Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Kediaman Terbakar!


__ADS_3

Seketika semuanya hening. Tak ada percakapan sama sekali selain menikmati kemayu angin yang menerbangkan tirai-tirai didepan sana. Gemerlap malam yang dipenuhi bintang malam ini membuat suasana terasa damai dan tentram.


Tentu itu sangat membantu Natalia untuk merenung. Setelah perdebatan konyol Sam dan Alfin tadi, keduanya berpisah dengan Alfin yang sudah tidur didekat Natalia memeluk tubuh wanita itu. Sedangkan Sam? ntahlah.. Natalia pun tak tahu kemana pria itu pergi setelah membuat kericuhan yang menggemaskan.


"Kenapa perasaanku sangat tak tenang?"


Gumam Natalia memejamkan matanya. Ia merasa tak tenang memikirkan Papanya di Kediaman sana. entah kenapa Natalia seakan merasakan hal yang sangat rumit untuk dijabarkan.


"Masih belum tidur?"


Suara datar itu mengalun membuat perhatian Natalia teralihkan kearah pintu masuk. Ia tersenyum hangat menatap sesosok yang telah lama keluar dan baru datang dengan pakaian santainya.


"Kemana saja?" Natalia merentangkan tangannya manja.


"Mencari ini!"


Sam menunjukan paper-bag ditangannya seraya melangkah mendekati ranjang Natalia yang langsung merengkuh pinggangnya merapat.


"Itu apa?"


"Makanan! kau tadi tak mau makan. bukan?"


Dahi Natalia mengkerut menatap paper-bag yang Sam letakan disampingnya. Seakan mencium aroma lezat dari benda ini Natalia mulai tak sabaran.


"Aku kenal baunya. Tuan!"


"Tebak!"


Pinta Sam menahan tangan Natalia untuk membukanya sampai bibir mungil itu mengerucut tapi segera mengetuk dagu dengan jari lentiknya.


"Kalau aku benar. dapat apa?"


"Emm.."


Sam berfikir sejenak merapikan rambut Natalia yang panjang. Ia tersenyum kecil memencet hidung mungil itu gemas.


"Apapun yang kau mau!"


"Benarkah?"


"Hm. ayo, tebak!"


Natalia mulai mengendus Paper-bag itu menggunakan insting kucingnya membuat Sam terkekeh pelan masih menikmati tingkah konyol wanita ini.


"Ini..."


"Apa?"


"Pisang Goreng!"


Jawab Natalia berbinar penuh harap meminta Sam membenarkannya. Tapi, exspresi Sam masih seakan santai membuat wajah Natalia kembali ditekuk.


"Lalu apa?"


"Itu..."


Natalia menunggu penuh harap sampai matanya mengerijab beberapa kali.


"Benar!"

__ADS_1


"Yeaaahh!!!"


"Sutt! nanti pengganggu itu bangun."


Bisik Sam membekap mulut Natalia yang sudah bersorak seperti biasa. Ia suka melihat respon Natalia yang seperti anak kecil diberi mainan walau yang ia lihat hal sesederhana ini.


"Ok! boleh aku buka?"


Sam mengangguk duduk didepan Natalia yang hati-hati bergerak takut Alfin yang memeluk pinggangnya malah terbangun.


Tangan Natalia masuk kedalam Paper-bag berwarna coklat itu hingga wajahnya sangat tak sabaran melihat tempat plastik steril yang biasa dijual di Restoran. Ia mulai membukanya pelan seakan menikmati aromanya dan...


"Woww!!"


Natalia berbinar melihat Pisang Goreng berbagai jenis didalam sini. Ada yang pakai saos tomat dan Coklat beserta campuran toping keju membuat liur Natalia sudah mau meleleh. Tanpa pikir panjang Natalia langsung mengambil yang coklat dan melahapnya penuh selera tanpa malu sama sekali makan seperti ini.


"Enak!!"


Natalia mengacungkan jempolnya bahkan ia menjilat sisa coklat dijarinya membuat Sam terkekeh kecil menggeleng akan tingkah wanita ini. Lama Sam memperhatikan Natalia yang tak memperdulikannya sama sekali. Selama ini ia banyak berjumpa dengan wanita yang begitu anggun dan sangat memperdulikan gestur tubuh berkelas dimana-pun termasuk Qyara, tapi Natalia berbeda.


Wanita ini tak pernah menjadi orang lain baik dengan siapapun terutama bersama Sam yang notabennya bukan orang sembarangan.


Seketika Natalia sadar saat tatapan Sam tak lepas darinya hingga semberaut merah itu tercipta meletakan kembali potongan pisang yang tadi ingin ia lahap.


"T..Tuan."


"Hm?"


"K..Kau mau?"


Natalia menyodorkan tempat makannya dengan malu kehadapan Sam yang tersenyum geli kembali meletakan benda itu ke paha Natalia.


"Makan saja!"


Lirih Natalia menatap Sam yang mencempol rambut panjangnya keatas agar tak menganggu acara makannya.Mulut Natalia belepotan dengan coklat membuat Sam menggeleng.


"Makan itu pelan-pelan. tak akan ada yang mengambilnya darimu."


"Benar kau tak mau?"


Tanya Natalia memastikan seraya terus menatap Sam yang dengan lembut membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Hm. makanlah!"


"Coba dulu."


Akhirnya Sam pasrah menerima suapan dari tangan lentik ini dengan wajah bersahabat. Ia mengecup kilas bibir Natalia yang tak bisa ia anggurkan.


"Mau lagi?"


"Aku mau bibirmu!"


Natalia tercekat saat Sam membungkamnya dengan ciuman lembut yang membuat tubuh Natalia kaku seperti biasa. Walau sudah sering melakukan ini Natalia belum bisa menyesuaikan diri akan sensasinya.


"Cium aku!"


Bisik Sam serak menghembuskan nafas segarnya membuat Natalia agak sulit bergerak karna Alfin mendekap pinggangnya erat. Melihat itu Sam langsung sigap melepas pelan belitan tangan mungil Alfin seraya mendorong halus tubuh Natalia untuk kembali berbaring.


Ia meletakan bantal membatasi Alfin agar tak menganggu aktifitasnya yang tadi tertunda.

__ADS_1


"Dia tak lagi menganggu kita."


"T..Tapi.."


"Ayolah!"


Bujuk Sam sudah mengecup kening, pipi dan hidung Natalia yang dibuat tak mampu menolak. Perlahan tapi pasti ia kembali menyatukan bibir keduanya dengan lengan Natalia berkalung ke leher kokoh Sam yang hanya diam menikmati sensasi luar biasa ini.


Natalia mencumbu kaku tapi berusaha fasih. bibir wanita ini sangat lembut dan manis membuat Sam memejamkan matanya meresapi gejolak yang menjalar disela kulitnya.


Melihat Sam yang terbuai. Ada kepuasan tersendiri dan kepercayaan diri bagi Natalia untuk melakukan lebih. Ia mulai melakukan gerakan erotis menyusuri rongga mulut pria ini dengan tangan berherak berani membelai leher Sam yang terasa begitu damai dan hangat.


"Aku ingin lebih."


Bisik Sam serak mulai bergerilya mencari dua bongkahan kenyal yang tertutup rapi dalam pakaian rawat Natalia. Keduanya mulai saling memberi sentuhan dengan suara geraman keduanya membuat tangan Sam tak tahan untuk bermain lebih panas seperti biasa.


"Apa tak masalah?"


Tanya Sam dengan deru nafas berat dan wajah merah padam menatap penuh hasrat Natalia yang tersenyum kecil mengusap rambut Sam.


"Pelan-pelan."


"Hm."


Sam langsung mengangkat Natalia menuju sofa karna wanita ini tak lagi menggunakan selang infus. Natalia berkoala ditubuhnya dengan tautan yang masih bergelut saling memberi kehangatan.


Disaat Sam membaringkan Natalia diatas sofa. Ia mulai merasakan ada yang memantau mereka dari arah tirai yang terbuka.


"Sialan!"


Batin Sam melepas ciumannya hingga deru nafas itu saling berbenturan. Keduanya terlihat sama-sama menginginkan dengan tatapan penuh hasrat.


"Tuan!"


"Sebentar!"


Sam bangkit dari kungkungannya menatap Tirai disamping mereka. Jelas netra elangnya melihat laser yang membayang ditirai putih ini.


"Ada apa?"


"Tidak ada."


Jawab Sam seakan tak terjadi apapun menutup Tirai dan Jendelanya. Ia diam sejenak melihat bayangan Laser ini tepat tertuju keatas ranjang membuat kepalan tangannya mengerat.


"Tuan!"


Natalia merasa bingung melihat Sam terhenti ditengah jalan. Pria itu terlihat membuka Ponselnya entah apa yang diperbuat.


"Lindungi area kamar!"


Sam memberi pesan pada Fagan yang dengan cepat menelfonnya. Natalia memperhatikan dengan seksama tapi ia tak mengerti apa yang dilakukan Sam.


"Tuan!"


"Ada apa?"


"Kediaman Nona terbakar!"


Deggg...

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2