Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Aku mau kau malam ini!


__ADS_3

Dari siang menginjak malam yang berlarut panjang hingga pagi. Sekarang semuanya terlihat kembali membaik setelah kemalut dalam sebuah tragedi kambuh kedua anak dan ibu itu.


Natalia masih belum bagun dari tidur panjangnya diatas ranjang sana. Ntah karna ia lelah atau memang kebiasaan tidur wanita itu memang lama disaat hamil ini.


"Bagaimana dengan putraku?"


Suara Sam di sofa ruangan santai kecil itu. Ia menginap di Rumah Sakit yang menyediakan kamar luas dan Sam tak mau menganggu tidur istrinya itu karnanya ia memilih membahas soal Alfin disini.


"Tuan! keadaan Tuan kecil memang belum stabil. ia begitu lemah tapi ntah kenapa pasca kambuh sore kemaren sekarang dia sudah sadar dan mencari Nona!" jawab Dokter Grely


"Kau yakin?" Sam memastikan. Antara lega dan masih tak tenang soal keadaan Alfin semalam membuatnya berjaga takut jika hal-hal negatif terjadi, apalagi Natalia sedang hamil dan ia tak mau membuat keadaan runyam.


"Saya yakin. Tuan! untuk sekarang kita bisa bernafas lega tapi saya akan usahakan selalu melakukan kemotrapi ke tubuh tuan kecil."


"Tapi.."


"Sam!"


Seketika pandangan keduanya tertuju ke pintu ruangan memperlihatkan Tuan Anderson menggendong bocah kecil yang terlihat pucat dengan Dokter James menenteng selang infus membuat keduanya berdiri.


"Alfin!" panggil Sam berwajah cemas mendekati putranya yang masih terlihat lemah dan dibawa kesini.


"Dad! dia.."


"Cucuku mencari bundanya!"


Jawab Tuan Anderson datar mengecup kilas pipi tirus itu. Alfin melirikan mata bening sayunya kesemua sudut tak menemukan wanita itu membuat bibirnya mulai bergetar.


"B..Bunda!"


"Hey!"


"B..Bunda!!! hiks."


Tuan Anderson mengusap punggung Alfin yang kembali menangis dengan tubuh memang panas. Ini sudah menurun tak seperti biasa tapi begitulah kondisinya sangat labil.


"Bu..nda!"


Khawatir akan isakan sesak Alfin membuat Sam langsung ingin mengambilnya dari gendongan Tuan Anderson, sayangnya Alfin menolak ingin kembali sesak membuat Dokter James memijat bahu Alfin yang sekugukan.


"B..Bunda. hiks!"


"Iya! kita bertemu bunda!"


"K..kau bohong!!"


Teriak Alfin lantang membuat Sam diam dengan hati mencolos. Ia paham Alfin tak akan percaya lagi padanya yang sudah sering melakukan bujukan itu.


"B..Bun..ndaa!"


"Kau.."


"Alfin!"


Suara lembut didekat pembatas ruang santai ini mengalun hingga mata mereka melihat kearah sana. Bumil itu sudah berdiri dengan senyum hangatnya mekar menatap penuh kasih Alfin yang mengangkat tangannya lemah.


"B.un.Ndaa!!"


"Sutt! sini!"


Tuan Anderson mendekat dengan Alfin yang memberontak secepat mungkin ingin memeluk wanita itu hingga Natalia sangat hati-hati menggendongnya agar tak menyakiti kulit ruam putranya.


"B..Bunda!! hiks, Bunda!"


"Hm? menangislah! karna bunda juga mau menangis."


Kelakar Natalia menghujami pipi tirus itu dengan kecupan sayangnya membuat mereka menghangat melihat ketulusan wanita itu. Sam beralih memeggang infus mengisyaratkan agar mereka keluar.


"Kalau ada apa-apa! kau panggil saja."


"Baik. Dad!"


Tuan Anderson mengangguk dan melangkah pergi diiringi para Dokter yang mengelus dada lega karna Tuan kecilnya sudah bisa kembali bersama cinta pertamanya itu.

__ADS_1


"Baiklah! sekarang kita ke ranjang!"


"Bunda!"


Alfin membenamkan wajahnya keceruk leher jenjang Natalia yang tak terlalu kuat berdiri. Walau tubuh Alfin sudah ringan tapi perutnya yang besar membuat kakinya kesemutan.


Natalia duduk dipinggir ranjang dengan Sam yang menggantungkan selang infus kedekat gantungan didekat dinding tak jauh dari mereka.


"Em. Alfin!"


"B..Bunda!"


"Bunda belum mandi! apa tak bau?" tanya Natalia ingin membuat Alfin tak terkurung dalam kesunyiannya.


"Bunda wangi!"


"Benarkah? emm.. Alfin juga! tak sama dengan pak tua itu."


Sam terperanjat dengan ucapan Natalia yang membawa-bawanya. Matanya menyipit tapi mata Natalia memelas agar tak merusak suasana.


"Cih! aku terus yang kena. dasar KUMAN!"


"Kuman-kuman begini tapi kau sayangkan?" Natalia menaik turunkan alisnya menggoda Sam yang membelo jengah menaikan kedua kaki Natalia ke atas pahanya untuk dipijat lembut.


"Bunda!"


"Hm? kenapa Sayang?" tanya Natalia mengusap kepala mungil Alfin yang menatap heran perutnya dan bergantain dengan kaki Natalia yang membengkak.


"Kenapa perut bunda besar? bunda sakit?" cemas Alfin perlahan memeggang perut Natalia dengan jari mungilnya.


"Alfin lupa?"


"A. Apa?" tanya Alfin sepertinya tak bisa berfikir karna kepalanya pusing.


"Emm!"


Natalia mendekatkan bibirnya ke telinga Alfin agar bocah ini tak merespon terlalu negatif.


"Adiknya Alfin!"


Alfin terperanjat mendengar ucapan Natalia hingga matanya menatap kosong perut besar Bundanya. Tangannya masih menempel disana dengan pikiran kacau dan perasaan campur aduk. Melihat respon Alfin begitu terhenyak, Sam jadi heran lalu memandang Natalia yang paham.


"P..Perempuan atau.."


"Dengarkan Bunda! hm?"


Mata Alfin berkaca-kaca antara tak rela jika Natalia direnggut darinya tapi ia senang jika punya adik.


"B..Bunda pergi lagi?" bergetar dan serak membuat Sam termenggu.


"Tidak! kenapa Alfin bicara begitu? Sayang!"


"N..nanti ..adik b..bawa bunda p.."


Natalia langsung mendekap Alfin seraya mengusap pipi basah si kecil ini. Ia paham Alfin masih dalam tahap emosi yang tak stabil soal dirinya.


"B..Bunda!"


"Bunda pernah katakan bukan? kalau Alfin punya adik laki-laki atau perempuan itu sama saja, Sayang!"


"T..Tak sama, hiks!" Alfin menggeleng menolak membuat Sam menatap Natalia rumit.


"Kenapa tak sama? Alfin anak bunda dan adik juga. Kalian berdua sangat spesial dalam hidup bunda."


"N..nanti a..adik ambil. Bunda!" isak Alfin membuat Natalia menghela nafas. menjelaskan pada anak kecil memang butuh waktu dan ketelitian.


"Alfin tatap. Papa!" pinta Natalia membuat Sam hanya diam.


"Apa Bunda pernah membeda-bedakan kalian? padahal Papa suami Bunda. seharusnya Bunda lebih dekat dengan Papa dibanding Alfin, lalu kenapa Bunda selalu perduli dan sayang sama Alfin bahkan Alfin ingat, dulu Bunda selalu memasak untuk Alfin pertama kali dibanding untuk. Papa?"


Alfin mengangguk tapi masih ada keraguan dimata beningnya membuat Natalia menangkup pipi tirus itu.


"Lagi pula untuk apa Alfin menakuti apapun. Alfin kenal Bunda sudah lama, bukan?" Alfin segera mengangguk membuat senyum Sam terangkat.

__ADS_1


"Pernah Bunda marah kalau Alfin tak salah?"


"Tidak!"


"Pernah Bunda mengacuhkan Alfin dan bersikap tak adil?"


Alfin menggeleng menatap lekat perut besar Natalia. sekarang perlahan ia mulai mengelusnya membuat Natalia begitu sangat bahagia.


"Perempuan atau laki-laki itu adik Alfin! dia pasti sangat bangga karna punya Kakak kuat sepertimu, Sayang!" Natalia mengelus kepala angkuh itu lembut.


"A..Apa adik mendengar ucapan kita?" tanya Alfin masih polos membuat mereka mengulum senyum.


"Hm! dengar, dan katakan pada adik kalau Kakak Al sangat menyayangi Adik."


"K..Kakak Al?" tanya Alfin tersenyum menyukai panggilan itu hingga ia mendekatkan bibirnya kesana.


"Adik!"


"Iya, Kakak Al?" Natalia menirukan suara anak kecil.


"Laki-laki atau perempuan! Kakak akan menyayangimu, tapi jangan rebut Bunda dari Kakak. kita jaga Bunda sama-sama."


Sam tersenyum kecil mengusap wajahnya lega melihat Alfin mengecup lama perut besar Natalia hingga wajah berbinar Alfin meruak saat merasakan tendakan mahluk mungil didalam sana.


"Adiknya bergerak. Bunda!"


"Itu tandanya adik juga sayang Kakak Al!"


Jawab Natalia membuat Alfin semakin bahagia mendekatkan telinganya ke perut Natalia dengan tangan mencari gerakan si kecil itu.


Disaat itulah tangan Sam bergerak liar masuk dalam baju hamil Natalia yang panjangnya hanya selulut hingga ia mudah menggerayainya.


"Mulai!"


"Apa?"


Tanya Sam masa bodoh. Yang jelas ia suka kelembutan kulit wanita ini sampai kegiatan mesumnya akan ia angsur menjelang malam nanti.


"Indahnya pemandangan!" gumam Sam kelakar berbaring disamping paha Natalia dengan tangan sudah masuk membelai paha bagian dalam sang istri membuat Natalia menepuk pipi Sam remang menghentikan tingkah mesumnya.


"Hey!" Sam menepuk bokong Alfin yang menatapnya tajam. dan mengibarkan bendera perang.


"Jangan sentuh bundaku!"


"Kenapa? dia istriku!"


"Bunda!" rengek Alfin tak suka mengeluarkan tangan Sam yang setidaknya tenang saat Alfin si putra nakalnya perlahan telah kembali.


"Sudahlah! sekarang Alfin mau makan?"


"Tidak! mau main sama adik."


"Makan dulu! nanti main lagi, Sayang!"


Alfin mengangguk tak membiarkan Sam menyentuh Natalia. Kedua kaki bocah itu direntangkan memberi batasan. Walau tak bisa bergerak lues tapi Alfin menggunakan rengekannya menjauhkan Natalia dari tingkah cabul Papanya.


"Ini baru satu! kalau dua sepertinya aku harus menyusun strategi." dumel Sam seraya memberi pesan pada Fagan untuk mengantarkan makanan.


"Papamu stres, Sayang! lihat dia bicara aneh."


"Cih! awas kau!"


Sinis Sam mencubit lengan Natalia lembut tak menyisakan sakit sama sekali.bahkan, itu lebih pada jepitan penuh kasih dan cinta.


"Hm. terserah padamu. Pak Tua!" acuh Natalia membiarkan Alfin berbaring dipahanya.


"Kuman!"


"Hm?"


"Aku mau kau malam ini!"


"Saam!! Menyebalkan!!" umpat Natalia pusing.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2