Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Bertemu Mamaku!


__ADS_3

"Bunda!!!"


"Alfin!!! jangan berlari!!"


Teriak Natalia yang memanggil Alfin tengah berlari setelah pintu mobil terbuka keluar sana. bocah itu terlihat bahagia menyongsong pasir putih pantai yang tengah bergejolak atas kedatangan mereka.


Yah, Sam untuk pertama kalinya keluar tanpa desakan pekerjaan, ia membooking satu Pantai dengan Resort indah itu hanya untuk tempat bersantai bagi Istri dan anaknya.


"Alfin!!!"


"Biarkan saja."


Ucap Sam seraya turun dari Mobil mendekati Natalia yang susah bergerak didekat kursi sana. wanita itu hanya bisa menatap khawatir Alfin yang asik bermain pasir halus itu.


"Tuan. bagaimana kalau ombaknya besar? Alfin bisa hanyut."


"Tidak akan."


Jawab Sam beralih menggendong Natalia yang belum bisa berjalan sempurna. wanita itu hanya pasrah dengan wajah memerah saat kembali dihadapkan dengan leher kekar Sam yang penuh dengan bekas ciumannya.


"Seharusnya jangan dibuka begini."


"Kenapa?"


Acuh Sam melepas sepatunya begitu saja lalu menapaki pasir lembut ini. siang menjelang sore disini tak terlalu panas membuat angin pantai mengibar rambut mereka selayaknya rumput laut.


"Tuan! aku disini saja, temani Alfin main!"


Natalia mengalihkan pembicaraan saat Sam ingin membawanya kedekat bibir pantai yang dibasahi air yang dingin. Alfin tampak senang mengaduk buih yang tertinggal dibebatuan sana membuat senyum Natalia mekar dengan indah.


"Tuan!"


"Hm."


"Pergilah! aku tak bisa terlalu bermain seperti itu."


Tolak Natalia lembut tapi anehnya para pengawal sana langsung meletakan dua kursi kedekat bibir bantai dan selebihnya membawakan meja pantai yang sangat santai.


"Ada yang dibutuhkan lagi. Tuan?"


"Tidak!"


Para pengawal berjas rapi itu pergi kembali ketempatnya yang agak jauh agar tak menganggu kebersamaan ini. ditempat seluas mata memandang, tak ada satupun orang yang lewat karna sudah dikhususkan untuk mereka.


"Bunda. duduk disini!"


"Ouuhh...baiknya. anak Bunda."


Gemas Natalia mengelus kepala Alfin yang mengelap kursinya dengan Sam yang mendudukkannya dengan pelan seakan menjaga berlian yang langka, ia juga melepas Sendal santai Natalia hingga kedua kaki jenjang wanita itu langsung dipijat air yang tersisir.


"Bunda!"


"Yah?"


"Bunda pernah kesini?"


Tanya Alfin seraya mengubur kaki Sam kedalam pasir. ia terlihat suka bermain dengan jari kaki besar Papanya yang duduk disamping sang Bunda.


"Kalau ke pantai, Bunda baru kali ini!" disela kekehan geli.


"Alfin juga! baru pertama kali keluar dan main."


"Benarkah?"

__ADS_1


Natalia merespon gembira padahal cerita itu sangat membosankan. jika dipikir-pikir, jarang wanita yang mau meladeni ucapan bocah yang memang mencurahkan isi hatinya disini.


Alfin tampak bercerita disela kegiatannya dan Natalia pun enggan berpaling. ia selalu menanggapi ucapan Alfin dengan lebih penasaran padahal itu bukanlah sesuatu yang penting.


Lama Sam termenggu menyandarkan tubuhnya ke kursi yang ia duduki dengan mata yang terpaku pada objek cantik yang tengah tersenyum mempesona. rambut panjang Natalia berkibar indah menutupi sebagian wajah wanita itu membuat tangan Sam perlahan terulur merapikannya.


"T..Tuan.."


Natalia gugup saat Sam menyelipkan anak rambut itu dengan halus dibelakang telinganya. tatapan Sam juga begitu lembut membuat Natalia agak kaku dengan jantung yang berdebar.


"Senyum lagi!"


"A.. Apanya?"


Tanya Natalia mencoba menghindar tak memandang Sam yang tadi sempat melihat sesuatu yang manis saat Natalia tersenyum lepas tak seperti biasanya.


"Senyum!"


"A..Aku .."


"Mau ku cium?"


Dengan cepat Natalia tersenyum hingga Sam melihat ada gingsul yang tersembunyi didekat gigi rapi Natalia yang putih bersih.


"Sudah?"


"Kau punya Gingsul?"


Natalia menyentuh giginya lalu mengangguk tanpa menurunkan senyuman pepsodentnya membuat Sam trkekeh geli kembali mengatup mulut Natalia. ia tak memperhatikan ini karna ia tak punya kesempatan menganati wajah istrinya terlalu intens.


"Sudah. jangan selebar itu."


"Hm, iya! aku punya satu disebelah kanan, kecil dan jelek!"


Jawab Natalia masih meraba giginya. tapi itu sangat manis membuat Natalia tampil dengan aura gadis pribumi asli yang kemayu.


"Kenapa?"


"Kau terlalu jelek."


Natalia hanya mencemo'oh singkat lalu fokus pada Alfin yang tampak masih asik dengan kegiatannya. bocah itu menjadikan kaki Papanya sebagai objek percobaan istana kecilnya.


"Apa keinginanmu?"


"Ha?"


Tanya Natalia yang tadi tak fokus karna mengawasi Alfin. berbeda dengan Sam yang sedari tadi terus memandangnya tanpa bosan, padahal pemandangan disekitarnya sudah begitu luar biasa.


"Keinginanmu!"


"Em. mau makan pisang goreng."


Alis Sam bertaut mendengarnya. ia tak pernah mendengar nama itu bahkan sepertinya benda itu sangat tak enak.


"Aku serius."


"Hm. Iya! dulu saat kecil Mama selalu memasak Pisang Goreng, apalagi di Kampung Mbak Siti juga selalu memasak itu kalau Pisang di kebun sudah matang."


"Rasanya?"


Natalia langsung menangkup pipi Sam dengan begitu senang seakan benar-benar memimpikan mahluk itu.


"Emmm... Aku menyukainya! dia sangat manis dan bersensasi."

__ADS_1


"Semanis itu?" tanya Sam menyeringit.


"Iya! bahkan lebih manis darimu!"


"Jangan membahasnya!"


Sam mulai jengkel dengan wajah datar mendengar ucapan tak berperikecintaan itu. ia dibandingkan dengan pisang? yang benar saja.


Wajah tampan Sam ditekuk membuat Natalia mengulum senyum geli. entahlah terkadang ia suka dengan kemanjaan Pak tua ini.


"Tuan!"


"Jangan bahas pisang itu lagi. aku tak suka!" kesal Sam masam.


"Kalau Tuan senyum. maka akan lebih manis dari Madu."


Seketika Sam berusaha menormalkan wajahnya yang sudah mau semerah tomat. sungguh ia sangat benci raut menggelikan ini tapi kalimat itu langsung mengena ke ulu hatinya.


"Ehmm." deheman menghilangkan kegugupan.


"Senyum. Pak Tua!"


"*** Sudahlah, jangan kekanak-kanakan."


Elak Sam berusaha tak terlihat bahagia padahal ia sudah ingin berteriak sekarang. tetap saja ia harus mempertahankan citranya sebagai pria dingin dan menakutkan.


"Tapi. aku serius! kalau Tuan senyum, bahagia terus. jangan selalu begadang, pasti Tuan tambah Tampan."


"Aku selalu Tampan."


"Tuan yang sabar,ya!"


Natalia menggenggam tangan Sam yang dibuat heran. wanita ini kadang memiliki hal yang tak bisa ia mengerti.


"Kau..."


"Gagal satu kali bukan berarti Gagal untuk selamanya. mungkin saja, Tuhan memberikan Tuan jalan untuk berbenah diri. siapa tahu dirumah tangga berikutnya bisa lebih baik. hm?"


Sam tertegun mendengar ucapan bijak Natalia yang membahas soal dirinya. senyuman hangat Natalia menyatakan kalau harus baik-baik saja, Natalia terlihat bersimpati dengan keberadaan yang nyata.


"Jangan suka bekerja terlalu keras sampai lupa orang yang menyayangimu. pulang larut malam, jarang tidur yang cukup. jika ada masalah cobalah tenang, dari pada menganggap di dunia ini hanya dirimu sendiri yang tersiksa. padahal itu hanya sebagian kecil ujiannya."


"Kenapa aku terlalu buta?"


Tanya Sam dengan artian. kenapa ia begitu buta dan bodoh dalam memilih wanita? sudah jelas Qyara dulu hanya memanfaatkannya sebagai batu loncatan Popularitas dan pelampiasan hasrat.


"Kalau sudah berurusan dengan hati. orang terjeniuspun pasti tak akan bisa memahaminya, jangan sesali apapun!"


Jawab Natalia masih tersenyum tanpa beban. padahal hidupnya saja sudah begitu perih dan masih bisa mengemban masalah orang lain. benar-benar wanita misterius.


"Impian yang ingin kau capai!"


"Impian?"


"Hm."


Natalia melempar pandangan ke hamparan laut dihadapannya. ia tersenyum kecil beralih keatas awan yang biru mendung tapi sangat asri.


Satu hal yang dari kecil ia ingin capai dan begitu mendambakannya, bertemu sosok yang begitu memiliki tempat yang tinggi dihatinya.


"Bertemu Mamaku!"


Degg...

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2