Dilema Cinta Natalia

Dilema Cinta Natalia
Maaf. aku terlambat!


__ADS_3

Tatapan intens yang dilayangkan pria itu membuat Natalia sedikit tak nyaman duduk didekat Tuan Hartono yang masih belum bisa membuka matanya. pria tua ini terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap dipunggung tangannya.


Sedari datang tadi, Natalia cukup terkejut saat Dokter Andra juga ada dikamar Papanya. pria itu memeriksa Tuan Hartono yang kembali kambuh sejak semalam.


"Papamu baik-baik saja."


Dokter Andra membuka pembicaraan saat melihat wajah khawatir Natalia yang tak melepas genggaman tangannya ke tangan rentan itu. ia sangat paham perasaan wanita ini.


"Kapan Papa sadar?"


"Aku tak tahu. tapi.."


Dokter Andra berdiri dari duduknya di sofa sana melangkah mendekati Natalia yang agak aneh. kali ini suara Dokter Andra terkesan sangat formal tak seperti biasanya.


"Dia butuh kau disini."


"Aku tak bisa."


"Kenapa?"


Sambar Dokter Andra sudah berdiri didekat Natalia yang memandangnya rumit. mata pria ini terlihat menyimpan sesuatu yang tak bisa Natalia mengerti tapi jelas jika perubahan sikap pria ini terjadi karnanya.


"An! kau kenapa?"


Dokter Andra tersenyum pelit dengan wajah kecewa tapi sekuat tenaga ia menyembunyikannya.


"Kenapa?"


"An! kalau aku salah aku minta maaf."


"Benarkah?"


Tanya Dokter Andra berjongkok dihadapan Natalia yang dibuat kaku. tatapan pria ini seakan menelannya, tak lagi nyaman yang Natalia rasakan, tapi ia mulai agak takut dengan pandangan Dokter Andra padanya.


"K..Kau.."


"Kau sangat cantik."


Gumam Dokter Andra memandangi wajah Natalia dengan penuh puja membuat Natalia mulai gelisah. apalagi ini sudah jam 2 siang dan Alfin akan tampil jam segini, apa yang harus ia lakukan?


"An! aku...aku titip, Papa dan..."


"Mau kemana?"


"Aku..aku ada acara. nanti aku akan kembali."


Dokter Andra tersenyum receh menatap wajah Tuan Hartono. dulu Natalia begitu mementingkan pria ini dan sekarang.. Cih.


"Sepertinya sangat penting."


"And! aku bekerja, aku.."


"Fokus saja pada Papamu!"


"Aku tak bisa!"


Bantah Natalia lalu berdiri meraih tasnya didekat kaki Tuan Hartono. ia harus cepat atau Alfin akan benar-benar kecewa padanya.


"Bik!"


"Iya. Non!"


Bibik Mina mendekat setelah mendengar perdebatan wanita ini. ia hanya diam mencoba mengerti segalanya.


"Bik! jaga Papa selama aku keluar!"


"Iya. Non!"


Natalia bergegas ingin pergi namun tangannya dengan cepat dicengkal Dokter Andra yang tampak berwajah datar membuat bulu kuduk Natalia merinding.


"Lepas!"


Dokter Andra tak melepasnya bahkan menggenggam tangan lentik Natalia erat dengan pandangan yang mengosong. dadanya bergemuruh bahkan matanya sudah begitu terbuai akan gejolak yang ia bendung.


"Kau sangat terburu-buru. Lia!"


"And! aku masih ada pekerjaan."


Natalia ingin menyentak tangannya tapi Dokter Andra tak melepasnya sama sekali. pria itu berdiri menatap Natalia dengan misterius tapi Natalia terperanjat saat Dokter Andra malah memeluknya.


"Surprise!!!!"


Ucap Dokter Andra tersenyum mendekap Natalia hangat. jantung Natalia seakan ditarik paksa karna ia sangat tak percaya akan apa yang ia lihat.


"K..Kau..."


"Kau terkejut?"


Tanya Dokter Andra berwajah riang seakan kembali seperti Dokter Andra biasa. lama Natalia diam mencerna segalanya.


"Ayolah. kau pasti terkejutkan? rencanaku tak sia-sia. Sayang!"


"And!!! kau benar-benar!!"


Geram Natalia mendorong dada Dokter Andra menjauhnya membuat senyum pria itu semakin mekar. Dokter Andra kembali bertingkah selayaknya biasa membuat Natalia menganggap ini hanya kejutan menyebalkan.


"Kenapa kau seperti itu?"


"Memangnya kenapa? salahmu sendiri kenapa tak pernah punya waktu untukku."


"Tapi, jangan seperti itu. aku jantungan, And."


Kesal Natalia mengelus dadanya lega dengan Dokter Andra yang masih saja tersenyum bahagia.


"Kapan kita bisa bertemu?"


"Ini sudah bertemu."

__ADS_1


"Maksudku seperti dulu, kau dan aku!"


Natalia terdiam sesaat. kalau Sam tahu bisa-bisa pria itu akan marah besar bahkan bisa saja menghancurkan apapun, tapi ia tak mungkin memutus hubungan yang lebih dulu ia bangun.


"Ntahlah, aku tak tahu. And! Papa masih sakit, urusanku juga belum selesai." Natalia bernafas lemah begitu khawatir.


"Papamu biarkan aku yang mengurusnya."


"Tapi.."


Dokter Andra memeggang bahu Natalia yang diam memandangnya penuh ketidak nyamanan.


"Aku menunggumu!"


"And! kenapa kau sangat baik?"


Dokter Andra tersenyum kecil mengelus kepala Natalia yang begitu menggemaskan. sayangnya Natalia tak lagi mau ia cium seperti biasa.


"Karna aku sangat mencintaimu."


Natalia terkekeh kecil menoyor bahu Dokter Andra yang menatapnya dalam.


"Sebagai Pasean, dan Adik."


"Hm."


Dokter Andra hanya mengiyakan. Bibik Mina melihat jelas tatapan terluka itu disembunyikan dari senyuman manis dan tenangnya.


"And! aku pergi dulu, ya? aku titip. Papa!"


"Iya. perlu ku antar?".


Tawar Dokter Andra tapi Natalia menggeleng beralih pada Bibik Mina.


"Bik. kalau Talita pulang, katakan untuk menelfonku secepatnya."


"Baik. Non!"


Natalia pamit melangkah cepat keluar seraya sesekali melihat jam dipergelangan tangannya. ia benar-benar khawatir kalau terlambat datang kesana dan Alfin tak jadi pementasan.


"Ayolah. jangan terlambat."


Gumam Natalia pada dirinya sendiri terus berlari keluar membuat para pelayan yang melihatnya merasa bingung tapi tak ingin bertanya banyak karna Natalia begitu didesak waktu.


"Pak!"


"Iya. Non!"


Pak Anton mendekat dengan wajah ikut panik.


"Ada apa. Non?"


"Pak. bisa antar aku ke TK Belia Permata?"


Pak Anton mengangguk lalu mengisyaratkan Supir dan penjaga yang lain untuk bergantian. Natalia ingin Tuan Anton yang mengantar karna hanya pria ini yang ia percaya mengantar kesana.


"Silahkan. Nona!"


"Nona kenapa?"


"Pak! apa tak bisa dipercepat? soalnya ini sudah terlambat."


Sopan Natalia dengan intonasi halus yang diangguki Pak Anton. Mobil itu melaju sedikit cepat menembus keramaian Ibu Kota, kebetulan hari ini banyak Mobil yang berlalu-lalang membuat mereka tak bisa mengebut.


"Nona. ini macet!"


"A..Apa? Pak..Bapak bisa lewat jalan lain?"


Tanya Natalia membuat Pak Anton berfikir mencari jalan lain. ia memutar Stir kearah Blok lain menjahui keramaian yang begitu menyesakan, apalagi cuaca har ini cukup menyengat jiwa manusia.


Lama Mobil ini berada dijalanan sampai harapan Natalia bergantung pada jalan pintas yang Pak Anton pilih. tapi, wajah pria paruh baya itu terkejut melihat jalan pintas disini ditutup.


"Non. disini tutup!"


"Ya Tuhan. Alfin!"


Natalia sangat frustasi menghadap keluar jendela. ia mengeluarkan ponselnya untuk menelfon tapi lagi-lagi ia lupa mengisi daya batrainya yang kosong.


"Bagaimana ini? Ponselku mati."


"Pakai ponsel saya saja. Nona!"


Pak Anton sigap menyodorkannya.


"Aku tak hafal. Pak!"


Decah Natalia merasa khawatir melihat kekiri-kanan jendela dimana ia memang sudah jauh dari Kediaman. menelfon Sam sama saja ia membuat masalah karna pasti Sam sudah ada disana, ia juga menyesal saat tadi menolak untuk diberi pengawalan.


"Pak. ini jalan pintasnya kesana kan?"


"Iya, Non! tapi banyak batu-batunya, saya hanya memakai jalan ini kalau.."


Pak Anton terkejut saat Natalia turun dari Mobil.


"Non!"


"Pak! Bapak pulang saja, aku jalan kaki kesana."


"Non! Nona jangan aneh-aneh, disini jarang yang lewat!"


Cegah Pak Anton khawatir tapi begitulah Natalia. ia selalu bertingkah seakan hidupnya ini tak ada artinya selain membahagiakan orang lain.


"Tak apa. Pak! Bapak pulang saja duluan,


"N..Non. Nona!!!"


"Aku baik-baik saja!!"

__ADS_1


Jawab Natalia sudah berlari kecil melewati palang didepan sana hingga melangkah masuk ke jalan aspal yang terlihat sudah lama karna memang jalan ini jarang dilalui banyak orang.


Ia terlihat menatap sampah-sampah yang berserakan dipinggir jalan sepi ini mengingatkan Natalia akan sesuatu. ia terbayang pada para preman yang dulu sempat ingin melecehkannya.


"Tenanglah... kau..kau fokus pada. Alfin!"


Gumam Natalia berlari kecil kedepan sana. ia hanya cukup mengikuti arah jalan ini sesuai ucapan Pak Anton barusan, ia sudah masuk begitu jauh tapi tak ada rumah orang atau bangunan apapun, hanya pepohonan dan semak-semak tak terurus.


"Hay. Nona!"


Degg...


........


"Airaaaa!!!"


"Wowww!!!"


Mereka bertepuk tangan meriah melihat kearah panggung megah yang berada didalam forum besar Sekolah bergengsi ini. anak-anak orang kelas atas itu tampil dengan begitu luar biasa membuat mata semua orang tua dan juri-juri didepan sana terpukau.


Banyak dari mereka yang menatap kearah sebuah kursi didepan sana, dimana seorang pria dengan wajah tampan itu tengah duduk dengan aura keberadaan yang kuat. sebagian besar terus menikmati pahatan sempurnanya tanpa berani bertanya atau menyapa.


"Presdir Sam sangat tampan!"


"Yah, itu karnanya Tuan Kecil juga menuruni ketampanannya!"


Mereka sedari tadi berbisik didalam forum megah ini. Sam hanya diam mengabaikan suasana bising disekitarnya demi sang putra.


Namun, kemeriahan itu sama sekali tak dirasakan seorang bocah yang sedari tadi melihat kearah pintu ruangan. ia terus menelfon tapi tak ada jawaban membuat tatapannya seketika melemah.


"Bunda."


Gumamnya menatap kertas yang sudah tertulis rapi. ia beralih memandang Sam yang tahu perasaan putranya.


"Sudahlah. tampil saja demi Bundamu."


"Tapi. ..Tapi Bunda sudah berjanji."


Lirih Alfin dengan mata mengembun bahkan ia ingin menangis membuat Sam langsung merangkuh tubuh mungil ini kepelukannya. untung saja mereka ada ditempat khusus yang tak ada kamera disudut sini.


"Bundamu sedang merawat. Papanya! dia tak mungkin datang kesini."


Sam memberi pengertian pada Alfin yang dengan kecewa menatap langsung diatas sana. percuma ia berlatih sepanjang hari jika bukan wanita itu yang mendengarnya secara langsung.


"Dan Peserta ke 5!"


Suara MC diatas sana mengumandang tapi Sam tahu Alfin sudah tak mau naik keatas panggung lagi.


"Alfin Austin Bilions!!!!!"


"Yeahh!!!!"


Prokkk..Prokkk ..


Mereka memberikan tepukan meriah dan histeris menghadap kearah Alfin yang hanya diam ditempat tanpa mau bergerak. mereka yang semula begitu bersemangat seketika saling pandang heran tapi tak berani untuk menyangka.


"Tuan Kecil?"


Alfin hanya diam membuat suasana diruangan ini juga mendingin. tak ada yang mampu bergerak termasuk para juri dan guru-guru yang melihat Alfin, mereka memang tahu jika sikap bocah itu selalu nakal dan arogan itu karnanya sering disekolahkan dirumah.


"I..Itu .Itu Nona Qyara!!"


Salah satu dari mereka terkejut saat kedatangan wanita cantik bertubuh semampai itu masuk kedalam Forum megah ini hingga membuat suasana ingin riuh tapi para pengawal langsung mengontrolnya. juri-juri dipanggung sana berdiri karna disini bukanlah tempat orang-orang biasa.


"Putraku akan tampil."


Seketika rahang Sam mengeras. wanita ini memang sangat memancing amarahnya, tapi melampiaskan semuanya disini itu bukan sesuatu yang baik.


"Nona Qyara!"


Sapa Mereka masih belum tahu kalau Qyara dan Sam telah bercerai. Sam tak sempat mengumumkannya karna nanti pasti akan banyak yang terjadi mungkin bisa menganggu kehidupan Natalia dan Alfin. tentu Sam akan menyebar berita itu tapi diwaktu yang tepat.


"Alfin. ayo tampil, Sayang!"


Alfin menatap tajam Qyara yang sudah berdiri dihadapannya. ia sangat membenci wanita ini bahkan begitu membencinya.


"Alfin.Mama sudah datang, ayo tampil. Nak!"


"Aku mau Bundaku!!!!"


Bentak Alfin membuat mereka semua terkejut sampai satu ruangan ini benar-benar dilanda jantungan. wajah Qyara sudah mendingin dengan kepalan tangan menguat melihat banyak pasang mata yang menghunus penuh tanya.


"Alfin. aku Mamamu, Sayang!"


"Aku mau Bunda!!!! Papa, aku mau Bunda!!"


"Dia tak akan datang!!" bantah Qyara keras.


"Dia akan datang. aku ..aku percaya pada Bunda!!"


Teriak Alfin membuat Sam langsung mendekap putranya. ia baru sadar Alfin tak akan pernah bisa menerima kalau Natalia tak ada didekatnya.


"Sam. aku.."


"KELUAR!"


Tekan Sam dengan wajah tak bersahabat. ia tak ingin membuat berita baru dimedia yang terlihat mulai hiruk karna tingkah Qyara yang tak tahu malu.


"Sam. untuk apa menunggu wanita itu! dia tak akan datang karna dia tak benar-benar menyayangi, Alfin!"


"Diam kau!!!"


"Tapi aku .."


"M..Maaf aku terlambat!"


Duarr....

__ADS_1


....


Bote and Like Sayang..


__ADS_2