin nekat ingin mengatakan itu tapi suaranya semakin hilang. Alhasil nafasnya mulai tak stabil.


"Pa!! aku bilang sudah!!"


Batin Tuan Hartono berteriak dengan air mata mengalir deras. Bagaimana lagi cara ia menyelamatkan wanita ini dari wanita terkutuk itu? sekarang waktunya sudah tak memungkinkan.


Drett...


Ponsel Natalia berdering hingga konsentrasi wanita itu teralihkan. Natalia mengangkat ponselnya seraya mengelus dada Tuan Hartono agar lebih baik.


"Hallo. Bik!"


Degg...


Mata Tuan Hartono melebar dengan kepala menggeleng berusaha meraih ponsel Natalia untuk menghentikan wanita itu. Tapi, tak ada yang peka akan reaksi Tuan Hartono yang keras.


"Non! maafkan Bibik."


"Kenapa? Bik!"


Tanya Natalia heran dengan ucapan wanita ini. Ia menatap Rani yang hanya diam tak mau ikut campur.


"Bibik tak bisa selamatkan Dokumen penting di ruangan kerja. Nona!"


Natalia diam mendengar suara bergetar Bibik Mina yang terdengar menangis. ia paham karna pasti Bibik Mina ikut merasa bersalah dengan kebakaran itu.


"M..Maafkan Bibik. Non! Bibik juga tak bisa menyelamatkan Tuan besar, kaki Bibik tertimpa beton karna mengarahkan Tuan Fagan semalam."


Seketika Natalia langsung tersentak. Berarti wanita itu juga terkena dan rela berkorban demi Papanya. Hati Natalia terasa tersentuh dengan ucapan Bibik Mina yang telah ia anggap Mamanya sendiri.


"Bik! justru aku yang minta maaf, aku belum sempat menjenguk Bibik."


"Tak apa. Non! Bibik baik-baik saja, bagaimana keadaan Tuan?"

__ADS_1


Natalia beralih memandang Tuan Hartono yang terlihat masih berusaha berkomunikasi tapi tak bisa. Natalia malah menganggap ia hanya marah dan seperti biasa menolak untuk bersamanya.


"Papa keadaanya memburuk! dia lumpuh."


Tak ada jawaban diujung sana selain suara isakan tapi tersirat kekhawatiran.


"Ya Tuhan! itu semua karna Bibik, Non!"


"Bik. sudahlah! sekarang Bibik Istirahat, ya?"


"Baiklah. Non!"


Sambungan terputus dengan Alfin yang masih mengamati gerakan mulut Tuan Hartono yang bukan marah tapi ini terkesan seperti teriakan ketakutan.


Lama kelamaan Tuan Hartono sudah tak kuat mencoba membuat matanya terpejam karna obat penenang yang sebelumnya diberi Dokter agar ia lebih rileks.


"Kenapa tak mati saja?"


Suara ketus dari arah pintu membuat Natalia menoleh hingga pandangan Alfin berubah tajam memeluk erat Natalia dengan siaga.


"Nyonya!"


Nyonya Maria menyeringai licik menatap kondisi Tuan Hartono. ia sangat mengutuk Natalia atas apa yang telah dilakukan pada Qyara yang sudah lumpuh.


"Kau seharusnya bahagia, bukan?"


"Maksud. anda?"


Tanya Natalia tegas berdiri mengisyaratkan Alfin agar tak ikut dalam perdebatan yang pasti akan kembali berlangsung.


"Jangan membodohi-ku. seharusnya kau senang kalau sainganmu sudah tak bisa melawan!!"


"Maaf. tapi aku tak tahu maksudmu."


Tekan Natalia mendekati Nyonya Maria agar tak membuat keributan diruang rawat Papanya. Para pengawal sana juga ikut mengamankan Nyonya untuk segera keluar.


"Kau yang membuat Qyara kecelakaan!"


"Aku?"


Tanya Natalia tak menyangka dengan tuduhan tak berdasar ini. Ia menarik cepat lengan Nyonya Maria yang memberontak tak mau keluar tapi para pengawal juga ikut mengiringnya.


"Lepas!!! Bajingan!"


Maki Nyonya Maria dengan wajah murka besar menyentak tangannya dari genggaman Natalia yang menatapnya penuh ketegasan.


"Nyonya Maria! aku tak tahu menahu soal tuduhan-mu."


"Benarkah? sayangnya aku tak percaya pada manusia licik sepertimu! kau sama saja dengan Ibumu!!!"


"JAGA BICARAMU!!"


Tekan Natalia mencoba menahan emosinya. Wanita ini seakan kenal dengan Mamanya dan terlihat sangat membenci.


"Yah! Kau anak seorang pecundang yang hanya bisa merebut suami orang!!!"


"HENTIKAN!!!"


Suara keras seseorang yang datang dari arah lift dengan langkah lebar menelan Nyonya Maria yang menyeringai. ia ingin Sam tahu siapa yang telah membuat semuanya sehancur ini?


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2