
Langkah lebar pria itu langsung mengikis jarak lantai rumah sakit terbesar Houghton di Jerman ini . Ia mengacuhkan tatapan semua orang padanya karna ia lebih fokus pada wanita yang ia gendong dan putranya yang bertaruh nyawa diruang rawat sana.
"Tuan!"
"Amankan tempat ini!"
Tegas Sam menerobos beberapa suster yang tengah mendorong pasean lain. Ia melangkah menuju ruangan khusus Alfin diiring oleh Fagan yang sudah bicara dengan Suster kepala disini.
"Alfin!" gumam Natalia begitu khawatir menatap kearah jalan ke ruangan Alfin hingga terlihat Pria berkulit putih berambut kekuningan itu sudah berdiri didepan ruangan yang dituju bersama Tuan Anderson yang tak lagi terkejut siapa yang di bawa Sam.
"Dad!"
"Lihat kedalam!"
Ucap Tuan Anderson datar dengan Sam yang menurunkan Natalia. Wanita itu dengan cepat mendorong pintu kamar rawat Alfin hingga matanya menatap nanar 5 Dokter sekaligus yang mengelilingi bangkar anak itu.
"A..Alfin!"
"Sayang! kau.."
Sam tak bisa mencegah Natalia untuk melangkah mendekat hingga para Dokter sana menatap kilas Natalia lalu kembali fokus mengurus tuan kecil mereka. Namun, Natalia menutup mulutnya tak percaya melihat keadaan Alfin sebenarnya.
"B..Bunda!"
Lirihan kecil keluar di bibir pucat itu dengan tubuh sudah tak berisi seperti biasanya. kulitnya begitu raum dengan mata tak terbuka sama sekali.
"A..Alfin!" lirih Natalia bergetar lemas ditempatnya membuat Sam segera menopang tubuh istrinya. Pandangannya begitu menajam pada Dokter Grely yang sudah berusaha sedari kemaren tapi keadaan Tuan kecil mereka tak kunjung membaik.
Dokter James dan para rekannya melakukan injeksi pereda gatal dan bengkak ke lengan tirus bocah itu membuat Natalia tak mampu membendung tangisnya.
"K..Kenapa begini?"
"Tenanglah. dia akan baik-baik saja." bisik Sam mengusap kepala Natalia yang terus menatap wajah pucat Alfin. Selang infus dan selang oksigen itu terpasang dengan kabel-kabel medis didada mungilnya membuat Natalia tersayat.
"Kami permisi. Tuan!"
"Hm."
Dokter James pergi membawa rekannya meninggalkan Dokter Grely yang selalu memantau kondisi Alfin. ia ditugaskan diam di ruangan ini karna Alfin sering kambuh.
"B..bagaimana keadaannya? dia..dia baik-baik sajakan?" sambar Natalia membuat Dokter Grely tersadar akan lamunannya ke perut wanita ini.
"Tuan kecil mengidap penyakit Autoimun!"
"A..Autoimun?" Natalia tak mengerti lalu menatap Sam yang mengecup lama keningnya.
"Yah. Nona! Penyakit autoimun adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh atau sistem imun menyerang sel-sel sehat dalam tubuh Tuan sendiri. Penyakit ini berkembang ketika sistem kekebalan tubuh salah dalam menilai sel sehat yang ada dalam tubuh dan malah menganggapnya sebagai zat asing. Akibatnya, tubuh tuan kecil mulai memproduksi antibodi yang akan menyerang dan merusak sel didalam tubuhnya."
__ADS_1
Mata Natalia berkaca-kaca mendekati Bangkar Alfin yang tampak tak sadar dia disini. Bibir kering itu selalu bergerak pelan selalu bergetar.
"D..dia begini. k..karna a..aku kan, hiks!"
"Sudahlah. dia memang sedari dulu nekat begini, dia tak pernah mendangarkanku!"
Jawab Sam tak mau membebani Natalia yang pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Memang benar Alfin terpuruk setelah kepergian Natalia membuat pola hidup bocah ini hancur dan terus mengurung diri. Sam pun kalau tak ada Natalia tak akan bisa meraih hati putranya.
"B..Bunda!"
"S..Sayang! kau..kau dengar, bundakan?"
Natalia menggenggam tangan mungil kurus itu lembut dan menghujaminya dengan kecupan penuh kasih dengan bulir bening yang jatuh menyayat hati.
"B..Bunda disini, Sayang! j..jangan sakit lagi, ya?"
"B..Bunda!"
Lirih Alfin perlahan membuka matanya membuat Natalia tersenyum hangat dengan bola mata bening yang memandangnya sayu antara sadar atau tidak.
Sam berusaha untuk tetap tenang walau ia ingin memeluk putranya tapi Alfin membencinya karna menganggap ia yang membuat Natalia pergi.
"B..Bunda!"
"Hm? i..ini Bunda! Bundanya Alfin!" gumam Natalia tersenyum dengan isak tangis tertahan mengusap pipi mungil tirus ini. Mata Alfin berair dengan bibir bergetar ingin menangis.
"B..Bunda!" Alfin mulai mengembun ingin bergerak memeluk Natalia tapi tubuhnya sakit hingga ia hanya bisa menangis meluapkan kerinduannya pada sosok ini.
"Suttt! B..Bunda disini, B..Bunda.. tak kemana-mana."
Natalia hati-hati mengecup kening bocah itu lama dengan jari lemah Alfin menggenggam jari Natalia erat disisa tenaganya.
"B..Bunda!"
"Hm?"
"J..Jangan p..pergi!"
Bibir Natalia bergetar mengangguk cepat kembali mengecup punggung tangan mungil itu. Alfin menatapnya lekat seakan mengerijap saja maka Bundanya akan hilang di pelupuk matanya.
"Bunda..Bunda janji kalau Alfin sehat seperti dulu. Bunda akan bawa Alfin jalan-jalan. t..terus Alfin m..mau adikkan?"
Alfin mengangguk lemah tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sembab Natalia yang dibuat sangat sakit dengan tubuh sekarat putranya.
"B..Bunda!"
"Hm? iya. Sayang!"
__ADS_1
Alfin mulai sayu dengan nafas sendat membuat Natalia memucat menatap Sam yang juga mendingin ditempatnya dengan Dokter Grely mendekat.
"B..un..nda!"
"A..Alfin! Alfin Sayang! kau..kau dengar Bundakan?"
Tanya Natalia menepuk pelan pipi pucat Alfin yang sudah sesak nafas dengan mata sayu-sayu terpejam. Cengkraman mungil itu melemah dengan tetesan air mata merembes ke pipi tirusnya membuat Natalia benar-benar panik.
"D..Dok!"
"Kesini!"
Sam menarik lengan Natalia agar menjauh tapi Natalia menggeleng masih tak mau melepas genggaman keduanya.
"S..Sam! di .dia.."
"Ayo keluar!"
Ajak Sam menarik Natalia kedalam pelukannya tak mau menatap wajah pucat anaknnya. Hatinya sakit dan perih tapi ia harus tegar dan berpositif akan segalanya.
"S..Sam! A..Alfin! Alfin.."
"Dia akan baik-baik saja."
Jawab Sam tertehan walau jantungnya tak tenang. Alfin terlihat kembali kejang membuat Natalia menatap kosong dokter-dokter yang berlarian kembali masuk dengan wajah cemas bersama Dokter Grely.
"Cepat lakukan kejut jantung! jantung tuan kecil sangat lemah."
"A..Apa?"
Natalia mulai berkunang mendengar ucapan para Dokter di bangkar sana. Matanya kabur dengan tubuh lemas dan hidung yang mulai berdarah menarik keterkejutan Sam yang benar-benar mau mati.
"Sayang!"
"A..Alfin!"
Lirih Natalia lalu pingsan dipelukan Sam yang segera menggendong istrinya keluar dengan Tuan Anderson yang terkejut akan semua ini. Ia menatap Natalia bergantian dengan ruang rawat Alfin yang kembali bermasalah.
"Sam!"
"Dad! temani Putraku dulu!"
Tuan Anderson mengangguk memandang punggung Sam yang sudah membawa Natalia ke ruang lain. Ia mengumpati dirinya yang tak sadar akan kebiasaan Natalia setiap panik dan khawatir.
Mereka terlihat kelut tanpa tahu sedari tadi sesosok wanita berkursi roda itu sudah datang untuk menjenguk kesekian kalinya. Matanya mengembun melihat Team medis kembali masuk kedalam ruang rawat putranya dan ternyata wanita itu juga sudah hadir disini.
"Kembalilah! Bundamu sudah disini. n..nak!"
__ADS_1
.......
Vote and Like Sayang..