
Kemilau mentari yang tadi mulai redup berganti dengan rembulan yang telah tertanam dilangit sana. kicauan burung kembali kesarangnya menyelingi suara jangkrik yang berderit ditengah lapangan hijau didalam Kediaman Bilions.
Suara kerlingan itu mengiring 3 Mobil mewah untuk masuk kedalam kediaman besar Bilions yang seperti biasa begitu megah dan dihiasi lampu-lampu neon yang meremangkan susana. semuanya seketika mendingin tak seperti biasa seakan Kediaman ini kehilangan cahayanya.
"Tuan!"
"Hm."
Sam membuka matanya saat panggilan Fagan menyerukan bahwa mereka telah sampai ke Kediaman. wajah lelah Sam terlihat begitu letih dan tak bersemangat. pria itu turun saat para pengawal membukakan pintu mobilnya dengan para pelayan yang seperti biasa membawakan pakaian hangat dan Tisu sesuai kebersihan Kediaman ini.
Sam melangkah masuk kedalam Kediaman dengan wajah datar yang masih belum menunjukan raut berlebih selain menatap semuanya dengan dingin.
"Alfin!"
"Tuan kecil tadi dikamarnya. Tuan!"
Sam langsung melangkah menaiki tangga atas dengan Maya yang tak mau menganggu. ia tahu Kediaman ini jadi sunyi tak ada Natalia yang biasa menebar senyuman dimana tempat.
Begitulah yang Sam rasakan. ia berusaha untuk bersikap biasa walau sedari tadi pikirannya tak pernah tenang. pekerjaannya pun terbengkalai tapi ia berusaha mengalihkan semua itu ke semua urusan Proyek pentingnya tapi tetap saja ia akan dilanda kegelisahan.
Sam tiba didepan pintu kamar Alfin tapi matanya langsung tertoleh seakan ada tarikan dari kamar sebelah. kamar Natalia yang tertutup rapat membuat helaan panjang dari nafasnya.
"Pergilah dari pikiranku!"
Gumam Sam mengetuk kepalanya yang pusing hingga dengan pelan ia masuk kedalam kamar Alfin hang ternyata masih belum tidur padahal jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Kau belum tidur?"
Alfin yang termenung diatas ranjang sana hanya menoleh kilas kearah Sam lalu kembali menyandarkan kepalanya kekepala ranjang menatap lurus ke Balkon. ntahlah ia memang tak bisa tidur tanpa pelukan Bundannya.
"Kenapa kau kesini?"
Sam hanya diam duduk disamping Alfin yang terlihat tak mengatuk. keduanya lama terdiam membungkam kata hingga akhirnya Sam membuka percakapan.
"Kau tidurlah. ini sudah larut!"
"Hm. pergilah kekamarmu!"
Alfin masuk dalam selimutnya membuat Sam hanya menggeleng. ia tak ingin menyentuh Alfin yang pasti tengah tak bersahabat dengannya, jika ada Natalia bocah ini akan menuruti apapun tapi sekarang sudah tidak.
"Kapan kau menceraikannya?"
Sam yang ingin mengangkat duduknya seketika terdiam saat pertanyaan Alfin menahan tubuhnya. suara datar yang begitu penuh dengan perintah.
"Aku tak ingin Bundaku dipermainkan."
"Kau tak tahu soal apapun."
"Soal apa?"
Alfin berbalik menatap Sam yang diam memandang lurus kedepan dengan dingin. wajahnya membeku tak dimengerti siapapun. jujur Sam sendiri kebingungan, ia memang begitu dekat dengan Natalia tapi apa ia masih punya perasaan dengan Qyara? ia takut jika nanti ia hanya akan menjadikan Natalia pelampiasan rumah tangganya yang retak.
"Jika kau mencintai Bundaku. maka Cintai dia dengan utuh! tapi jika kau masih memilih wanita itu, maka jangan anggap aku anakmu lagi!"
__ADS_1
"ALFIN!!!'
Bentak Sam tapi Alfin hanya diam masuk kedalam selimutnya tanpa menatap raut wajah mengeras dari sang Papa. ia begitu menekan hati Sam yang sekarang tengah kacau.
"Kau itu anak kecil. kau tak tahu apapun soal orang dewasa!"
"Aku tak perduli. selagi kau masih berhubungan dengan wanita itu maka jangan pernah menganggapku putramu!"
Sam mengepalkan tangannya kuat lalu melangkah keluar dari pintu kamar yang ditutup kasar membuat Alfin gemetar mencengkram selimutnya.
"Bunda hiks!"
Isak Alfin meringkuk sendirian. ia sangat takut dengan Sam ketika marah tapi ia mencoba melawan karna ia memang tak suka hidup seperti ini terus. ia akan mati jika sampai Bundanya pergi.
.......
Sam yang tengah dikuasai tekanan itu langsung masuk kedalam kamarnya melempar Jasnya asal lalu melangkah kedalam kamar mandi dengan kasar menghidupkan kran Wastafel mencuci wajahnya dengan air dingin.
"Sial!!!!"
Sam mengumpati dirinya sendiri. ia terjebak dalam situasi yang membingungkan bahkan ia tak bisa mencari jalan keluar. antara Qyara dan Natalia keduanya seakan menjadi bayang-bayang dikepalanya.
"Keluarlah dari kepalaku!!!!"
Geram Sam memukul kepalanya yang selalu membayang wajah Natalia. senyum hangat itu bahkan bibirnya. semuanya ia kenang membekas dalam lubuk hati dan pikirannya membuat Sam pusing bersandar dipintu kamar Mandi yang begitu luas seraya mata terpejam.
"Aku hanya takut. aku tak ingin mempermainkanmu. tapi aku juga tak bisa melupakanmu!"
Gumam Sam tak mengerti dengan hatinya. ia memandang Foto pernikahan yang dipajang selama bertahun-tahun didinding sana. foto sakral yang dulu sangat ia dambakan telah ada disini tapi kenapa semuanya hancur?
Tekan Sam pada dirinya sendiri lalu bergegas mengambil handuk untuk membersihkan diri mendinginkan kepalanya yang berat. ia harus secepatnya mencari tahu kemana hatinya ini akan berlabuh.
Drett...
Ponsel Sam diatas ranjang sana berbunyi tapi Sam yang tengah berendam pun tak tahu soal itu. nama Qyara yang begitu romantis tertera dilayar Ponselnya tapi mati karna tak diangkat.
Setelah beberapa lama. Sam keluar dari kamar Mandi dengan tampilan yang lebih segar dari waktu tadi, rambut basahnya terlihat seksi menambah aura dari tubuh kekar yang terlihat berotot.
Dreett...
Dahi Sam mengkerut saat Ponselnya kembali berdering. ia memperbaiki simpulan handuk dipinggang kekarnya lalu melangkah ke dekat ranjang.
Nama itu kembali terlihat dilayar Ponselnya membuat Sam terdiam menatapnya datar. wajah Sam terlihat kecewa karna ia pikir itu Natalia yang menelfon.
"Angkat telfonku. Sayang!"
Pesan singkat dari Qyara hanya ditatap datar mata elang Sam yang tak merasakan apapun. padahal dulu ia begitu menunggu pesan dari wanita ini dengan jantung yang berdebar karna cintanya pada Qyara. tapi, sekarang ia sama sekali tak berniat mengangkatnya.
"Dulu kau kemana?"
Gumam Sam tersenyum miris lalu lebih memilih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil mengacuhkan panggilan itu. namun, lama kelamaan Sam mulai risih karna terus bersuara dan akhirnya ia menyambarnya kasar dengan wajah mengeras.
"Qyara!!!"
__ADS_1
Tak ada jawaban dari seberang sana bahkan Sam dibuat bingung dengan suara lengang dan sunyi ini.
"Ada apa? kenapa kau menelf..."
"Tuan.."
Duarrr....
Seketika Sam terlonjak kaget bahkan handuk ditangannya terlepas langsung melihat nama diponselnya dan ternyata itu Kumannya dan bukanlah Qyara.
Jantung Sam seketika berpacu cepat dengan wajah memucat menduga Natalia salah paham dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"K..Kau..."
"Maaf. aku menganggumu. Tuan!"
"A.. kau ...kau tidak .."
"Selamat Malam!"
Tuttt...
"Lia!!! Lia!!! kau... siall!!!"
Teriak Sam saat Natalia mematikan sambungannya mencekik leher Sam yang tak lagi bisa bernafas normal karna jantung yang begitu memompa keras. kepalanya mulai menduga hal yang semakin membuatnya panik.
"Bagaiman? bagaimana kalau dia..dia berfikir yang tidak-tidak? dia..dia pasti menduga kalau aku sedang..."
Sam tak lagi mampu tenang hingga langsung berlari keluar seakan kehilangan akal sehatnya. disaat begini ia tak sadar jika dirinya telah dikuasai rasa takut dan itu adalah ketakutan yang terbesar yang pernah ia tunjukan, hal gila yang tanpa sadar membuat sikapnya jadi aneh.
.....
Vote and Like Sayang..
Terimakasih buat yang udah Vote dan kasih gift karya author dan kalian emang luar biasa masih mantengin sampai sekarang walau banyak kekurangannya
.Deni Iriani Bintang Gemini
.Marisi Tumbolon
.Yuni Zahratul Muda
.Perlu obad bed waras
.Putri Nanda Nurcahya
.Novita
.Muhammad Reza Saputra
Dan terimakasih juga yang udah Vote BUAT YANG LAIN MOGA BISA MENYUSUL YA Say🥰🥰🥰
p
__ADS_1