Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
L..Lia?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 15 jam 45 menit. akhirnya Pasukan Sam sampai ke wilayah kekuasaan Klan Ryoto di hutan Phanay. Hutan tropis yang menyimpan banyak misteri termasuk jebakan musuh disekitar sini.


Mereka sama sekali tak menggunakan Mobil atau kendaraan baja apapun. Sam hanya membawa 3 kelompok dan masing-masing berjumplah 3 orang. Ia tak mau mengambil resiko jika penyusupan kali ini gagal karna Daychi itu sangat licik.


"Tuan! biarkan saya menemani anda." ucap Fagan yang tengah berdiri dibelakang Sam. Mereka sudah ada didalam hutan belantara yang begitu gelap. Hanya memakai kacamata khusus ini mereka bisa melihat dalam kegelapan.


"Tidak!"


"Tapi.."


Fagan segera diam saat netra tajam Sam terasa mengintimidasi. Hendry dan Teamnya hanya diam menunggu perintah. Mereka ditugaskan untuk menemukan titik jebakan disini dan melumpuhkannya.


"Kalian kepung sisi bangunan itu! aku yang masuk kedalam."


"Baik!"


Sam memakai maskernya dengan pistol Glock-40 yang telah terselip erat dipinggang belakang jaket miliknya. Ia mulai mengendap dibalik pepohonan menuju jalan pintas yang sudah ia cari sebelumnya.


"Jangan sampai Tuan terluka! ingat."


"Baik!"


Tegas Hendry segera menjalankan tugasnya. Ia bekerja diluar meretas dan menyelidiki tempat didepan sana dengan Dron kecil yang sudah mereka kirim lebih dulu. Layar dari kamera Dron akan muncul di Laptopnya dan terhubung langsung dengan Earpiche yang ada ditelinga Sam dan mereka akan memantau dari sini.


Fagan membuntuti Sam masuk semakin dalam. Setelah menembus semak dan melompati beberapa dahan besar akhirnya mereka sampai tak jauh dari Dinding Beton yang mengungkung Bangunan minimalis didepan sana. Rumah beton yang tua tapi tak bisa didiuga apa yang terjadi didalamnya.


"Tuan! beton itu ada lendir hitam yang panas. anda harus hati-hati."


"Hm."


Gumam Sam masih menatap pagar beton didepan sana. Remangan lampu tempat ini tampak menyeramkan dengan aura yang begitu kental.


"Tuan! biar saya yang..."


Fagan terhenti saat Sam sudah dengan cepat melesat maju bak kangguru jantan melompati beton setinggi 3 meter itu. Mereka semua terdiam lalu saling pandang untuk kembali fokus.


Mereka ikuti cara Sam yang sudah menapaki rerumputan bagian belakang tempat ini tanpa tersentuh oleh cairan hitam kental itu.


Netra tajam Sam melihat kesemua penjuru termasuk bagian belakang yang dipenuhi rerumputan liar. Sam semakin tertantang untuk masuk dan mendekat hingga Fagan yang sudah datang segera berpencar dengan anggota lain untuk mengepung beberapa sisi tempat ini.


"Kenapa Sersan tak memarahi wanita itu?"


Sam segera bersembunyi dibalik pohon belakang saat ada penjaga Kediaman yang tengah memantau. Ia mendengarkan semua percakapan itu dengan teliti digelapnya malam membungkus kulit.


"Ntahlah. Sersan mulai enggan keluar! dia selalu memantau wanita itu."


"Aneh! jika Tuan besar tahu, maka Sersan pasti akan kena amuk."

__ADS_1


Dahi Sam mengkerut. Siapa yang mereka maksud? apa benar Natalia?


Sam menggeleng membuyarkan lamunannya. Ia perlahan mengendap kearah dua pria penjaga itu dan dengan cepat memukul tengkuk keduanya keras melumpuhkan titik kesadaran hingga tumbang ke rerumputan dingin ini.


"Cih!"


Decak Sam menendang kedua tubuh pria itu kebagian gelap yang tak terlihat lalu bergegas kembali kearea pintu belakang. Pintu kayu yang dirambah tumbuhan liar membuat Sam dengan pelan mendorong tapi penuh tekanan dan..


Takk...


Suara patahan engsel pintu memudahkan Sam untuk masuk. Namun, mata Sam cukup terhenyak melihat bagian dalam tempat ini begitu mewah. Ada lantai keramik hitam dengan dinding berlapis kayu. Desainnya sangat aneh dan sulit ditebak.


"Itu pintu belakang. Tuan! anda harus pergi ke ruang utama yang ada disebelah kanan saat anda ke tangga."


"Ada jebakan?"


Tanya Sam pada Hendry yang selalu memantau. Ia melangkah pelan maju menjahui pintu belakang hingga matanya melihat tangga yang diarahkan Hendry.


"Dilantai atas ada 3 penjaga. lantai bawah tidak ada. jadi anda aman."


"Hm."


Sam dengan gesit menyelinap masuk dengan pendengaran yang menajam. Ia menaiki tangga pendek yang terhubung ke lantai atas dan masih banyak lagi tangga disini. Bangunan ini seperti rumah tua tapi tak disangka didalamnya cukup mengesankan.


"Shitt!"


"Kau..."


Sam melesat maju memukul tengkuk wanita itu hingga tumbang kedekat tangga dengan Sam yang bergegas semakin masuk kedalam. Ruangan ini tak banyak menyimpan furniture dan sangat membosankan.


"Dimana lagi ruangan utama?"


"Anda jangan naik ke tangga atas. sepertinya disana sengaja dipusatkan penjagaan."


Sam terdiam sejenak. Lantai bawah tak dijaga sedemikian ketat karna tak ada yang menarik tapi jika dipusatkan dilantai atas maka pasti ada sesuatu disana.


"Tuan!!"


Hendry terkejut saat Sam malah menyusup ke lantai atas tak memperdulikan peringatannya. Langkah Sam begitu cepat menyalip CCTV dengan terlatih menghindari banyak penjaga yang tampak bermain catur didekat tangga. Ia menjadi Robinhood versi dirinya sendiri.


"Kau sudah dapatkan apa yang Xiaojie Mau?"


"Tadi Sersan yang mencarinya. sekarang Xiaojie masih mual tapi sudah didampingi. Emi!"


Ucap mereka masih fokus pada papan caturnya. Sam berlindung dibalik dinding mencoba mencari cara agar para penjaga itu tak tahu keberadaannya.


"Sersan masih belum pulang. ini sudah larut malam."

__ADS_1


"Sudahlah. mungkin Sersan .."


"Ehm!"


Sam muncul bersandar ke dinding begitu cool penih gaya.membuat 3 penjaga itu terkejut langsung berdiri mendekat.


"Kau siapa?"


"Menurutmu?" tanya Sam tanpa pikir panjang meninju wajah mereka dengan tubuh meliut bak angin menerjang dada mereka kuat tanpa ada suara sama sekali membuat deritan langkahnya tak terduga. Dalam sekejap ia sudah bisa melumpuhkan mereka walau Sam akui anak buah Daychi cukup terlatih.


"Xiaojie!"


Suara Emi didalam kamar sana membuat Sam segera mendekat kearah pintu kamar untuk memastikan siapa yang ada didalam.


"P..Pinggang."


Sam terhenyak mendengar suara wanita itu. Bahkan begitu mirip dengan seseorang membuat hatinya gundah. Dengan perlahan Sam menekan gagang pintu membuat Hendry yang memantaupun terkejut.


"Tuan!! jangan terburu-bu..."


"Pinggangku Sakitt!!!"


Duarrr...


Seketika Sam terkejut setengah mati saat pintu ini terbuka memperlihatkan seorang wanita yang berbaring diatas ranjang dengan Emi yang memijat pinggangnya. Mata Sam melemah dengan raut kosong.


"T..Tuan!"


Sam hanya diam seakan masih terkurung dalam bongkeman pikirannya. Ia tersandar masih meneliti wajah wanita itu. Kesadaran Sam seakan terhempas dengan jantung seakan mau putus melihat Natalia yang jelas diatas ranjang sana dengan perut buncitnya.


"Sersan melarang anda naik turun tangga. tapi anda tak menghiraukannya."


"Tapi dia itu aneh. bisa saja itu modus."


Gerutu Natalia memejamkan matanya menikmati pijatan Emi ke pinggangnya. Ia masih belum sadar kalau ada manik elang yang menatapnya penuh gejolak rindu dan sangat-sangat merindu.


"L..Lia!"


Gumam Sam tersenyum kecil melihat tubuh wanita ini sedikit berisi dengan tingkah imutnya yang masih terlihat khas. Ia perlahan mendekat tak mampu lagi meredam gejolak yang menggebu didadanya.


"Herchier Jerman!"


"Tuan!! dibelakang anda!!" suara Hendry diseberang sana panik.


......


Vote and Like

__ADS_1


__ADS_2